Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Interogasi Part 2


__ADS_3

"Ada apa, Pak Adit? Anda pasti mengenali suara anak kecil tadi bukan?" Remeh Ardi.


"Umar!" Gumam Adit lirih, dengan air mata yang perlahan menetes.


Ardi menyeringai puas melihat reaksi Adit. Telepon dari Umar, tidaklah masuk dalam rencananya. Tapi, itu sungguh menyempurnakan rencananya untuk membuat Adit menyesali setiap perbuatannya dulu.


"Iya. Itu adalah suara putra pertama Anda, bersama putra saya. Umar dan Kenzo." Jawab Ardi bangga.


Hati Adit begitu pedih mendengar apa yang ia dengar tadi. Umar dengan begitu entengnya memanggil Ardi dengan sebutan papa, dan bahkan, ia terdengar begitu manja pada Ardi.


Adit ingat, sebelum Umar dibawa oleh pengacara Aini hari itu, Umar sudah lama sekali tidak begitu manja padanya. Umar bahkan lebih terlihat seperti anak yang ketakutan pada ayahnya. Anak itu, bahkan jarang menyapa atau bercengkrama dengan ayahnya ketika ia di rumah. Umar lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kakeknya seorang.


"Kenapa, Pak Adit? Apa Anda tak mengira, jika Kenzo adalah putraku? Atau, Anda mungkin, merindukan putra pertama Anda itu?"


Adit lalu teringat sesuatu. Bagaimana ia melarang Umar untuk bergaul dengan Kenzo, karena latar belakang Kenzo yang tak jelas, dan bahkan, ia sedikit sakit-sakitan.


"Anak itu, putra pak Ardi?" Batin Ardi tak percaya.


"Terima kasih, Pak Adit. Karena telah memberikan putra sebaik Umar padaku. Aku bahkan tak menyangka, hanya dalam hitungan hari, ia meminta ijinku, agar bisa memanggilku dengan sebutan papa, seperti putraku Kenzo."


"Umar!" Gumam Adit lagi.


"Aku jelas bertanya padanya, kenapa ia ingin memanggilku seperti itu. Dan Anda tahu, bagaimana jawabannya?"


Ardi menjeda kalimatnya, sambil mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


"Umar bilang, ia rindu ayahnya yang dulu. Yang selalu memanjakan dan perhatian padanya. Bukan ayahnya yang sekarang, yang sering memarahinya karena hal sepele dan bahkan, sering menjelek-jelekkan bundanya di hadapannya. Itu yang Umar katakan."


"Apa?" Lirih Adit tak percaya.


"Umar tetaplah seorang anak yang merindukan keutuhan keluarganya, Pak Adit. Ia mengatakan, bahwa Anda lebih sering menghabiskan waktu Anda dengan putra kedua Anda, setelah Anda memboyongnya ke Surabaya. Apa jangan-jangan, itu tujuan Anda sebenarnya? Menjadikan Umar sebagai pelampiasan kebencian Anda pada Aini. Anda kejam, Pak Adit." Akhir Ardi kesal.


Adit tak bisa menjawab apapun. Hatinya terlalu pedih, mengingat apa yang telah ia perbuat secara tidak langsung pada Umar dulu. Yang ternyata, membuat Umar perlahan menjauh darinya.


Awalnya, Adit memang ingin menjauhkan Umar dari Aini, agar ia tak mengikuti jejak Aini yang dimata Adit, begitu buruk sikapnya. Tapi perlahan, rasa bencinya pada Aini, terlampiaskan pada Umar yang tidak tahu menahu apapun. Hingga lambat laun, Umar pun menjauh dari Adit dan hanya dekat dengan kakeknya saja.


"Sebenarnya, saya ingin segera mengakhiri ini semua. Tapi sayangnya, dua putraku sedang menungguku saat ini. Mereka merindukan bunda tersayangnya dan ingin segera menemuinya. Dan aku yakin, Aini juga pasti merindukan kami bertiga." Imbuh Ardi seraya berdiri.


"Tenang saja! Esok hari, saya akan segera melanjutkan semuanya. Saya juga kasihan pada polisi, yang sedang mencari keberadaan kalian saat ini. Jadi, saya harus segera menyelesaikan urusanku dengan kalian, sebelum kalian menikmati dinginnya ruang penjara." Akhir Ardi penuh kemenangan.


Ardi lalu berbalik badan dan segera meninggalkan ruangan itu tanpa berucap apapun lagi. Ia melangkahkan kakinya dengan pasti untuk segera pulang menemui dua anak laki-laki yang sedang menunggunya.


Jika ada yang bertanya, bagaimana Ardi tahu banyak tentang masa lalu Aini yang begitu pedih itu? Jawabannya adalah karena Imron dan Ratna. Mereka sempat menceritakan sedikit kisah masa lalu Aini pada Ardi kemarin.


Hingga Ardi pun segera meminta anak buahnya untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan itu secepatnya. Dan untuk inilah, Ardi melakukan hal itu. Demi membersihkan nama Aini di mata beberapa orang.


Adit benar-benar terpukul mendengar semua yang Ardi katakan tadi. Dari kenyataan bahwa Aini tidak berselingkuh, ibu dan istrinya yang menusuknya secara tidak langsung, hingga Umar yang bisa dengan manjanya memanggil Ardi dengan sebutan papa.


"Kenapa aku buta selama ini?" Guman Adit pilu.


Adit menangis begitu saja, demi meluapkan segala rasa yang ada di hatinya. Sakit. Pedih. Pilu. Semuanya terasa begitu menghancurkannya. Menyalahkan pun percuma, karena semuanya telah terjadi. Jadi, ia hanya bisa menyesal dan terus menyesali apa yang telah ia perbuat.


"Maafkan aku, Ni! Maaf!" Gumam Adit di sela tangisannya.


"Dasar! Wanita tidak tahu diri!" Umpat Reni, sambil menatap remeh pada Ratri yang sedang menangis.


Ya. Ratri juga sangat menyesali semua yang ia lakukan pada Aini dulu. Ia sudah bagaikan kacang yang lupa akan kulitnya. Sehingga dengan mudahnya, menyakiti orang yang sudah sangat baik dan berjasa besar padanya dulu.


Penyesalan selalu hadir setelah semuanya telah terjadi. Hingga terkadang, kata maaf saja terasa tak akan bisa menggantikan segala hal yang begitu menyakiti orang lain itu.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Aini sedang berbincang santai bersama Imron dan Ratna sambil menikmati sore. Seperti sebelumnya, mereka saling bercerita banyak hal untuk melepas rindu, meski sudah sejak kemarin mereka bertemu.


"Ni!" Panggil Ratna ragu.


"Iya, Mbak." Jawab Aini ramah.


Aini bisa melihat dengan jelas, raut wajah Ratna yang berubah sedikit serius saat ini. Tiba-tiba, ada sebuah perasaan kurang nyaman menghampiri hati Aini.


"Katakan saja, Bu'! Kondisi Aini sudah membaik, kan." Sela Imron tiba-tiba.


Aini dan Ratna segera menoleh pada Imron, yang sedang tiduran di tempat tidur lain di ruangan itu.


"Ada apa, Mbak?" Tanya Aini penasaran.


Ratna menghela nafasnya sambil tertunduk. Meyakinkan hatinya untuk mengucapkan apa yang mengganjal hatinya sejak kemarin. Ia lalu mengangkat wajahnya dan menatap Aini ragu.


"Apa hubunganmu dengan pak Ardi? Apa kamu memiliki hubungan istimewa dengannya?" Tanya Ratna segera.


"Ituu,,"


Aini kesulitan menjawab pertanyaan kakak semata wayangnya itu. Ia yang tadi manatap santai wajah kakaknya, mendadak menjadi gugup tak terkira.


"Jawab Mbak, Ni!" Pinta Ratna sedikit tegas.


"Aku,, aku nggak punya hubungan istimewa dengan mas Ardi, Mbak." Jawab Aini bingung.


"Lalu, kenapa pak Ardi memanggilmu dengan panggilan sayang?"


Aini menelan salivanya dengan gugup. Keringat dingin mulai membasahi beberapa bagian tubuhnya. Hawa dingin pun semakin terasa menyapa kulitnya. Ia bagaikan seorang tersangka yang sedang diinterogasi oleh penyidik yang begitu disiplin.


Aini menoleh pada Imron. Kakak ipar yang sangat menyayanginya sejak mereka bertemu. Begitu perhatian dan memahaminya dengan sangat lembut.


"Aku nggak punya hubungan istimewa dengan mas Ardi, Mas, Mbak. Memang, mas Ardi pernah mengatakan padaku kalau dia jatuh hati padaku. Tapi, aku belum memberikan jawaban apapun." Jujur Aini.


"Kapan dia mengatakannya?" Tanya Ratna penasaran.


"Saat kami liburan ke Madura kemarin."


"Kalian sudah pernah liburan? Berdua?" Tanya Ratna tak terima.


"Enggak, Mbak. Kami liburan dengan banyak orang. Mas Ardi mengajak mbok Sri dan pak Prapto, juga keluarga pak Joko. Bahkan, keluarga pak Dika dan dan dokter Gilang juga ikut waktu itu."


"Lalu, bagaimana perasaanmu padanya? Kamu juga menyukainya, kan?"


"Ituuu,,"


"Bukan Mbak mau melarangmu jatuh cinta atau menyukai seseorang, Ni. Hanya saja, Mbak nggak mau, kamu nanti kecewa dan merasakan apa yang kamu lalui dulu di pernikahanmu yang sebelumnya." Ucap Ratna perhatian.


"Aini juga nggak mau Mbak, kalau itu." Cicit Aini.


"Pak Ardi bahkan lebih kaya dari Adit. Mbak takut, masa lalumu terulang lagi, Ni."


Aini terdiam.


"Bukan Mbak berburuk sangka dengan keluarga pak Ardi, hanya saja, Mbak bener-bener nggak bisa lihat kamu kayak dulu lagi, Ni."


Aini mengangguk paham.

__ADS_1


"Kamu, sejak kapan tinggal di rumah pak Ardi? Kamu pindah kerja, kenapa nggak bilang sama Mbak?"


"Aku,, nggak kerja Mbak, di rumah mas Ardi." Jujur Aini.


"Lalu? Kalian,,,"


"Jangan mikir jauh-jauh, Mbak!"


"Terus?"


"Aku ketemu mas Ardi di sekolah Umar. Dan kebetulan, Kenzo adalah teman dekat Umar. Dia juga selalu ikut Umar, kalau Umar nemuin aku di sekolah."


"Awalnya, aku nggak tahu kalau Kenzo itu putra pemilik yayasan yang menaungi sekolah Umar. Sampai hari itu, mas Ardi dateng ke rumah bu Dewi, ngasih aku penawaran."


"Penawaran?"


"Mas Ardi nawarin aku hak asuh Umar, dengan imbalan, aku harus bisa menjadi pendonor untuk Kenzo."


"Donor?"


"Iya. Kenzo itu mengidap leukemia sejak kecil. Ibunya pergi mengejar karir, dan bahkan tak mau menjadi pendonor untuk Kenzo. Jadi, mas Ardi berusaha mencari pendonor yang cocok untuk Kenzo, karena kondisinya semakin memburuk."


"Lalu? Kamu, cocok?"


"Setelah menjalani tes, ternyata hasilnya cocok. Jadi, mas Ardi memenuhi ucapannya untuk mengambil Umar dari mas Adit, agar bisa kembali padaku."


"Kamu sudah mendonorkannya?"


"Sudah. Beberapa hari sebelum,,"


"Pantas saja kondisimu seburuk itu kemarin. Kamu ternyata baru saja menjalani operasi."


Aini tersenyum kecil.


"Jadi Ni,, bagaimana perasaanmu pada pak Ardi?" Tanya Imron lagi.


"Emm,, aku nggak tahu, Mas. Yang aku tahu, aku merasa nyaman jika berada didekatnya. Aku juga bahagia jika bertemu dengannya. Bahkan kemarin, aku sempat bermimpi tentangnya, sebelum akhirnya mas Ardi menemukanku entah dimana itu." Jujur Aini.


"Bodoh! Usiamu itu sudah hampir tiga puluh tahun, Ni. Masak kayak gitu aja nggak paham?" Cibir Ratna.


"Aini baru puber kedua, Bu'." Timpal Imron.


"Mas Imron sama Mbak Ratna bilang apa sih?" Sahut Aini malu.


"Tuh lihat! Pipinya merah kan, Bu'?" Goda Imron.


Aini pun refleks memegangi kedua pipinya. "Mana ada, Mas?"


Ratna tersenyum kecil melihat tingkah Aini. Dalam hati kecilnya, ia lega. Karena Aini perlahan menemukan kebahagiaannya lagi. Bersama seseorang yang mungkin, memang benar-benar bisa menerima dan membahagiakannya.


"Mbak nggak ngelarang kamu buat menjalin hubungan dengan siapapun, termasuk pak Ardi. Hanya saja, Mbak nggak mau, kalau kamu nanti sampai merasakan apa yang kamu rasakan dulu, Ni."


"Kita sekarang hanya tinggal berdua. Mbak nggak mau, bapak sama ibu sampai sedih dan nyalahin Mbak dalam mimpi, karena nggak bisa jaga kamu dengan baik, jika sampai masa lalumu terulang kembali." Tutur Ratna sendu.


"Aini paham Mbak, maksud Mbak Ratna. Aini juga nggak mau Mbak, yang kayak gitu terulang lagi." Jawab Aini sedih.


"Jadi, kamu mau melanjutkan hubunganmu dengan pak Ardi?" Tanya Ratna ragu.


"Apa Mbak merestuinya, kalau aku melanjutkannya?" Tanya Aino cemas.

__ADS_1


__ADS_2