
Di sebuah rumah yang cukup besar tapi lama tidak dipakai, sebuah mobil nampak memasuki gerbangnya dengan santai. Mobil itu langsung terparkir di depan rumah yang masih berdiri dengan gagahnya dan sangat terawat.
Seorang laki-laki yang tegap, keluar dari mobil dan berjalan dengan yakin memasuki rumah. Ia sedikit menyapa beberapa orang yang ada di teras rumah. Ia segera menuju salah satu ruangan di rumah itu.
"Gimana? Udah?" Tanya laki-laki itu, pada seorang laki-laki yang sedang duduk di depan beberapa layar monitor.
"Udah. Mereka sudah sangat kedinginan." Jawab laki-laki yang sedang menunjuk pada salah satu layar monitor.
"Bagus."
"Tapi Mas Ren, mantengin mereka pake baju kayak gitu, kan aku jadi pengen."
Laki-laki yang baru tiba itu, melirik remeh.
"Makanya cepet nikah! Jangan maunya celap-celup nggak jelas." Sindirnya santai.
"Mas Reno enak, ganteng. Lha akuu,,"
"Ya besok minta sama bos Ardi, minta tolong cariin jodoh, sana!"
"Sambil nunggu jodohnya dateng, boleh dong sama yang di ruangan itu? Satu aja, deh!"
Laki-laki yang baru tiba tadi, yang tak lain adalah Reno, segera pergi meninggalkan rekannya yang sedang merengek tak jelas. Ia meninggalkan Angga, yang sedang dalam masa bertugasnya, namun tergoda oleh pemandangan di beberapa layar monitornya.
Ratri, Oliv dan Reni dikurung di sebuah ruangan oleh Reno. Ruangan yang sudah dibuat sedemikian rupa, hingga sulit bagi siapapun keluar dari sana tanpa bantuan dari luar.
Ruangan itu berada di rumah lama milik Ardi yang sudah jarang ia sambangi. Rumah lama itu sengaja tidak ia jual, karena memang ia gunakan sebagai rumah darurat atau tempat untuk beberapa hal tertentu. Misalnya seperti saat ini. Itu juga atas ijin dari Rama dan Niken.
Di tempat lain, Suharti makin cemas karena anak dan menantu kesayangannya tidak ada kabar dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Ia pun akhirnya memutuskan untuk melaporkan hal itu pada polisi.
Tak terkecuali dengan Desi. Ia juga akhirnya melaporkan pada polisi tentang hilangnya Oliv sejak kemarin sore.
Suharti dan Desi jelas menyebutkan nama Dika dan Ardi saat di kantor polisi. Pihak polisi sedikit menyangkutkan kasus penculikan Aini yang baru saja menapaki babak baru, karena sudah ditemukan, dengan hilangnya tiga orang itu. Polisi akhirnya memanggil dua nama laki-laki gagah itu, untuk dimintai keterangan esok.
"Sesuai rencana." Gumam Ardi, setelah ia mendapat kabar dari Rama, bahwa ia mendapat panggilan dari kepolisian.
Ardi segera menelepon Dika. "Lanjutkan semua sesuai rencana!"
"Baik, Pak."
Ardi tak main-main dengan pembalasannya untuk apa yang diterima Aini. Ia telah mendengar pengakuan Reni dan semua anak buahnya. Ia juga sudah mengatur semua rencananya dengan sangat matang. Apalagi, dua orang kepercayaannya itu, bisa sangat diandalkan untuk hal-hal seperti ini.
Hingga malam menjelang, Ardi masih berada di rumah sakit. Ia juga masih ditemani oleh Ratna dan Imron.
Ardi sempat menawarkan pada Imron dan Ratna untuk pulang lebih dulu ke rumahnya di Surabaya. Tapi ditolak oleh pasangan suami istri itu.
"Maaf, Pak Ardi. Boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Ratna ragu-ragu.
"Tentu saja. Silahkan!" Jawab Ardi ramah.
Ratna sejenak menoleh pada Imron. Imron pun mengangguk pada Ratna, karena tadi sempat merundingkan hal itu berdua.
__ADS_1
"Sebenarnya, bagaimana bisa Aini diculik? Dan apa Bapak tahu, siapa yang melakukannya?" Ucap Ratna perlahan.
Ardi terdiam. Ia tahu, Imron dan Ratna pasti akan menanyakan itu suatu saat. Dan ia cukup kebingungan mengungkapkan kebenarannya.
"Aini diculik saat ia pergi ke pasar bersama orang kepercayaan saya, Reno. Bapak dan Ibu juga sudah bertemu dengannya tadi."
"Mas yang tadi?" Tanya Ratna meyakinkan.
"Iya. Dia pengawal terbaik yang saya miliki."
"Pengawal?"
"Iya. Hari itu, sekitar satu minggu yang lalu, saya meminta Reno untuk menemani Aini ke pasar, karena saya sedang ada beberapa urusan kantor yang harus saya selesaikan. Tapi ternyata, dia sedikit lengah, hingga membuat Aini diculik oleh beberapa orang."
Ratna dan Imron terkejut.
"Saya dengar, Aini diancam menggunakan Umarnoleh para penculiknya. Sehingga ia tidak meminta tolong pada orang-orang, karena takut terjadi sesuatu dengan Umar, yang saat itu sedang berada di sekolah."
"Lantas?"
"Selama beberapa hari saya mencari jejaknya dan melaporkannya ke polisi. Tapi semua tak berhasil menemukannya. Hingga dua hari yang lalu, anak buah saya berhasil membuntuti pelaku sebenarnya ke tempat dimana Aini disekap."
"Siapa pelakunya?" Tanya Ratna tak sabar.
Ardi terdiam lagi. Ia ragu untuk mengatakan kebenaran itu pada Ratna.
"Ituu,,"
"Iya, Pak. Siapa pelakunya? Tolong, katakan pada kami!" Imbuh Ratna makin tak sabar.
"Dia,,"
Hati Ardi sungguh tidak tega mengungkapkan kebenaran itu. Karena ia tak tahu, bagaimana hubungan Imron dan Ratna dengan Adit dan Ratri.
"Tolong, Pak Ardi! Katakanlah yang sejujurnya pada kami! Kami tak akan marah pada Anda untuk hal itu." Rayu Imron perlahan.
"Dia,, mantan suami Aini." Ucap Ardi ragu.
"Ap,,??"
Hati Imron dan Ratna, seketika bergemuruh mendengar jawaban Ardi. Mereka tak pernah mengira, Adit akan melakukan itu pada Aini.
"Apa istrinya juga ikut serta?" Tanya Ratna dengan nada sangat marah.
"Iya. Dan,,"
"Apa masih ada lagi?" Tanya Imron tak percaya.
"Dan juga mantan istri saya." Imbuh Ardi lirih.
Imron dan Ratna seolah kehabisan kata-kata. Mereka tak bisa mengucapkan apapun setelah mendengar jawaban Ardi.
__ADS_1
Imron dan Ratna berusaha keras untuk menahan emosinya agar tidak meledak tak terkendali. Mereka yang tadi duduk bersama sambil menunggui Aini, seketika berdiri untuk sekedar melampiaskan amarahnya.
Umpatan demi umpatan, terucap tak begitu jelas dari mulut Imron dan Ratna. Mereka sungguh tak menyangka, bahwa Adit bisa melakukan hal itu pada Aini. Setelah apa yang Aini terima selama beberapa tahun terakhir.
"Maafkan saya, Pak Imron, Bu Ratna!" Sesal Ardi.
Imron dan Ratna yang sedang meredam amarahnya, lalu menoleh kembali pada Ardi. Ada pertanyaan yang sama, yang ada di kepala sepasang suami istri itu.
"Apa hubungan mantan istri Anda dengan Adit? Dan kenapa ia ikut andil dalam penculikan Aini?" Tanya Imron tanpa ragu.
"Saya tidak tahu pasti untuk hal itu. Tapi, setahu saya, mereka tidak saling mengenal sebelumnya."
"Lalu, kenapa mantan istri Anda ikut dalam penculikan itu? Apa Aini mengenalnya?" Tanya Ratna makin tak sabar.
"Iya, mereka saling mengenal. Itu pun belum lama. Mereka saling mengenal, beberapa hari setelah Aini tinggal di rumah saya."
Imron dan Ratna berusaha memahami dan mengaitkan segala hal yang bisa menjadi alasan mantan istri Ardi ikut dalam penculikan Aini.
"Apa hubungan Anda dengan Aini?"
Kalimat itu, akhirnya terlontar begitu saja dari mulut Ratna. Ia makin curiga dengan apa yang diungkapkan Ardi tadi. Dan penculikan Aini, pasti ada hubungannya dengan Ardi.
Ardi kesulitan menegaskan hubungannya dengan Aini. Karena selama ini pun, hubungan mereka tidak begitu jelas.
Ardi memang telah menyatakan perasaannya, dan Aini pun terkesan begitu menyambutnya. Bahkan, Aini pun bisa begitu perhatian pada Ardi dalam banyak hal. Tapi, mereka bahkan tidak tahu dengan pasti, hubungan seperti apa yang mereja jalani saat ini.
"Kamii,,"
Ucapan Ardi, tiba-tiba terpotong karena sesuatu yang menarik perhatian tiga orang itu.
"Emm,," Lirih Aini.
Semua segera menoleh ke sumber suara. Ardi bahkan langsung berdiri dan menghampiri Aini, yang ternyata sedang berusaha membuka kelopak matanya dengan sangat perlahan.
"Kamu sudah sadar, Sayang? Kamu bisa melihatku?" Tanya Ardi cepat.
Aini mengedipkan kelopak matanya perlahan. Ia berusaha memperjelas dan membiasakan penglihatannya dengan apa yang ada di sekitarnya. Ia menggerakkan bola matanya ke arah Ardi yang berdiri di sisi kanannya.
Imron dan Ratna yang juga terkejut dengan Aini yang sedang berusaha membuka kelopak matanya, pun ikut menghampirinya. Mereka bahkan tak begitu menghiraukan apa yang diucapkan Ardi tadi. Mereka terlalu bahagia, dengan apa yang terjadi pada Aini.
"Kamu sadar, Ni? Mbak di sini, Nduk." Ucap Ratna segera, saat ia sampai di sisi kiri Aini.
Aini tidak bereaksi apapun. Ia hanya kembali berkedip sekali, setelah melirik ke arah Ratna. Dan kelopak mata itu, kembali tertutup.
"Aini?"
Tiga orang itu mencoba kembali untuk membangunkan Aini. Memintanya untuk kembali membuka matanya. Tapi sama sekali tidak berhasil. Kelopak mata Aini tidak bergerak sama sekali.
Ardi segera meraih telepon dan tombol panggil darurat. Ia segera meminta perawat untuk datang dan memeriksa Aini.
"Aini kenapa, Mas? Kenapa dia nggak bangun lagi?" Adu Ratna panik.
__ADS_1