
"Kamu masih mau menemui pak Adit? Atau, kita pulang sekarang?" Tanya Ardi perhatian.
"Tapi,,"
"Aku percaya padamu, Sayang." Jawab Ardi lembut.
Aini tersenyum kecil lalu mengangguk. Ardi pun membalas senyuman itu.
Ardi pun segera berdiri dan meminta ijin pada petugas untuk Aini bisa bertemu dengan Adit. Tak lupa, ia menitipkan bekal yang dibawa Aini untuk Ratri tadi.
Aini sebenarnya sedikit ragu menemui Adit. Bayangan tentang perlakuan buruk Adit padanya, menjadi momok tersendiri dalam hati kecilnya. Tapi bagaimanapun juga, pasti ada hal penting yang ingin Adit sampaikan padanya. Jadi, ia meyakinkan hatinya untuk menemui Adit. Dan ia juga yakin, ada Ardi yang akan menemaninya.
Setelah beberapa saat, Adit tiba ditemani oleh seorang petugas. Ia lalu duduk di seberang meja Aini dan Ardi.
Aini merasa iba dengan kondisi Adit yang mirip dengan Ratri. Ada beberapa luka bekas cambukan di wajah, tangan dan kakinya.
"Bagaimana kabar Anda, Pak Adit?" Tanya Ardi basa-basi.
"Sudah lebih baik, Pak Ardi." Jawab Adit ramah.
Ardi tersenyum kecil. Ia lalu menoleh pada Aini.
"Aku akan keluar. Kalian bicaralah!" Pamit Ardi.
Aini jelas segera menoleh pada Ardi dengan bingung. "Maass,,"
"Tak apa. Ada petugas yang menemani kalian di sini." Jawab Ardi lembut.
"Tapi Mas,,"
"Tak apa, Sayang. Pasti ada hal pribadi yang ingin pak Adit sampaikan padamu. Jadi, bicaralah dengannya!" Jawab Ardi perhatian.
Aini menggeleng kecil dengan wajah tak yakin. Sungguh, ia tak ingin jika Ardi meninggalkannya berdua dengan Adit.
"Tetaplah di sini, Pak Ardi! Temanilah Aini!" Pinta Adit tiba-tiba.
Ardi dan Aini jelas menoleh pada Adit.
"Saya mohon, penuhi permintaan Aini, Pak!" Pinta Adit tanpa ragu.
Ardi dan Aini sedikit terkejut mendengar permintaan Adit. Ardi yang tadi bersiap untuk berdiri, akhirnya mengurungkan niatnya.
"Mas Ardi tetaplah di sini!" Pinta Aini lirih.
Ardi akhirnya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Aini yang sedikit merasa takut jika ia tinggalkan. Ia lalu menganggukkan kepalanya.
Aini pun tersenyum lega melihat Ardi menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Mas."
"Tentu, Sayang."
Entah apa yang ada di pikiran Adit saat ini. Ia sedikit cemburu dengan apa yang ia lihat baru saja. Cemburu karena Aini bisa begitu manja pada Ardi, padahal, mereka belum memiliki hubungan yang sah di mata hukum dan agama.
Adit mengenal Aini bukan hanya satu atau dua hari saja. Ia sudah mengenal Aini cukup lama, bahkan juga pernah menjalani rumah tangga selama beberapa tahun bersamanya. Ia cukup paham, bagaimana sifat Aini.
Jadi, Adit merasa sedikit cemburu dengan kedekatan Aini dan Ardi saat ini. Karena ia tidak merasakan hal itu dulu dengan Aini.
"Terima kasih, Pak Ardi." Sahut Adit lagi.
"Tentu, Pak Adit." Jawab Ardi ramah.
"Bagaimana kabarmu, Ni?" Tanya Adit singkat.
"Baik, Mas. Mas Adit apa kabar?"
"Sudah lebih baik."
Aini terdiam. Ia bingung ingin menanyakan apa pada Adit.
"Saya dengar, Anda kemarin sempat menghilang bersama istri Anda." Sela Ardi.
"Oh, itu. Iya, Pak Ardi."
Aini mulai tertarik dengan apa yang ditanyakan Ardi.
"Iya, Mas. Mama dan papa bilang,, eh, maksudku, orang tua mbak Ratri bilang, Mas Adit dan mbak Ratri hilang tanpa kabar kemarin. Kalian kemana? Dan, kenapa kondisi kalian bisa seperti itu?" Tanya Aini penasaran.
__ADS_1
"Kami dihukum atas apa yang kami lakukan padamu." Jujur Adit, sambil sedikit melirik pada Ardi.
"Maksudmu apa, Mas?" Tanya Aini bingung.
"Allah memberikan karma instan pada kami, yang melakukan hal yang tak seharusnya padamu kemarin." Jelas Adit.
"Bagaimana bi,,"
Ucapan Aini terpotong segera. Ia mencoba mengingat dan menerka, siapa yang mengetahui penculikannya kemarin, hingga bisa melakukan hal itu pada Adit, Ratri, Oliv dan Reni.
Aini menoleh perlahan pada Ardi. Karena sepengetahuannya, hanya Ardi yang tahu dan bisa melakukan hal itu pada orang-orang itu.
"Nggak mungkin! Bukan! Pasti bukan mas Ardi yang melakukannya." Batin Aini.
"Masih ada langit di atas langit, Ni. Tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini." Jawab Adit santai.
Aini kembali menoleh pada Adit. "Iya, Mas."
"Bagaimana kabar Umar?" Tanya Adit dengan perasaan yang menggebu.
"Umar baik, Mas."
"Tolong jangan katakan ini pada Umar!" Pinta Adit tulus.
"Iya, Mas. Aku mengerti."
"Terima kasih, Ni."
"Iya, Mas."
Diam. Ketiga orang yang berada dalam satu meja itu, semua terdiam. Ardi yang bisa dikatakan orang asing dalam hubungan Adit dan Aini, memilih tak banyak bicara.
Sedang Adit yang meminta untuk bertemu Aini, kesulitan mengucapkan maksud hatinya yang sebenarnya. Ia pun berusaha merangkai kalimat yang ingin ia ucapkan, agar terdengar lebih santai dan tulus. Karena ia tahu, Aini sedikit tegang menghadapinya.
"Apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan, Mas? Jika tidak, aku,," Tanya Aini ragu.
"Ada, Ni. Apa kamu ada kepentingan yang mendesak?" Sela Adit cepat.
"Aku harus menemui dokter Gilang hari ini." Bohong Aini.
"Apa kamu sakit?" Tanya Adit penasaran.
"Hanya kontrol biasa, Mas. Aku belum lama keluar dari rumah sakit."
Perasaan Adit menciut. Ia ingat, keadaan Aini yang seperti saat ini, adalah karena ulahnya. Aini juga harus menginap di rumah sakit, juga pasti karena apa yang ia lakukan padanya kemarin.
"Maafkan aku, Ni! Maaf untuk semua yang telah aku lakukan padamu selama ini." Ucap Adit tulus.
Hati Adit bergetar mengatakan kalimat itu. Sungguh, ia sudah menyesali semua perbuatannya pada Aini. Seluruh perbuatan yang ia lakukan saat ia belum bercerai dengan Aini dan sesudah ia bercerai dengan Aini.
"Maaf, aku tak mempercayaimu dulu! Aku dibutakan oleh kata-kata ibu dan Ratri. Aku tidak mencari kebenarannya terlebih dahulu dan malah langsung menjatuhkan talak padamu."
"Aku seharusnya mendengarkan nasehat bapak waktu itu. Tapi aku malah terhasut dengan semua yang dikatakan ibu dan Ratri. Aku lupa, bahwa ibu masih tidak menyukaimu hingga saat itu."
"Aku juga tak tahu, bahwa rumah yang kuberikan untuk Umar, ternyata direbut oleh ibu dan Ratri. Dan bahkan, kamu juga harus mengganti uang biaya rumah sakit ibumu."
"Aku tak tahu itu semua, Ni. Hingga aku mengecapmu sebagai ibu yang tega menjual anaknya. Padahal aku yang buta." Aku Adit sedih.
Tanpa terasa, airmata Aini menetes begitu saja mendengar semua pengakuan Adit. Ia tak menyangka, Adit akhirnya tahu tentang semua hal itu. Hal yang jelas ia sembunyikan dari banyak orang.
"Kamu,, kamu bicara apa, Mas?" Tanya Aini gugup.
Aini jelas gugup. Karena Aini sudah berjanji pada Suharti dan Ratri, bahwa ia tidak boleh mengatakan itu pada orang lain, apalagi Adit. Jika sampai Adit tahu, Umar yang akan menerima akibatnya.
"Tak perlu ditutupi lagi, Ni. Aku sudah tahu. Ratri juga sudah mengakuinya." Jujur Adit.
Aini terdiam. Ia tak tahu, harus bagaimana menghadapi Adit saat ini.
Tangan Aini mulai gemetar. Hawa dingin mulai menerpa tubuhnya. Ia mulai diselimuti kekhawatiran akan ancaman Ratri dan Suharti dulu. Tangan yang tadi ia letakkan di atas meja, perlahan ia tarik turun untuk disembunyikan di pangkuannya.
"Kamu,, kamu tahu dari mana semua itu, Mas?" Tanya Aini lirih.
"Ada seseorang yang mengatakannya padaku." Jujur Adit.
"Astaghfirullah." Lirih Aini makin cemas.
__ADS_1
Aini makin ketakutan. Ia berusaha menerka, siapa yang mengatakan itu pada Adit. Karena hanya Ratna dan Imron yang tahu, tentang semua kebenaran masa lalu Aini. Dan tidak mungkin, dua orang itu yang mengatakan pada Adit.
Ardi yang sedari tadi memperhatikan obrolan dua orang itu, menyadari sikap Aini yang menjadi ketakutan. Ia segera meraih sepasang tangan dingin yang sedang gemetar di atas pangkuan sang empunya tangan. Apalagi, lama kelamaan, kepala Aini tertunduk makin dalam.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanya Ardi perhatian.
Aini menggeleng kecil.
"Kamu kenapa?" Tanya Ardi panik.
Ardi segera memegang bahu Aini dan sedikit memintanya untuk memutar posisi duduknya hingga sedikit menghadap Ardi. Ardi lalu menarik dagu Aini perlahan.
Ardi terkejut, karena wajah Aini sudah berubah merah dan basah. Aini ternyata menangis karena memikirkan Umar.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Ardi lagi.
"Umar, Mas. Umar." Jawab Aini disela tangisannya.
"Ada apa dengan Umar, Ni?" Sela Adit cemas.
"Umar dalam bahaya, Mas." Ucap Aini panik.
"Bagaimana bisa? Siapa yang akan membahayakannya?" Tanya Ardi perhatian.
Aini hanya menggeleng.
"Katakan perlahan, Sayang! Apa maksud ucapanmu tadi? Kenapa Umar dalam bahaya?" Tanya Ardi lagi, seraya mengusap lembut, wajah basah Aini.
Aini kembali menggeleng.
"Tidak ada yang akan mnecelakai Umar lagi, Ni. Ibu tak akan bisa melakukan apapun pada Umar sekarang. Dia terkena stroke saat ini, dan sudah kesulitan menjalani aktivitasnya sendirian." Sela Adit tiba-tiba.
Ardi menoleh pada Adit. Ia ingat, tentang ancaman untuk Aini dari Ratri dan Suharti. Ratna dan Imron yang menceritakan semuanya kemarin.
"Tenanglah! Aku akan meminta Reno, mengawasi Umar lebih baik lagi. Jadi, tidak ada yang bisa mencelakainya nanti." Pinta Ardi lembut.
"Sudah, tenanglah!" Pinta Ardi.
Aini tak menjawab. Ia kembali menundukkan kepalanya.
Ardi pun akhirnya menarik tubuh Aini dan memeluknya dengan hangat, untuk menenangkannya. Ia tak peduli, ada Adit di sana. Ia hanya ingin, Aini berhenti menangis.
"Maaf, Pak Adit. Bisakah kita sudahi pertamuan kalian saat ini? Kondisi Aini sedan tidak baik sekarang." Ucap Ardi segera.
"Tentu, Pak Ardi." Jawab Adit yakin.
"Terima kasih, Pak Adit."
"Iya, Pak Ardi."
Ardi tersenyum pada Adit.
"Tolong jaga Aini dengan baik, Pak Ardi!" Pinta Adit tulus.
"Tentu, Pak Adit. Saya akan berusaha menjaganya lebih baik lagi." Jawab Ardi yakin.
"Saya titip Umar, Pak Ardi!" Pinta Adit lagi.
"Tanpa Anda meminta, saya jelas akan menjaga Umar juga." Jawab Ardi lebih yakin.
"Terima kasih, Pak."
"Tentu, Pak Adit. Kalau begitu, kami permisi! Saya harus menenangkan Aini lebih dulu." Pamit Ardi segera.
"Baik, Pak."
"Sekali lagi, aku minta maaf, Ni!" Imbuh Adit saat, Ardi membantu Aini berdiri.
Aini yang terlalu mencemaskan Umar, tak menjawab apapun. Ia ingin segera memastikan bahwa kondisi Umar baik-baik saja.
Ardi segera menuntun Aini untuk keluar. Mereka pun segera keluar dari kantor polisi. Mereka meninggalkan Adit begitu saja.
"Berbahagialah, Ni!" Batin Adit, saat melihat langkah demi langkah Ardi dan Aini.
Terkadang, sebait do'a sederhana dari orang lain, bisa menjadi do'a yang yang kuat bagi kita. Kita hanya perlu bersabar dalam menanti tibanya hari indah itu. Hari dimana do'a itu akan terjawab dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.
__ADS_1