
Rintik hujan menyapa bumi. Menggantikan cahaya sang surya, yang seharusnya masih menghangatkan para penghuni bumi. Memberikan rasa yang berbeda pada setiap yang merasakannya.
Pukul dua siang. Umar baru saja memasuki rumah setelah pulang sekolah dijemput oleh Joko. Ia segera mencari orang yang paling ia sayangi. Siapa lagi kalau bukan Aini.
"Bunda!"
Umar menggemakan suaranya ke seluruh penjuru rumah. Ia celingukan mencari keberadaan ibunya yang biasanya akan segera menghampirinya, jika ia sudah memanggilnya dengan sangat lantang.
"Ada apa, Mas Umar?" Jawab Sri sambil setengah berlari menghampiri Umar.
"Bunda mana, Mbok?"
"Bundaaa,,"
"Bunda ke rumah sakit?"
"Eng,, enggak."
"Bunda pergi sama om Ardi?"
"Enggak, Mas."
"Terus?"
"Mas Umar ganti baju dulu, nanti Mbok Sri ceritakan. Ya?"
Umar terdiam sejenak. Meskipun ia masih terbilang sebagai anak kecil, tapi ia juga bisa merasakan jika ada sesuatu yang tak baik, karena ikatan batinnya dengan Aini. Tapi ia berusaha untuk berpikir positif dan menuruti permintaan Sri.
Umar lalu mengangguk paham. Ia segera pergi ke kamarnya dan berganti baju. Sedangkan Sri, menyiapkan makan siang untuk Umar seperti biasa.
Bertepatan dengan itu, mobil Ardi memasuki gerbang rumahnya. Ia berhenti sejenak tepat di dekat Joko sedang berdiri, sambil menanti Ardi masuk.
"Umar sudah pulang?" Tanya Ardi, setelah membuka kaca mobilnya.
"Sudah, Mas. Baru saja masuk." Jawab Joko ramah.
"Ya sudah."
Joko mengangguk paham. Ia lalu menutup pintu gerbang, setelah mobil Ardi masuk ke tempatnya biasa terparkir.
Ardi pun segera masuk ke rumah. Ia lalu mencari keberadaan Umar.
"Umar mana, Mbok?" Tanya Ardi pada Sri, yang sedang menyiapkan makan siang.
"Sedang ganti baju, Mas."
"Mbok Sri sudah bilang padanya?"
"Belum, Mas. Rencananya, nanti setelah mas Umar makan siang, baru saya akan bilang. Kasihan mas Umar, pasti capek baru pulang sekolah." Jujur Sri iba.
"Ya sudah. Biar aku saja nanti yang bilang, Mbok." Pinta Ardi paham.
"Baik, Mas. Mas Ardi, sudah makan?" Tanya Sri perhatian.
"Belum. Nanti saja, Mbok."
"Jangan lupa makan, Mas! Ada yang sedang menanti Mas saat ini." Saran Sri sedih.
"Iya, Mbok. Aku mengerti. Aku harus segera menemukannya." Jawab Ardi yakin.
"Iya, Mas."
Pikiran Ardi melayang tak tentu arah. Ia sungguh belum bisa menyimpulkan, siapa sebenarnya yang menculik Aini saat ini. Ia sudah memikirkan semua kemungkinan yang ada, tapi masih belum bisa sampai pada kesimpulan akhir. Karena memang, terlalu banyak orang yang ia curigai.
Saat ini, semua pengawal Ardi sedang bekerja sangat keras. Termasuk pengawal Ardi yang berada di Bandung. Mereka diam-diam memata-matai semua orang yang dicurigai Ardi, Dika dan Reno.
Dan kini, Ardi masih memiliki PR besar. Apalagi kalau bukan memberitahu dua putranya tentang apa yang terjadi pada Aini. Dan itu jelas bukanlah hal mudah bagi Ardi.
Ardi menghela nafas beratnya. Ia sungguh masih kebingungan mencari kalimat yang tepat, untuk memberitahu Umar tentang ibunya.
Dan saat Ardi masih kebingungan, ponsel yang ia letakkan di atas meja makan, berdering cukup nyaring. Ia pun segera mengalihkan perhatian ke benda pipih miliknya itu.
"Mbok, aku terima telepon di ruang kerja dulu. Nanti kalau Umar sudah seslesai makan, minta dia menyusulku ke sana!" Pinta Ardi lirih.
"Baik, Mas."
__ADS_1
Ardi segera pergi ke ruang kerjanya. Ia menerima telepon dari Dika di sana, karena takut Umar akan mendengar percakapan mereka.
Tak lama berselang, Umar pun turun dengan sudah mengganti seragam sekolahnya. Ia segera menghampiri Sri yang sudah menyiapkan makan siang untuknya.
"Siapa yang datang, Mbok? Sepertinya ada suara mobil tadi?" Tanya Umar, setelah duduk di salah satu kursi.
"Om Ardi yang pulang."
Umar mengangguk paham. Ia lalu meminum air putih yang disediakan Sri untuknya.
"Mas Umar makan dulu! Setelah itu baru temui om Ardi di ruang kerjanya. Ya?" Pinta Sri pelan.
Umar kembali mengangguk, setelah ia selesai minum. Ia lalu menikmati makan siang yang sudah disiapkan Sri untuknya.
Tok, tok, tok. Ketukan dari pintu, menggema sempurna di ruang kerja Ardi. Ardi yang sedang memeriksa laporan video dari Angga, segera mengalihkan perhatiannya.
"Iya, masuk!" Jawab Ardi singkat.
Pintu ruang kerja Ardi pun terbuka perlahan. Terlihat, Umar sedikit mengintip ke dalam perlahan.
"Masuklah, Mar!" Pinta Ardi, seraya berdiri dari kursi kerjanya.
Umar pun masuk dengan ragu. Bersamaan dengan itu, hujan diluar tiba-tiba turun dengan lebatnya. Disertai angin dan beberapa petir yang menyambar tak terkirakan. Menemani dua laki-laki berbeda generasi itu, mengobrol dan saling memahami satu sama lain.
"Kuatkan Umar, ya Allah!" Gumam Sri, saat melihat Umar memasuki ruang kerja Ardi.
Sungguh, Sri ingin sekali berada di samping Umar saat ini. Menemaninya mendengarkan kabar buruk yang sangat tak diharapkan itu. Karena memang, Sri juga sudah sangat menyayangi Umar seperti cucunya sendiri.
Umar selalu mengingatkan Sri pada cucunya yang ada di kampung. Karena nasibnya yang sama dengan cucunya. Yang harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya telah berpisah.
...****************...
"Ren, dia nggak dikasih makan?" Tanya seorang laki-laki yang sedari tadi menjaga Aini.
"Nggak. Besok aja. Itu hukuman buat dia, karena ulahnya yang merepotkan tadi." Jawab Reni santai, sambil menikmati makan malamnya.
"Kalau dia mati gimana?"
"Orang nggak bakal langsung mati, kalau cuma nggak makan sehari." Cibir Reni.
"Aku bilang, enggak, ya enggak!" Geram Reni.
Laki-laki itu langsung diam menuruti perkataan Reni. Ia tak lagi mendebat Reni yang memang merupakan pimpinannya. Meski sebenarnya, ia kasihan pada Aini yang tadi sempat ditampar sangat keras oleh Reni karena berusaha mencari bantuan.
Flashback On
"Dia berusaha kabur, Ren." Ucap si penjaga tadi.
Jantung Aini segera berdegup kencang. Ia sekarang mulai ketakutan jika sampai ulahnya tadi diketahui oleh para penculiknya.
Reni menoleh ke arah rekannya yang masih di dalam toilet. Ia pun menghampirinya.
"Apa maksudmu?" Tanya Reni setelah ia sampai di delan toilet.
"Lihat!"
Penjaga Aini tadi menunjukkan bekas kaki yang ada si atas bak cor. Dan lagi, tidak ada bekas basah sama sekali di toilet itu. Yang berarti, Aini tidak buang air tadi.
Reni tersenyum sinis sambil keluar dari ruangan kecil itu. Ia berjalan menghampiri Aini yang telah duduk di sebuah kursi yang tadi diberikan salah satu penculiknya untuknya.
Hati Reni berteriak girang. Akhirnya, ada sebuah alasan untuknya bisa sedikit membuat wanita yang ia culik tadi jera dan tak akan berulah lagi nantinya.
"Berdiri!" Pinta Reni keras.
Aini pun lalu berdiri. Dan, plaakk.
Sebuah tamparan begitu keras, mendarat dengan sempurna di wajah bagian kiri Aini. Ia seketika jatuh tersungkur tanpa persiapan.
"Jika sampai kamu berulah lagi, kamu akan mendapatkan hal yang lebih dari ini. Ingat itu!" Ancam Reni tegas.
Aini tak menghiraukan ucapan Reni. Ia sibuk mengusap wajah kirinya dan siku kanannya yang terasa sakit karena perbuatan Reni tadi.
"Lakban lagi mulutnya!" Imbuh Reni cepat.
Salah seorang diantara mereka, segera membungkam lagi mulut Aini dengan lakban. Reni pun segera berlalu meninggalkan Aini. Para anak buahnya pun mengikutinya.
__ADS_1
"Matikan lampunya!" Pinta Reni, sesaat sebelum ia keluar dari ruangan itu.
Salah seorang diantara para lelaki itu, segera meraih saklar lampu di ruangan itu. Dan seketika, ruangan itu pun menjadi gelap. Hanya ada sorot lampu dari ventilasi yang ada diatas pintu, sebagai penerangan.
Aini perlahan bangun dan duduk dengan pasrah di atas lantai. Ia masih menikmati denyutan demi denyutan karena habis terjatuh tadi. Belum lagi, pikirannya yang melanglang buana tak tentu arah.
"Pukul berapa sekarang? Astaghfirullah, aku bahkan belum sholat." Batin Aini bingung.
Aini berusaha bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia ingin bertanya pada orang-orang yang menculiknya, pukul berapa sekarang. Karena sungguh, ia ingin menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
Aini berusaha membuka slod pintu itu perlahan, tapi ternyata dikunci dari luar. Ia lalu menggedor-gedor pintu dimana tadi para penculik itu keluar. Tapi, tak ada respon sama sekali. Meski, terdengar suara para penculik itu sedang saling mengobrol.
"Aku harus gimana?" Batin Aini lagi.
Flashback Off
...****************...
Mentari kembali menampakkan sinarnya pagi ini. Setelah semalaman, hujan begitu lebat mengguyur beberapa wilayah Kota Surabaya. Meski begitu, awan mendung masih menaungi hati keluarga Ardi.
Sampai pagi ini, semua kecurigaan Ardi belum terbukti sama sekali. Semua orang yang dicurigai Ardi, nampak sangat biasa. Tak terlihat gelagat aneh dari diri mereka.
Dan pagi ini pula, Ardi juga akan melaporkan kasus penculikan Aini pada pihak polisi. Ia memang belum melaporkannya sejak kemarin karena banyak pertimbangan.
Dan pagi ini, Umar tidak berangkat sekolah. Ia demam setelah semalaman menangisi Aini yang diculik. Ia di pasrahkan oleh Ardi pada Sri. Agar Rama dan Niken tetap bisa ke rumah sakit seperti biasa untuk menemani Kenzo. Karena Kenzo masih belum tahu tentang kabar Aini yang diculik.
Gilang sudah datang ke rumah Ardi untuk memeriksa Umar. Ia juga sudah memberikan obat penurun panas untuk Umar, dan memintanya beristirahat.
"Maafkan Papa, Nak! Papa tak bisa menjaga bundamu dengan baik." Batin Ardi, saat melihat Umar terlelap setelah meminum obat dari Gilang.
"Gimana? Udah ada kemajuan?" Tanya Gilang, sebelum ia pergi dari rumah Ardi.
"Belum. Semua nampak biasa, tak ada yang mencurigakan." Jawab Ardi datar.
"Ayolah, Di! Segera temukan Aini! Nyawanya dalam bahaya dengan kondisinya saat ini."
"Aku juga tak menginginkan hal itu, Lang. Tapi apa dayaku? Aku bukan Tuhan yang mempunyai kekuasaan yang tak terbatas. Aku memang memiliki pengawal dan banyak hal. Tapi aku juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan, Lang." Jawab Ardi putus asa.
"Sabarlah dengan Umar! Dia sangat sedih dengan apa yang menimpa Aini saat ini." Saran Gilang, seraya menepuk bahu Ardi.
Ardi mengangguk paham.
"Ya sudah, aku pergi dulu! Bilang pada mbok Sri, jika nanti demam Umar tak kunjung turun, minta dia menghubungiku!" Pinta Gilang tulus.
"Oke. Thank's Lang."
"Tentu. Aku tunggu kabar baikmu!"
"Segera."
Gilang segera memasuki mobilnya. Ia lalu meninggalkan kediaman Ardi untuk menuju rumah sakit dimana ia bekerja.
Sedang Ardi, segera masuk ke rumah dan menyampaikan pesan Gilang pada Sri. Sri pun mengangguk paham.
Setelah itu, Ardi mengunjungi markasnya terlebih dahulu. Tak banyak orang di sana. Hanya ada Angga dan dua orang rekannya. Ardi sejenak merundingkan masalah keanehan video CCTV yang dikirimkan Angga kemarin.
Ada keanehan dari CCTV di pasar saat kejadian penculikan itu terjadi. Karena kejadian itu tidak terekam sama sekali. Padahal, Angga segera mendapatkan rekaman itu, tak lama setelah Ardi mengamuk kemarin.
"Hubungi semua rekanmu! Minta mereka membantumu melacak orang dibalik rekaman CCTV palsu itu!" Pinta Ardi tegas.
"Baik, Pak." Jawab Angga patuh.
Ardi pun lalu keluar dari markas pengawalnya. Ia segera masuk ke mobilnya dan langsung melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang sudah ia pikirkan sejak semalam. Sebuah tempat, yang sebenarnya sangat enggan untuk ia sambangi.
Ardi memencet bel rumah itu. Rumah yang belum lama ini ia sambangi untuk memarahi pemiliknya. Rumahnya nampak sepi, dan tak ada sahutan dari dalam rumah.
"Apa dia sudah keluar rumah?" Gumam Ardi sambil melirik arlojinya.
Tiba-tiab, ceklek.
"Siapa?" Ucap seseorang yang membukakan pintu.
"Hai, Liv." Sapa Ardi sedikit ramah.
Orang yang berada di ambang pintu, segera membulatkan kedua bola mata indahnya. Mulutnya bahkan sedikit ternganga karena terkejut.
__ADS_1
"Mas Ardi?" Ucap orang itu, yang tak lain adalah Oliv.