
Pagi yang cerah mengawali hari ini. Sinar hangat sang surya, disambut ceria oleh suara-suara alam yang saling bersahutan dengan merdunya. Memberi pertanda bagi yang lain, jika hari baru yang indah telah tiba.
Pagi ini, dua minggu sudah Aini berada di rumah sakit. Gilang kemarin sudah berpesan, jika Aini hari ini sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan untuk pemulihan lebih lanjut.
Semua jelas menyambut baik berita itu. Bahkan, Ardi saja memilih untuk tidak berkantor hari ini, demi menemani Aini pulang ke rumahnya. Urusan kantor diserahkan pada Dika seperti biasa.
"Mas,," Panggil Aini, saat ia membantu Ardi mengemas beberapa barang.
"Iya, Sayang. Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ardi perhatian.
"Apa mbak Ratri dan mas Adit belum ditemukan sampai sekarang?" Tanya Aini ragu-ragu.
"Sudah. Mereka sudah kembali satu minggu yang lalu." Jujur Ardi.
"Kenapa Mas nggak bilang sama aku?" Ucap Aini seraya berjalan menghampiri Ardi.
Ardi jelas segera menghentikan aktivitasnya yang sedang membantu Aini membereskan barang pribadinya. Ia menatap Aini yang berjalan mendekatinya dan terlihat sedikit kesal.
"Aku sengaja tidak memberitahumu, Sayang." Jawab Ardi santai.
"Kenapa, Mas?"
"Aku ingin kamu fokus pada pemulihanmu dulu, dan menyiapkan persidangan pertamamu lusa."
"Tapi,,"
"Jika aku memberitahumu, apa yang akan kamu lakukan? Menemui mereka dan meminta maaf? Atau langsung mencabut gugatan atas kasus penculikanmu? Aku jelas tidak akan mengijinkanmu untuk itu, Sayang."
Aini terdiam.
"Aku hanya ingin kamu segera pulih dan mendapat keadilan, Sayang. Serahkan semuanya padaku! Kamu hanya perlu fokus pada pemulihan kondisimu saja. Oke?"
Aini akhirnya tersenyum lega mendengar jawaban Ardi. Ia sebenarnya ingin menanyakan hal itu sejak kemarin. Tapi takut, jika Ardi akan salah paham dengannya.
Iya. Keempat orang yang sempat ditahan Ardi kemarin, sudah Ardi bebaskan. Tepat malam hari, setelah kedatangan Arif dan Heni ke rumah sakit untuk menjenguk Aini, satu minggu yang lalu.
Anak buah Ardi, membawa keempat orang itu langsung ke kantor polisi. Mereka membawa keempat orang itu, saat orang-orang sedang terlelap, dini hari.
Dengan dua buah mobil dan rencana yang matang, mereka membawa Adit, Ratri, Oliv dan Reni ke kantor polisi. Mereka menurunkan keempat orang itu di gerbang masuk kantor polisi dan meninggalkannya begitu saja.
Empat orang yang memang tidak berdaya itu, hanya bisa pasrah dengan semua perlakuan anak buah Ardi. Mereka pun tergeletak lemas di gerbang kantor polisi, saat dua orang petugas polisi menghampiri mereka, sesaat setelah dua mobil anak buah Ardi pergi menjauh dengan kecepatan tinggi.
Keempat orang itu segera dilarikan ke rumah sakit oleh beberapa anggota polisi. Mereka cukup terkejut dengan ditemukannya keempat orang itu di sana, bahkan dengan kondisi yang sangat buruk.
Polisi segera memproses semua kasus yang berkaitan dengan keempat orang itu.
Dan dua hari lagi, adalah sidang pertama untuk kasus penculikan Aini kemarin. Tentunya, dengan tersangka yang telah Aini ungkapkan kemarin. Termasuk Reni dan para anak buahnya, sebagai pelaku penculikannya.
Ardi memang sengaja merahasiakan kabar tentang kembalinya Ratri dan yang lain dari Aini. Apalagi dengan kondisi mereka yang buruk. Ardi tak ingin, masa pemulihan Aini terganggu karena hal itu.
Ardi segera menyelesaikan administrasi rumah sakit. Aini dengan setia menemani Ardi yang kali ini melakukan semuanya seorang diri. Hanya dengan alasan, ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Aini. Padahal, sudah sejak kemarin sore ia berdua dengan Aini.
Saat sampai di rumah, Aini segera disambut oleh para penghuni rumah Ardi. Semua sudah menunggu kepulangan Aini. Bahkan, Umar dan Kenzo bolos sekolah demi menyambut Aini pulang ke rumah.
"Selamat datang kembali, Ni." Sambut Niken penuh kehangatan.
Wanita paruh baya itu, bahkan tak segan untuk segera memeluk dan menggandeng Aini untuk duduk di kursi ruang tamu bersamanya. Ia memperlakukan Aini dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Dan hal itu, jelas mencuri perhatian Ratna yang juga sudah menunggu Aini sejak tadi. Ada sebersit rasa lega yang menghampiri hati kecil Ratna kala melihat adegan sedehana itu.
"Semoga, ini memang baik untukmu, Ni." Batin Ratna haru.
Semua lantas hanyut dalam obrolan yang menyenangkan. Bahkan, tak lama setelah Ardi dan Aini sampai di rumah, Gilang dan istrinya pun tiba untuk ikut menyambut kepulangan Aini. Mereka juga bahagia, Aini bisa kembali pulang dengan selamat. Meski, masih ada beberapa bekas luka yang harus ia obati.
Malam harinya, Aini tak bisa terlelap dengan cepat. Karena ia harus menempati kamar tamu selama Ratna masih ada di rumah Ardi. Karena kamarnya, ditempati oleh Ratna selama ini. Aini jadi merasa sedikit asing dengan kamar itu, hingga membuatnya kesulitan untuk tidur.
Di sisi lain, Ardi sedang mengunjungi rumah sebelah. Ia mendapat kejutan sore tadi, dari orang asing yang belum ia ketahui identitasnya. Ia pun segera meminta anak buahnya untuk melacak nomor baru yang masuk ke ponselnya.
"Temukan pemilik nomor ini segera!" Pinta Ardi tegas, namun masih terdengar cemas.
"Apa ada masalah, Pak?" Tanya Angga.
Ardi memberikan ponselnya pada Angga. Angga pun segera melihat dan memeriksanya. Ia cukup terkejut dengan apa yang ia lihat di ponsel Ardi.
Sebuah foto seorang wanita yang sedang duduk santai di ruang tunggu rumah sakit. Wanita itu tak lain adalah Aini.
Ardi mendapat ancaman sore tadi. Dengan menggunakan foto Aini, yang sedang menunggunya menyelesaikan urusan rumah sakit siang tadi.
"Jaga wanitamu baik-baik, Pak Ardi!"
Itulah pesan singkat yang menyertai foto Aini, yang dikirim ke nomor ponsel Ardi tadi.
Meski sudah menjadi resiko dari apa yang Ardi miliki saat ini, tapi ia tetap merasa cemas dan khawatir dengan ancaman itu. Apalagi, Aini baru saja melewati sebuah kejadian buruk yang sungguh tak ia harapkan.
"Saya akan segera melacaknya, Pak." Jawab Angga yakin.
"Laporkan padaku segera!" Jawab Ardi tegas.
"Baik, Pak."
Kita tak pernah tahu, takdir apa yang menanti kita esok. Kita juga tak pernah tahu, takdir baik atau takdir buruk yang menanti kita. Tapi satu hal yang pasti, semua pasti akan terjadi sesuai kehendak Sang Kuasa bila waktunya memang telah tiba.
...****************...
Hari terus berganti. Menapaki takdir yang telah tergariskan, perlahan namun pasti. Merangkai cerita demi cerita, pada setiap bingkai rasa yang perlahan tercipta.
Pagi ini, Aini dan Ardi bersiap di kamar masing-masing untuk acara mereka nanti. Apalagi kalau bukan persidangan pertama kasus penculikan Aini.
Ardi jelas tak main-main dengan hal ini. Ia jelas akan mendampingi Aini bersama dua pengacara handalnya, yang kemarin juga menangani kasus perebutan hak asuh Umar.
Tim kuasa hukum Ardi, jelas sudah menyiapkan banyak bukti untuk menguatkan tuntutan mereka pada para tersangka. Apalagi, pihak kepolisian yang menyelidiki kasus ini, juga sudah memiliki bukti yang tidak bisa disepelekan, untuk menjerat para pelaku penculikan itu.
"Kamu harus mengatakan yang sebenarnya nanti!" Pinta Ratna yakin.
Aini mengangguk ragu. Karena sungguh, ia tak ingin memperpanjang atau memperkeruh masalah ini.
"Mbak ikut ya! Aku takut, Mbak." Rengek Aini.
"Takut apa? Ada pak Ardi kan nanti?" Goda Ratna.
"Beda itu, Mbak."
"Beda gimana?"
"Ya beda pokoknya."
__ADS_1
"Kamu sudah memilihnya, bukan? Jangan takut dan ragu untuk mengatakan semua padanya! Apalagi, ia sudah melakukan banyak hal untukmu agar kamu dapat keadilan. Jangan kecewakan dia, Ni!" Saran Ratna.
"Iya, Mbak. Mas Ardi sudah melakukan banyak hal untukku."
"Maka dari itu, hargai semua yang ia lakukan untukmu!"
Aini mengangguk paham. Meski, hatinya masih ragu untuk bersaksi di depan hakim nantinya. Tapi, ia berusaha meyakinkan diri, bahwa ia tidak sendiri lagi. Ada Ardi yang akan selalu berusaha yang terbaik untuknya.
Aini akhirnya bersiap dengan ditemani Ratna. Mereka lalu keluar kamar yang Aini tempati, karena sudah tiba waktunya untuk Ardi dan Aini berangkat ke pengadilan. Ardi pun ternyata sudah menunggunya di ruang keluarga.
Sampai di pengadilan, Aini jelas bertemu dengan Arif dan Heni. Mereka masih kecewa dengan Aini, hingga tak mau menyapa Aini sama sekali. Meski, mereka juga sudah mendengar pengakuan dari putri mereka sendiri, bahwa putri mereka terlibat dalam penculikan Aini.
Hati Aini cukup sedih mendapat perlakuan itu dari Arif dan Heni. Tapi ia berusaha memahami apa yang dirasakan oleh orang tua dari sahabat lamanya itu.
Hingga persidangan dimulai, dan Aini melihat sesuatu yang sangat mengejutkan. Apalagi kalau bukan kondisi keempat orang itu, yang cukup mirip dengannya.
"Mereka kenapa, Mas?" Tanya Aini pada Ardi tak percaya.
"Aku tak tahu, Sayang. Yang aku dengar dari para penyidik, mereka sudah seperti itu saat sampai di kantor polisi minggu lalu. Polisi pun sudah membawa mereka ke rumah sakit untuk mendapat perawatan." Jawab Ardi polos.
Aini benar-benar tak tega melihat kondisi keempat orang itu, yang begitu mirip dengannya. Tubuh mereka terlihat lebih kurus dan kering. Dan juga ada beberapa bekas luka cambukan yang menghiasi wajah serta tangan dan kaki mereka.
Aini menatap Ardi dengan aneh. " Mas, enggaaakk,,"
"Enggak apa, Sayang?" Tanya Ardi santai.
"Bukan Mas, kan?"
"Bukan apa?"
Ardi paham maksud pertanyaan Aini. Tapi ia jelas menutupinya.
"Nggak mungkin mas Ardi melakukan itu pada mereka." Batin Aini.
Ardi masih menatap Aini penuh tanya.
"Tidak apa-apa, Mas." Jawab Aini tak enak hati.
Ardi pun tersenyum pada Aini.
Persidangan berjalan lancar. Tak ada kericuhan atau kendala yang berarti. Aini juga menepati janjinya untuk mengatakan yang sebenarnya di depan hakim.
"Bisakah saya berbicara dengan Aini sebentar?" Tanya Adit pada kuasa hukumnya, setelah persidangan selesai.
****************
Hai readers 🤗🤗
Maaf ya 🙏🙏 beberapa hari othor tidak update 🙏😊
Ada urursan di dunia nyata yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan dan cukup menyita waktu 😁 jadi othor nggak sempat nulis lanjutan ceritanya beberapa hari 🙏🙏
Maaf atas keterbatasan othor 😊🙏
Terima kasih untuk pengertiannya ya 🙏🙏😊😊
Oke,, see you next episode ya 😉
__ADS_1
Thank you all 😍🤩