Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kekhawatiran


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Hingga hari pun berganti. Menapaki kembali cerita demi cerita baru dalam setiap detik dan menitnya. Cerita yang tak pernah kita tahu seperti apa itu.


Hari ini, Imron dan Ratna akan memanen kacang yang mereka tanam. Ratna sudah meminta ijin libur selama dua hari pada sang majikan untuk memanen kacangnya. Karena memang, biasanya ia dan Imron butuh dua hari untuk menyelesaikan panennya.


Semua penghuni rumah Imron dan Ratna sudah bangun pagi hari ini. Terlebih Ratna dan Aini. Mereka jelas bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal makan dan camilan yang akan mereka bawa ke sawah. Apalagi, kemarin Aini juga sudah berjanji pada Rafi jika akan membuatkan lemet hari ini.


Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, semua penghuni rumah Imron mulai berangkat ke sawah. Ini adalah pengalaman pertama bagi Ardi dan Kenzo. Jadi, semalam Ardi sudah mencari video di internet tentang bagaimana memanen tanaman kacang tanah.


"Apa akan selesai dalam sehari panennya, Mas?" Tanya Ardi sambil berjalan beriringan dengan Imron.


"Aku dan Ratna biasanya menyelesaikan semuanya selama dua hari. Itu pun biasanya kami bawa pulang sebagian. Kami lanjutkan di rumah." Jujur Imron.


Sawah yang dikelola oleh Imron, memang tidak terlalu besar. Tapi, ada dua petak sawah yang ia kelola bersama Ratna. Dan itu ukurannya juga tidak begitu kecil. Jadi, memang butuh waktu agak banyak bagi Imron dan Ratna jika harus menyelesaikan panen mereka.


Ardi terdiam setelah mendengar penuturan Imron. Ia lalu sedikit memperlambat langkahnya demi mensejajari Aini yang berjalan di belakangnya bersama Ratna. Ratna yang paham, lalu sedikit mempercepat langkahnya untuk membiarkan Ardi dan Aini berbincang.


"Kenapa, Mas?" Tanya Aini paham.


"Bagaimana jika aku meminta pengawal kita untuk ikut membantu? Panennya akan cepat selesai bukan, jika lebih banyak orang?" Tawar Ardi.


"Apa tidak akan merepotkan mereka, Mas?"


"Tidak. Itu bagian dari tugas mereka, Sayang. Membantu apa yang aku lakukan."


Aini mengangguk setuju. Ardi pun tersenyum lega mendapat jawaban dari Aini. Ia lalu segera menghubungi empat pengawal yang menjaganya selama ia di rumah Imron dan Ratna. Dan meminta mereka untuk membantu proses panen kacang Imron.


Bukan maksud Ardi enggan membantu atau sombong pada Imron dan Ratna. Hanya saja, jika pekerjaan itu dilakukan oleh lebih banyak orang, pasti akan lebih ringan dan cepat selesai.


Beberapa saat setelah penghuni rumah Imron sampai di sawah, para pengawal Ardi pun juga menyusul mereka. Imron dan Ratna sedikit kebingungan dengan kedatangan empat orang laki-laki itu.


"Mereka akan membantu panenmu, Mas. Biar lebih cepat selesai." Jelas Ardi.


"Malah merepotkanmu, Di." Santai Imron.


"Tidak, Mas. Ini juga bagian dari tugas mereka."


Imron menghela nafas paham. "Terima kasih, ya."


"Tentu, Mas."


Ratna dan Aini menyiapkan tempat untuk bagian mereka, memisahkan kacang dari pohonnya. Sedang yang lain, mulai mencabut pohon kacang. Bahkan, empat anak laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh itu, juga ikut bersemangat mencabut pohon kacangnya.


Dalam beberapa menit saja, sudah banyak pohon kacang yang tercabut. Ratna dan Aini pun mulai melakukan bagian mereka sambil sedikit mengobrol.


"Kalian nggak capek?" Tanya Ardi pada Kenzo dan Umar yang terlihat mulai lelah.


"Sedikit, Pa." Jawab dua anak laki-laki itu bersamaan.


"Istirahat dulu aja! Duduk sama bunda, sama budhe di sana!" Pinta Ardi.


"Nanti, Pa." Yakin Umar.


"Aku juga nanti aja, Pa. Tapi, mau minum dulu sebentar." Sahut Kenzo yang langsung berjalan menuju ke tempat Aini.


"Oke. Umar nggak minum?"


"Boleh deh, Pa. Papa nggak minum dulu?"


"Papa nanti aja."


"Umar ke tempat bunda dulu, Pa."


Ardi hanya mengangguk. Ia menatap dua putranya yang berjalan ke arah Aini dan Ratna untuk mengambil minum.


Umar dan Kenzo pun disambut oleh Ratna dan Aini. Mereka lalu sedikit memakan camilan yang dibawa dari rumah.


Tak lama, Umar dan Kenzo kembali melanjutkan panen mereka. Ratna menatap dua anak laki-laki itu dengan seksama. Terlebih pada Umar.


"Dia masih terlihat begitu dekat dan bahagia dengan Ardi. Seperti dulu saat di Surabaya." Batin Ratna.


"Mbak kenapa?" Tanya Aini, yang menyadari jika Ratna sedikit melamun.


"Apa? Oh, nggak papa, Ni." Gagap Ratna.


"Jangan ngelamun, Mbak! Ini di sawah, lho. Nanti kesambet penunggu pohon ciplukan, kan bahaya." Kekeh Aini.


"Kamu penunggunya!" Sahut Ratna segera.


"Masak cantik-cantik gini dibilang penunggu pohon ciplukan?"


"Ya nggak papa. Kan biar ciplukannya juga cantik-cantik buahnya." Ledek Ratna.


"Mbak ini, ada-ada aja!"

__ADS_1


"Kamu juga yang mulai."


Ratna dan Aini pun tertawa bersama. Tapi segera, perhatian Ratna teralihkan ke arah dimana Umar dan Ardi yang sedang berbincang sambil terus memanen kacang. Ia pun teringat sesuatu.


Flashback On


Malam mulai larut. Semua penghuni rumah Imron sudah bersiap untuk beristirahat di tempat masing-masing. Termasuk Ratna dan Aini.


"Ni!" Panggil Ratna singkat, sambil menatap atap rumahnya dari atas kasur.


"Iya, Mbak."


"Bagaimana bisa kalian bertemu kembali? Katamu, kalian sudah tidak berkomunikas lagi." Datar Ratna.


"Umar yang membawa mas Ardi ke warung, Mbak."


"Umar?"


"Iya. Hari pertama libur sekolahnya, ia diserempet sepeda motor saat hendak pulang bermain. Lalu ditolong oleh seseorang. Dan ternyata, yang menolongnya adalah mas Ardi."


"Jangan-jangan, itu akal-akalannya?"


"Enggak, Mbak. Aku dengar dari pak Dika, mas Ardi sempat tidak mau turun dan menemuiku saat sampai di warung waktu mengantar Umar pulang."


"Kenapa?"


"Dia ingin memenuhi permintaanku waktu itu, dan juga menepati janji yang pernah ia buat pada dirinya sendiri."


"Janji?"


"Iya. Mas Ardi ternyata pernah berjanji pada dirinya sendiri karena permintaanku waktu itu. Ia berjanji untuk tidak menemuiku, sampai Allah sendiri yang mempertemukan kami dengan cara-Nya."


"Tapi, ada Erna kan di dekatmu? Dia bisa tahu bagaimana kabarmu meski tanpa menemuimu. Dan kamu juga tak tahu, mungkin saja, ia menemuimu secara diam-diam."


"Iya, itu alasan mas Ardi mengirim Erna. Ia ingin menjagaku dari jauh. Dan benar juga, mas Ardi ternyata selama ini diam-diam melihatku dari jauh setiap bulan. Tapi, dia tidak pernah menemuiku secara langsung, Mbak. Demi memenuhi permintaanku dan memenuhi janjinya."


Ratna tediam mendengar penuturan Aini. Ia tahu betul, Ardi bisa saja menemui Aini dan bahkan langsung meminangnya. Atau mungkin, memaksa Aini dengan segala cara, agar mau kembali padanya. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Ardi memilih menunggu, hingga Allah mempertemukan mereka.


"Apa Mbak tahu, yang lebih membuatku terkejut kemarin saat mas Ardi datang ke warung mengantar Umar?" Imbuh Aini.


"Apa?"


"Umar memanggil mas Ardi dengan sebutan papa."


"Mbak sudah tahu?"


"Iya. Aku tahu saat kamu masih berada di ICU, saat di Surabaya."


"Mbak kenapa nggak bilang padaku?" Pekik Aini sambil bangun dari posisi tidurnya.


"Waktu itu kamu masih harus banyak memulihkan kondisimu, Ni. Mbak juga lupa karena memikirkan kondisimu yang sangat buruk saat itu. Dan setelah itu, kalian ada masalah. Aku kira, semua sudah berakhir sampai saat itu saja. Jadi, tak ada gunanya juga aku mengatakannya padamu."


Aini mendengus kesal.


"Apa Umar tidak mengatakannya padamu?" Imbuh Ratna.


Aini menggelengkan kepalanya. "Dia takut, jika aku marah karena dia tidak meminta ijin dulu padaku. Karena ternyata, Umar memanggil mas Ardi dengan papa, sejak sebelum aku tinggal di rumah mas Ardi saat itu."


"Oh, ya? Aku tak tahu tentang itu."


"Mas Ardi yang menceritakannya padaku."


"Ardi tak marah, Umar memanggilnya seperti itu?"


"Tidak. Mas Ardi malah meminta Umar merahasiakan dulu hal itu dariku, karena saat itu aku sedang sibuk mengurusi perebutan hak asuh Umar."


"Kalian ini, sama saja." Batin Ratna.


"Lalu, apa kamu memarahi Umar?"


"Bagaimana bisa aku marah padanya, Mbak? Apalagi, kemarin Umar baru saja terserempet motor saat aku mengetahui hal itu."


"Kamu tak marah pada Ardi?"


"Kenapa aku harus marah, Mbak? Kenzo saja, dulu juga meminta ijinku untuk memanggilku bunda dan aku mengijinkannya. Dan mas Ardi tidak marah untuk hal itu. Jadi, kenapa aku harus marah, Mbak?"


Ratna menghela nafas pasrah. "Sudah, ayo tidur! Besok harus bangun pagi nyiapin bekal."


Ratna segera memunggungi Aini. Ia pun memejamkan matanya, meski belum tertidur. Ia tak ingin, Aini merayunya secara perlahan. Karena ia paham, pembicaraan Umar dan Ardi tadi, sedikit menggiring Aini untuk merayunya.


Flashback Off


Ratna masih setia menatap Ardi. Ia tahu, Ardi berusaha sangat keras untuk membaur dengan kehidupannya, yang jelas berbeda jauh dengan dirinya.

__ADS_1


"Apa dia benar-benar serius dengan hubungan ini?" Batin Ratna.


Di sebelah Ratna, Aini malah menatap Ratna dengan serius. Ia juga teringat, obrolannya dengan Ratna semalam, sebelum tidur. Hatinya sedikit menciut, saat mengingat sikap Ratna yang masih acuh dan dingin padanya setelah obrolan mereka.


"Apa mbak Ratna benar-benar tidak mau merestuiku?" Batin Aini sedih.


...****************...


Menjelang petang, sinar sang surya makin meredup. Ditambah barisan awan hitam yang menyertainya, suasana pun menjadi terasa lebih gelap. Dengan ribuan liter air langit, yang nampak siap turun menyapa bumi.


Panen kacang Imron selesai hari ini. Dengan banyaknya tangan yang bekerja, pekerjaan mereka selesai lebih cepat. Imron pun sudah membawa pulang hasil panennya dengan sepeda motornya. Dan saat Imron selesai, semua pun pulang dengan lega.


Semua merasa lelah hari ini. Saking lelahnya, empat anak laki-laki yang ada di rumah Imron, pergi tidur lebih awal.


"Bisa kita bicara sebentar, Yang?" Tanya Ardi, saat Aini selesai sholat isya.


Aini pun mengangguk yakin. Mereka lalu berjalan ke teras rumah Imron, dan duduk berdua di atas kursi panjang dari bambu, yang ada di teras Imron.


"Mas lelah, ya? Sini, aku pijitin!" Pinta Aini segera, setelah mereka duduk bersama.


"Calon istriku memang perhatian." Puji Ardi bahagia.


Aini hanya tersenyum kecil. Tubuhnya yang juga lelah, sedang dihinggapi rasa cemas yang tanpa permisi masih enggan untuk pergi. Dan bahkan, semakin mengganggu pikirannya.


Aini pun memijit-mijit bahu dan lengan Ardi dengan penuh perhatian. Ia terharu dengan perjuangan Ardi hari ini, yang rela berpanas-panasan dengan disertai peluh dan tanah sawah.


"Terima kasih, Mas." Ucap Aini haru, yang tiba-tiba mendekap erat tubuh Ardi dari belakang.


"Untuk apa, Sayang? Bukankah aku yang seharusnya berterima kasih padamu?" Sahut Ardi bingung.


"Karena Mas mau memperjuangkan hubungan kita."


Ardi lalu melepaskan perlahan dekapan tangan Aini di perutnya. Ia pun memutar tubuhnya, dan memeluk Aini dengan satu tangan.


"Kamu ini bicara apa? Aku jelas akan memperjuangkan masa depan kita, Sayang." Jawab Ardi yakin.


Aini hanya mengangguk di pelukan Ardi. Ia merasa makin ragu, dengan keputusan yang akan Ratna berikan. Ia mulai cemas dan takut, jika Ratna benar-benar tidak memberikan restunya.


"Bagaimana jika mbak Ratna tidak mau merestui kita, Mas?" Lirih Aini.


"Jangan berpikiran buruk, Sayang! Agar hal buruk itu juga tidak terjadi." Jawab Ardi menenangkan.


Aini semakin erat memeluk Ardi, demi menenangkan hatinya yang sedang gelisah.


"Kita akan hadapi semuanya bersama, Sayang." Yakin Ardi.


Aini pun kembali mengangguk, meski hatinya masih belum yakin. Ia dan Ardi lalu menghabiskan waktu bersama di teras rumah sambil mengobrol.


Keesokan paginya, Imron dibantu Ardi menjual hasil panennya pada seorang penjual di pasar, yang memang sudah biasa membeli hasil panen Imron. Dan hal itu jelas tidak memakan waktu yang lama.


Sedang di rumah, Ratna dan Aini menjemur sedikit kacang yang mereka sisakan di rumah. Kebetulan, cuaca juga sedang cerah. Jadi, mereka tidak menyiak-nyiakan hal itu. Bahkan, Imron dan Ardi yang juga baru pulang dari pasar, juga segera ikut membantu.


Saat malam kembali menyapa, Ardi merasakan tubuhnya sudah sangat lelah. Dua hari melakukan hal-hal yang tak biasa, membuat rasa lelah itu menderanya begitu kuat. Tapi ia harus tetap bertahan, demi apa yang menjadi tujuan utamanya berada di tempat ini sekarang.


Selepas makan malam, keempat anak laki-laki di rumah Imron sudah mulai terlelap di kamar mereka. Mereka juga merasakan lelah karena dua hari membantu orang tua mereka. Sedang Aini dan Ardi, kembali menghabiskan waktu mereka untuk mengobrol di teras rumah.


"Mas berencana berapa hari di sini?" Tanya Aini, sambil bergelayut manja di pelukan tangan kiri Ardi.


"Aku belum tahu, Sayang. Kemarin, aku pikir mungkin hanya satu atau dua hari saja kita bisa mendapat restu dari mbak Ratna, tapi aku rasa tidak." Jujur Ardi.


"Maaf, Mas." Ucap Aini, sembil melingkarkan kedua tangannya di tubuh Ardi.


"Untuk apa kamu meminta maaf, Sayang? Ini ujian untuk hubungan kita, bukan?"


Aini hanya mengangguk tanpa berucap. Hatinya mendadak sedih dan sangat ragu dengan masa depan hubungannya dengan Ardi. Mengingat, sikap Ratna masih sangat dingin pada Ardi.


"Kamu, masih mau berjuang bersamaku, kan?" Tanya Ardi ragu.


"Tentu aku mau, Mas." Jawab Aini cepat.


"Terima kasih, Sayang. Itu sudah lebih dari cukup untukku." Yakin Ardi, yang juga mulai dihinggapi kekhawatiran tentang restu dari Ratna.


Hingga, seseorang dari dalam rumah terdengar perlahan membuka lebar pintu depan rumah, yang memang tidak ditutup rapat sejak tadi. Ardi dan Aini pun menoleh.


"Bisa kita bicara, Pak Ardi?" Tanya Ratna singkat, setelah muncul dari dalam rumah.


"Iya, Mbak." Jawab Ardi yakin.


Aini lalu melepaskan pelukannya pada Ardi. "Aku masuk dulu, Mas."


Ardi mengangguk paham. Aini pun meninggalkan Ardi dan Ratna di teras rumah.


"Semoga, semua akan baik-baik saja." Batin Aini cemas.

__ADS_1


__ADS_2