
Hari terus bergulir. Merangkai cerita yang berbeda setiap detik dan menitnya. Menguntai rasa yang terkadang tak pernah kita inginkan. Rasa yang memang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan panjang hidup ini.
Aini berusaha menemui Adit untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia pulang ke rumahnya saat selesai bekerja. Dan kebetulan, Adit sedang tidak di rumah. Ia sedang di rumah kedua orang tuanya bersama Ratri. Aini pun pulang ke rumah Ratmini kembali dengan tangan kosong.
Aini mulai kehilangan harapannya. Ia merasa, bahwa rumah tangganya benar-benar diambang kehancuran. Bukannya ia berprasangka buruk pada mertua dan madunya. Tapi ia cukup tahu, bagaimana watak dua wanita itu selama ini. Apalagi, setelah kedatangan Suharti siang tadi ke tempat kerjanya. Ia yakin, ucapan Suharti bukan hanya gertakan saja.
Hari Minggu. Aini libur hari ini. Dan tepat satu minggu Aini pergi dari rumahnya bersama Umar. Sejak pagi, ia sudah bersiap bersama Umar untuk pulang ke rumah mereka hari ini.
Tapi sebelum mereka keluar rumah, dari jendela rumah Ratmini, Aini bisa melihat mobil Adit berhenti di depan rumah. Aini pun segera membukakan pintu untuk sang suami. Umar pun tak kalah gembira saat melihat mobil sang ayah ada di depan rumah neneknya.
Aini tersenyum lebar. Wajah ayunya pun berbinar penuh kebahagiaan.
"Mas." Panggil Aini bahagia setelah ia membukakan pintu, bertepatan dengan Adit yang tepat berada di depan.
Adit tak menjawab. Ia menatap datar Aini tanpa berucap apapun. Ia malah mengalihkan pandangannya pada putranya yang berlari dari arah dalam rumah yang diikuti oleh Ratmini. Umar pun langsung digendong oleh Adit. Mereka tersenyum bahagia satu sama lain.
"Aku kesini untuk memberikan ini padamu." Ucap Adit datar sambil menyerahkan amplop coklat yang sedari tadi ia bawa.
"Apa ini Mas?" Tanya Aini sambil menerima amplop itu.
"Umar ikut Ayah ya?" Sahut Adit, tanpa menghiraukan pertanyaan Aini.
Umar pun mengangguk patuh.
"Pamitan sama Uti sama Bunda dulu ya!" Pinta Adit segera.
"Apa ini Mas? Aku tak mau bercerai darimu Mas!" Sela Aini marah setelah ia membaca isi amplop itu.
"Terserah! Tapi yang pasti, Umar akan ikut denganku mulai sekarang." Sahut Adit penuh penekanan.
"Aku juga ikut denganmu kan Mas? Aku tak mau berpisah denganmu Mas."
"Khadijah Isnaini, aku menjatuhkan talak padamu."
"Jangan bercanda Mas!"
"Aku tidak bercanda. Tanda tangani surat itu segera! Aku tak ingin menunda hal ini terlalu lama."
"Tapi Mas, aku tak mau bercerai denganmu. Dan kenapa Mas mengajukan gugatan cerai?"
"Karena aku sudah menjatuhkan talak padamu. Dan aku tak akan mau rujuk denganmu."
"Tapi kenapa Mas?"
"Bukankah sudah jelas, jika kamu sudah berselingkuh, bahkan sampai hamil. Dan bahkan, selama ini, kamu juga ternyata memanfaatkan aku untuk membiayai pengobatan ibumu. Benar begitu bukan?"
Aini dan Ratmini bagaikan disambar petir pagi ini. Tubuhnya mendadak lemas, hingga tenggorokan mereka tercekat. Mereka tak pernah menyangka, Adit bisa mengatakan hal seperti itu.
"Bagaimana bisa Mas mengatakan itu? Aku tak pernah berselingkuh darimu Mas. Dan anak ini adalah anakmu." Bela Aini perih.
Hati mana yang tak sakit, ketika orang yang paling ia percaya dan sayangi, ternyata bisa menuduh dan memfitnah dengan begitu kejam dan tanpa ada raut wajah penyesalan sama sekali.
Dituduh dengan begitu kejamnya oleh Adit, sungguh membuat hati Aini begitu pedih saat ini. Harapan yang sedari pagi sudah ia kumpulkan, bayangan sambutan hangat sang suami saat ia tiba di rumah, lenyap seketika. Hangus terbakar oleh api fitnah yang menyala dengan begitu ganasnya.
Adit tersenyum remeh pada Aini.
__ADS_1
"Aku tak akan terpedaya lagi oleh semua ucapanmu. Seharusnya, aku memang mendengarkan Ibu sejak dulu dan tak memaksamu menikah denganku waktu itu." Bantah Adit tegas.
"Tapi Mas, aku memang tak pernah berselingkuh. Dan aku tak pernah berniat memanfaatkanmu untuk membiayai pengobatan Ibu, Mas." Sanggah Aini lagi, dengan airmata yang sudah mengalir melewati pipinya.
"Terserah!" Jawab Adit singkat.
Adit pun menoleh pada Umar yang dengan kepolosannya, menatap kedua orang tuanya yang sedang beradu mulut, secara bergantian. Ia belum paham apa yang mereka perdebatkan.
"Ayo Sayang, salim sama Uti dan Bunda dulu! Setelah ini, kita pulang. Ya?" Ucap Adit sambil tersenyum pada Umar.
Umar pun mengangguk.
"Bunda, kenapa nangis?" Tanya Umar polos.
"Nggak papa Sayang. Ayo, salim sama Bunda dulu!" Rayu Adit lagi.
Umar menatap Aini yang tertunduk dan tak bisa lagi berucap. Kata-katanya seolah tertahan tak ingin keluar sedikit pun dari mulutnya.
"Nggak mau Yah! Bundaa." Umar mencondongkan tubuhnya pada Aini sambil merentangkan tangannya.
Aini yang merasa dipanggil oleh Umar, segera mengangkat wajahnya. Ia berusaha tersenyum menyambut putranya.
"Tidak! Umar sekarang ikut Ayah pulang tanpa Bunda!" Cegah Adit cepat, seraya memundurkan langkahnya.
"Umal mau sama Bunda!" Rengek Umar.
"Enggak Sayang. Umar sekarang pulang sama Ayah, ke tempat Mama Ratri." Rayu Adit sedikit lembut.
"Nggak mau. Umal mau sama Bunda!" Rengek Umar lagi, dengan mata yang mulai memerah.
"Iya Sayang, sini sama Bunda!" Jawab Aini sambil mengulurkan kedua tangannya hendak menggendong Umar.
"Bunda!" Teriak Umar keras sambil menangis.
"Mas, jangan bawa Umar, Mas!" Cegah Aini sambil berlari mengejar Adit.
"Bundaaaa!"
Umar berteriak dan menangis makin histeris. Adit pun berlari lebih cepat dan segera menyalakan mobilnya, setelah meletakkan Umar di kursi di sampingnya. Tak lupa, ia mengunci pintu mobilnya, agar Umar atau Aini tak bisa membukanya.
"Umar!"
Aini memanggil putranya yang dibawa pergi oleh ayahnya sendiri.
Tak ada yang salah dengan hal itu sebenarnya. Hanya saja, situasinya yang tidak benar. Adit membawa paksa Umar yang tak ingin ikut dengannya.
Sejenak, adegan keluarga kecil itu, berhasil menarik perhatian para tetangga sekitar. Mengingat, ini hari Minggu. Beberapa dari mereka, sedang asik menikmati pagi akhir pekan mereka di rumah masing-masing.
Aini segera kembali ke rumah. Ia berniat menyusul Adit dan Umar dengan motornya. Tapi, saat sampai di dalam rumah, ia melihat Ratmini sedang terduduk lemas bersandar pada tembok rumahnya. Wajahnya sedikit pucat. Ia terkejut karena Adit menggugat cerai Aini dan bahkan langsung menjatuhkan talak padanya.
"Ibu. Ibu nggak papa?" Tanya Aini panik.
"Nggak papa. Cepat susul Umar!" Sahut Ratmini lirih.
"Tapi, Ibu,,"
__ADS_1
"Ibu nggak papa. Kamu cepat susul Umar dan bawa ia kembali kemari!" Pinta Ratmini pelan.
"Ibu gimana nanti?"
Aini dilanda kebimbangan. Ia sungguh ingin mengejar anak dan suaminya, tapi ia juga tak bisa meninggalkan Ratmini begitu saja dalam kondisinya yang tak baik.
"Biar Bude yang nemenin ibumu. Cepat kamu kejar anakmu!" Ucap seorang wanita tua, yang rumahnya tepat di samping rumah Ratmini
"Tapi Bude?" Jawab Aini bingung.
"Nggak papa Ni, cepat, kejar putramu! Bude akan menjaga ibumu. Tenanglah!" Ucap wanita tadi.
"Selesaikan masalahmu dan bawa pulang Umar, Nduk!" Pinta Ratmini lagi.
Aini akhirnya menuruti permintaan ibunya. Ia segera mengambil kunci motornya dan mengejar mobil Adit.
Sayang, Aini kehilangan jejak mobil Adit. Ia pun memilih melajukan motornya menuju rumah Adit. Tapi ternyata, Adit tidak membawa Umar pulang. Aini pun lalu mencoba mencari Umar ke rumah mertuanya. Dan benar, Adit membawa Umar ke sana.
Adit dan Aini kembali bertengkar di sana. Adit tanpa ragu, kembali menuduh dan mencaci Aini. Dan bahkan, kini Aini makin disudutkan oleh Ratri dan Suharti.
"Tapi aku memang tak pernah melakukan itu semua Mas."
Aini masih terus mencoba membela diri. Tapi sayang, ia tetap tidak bisa meluluhkan hati dan pikiran Adit yang sudah terpengaruh oleh hasutan Ratri dan Suharti.
Hadi yang sedang menemani Umar di kamar, hanya bisa mendengarkan pertengkaran tiga orang itu karena kondisinya. Bahkan, ia kesulitan menenangkan Umar yang menangis dan berusaha untuk keluar kamar untuk menemui Aini. Suara tangisnya pun terdengar ke telinga Aini.
Saat pertengkaran itu belum mereda, ponsel Aini berdering. Ternyata, tetangga yang menemani ibunya tadi yang menelepon.
"Iya Bude. Ada apa?" Tanya Aini sedikit terisak.
"Maaf Nduk, ibumu dibawa Pak RT ke rumah sakit. Dia berkeringat banyak lalu pingsan setelah kamu pergi tadi."
"Iya Budhe, terima kasih. Ke rumah sakit mana Budhe?"
"Graha Medica Nduk, yang terdekat."
"Iya Budhe, Aini ke sana."
Setelah menerima kabar itu, Aini pun makin panik. Ia bingung, mana yang harus diprioritaskan saat ini. Ibu atau putranya.
"Izinkan aku membawa Umar bersamaku, Mas! Dia menangis Mas sejak tadi." Mohon Aini lagi di tengah kebingungannya.
"Tidak akan. Kamu lebih baik pergi dari sini dan urusi ibumu itu! Tapi, aku tak akan lagi, memberikan uangku padamu sedikitpun untuk membiayainya." Sahut Adit marah.
"Kumohon Mas, biarkan aku bertemu dengan Umar dulu!" Pinta Aini sampai bersimpuh di depan Adit.
"Apa kamu tidak dengar yang Adit katakan! Pergi dari sini!" Bentak Suharti, seraya menyeret Aini keluar rumah.
Aini meronta semampunya. Ia sungguh ingin bertemu dengan putranya, meski sejenak. Tapi Adit benar-benar tak mengijinkannya. Hadi yang biasa membelanya pun, tak bisa melakukan apapun karena kondisinya.
Aini akhirnya pergi dari rumah Adit, dengan air mata yang mengalir deras. Merasakan pedih hatinya yang tak bisa bertemu dengan putra pertamanya. Apalagi, ibunya juga sedang dilarikan ke rumah sakit saat ini.
Sepanjang perjalanan, airmata Aini tak berhenti mengalir. Ia masih belum bisa percaya, bahwa Adit menggugat cerai dan langsung menjatuhkan talak padanya. Dan bahkan, ia tidak diijinkan menemui putranya sendiri, yang jelas-jelas menangis memanggil-manggil dirinya.
Ciiitt, BRAK.
__ADS_1
Aini yang tak fokus mengendarai motornya, tak bisa mengendalikan laju motornya, saat sebuah mobil di depannya mengerem secara tiba-tiba. Tabrakan pun tak bisa dihindari. Motor Aini menabrak mobil cukup keras. Tubuhnya terpental beberapa meter dari motornya.
Tak pernah ada yang tahu, takdir apa yang menanti kita di depan. Semua selalu menjadi misteri yang tak pernah bisa terjawab hingga hal itu tiba pada kita pada saatnya.