
"Di sekolah Kenzo, ada anak kupu-kupu malam juga? Atau dia kerja di sekolah Kenzo? Atau jangan-jangan, kamu ketemu dia baru sama salah satu orang tua dari teman Kenzo?" Tanya Gilang lagi tanpa ragu.
Ardi yang tadi sibuk melihat lalu lalang para pengunjung rumah sakit, segera menoleh ke arah Gilang. Wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Maksud kamu apa?" Tanya Ardi tak terima.
"Lha itu, Aini. Katamu tadi, kamu ketemu dia di sekolah Kenzo." Sahut Gilang makin bingung.
"Iya. Terus, maksud kamu apa ngomong perkara kupu-kupu malam?" Ucap Ardi makin kesal.
"Dia kupu-kupu malam, kan? Seperti yang sebelum-sebelumnya?"
"Punya mata empat, apa udah nggak fungsi semua? Ha?" Marah Ardi sedikit berteriak.
Gilang yang merupakan teman lama Ardi, mulai memahami perubahan emosi Ardi. Mereka berdua bahkan langsung jadi pusat perhatian puluhan pasang mata yang ada di lobi rumah sakit.
"Dia bukan wanita malam?" Tanya Gilang memastikan.
"Kamu nggak bisa lihat, bagaimana penampilannya?" Sahut Ardi makin kesal.
"Ayolah, Di! Aku kan bertanya untuk memastikan." Sahut Gilang untuk menenangkan Ardi.
Ardi diam tak menjawab.
"Jaman sekarang, penampilan luar bisa sangat menipu bukan?" Jawab Gilang, sambil menoleh ke arah Aini dan Dika yang sedang mengobrol.
"Tapi tidak dengan Aini. Ingat itu!" Sahut Ardi sambil menatap Gilang dengan tatapan tajam, dan jari telunjuk yang mengarah pasti pada sang dokter.
Gilang makin terkejut dengan sikap Ardi. Karena ia paham betul, bagaimana sifat teman lamanya itu.
Ardi segera melangkahkan kakinya menuju dimana Aini dan Dika berada. Ia pun mengajak Aini ke ruang praktek Gilang. Ruangan yang sudah sangat sering ia sambangi, sebagai wali dari pasien. Siapa lagi kalau bukan wali Kenzo.
Gilang adalah teman Ardi sejak di bangku SMP. Mereka bersekolah di sekolah yang sama hingga di bangku SMA. Setelah itu, mereka pun berkuliah di kampus yang sama. Hanya saja, fakultas mereka yang berbeda.
Gilang tahu betul, lika-liku kehidupan Ardi. Dari kehidupannya yang diketahui khalayak ramai, hingga kehidupannya yang sangat pribadi. Ia adalah sahabat Ardi yang paling mengerti Ardi.
Ya, Gilang tahu, Ardi beberapa kali bermain dengan wanita malam setelah perceraiannya dengan istrinya. Ia tahu, Ardi tidak hanya bermain dengan mereka untuk melepaskan hasaratnya sebagai seorang laki-laki. Tapi, ia juga mencoba menolong mereka dan putranya.
Ardi selalu menginterogasi para wanita malam sewaannya secara tidak langsung. Mengorek informasi pribadi mereka, disela obrolan sebelum mereka melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Karena memang, Dika selalu mencarikan wanita malam untuk Ardi dengan hati-hati. Jadi, Ardi pun memperlakukannya dengan hati-hati.
Memang, kabar bahwa Ardi sering bermain dengan wanita malam sudah tersebar diantara para rekan bisnisnya. Kegagalannya berumah tangga, menjadi alasan paling mendasar, yang ia jadikan kambing hitam dalam pemberitaan itu. Meski, itu ada benarnya, walaupun hanya secuil dari besarnya alasan yang sebenarnya.
Ardi dan kedua orangtuanya tak mempermasalahkan jika namanya dan nama keluarganya sedikit tercemar karena ulahnya itu. Karena dengan cara itu, identitas Kenzo sebagai putra Ardi tetap terjaga.
Ardi sebenarnya adalah laki-laki baik. Ia bukanlah tipe laki-laki yang bisa celup sana-sini demi menuntaskan hasratnya.
Ardi sebenarnya mencari pendonor bagi Kenzo. Ia akan berusaha menawarkan uang yang tidak sedikit, pada mereka yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Kenzo. Dengan sebuah kesepakatan, bahwa mereka akan berhenti menjadi wanita malam dan merahasiakan identitas Ardi dan keluarganya jika memang mereka mau dan bisa jadi pendonor bagi Kenzo.
Ada sebuah niat baik dari Ardi bagi para wanita malam itu. Ia ingin mereka berhenti dari pekerjaan yang sedikit kurang baik itu. Tapi dengan cara yang cukup halus.
Lalu, apakah Ardi benar-benar menuntaskan hasratnya dengan para wanita malam itu, saat itu? Biarkan Allah dan othor yang tahu tentang itu.
"Selamat siang, Bu. Maaf, saya tadi mengacuhkan Anda." Sapa Gilang ramah, setelah mereka sampai di ruang praktek Gilang.
"Tidak apa-apa, Dokter." Sahut Aini sungkan.
"Maaf, siapa nama Anda?" Tanya Gilang lagi sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Aini.
__ADS_1
"Saya Aini." Aini pun menyambut uluran tangan Gilang.
"Saya Gilang."
Mereka lantas saling melempar senyum.
"Jadi, Anda kenal dengan Kenzo?" Tanya Gilang penasaran.
"Iya, saya mengenalnya." Jujur Aini.
"Anda kenal Kenzo dimana?"
"Di sekolah."
"Dia bundanya Kenzo." Sahut Ardi tiba-tiba.
Gilang yang tadi sangat fokus pada Aini, segera menoleh pada Ardi.
"Dia calon istrimu?" Tanya Gilang cepat.
"Bukan!" Jawab Ardi dan Aini bersamaan.
Gilang pun kembali memandangi Ardi dan Aini bergantian dengan penuh tanya. Dua orang yang baru saja mengelak itu, tak menyadari bahwa pipi mereka sedikit merona.
"Dokter salah paham dengan itu." Imbuh Aini segera.
"Tadi Ardi bilang, Anda bundanya Kenzo. Berarti Anda calon istrinya Ardi, kan?" Ucap Gilang pada Aini.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau mau nikah lagi?" Imbuh Gilang, setelah menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap Ardi santai.
"Kalau punya mulut dijaga!" Sahut Ardi datar.
"Tuh, dengerin!" Ketus Ardi.
Aini makin tak enak hati dengan Ardi karena panggilan Kenzo padanya.
Sedang Ardi, ia tak tahu kenapa, bisa begitu entengnya mengatakan pada Gilang, bahwa Aini adalah bundanya Kenzo.
"Sebentar! Maksudnya bagaimana ini?" Tanya Gilang, setelah kembali menegakkan punggungnya.
"Maaf, Dokter, Pak Ardi. Jadi, putra saya Umar, adalah teman dekat Kenzo. Dan Kenzo sering ikut Umar menemui saya di sekolahnya. Jadi, saya bisa kenal dengan Kenzo karena putra saya, Umar." Jelas Aini.
Gilang masih mencoba memahami penjelasan Aini.
"Udah, cepet siapin yang harus dilakukan untuk donor!" Sela Ardi tiba-tiba.
"Kamu ini, nyela-nyela aja!" Kesal Gilang.
"Aini nggak punya banyak waktu. Dia harus kembali kerja." Jelas Ardi singkat.
"Benar yang dikatakan Pak Ardi, Dokter. Saya harus segera kembali bekerja setelah ini." Jelas Aini lagi.
"Oh, Oke!" Sahut Gilang mengalah.
Gilang lantas memberikan beberapa lembar kertas formulir yang harus diisi oleh Aini. Aini pun segera menerimanya dan mengisinya. Ia dibantu Gilang, mengisi beberapa bagian yang tidak ia pahami. Gilang pun menjelaskan apa itu donor sumsum tulang belakang dan bagaimana prosedur dan efek samping yang mungkin terjadi pada Aini.
"Baiklah, aku akan mengambil sample milikmu!" Ucap Gilang, setelah memeriksa data diri Aini.
__ADS_1
Gilang pun segera melakukan tugasnya. Mengambil sample sumsum tulang belakang Aini untuk digunakan untuk tes kecocokan dengan milik Kenzo.
"Berapa lama hasilnya akan keluar, Dokter?" Tanya Aini.
"Tiga atau empat minggu. Nanti aku akan menghubungimu." Jawab Gilang makin santai.
"Baiklah. Terima kasih, Dokter."
Setelah dirasa cukup, Aini segera berpamitan. Ia harus segera pulang, karena memang ia sudah pergi terlalu lama untuk urusan pribadinya. Meski, Dewi dan Galih sudah memberinya ijin untuk itu.
"Terima kasih Pak Ardi." Ucap Aini sebelum pergi.
"Untuk apa?" Sahut Ardi tak paham.
"Pengacara yang Bapak kirim untuk gugatan hak asuh Umar. Semoga saya bisa membalas kebaikan Bapak." Ucap Aini tulus.
"Semoga." Jawab Ardi singkat.
Pengacara Ardi sudah menemui Aini kemarin di rumah Dewi. Mereka sudah mencari informasi dan data yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan hak asuh Umar ke pengadilan. Ardi bahkan mengirimkan dua pengacara terbaik dari firma hukumnya untuk menangani kasus Aini.
Ardi sempat menawari Aini untuk diantar Dika pulang. Tapi ditolak langsung oleh Aini. Aini pun pulang dengan barisan-barisan do'a, agar ia bisa menolong Kenzo. Meski tak banyak.
"Kamu bayar berapa dia?" Tanya Gilang segera, setelah Ardi kembali ke ruang prakteknya.
"Putranya." Jawab Ardi datar.
"Maksudmu?"
"Aku membayarnya dengan mengembalikan hak asuh putranya padanya."
"Kalau bicara yang jelas!" Kesal Gilang.
Ardi mendengus. Ia tak kalah kesal dari Gilang. Hanya saja, alasannya yang berbeda.
"Kamu ini udah jadi dokter spesialis berapa tahun sih? Masak segala sesuatunya harus dijelasin secara gamblang? Otaknya diajak berkembang dong! Mikirnya lebih luas!" Ketus Ardi.
"Sialan kamu!"
Dika akhirnya angkat bicara demi melerai kedua sahabat yang memiliki sifat sama kerasnya itu. Ia pun menceritakan kesepakatan antara Ardi dan Aini. Hingga Aini mau menjadi pendonor bagi Kenzo.
"Kalau nggak cocok?" Tanya Gilang penasaran.
"Kamu mau tidur sama dia?" Imbuh Gilang segera.
"Kamu nyumpahin?" Kesal Ardi.
"Lha Dika tadi yang bilang. Aini menerima tawaranmu, kan? Jadi, kalau tidak cocok, kamu mau tidur sama dia, kan?"
"Mungkin. Karena tim kuasa hukumku, sudah mengajukan gugatan ke pengadilan untuk kasusnya."
"Edyan kowe!" Umpat Gilang tak percaya.
Ardi hanya diam tak menanggapi Gilang. Ia malah memikirkan ucapan Gilang yang belum terpikirkan olehnya sejak kemarin.
"Bagaimana jika nanti tidak cocok? Apa iya, Aini akan membayar dengan tubuhnya?" Batin Ardi mulai bergejolak.
Ardi tak pernah berniat seperti itu pada Aini. Bahkan, pada wanita malam yang bersedia menjadi pendonor bagi Kenzo, ia tak pernah menyentuhnya atau memperlakukannya dengan kurang sopan. Ia akan memperlakukan mereka dengan sangat baik. Sebagai rasa terima kasihnya karena mau menjadi pendonor untuk Kenzo.
__ADS_1
Takdir Tuhan, siapa yang tahu. Apa yang akan terjadi nanti, selalu menjadi misteri. Jangan lelah berbuat baik pada orang lain. Karena kita tak pernah tahu, hal baik mana yang akan menolong kita nanti di kemudian hari.