
Malam kembali tiba. Bulan dan bintang pun, sudah kembali bersinar dengan indahnya menghiasi langit malam. Memberikan keindahan yang paripurna bagi setiap netra yang memandangnya.
Ardi dan Aini sedang menikmati waktu mereka saat ini. Setelah tadi, mereka menemani Umar dan Kenzo belajar. Dan sekarang, dua anak laki-laki itu, sudah berada di kamar masing-masing, dan bersiap untuk tidur. Agar esok, tidak kesiangan untuk bangun subuh dan sekolah lagi.
"Mas,," Panggil Aini lirih, saat ia bersandar manja di dada sebelah kiri Ardi.
"Iya, Sayang."
"Maaf ya, Mas."
"Maaf kenapa?" Polos Ardi.
"Maaf karena aku sudah berprasangka buruk padamu dan mbak Dian kemarin." Sesal Aini, sambil memainkan tangan kanan Ardi.
"Berprasangka buruk? Maksudmu gimana, Sayang?"
"Aku pikir, Mas ada hubungan spesial dengan mbak Dian."
"Aku memang ada hubungan spesial dengannya, Sayang. Dia sahabatku sejak kecil."
"Bukan itu Mas, maksudku."
"Lalu?"
"Aku pikir,,"
"Kamu kira, aku akan menikahi Dian? Karena Dian sedang hamil besar. Bukan begitu?" Sela Ardi santai.
Aini sedikit mendongakkan wajahnya. Ia terkejut, karena Ardi tahu apa yang ia pikirkan. Tapi, ia malah disambut dengan sebuah kecupan hangat dari sang suami di keningnya.
"Kamu terlalu berpikir jauh, Sayang." Nasehat Ardi.
"Tapi, kemarin aku nggak sengaja denger obrolan kalian. Mbak Dian minta kamu yang bertanggung jawab, Mas." Jujur Aini.
"Iya. Dian memang bilang gitu. Tapi kan bukan untuk menikahinya, Sayang."
"Iya, Mas. Aku yang nggak denger semuanya. Aku terlalu cepat menyimpulkan kemarin. Aku jadi salah paham dengan kalian, Mas."
"Kenapa kamu tidak bertanya padaku sejak kemarin?"
"Aku takut, Mas."
"Takut? Takut apa?"
"Aku takut jika memang yang aku pikirkan itu benar. Aku tidak siap jika harus kembali dimadu, Mas. Apalagi, mbak Dian sedang hamil besar. Mas bisa saja mengabaikanku jika memang Mas menikah dengan mbak Dian." Sedih Aini.
"Tenanglah, Sayang! Aku tidak akan pernah melakukan itu padamu. Kamu akan menjadi istri terakhirku. Dan kuharap, kamu juga yang akan menjadi istriku di surga kelak." Jawab Ardi perhatian.
Aini langsung melingkarkan tangannya ke tubuh Ardi. Ia memeluk erat Ardi dengan penuh haru. Bahkan tak lupa, ia mengangguk pasti di dada Ardi.
Ardi pun segera membalas pelukan Aini. Ia bahagia, akhirnya kesalahpahaman mereka kembali terselesaikan dengan baik.
"Tapi Mas, kenapa Mas tidak menjelaskan semuanya padaku sebelumnya? Jadi aku tidak salah paham denganmu, Mas." Rajuk Aini.
"Maaf, Sayang. Aku tidak berpikir, kamu akan salah paham seperti itu." Jujur Ardi.
"Aku juga minta maaf, Mas. Aku tidak mencari kebenarannya dahulu kemarin. Aku langsung menyimpulkan semuanya tanpa bertanya padamu atau pada mama lebih dulu." Aku Aini.
"Pelajaran lagi, Sayang. Ternyata, kita harus lebih terbuka lagi satu sama lain."
Aini mengangguk setuju. "Tapi, pagi ini, Mas terlihat tenang sekali denganku. Mas tidak terlihat cemas atau takut kalau aku salah paham denganmu."
Ardi tersenyum geli.
"Mas kenapa malah senyum gitu?" Bingung Aini.
"Kamu mengigau terlalu banyak semalam, Sayang."
"Apa?"
__ADS_1
"Kemarin siang setelah Dian pulang, mama sudah menasehatiku. Mungkin, kamu salah paham dengan kedekatanku dengan Dian. Jadi, aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Tapi, kamu tidak mau bicara sama sekali denganku. Kamu bahkan juga tidak keluar kamar hingga malam. Itu memperkuat dugaan mama benar adanya."
"Lalu Umar dan Kenzo bilang, kamu demam. Aku semakin yakin, kamu terlalu memikirkan hubunganku dengan Dian, hingga kondisimu menurun. Saat aku ingin menjelaskan, kondisimu sudah demam dan tak mau banyak bicara. Jadi, aku ingin kondisimu membaik dulu."
"Tapi ternyata, demammu malah semakin tinggi semalam. Kamu bahkan mengigau tak karuan semalam." Cerita Ardi.
"Benarkah, Mas? Aku mengigau apa?" Tanya Aini penasaran.
Flashback On
Ardi akhirnya mendekap Aini dengan hangat. Membiarkan Aini pergi ke alam mimpi dengan badannya yang terasa panas. Ia tidak tahu, jika Aini ternyata belum minum obat penurun panas. Karena Aini mengaku, jika ia sudah minum obat tadi.
Ketika malam semakin bergulir, demam Aini semakin tinggi. Ardi jelas makin tidak tenang karena hal itu. Dan tiba-tiba,,
"Jangan, Mas!" Rintih Aini lirih, dengan mata yang terpejam.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Ardi perlahan, sambil mengusap lembut puncak kepala Aini.
Aini menggeleng pelan, dengan mata yang masih tetap terpejam. Ia bahkan melenguh dan mendesah ketakutan. Wajahnya terlihat takut dan cemas.
"Kamu mimpi apa, Sayang? Bangunlah!" Ucap Ardi lembut, sambil menggoyangkan lengan Aini perlahan.
Tapi Aini, tidak segera membuka matanya.
"Mbak Ratna,," Rintih Aini lagi.
"Mbak Ratna?" Ulang Ardi bingung.
"Aku nggak mau, Mbak." Ucap Aini lagi.
Tiba-tiba, sebulir air nan bening, terlepas dari kelopak mata yang menutup itu. Ardi jelas terkejut bukan main.
"Kamu mimpi apa, Sayang?" Ucap Ardi sambil mengusap air mata Aini yang menetes.
"Jangan madu aku, Mas!" Pinta Aini dengan sedih.
"Apa?"
Setelah beberapa kali memanggil Aini dan menggoyangkan tubuhnya, Aini akhirnya membuka mata. Tapi, mata itu nampak begitu sayu dan lemah.
"Ada, apa, Mas?" Lirih Aini.
"Kamu bermimpi buruk, Sayang."
"Be, nar, kah?" Lirih Aini.
Ardi makin cemas karena suhu tubuh Aini makin tinggi. Apalagi, Aini sepertinya tidak sadar secara penuh. Ia pun segera bangun dan menghubungi Gilang, dan meminta sahabat lamanya itu untuk segera datang ke rumah dan memeriksa kondisi Aini.
Saat Ardi menelepon Gilang, Aini sudah kembali terlelap. Sejenak ia tidur dengan tenang. Tapi tidak lama, ia kembali mengigau dan ketakutan.
Tak butuh waktu lama bagi Gilang untuk tiba di rumah Ardi. Karena memang, lalu lintas sudah mulai lengang. Jadi, ia bisa segera sampai.
Gilang pun segera memeriksa kondisi Aini. Aini pun terbangun karena merasakan ada seseorang yang sedang memeriksa kondisinya. Tapi tetap saja, ia tidak sadar sepenuhnya.
"Dokter Gilang? Aku pasti bermimpi." Batin Aini saat melihat Gilang samar-samar.
Mata nan sayu dan lemah itu, kembali terpejam tanpa berucap apapun. Ia masih terlalu enggan untuk terbangun, bahkan hanya untuk sekedar menyapa Gilang. Ia juga hanya samar-samar mendengar percakapan antara Ardi dan Gilang.
"Kamu yakin, Aini udah minum obat?" Tanya Gilang meyakinkan.
"Dia bilang udah tadi." Jujur Ardi.
"Kalau gitu, aku kasih suntikan aja. Kalau dalam dua atau tiga jam masih nggak bekerja, bawa Aini ke rumah sakit."
"Ya."
Gilang segera menyuntikkan obat ke tubuh Aini. Aini kembali membuka matanya. Tapi tetap, Aini tidak sadar sepenuhnya, dan segera kembali terlelap.
"Kenapa bisa sampai kayak gitu?" Tanya Gilang perhatian.
__ADS_1
Ardi tak menjawab. Ia hanya menempelkan satu jari telunjuknya ke bibirnya. Meminta Gilang untuk diam saja dan membiarkan Aini kembali beristirahat.
Gilang yang juga paham dengan sifat Ardi, akhirnya tidak kembali bertanya. Ia lalu berpamitan pulang dan meminta Ardi mengabari bagaimana kondisi Aini nanti.
Setelah mengantar Gilang ke depan, Ardi sejenak menengok dua putranya. Kalau saja mereka terbangun karena kedatangan Gilang. Tapi ternyata tidak. Umar dan Kenzo terlelap begitu nyaman di kamar masing-masing.
Satu jam berlalu. Aini masih mengigau dengan keringat yang keluar dari tubuhnya. Ia masih ketakutan dan berkata tak ingin dimadu. Ardi merasa bersalah karena membuat Aini seperti itu. Tapi ia masih membiarkan Aini beristirahat, agar kondisinya lekas membaik.
Dan setelah dua jam, demam Aini sudah mulai turun. Badannya sudah tidak sepanas tadi. Ardi pun merasa sedikit lega. Dan lagi, Aini juga sudah mulai tenang tidurnya. Tidak kembali mengigau macam-macam.
Ardi juga segera mengabari Gilang tentang hal itu. Dan setelah itu, ia pun mulai ikut mengistirahatkan tubuhnya.
"Maaf, Sayang." Lirih Ardi, sambil mendekap hangat Aini.
Flashback Off
Aini menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu, karena ketahuan bermimpi tentang Ardi dan Dian.
"Kenapa seperti itu?" Goda Ardi.
"Ah, Mas, ah! Kan aku malu. Mas sampai tahu kalau aku mimpi seperti itu." Aku Aini.
"Itu berarti, kamu sangat menyayangiku, Sayang. Kamu tidak ingin hatiku terbagi untuk wanita lain."
"Aku masih trauma, Mas."
"Aku tahu, Sayang. Maaf, aku tidak berpikir sampai kesana kemarin. Aku kira, kamu tidak akan salah paham dengan Dian."
"Mas, sih! Nggak cerita lengkap kemarin." Rajuk Aini.
"Iya, iya. Aku minta maaf, ya?" Sesal Ardi.
Aini mengangguk yakin.
Ardi lalu mengajak Aini masuk ke kamar, karena malan semakin larut, dan udara jelas semakin dingin. Ia tak ingin kondisi Aini kembali memburuk seperti semalam.
****************
Keesokan paginya, Aini sudah kembali seperti sedia kala. Tubuhnya juga sudah sangat membaik dan bisa melakukan tugasnya sebagai ibu dan istri seperti biasa.
"Nanti Reno akan kemari sekitar jam delapan. Dia akan mengantarmu ke rumah Dian, baru setelah itu mengantar kalian ke warung." Jelas Ardi sembari mengancingkan kemejanya.
"Apa warung mbak Dian jauh, Mas?" Tanya Aini, sambil mencarikan dasi untuk Ardi.
"Yang satu tidak begitu jauh dari sini. Satu lagi, tak jauh dari rumah Dian. Dan satu yang lain, cukup jauh dari sini atau rumah Dian."
"Itu usaha yang mbak Dian rintis, Mas?"
"Bukan. Dulunya itu usaha ibunya Dian. Tapi setelah ayah Dian pensiun dini karena kecelakaan, ibunya menyerahkan usahanya pada Dian, yang memang sejak lama sudah membantu ibunya mengurus warung. Dan setelah dikelola Dian, ia membuka dua cabang dengan bantuan almarhum suaminya."
Aini mendengarkan dengan seksama cerita Ardi. Ia jelas semakin penasaran dengan Dian, karena sikap Dian kemarin begitu ringan dan hangat padanya.
Setelah Ardi berangkat bekerja, Aini bersiap untuk menjemput Dian, yang akan memperkenalkan warung dan karyawannya padanya. Ia akan segera membantu Dian mengurus warung. Mengingat, HPL Dian makin dekat. Jadi, Dian tidak memiliki banyak waktu untuk memperkenalkan dirinya dengan warung dan para karyawannya.
Ardi sudah memberikan nomor Dian pada Aini, begitu juga sebaliknya. Jadi, mereka bisa saling berkomunikasi saat saling membutuhkan.
"Bayinya besar banget ya, Mbak?" Tanya Aini penasaran, saat ia duduk berdampingan dengan Dian di mobil.
"Enggak. Tapi kembar." Jujur Dian.
"Kembar? Mbak hamil anak kembar?"
Dian mengangguk yakin. "Salah satu om-nya bang Rio, ada yang kembar. Jadi dari bang Rio dapet gen kembarnya."
"Boleh aku mengusapnya, Mbak?" Ragu Aini, tapi begitu gemas.
"Boleh."
Aini segera mengelus perut besar Dian. "Semoga Allah segera kembali mengijinkanku untuk hamil."
__ADS_1
Aini dan Dian lalu berbincang banyak hal sembari menikmati perjalanan menuju warung Dian yang terdekat. Mereka saling berbagi cerita dengan begitu asiknya.
Terkadang, apa yang terlihat oleh mata, tidak selalu seperti itu adanya. Karena terkadang, ada beberapa hal yang memang tidak perlu kita tunjukkan pada orang lain. Kita harus lebih pandai dan bijak menilai orang lain, karena tidak semua yang terlihat itu benar adanya.