
Hai readers 🤗🤗
Othor nggak bosen-bosen kok, bilang makasih buat readers yang masih setia sampai part ini 🙏😍👍
Yang udah nggak setia, karena terlalu lambat alurnya atau karena hal lain, othor juga tetep mau bilang makasih kok 🙏😉
Apapun bentuk dukungan kalian, othor sangat menghargainya 🙏😊
Kalau memang sudah tidak berkenan dengan alur dan kisah dari Perjalanan Hati Aini, othor juga tidak akan memaksa kalian untuk bertahan 😊 karena othor tahu, masih banyak penulis-penulis hebat yang lain, yang mungkin karyanya sesuai dengan harapan kalian 😉
Othor hanya berusaha menyelesaikan kisah ini, sesuai cerita yang othor buat sejak awal 🙏😊
Terima kasih semuanya 🙏😊🥰 kalian sungguh luar biasa 👍🤩
****************
Sinar sang surya begitu hangat pagi ini. Menelusup dengan lembutnya ke setiap hal yang ia kehendaki. Memberikan kebaikannya pada semua yang ditemuinya.
Pagi ini, suasana kediaman Ardi sedikit berbeda. Ardi sedikit sibuk pagi ini. Ia harus segera ke bandara untuk terbang bersama Dika, demi menghadiri demo yang akan berlangsung esok hari di lahan konstruksi yang sedang ditanganinya.
"Kamu jadi ke Banyuwangi, Di?" Tanya Niken segera, saat melihat Ardi turun dengan terburu-buru.
"Jadi, Ma. Pesawatnya pagi." Jawab Ardi yakin.
"Demonya hari ini?"
"Besok, Ma. Tapi Ardi juga harus mengecek beberapa hal di Surabaya dan Banyuwangi. Jadi Ardi berangkat hari ini dengan Dika."
"Kenzo ikut, Pa!" Rengek Kenzo segera, setelah menelan makanan di mulutnya.
"Papa ke Surabaya mau ngurusin kerjaan, Sayang." Tolak Ardi halus.
"Tapi Kenzo mau ikut ke Banyuwangi."
Deg. Ardi yang sedang mengoleskan selai coklat ke roti yang akan ia makan, segera menghentikan aktivitasnya. Ia tahu, maksud ucapan Kenzo. Ia lalu meletakkan rotinya di atas piring, dan menoleh dengan penuh perhatian pada Kenzo.
"Kamu harus terima rapor kan hari ini? Lagian, oma dan opa juga sedang tidak enak badan. Kasihan mereka kalau harus bepergian jauh, Ken." Tolak Ardi lagi.
"Tapi Paa,,"
"Lain kali saja, Ken! Papa sedang banyak pekerjaan saat ini." Saran Niken.
Wajah Kenzo segera berubah murung. Dan itu, jelas disadari oleh Ardi yang duduk di sebelahnya.
"Kenzo mau oleh-oleh apa dari Banyuwangi? Nanti Papa belikan sebelum pulang." Rayu Ardi perlahan dengan penuh kehangatan.
Kenzo pun segera menoleh dengan antusias pada Ardi.
"Bunda." Singkat Kenzo.
Ekspresi wajah Ardi mendadak datar. Ia sangat paham maksud dari ucapan Kenzo barusan.
"Maafkan Papa, Ken!" Sahut Ardi datar.
Ekspresi Kenzo pun akhirnya kembali murung. Ini adalah permintaan maaf kesekian kalinya dari Ardi, jika ia meminta hal itu.
Ardi sedikit melirik arlojinya. Dan sedetik kemudian, ia memutar tubuhnya menghadap Kenzo.
"Papa berangkat dulu ya, Sayang. Jangan nakal sama opa dan oma, mereka sedang tidak enak badan!" Pamit Ardi cepat.
"Kamu nggak sarapan dulu, Di?" Tanya Niken segera.
Ardi yang sedang asik memeluk Kenzo untuk berpamitan, menunda sejenak untuk menjawab Niken. Ia memeluk hangat putra semata wayangnya itu dengan penuh sesal.
"Maafkan Papa, Ken!" Batin Ardi sedih.
"Ardi buru-buru, Ma." Bohong Ardi, sambil menoleh pada Niken.
Rama dan Niken paham maksud tindakan Ardi. Ia tidak bisa menghadapi putranya, jika menyangkut permintaan Kenzo yang satu itu. Jadi, mereka pun membiarkan Ardi seperti itu
Ardi lalu berpamitan pada Rama dan Niken. Dan segera menuju garasi, untuk segera pergi ke bandara. Padahal, jadwal penerbangannya masih sembilan puluh menit lagi.
Ardi yang awalnya meminta Dika untuk menjemputnya ke rumah, kini malah sebaliknya. Ia yang menjemput Dika ke rumahnya.
Saat di perjalanan menuju rumah Dika, ingatan Ardi melayang ke kejadian satu tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya memboyong keluarganya kembali ke Bandung.
Flashback On
Malam ini, hampir tengah malam, Ardi baru saja tiba di rumahnya setelah seharian bepergian jauh dengan mobilnya bersama Reno dan Erna. Ia baru saja pulang dari Semarang menemui Ratna.
Ardi pulang dengan tangan kosong. Ia masih belum tahu, dimana keberadaan Aini. Karena ternyata, Aini juga tidak mengabari Ratna, kemana ia membawa Umar pergi.
Ratna begitu marah pada Ardi karena membuat Aini pergi begitu saja. Dan bahkan, sekarang tanpa kabar sama sekali.
Tadi Rama dan Niken sudah meminta Ardi untuk istirahat di rumah saja malam ini. Karena Kenzo sudah ditemani oleh mereka. Jadi, Ardi pun bersiap sejenak melepas lelahnya, dan bersiap untuk menghadapi Kenzo esok hari.
Baru saja Ardi selesai mandi, pintu kamarnya di ketuk dengan begitu keras.
"Pak! Pak Ardi!"
Suara seorang laki-laki yang sangat familiar, menggema di kamar Ardi dengan sangat jelas. Ardi pun segera membuka kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Ardi lelah.
"Ketemu, Pak. Nomor ponsel Umar baru saja terlacak. Di Banyuwangi." Ucap laki-laki yang mengetuk tadi, yang tak lain adalah Angga.
__ADS_1
Ardi segera mengganti bajunya. Ia pun segera berlari ke garasinya. Dan ternyata, sudah ada Reno yang menunggunya di sana.
"Istirahatlah! Aku akan pergi sendiri." Pinta Ardi.
Ardi cukup paham dengan kondisi para anak buahnya. Terlebih, Reno yang baru saja pulang dari Semarang bersamanya. Yang pastinya juga merasakan lelah, karena mengendarai mobil dari Semarang ke Surabaya.
"Saya akan menemani Anda, Pak." Jawab Reno yakin.
"Baiklah." Singkat Ardi.
Ardi dan Reno segera masuk ke mobil. Mereka lalu segera berangkat menuju kota paling ujung Pulau Jawa, Banyuwangi.
Selama perjalanan, Ardi dan Reno bergantian menyetir mobil. Ardi tak ingin Reno kelelahan dan membahayakan mereka selama perjalanan.
Saat sang surya kembali menyapa para penduduk Nusantara, mobil Ardi mulai memasuki Kota Banyuwangi. Dengan harapan yang memenuhi dada, Ardi benar-benar tidak sabar untuk menemui Aini dan segera meminta maaf padanya.
Setelah berkendara hampir satu jam dari pusat kota, Ardi dan Reno tiba di sebuah kampung yang hampir mendekati pesisir selatan Pulau Jawa. Mereka segera mencari letak rumah dimana ponsel Umar terlacak.
Banyuwangi. Iya, di sinilah Aini dan Umar sekarang. Aini membawa Umar bersamanya ke rumah salah satu kakak perempuan Ratmini.
Setelah bertanya pada seorang warga, mereka menemukan rumah dimana kakak Ratmini tinggal. Mereka segera menuju rumah itu.
Hati Ardi mendadak gugup tidak terkira. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin pun mulai menyergapnya tanpa permisi. Ia mulai dilanda kehawatiran. Kekhawatiran jika Aini tidak mau menemuinya dan bahkan tidak mau memaafkan perbuatannya.
Saat mobil Ardi sampai di depan rumah yang berukuran tak cukup besar tapi dengan halaman rumah yang cukup luas, netra tajam Ardi segera menangkap sosok yang dicarinya. Ia sedang menyapu halaman rumah dengan begitu santai.
"Itu bu Aini, Pak." Ucap Reno yakin.
Perlahan Ardi membuka pintu mobilnya, tanpa melepaskan pandangannya dari wanita yang sedang menyapu itu. Dan saat ia berdiri di samping mobil, Aini pun menoleh padanya.
"Mas Ardi?" Gumam Aini lirih, seraya menegakkan tubuhnya perlahan.
Jantung Aini pun mendadak bertalu begitu keras. Tubuhnya sedikit gemetar, disertai hawa dingin yang mendadak menyapa setiap inci tubuhnya. Dunianya pun mendadak kosong. Hanya Ardi yang nampak jelas di hadapannya, yang berjarak beberapa meer darinya.
Dua pasang mata itu bertemu dengan segera. Ardi pun perlahan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Aini.
Sedang Aini, ia sedikit tak menyangka, secepat ini Ardi menemukan keberadaannya. Padahal, baru semalam ia mengabari Ratna menggunakan ponsel budhenya, bahwa ia berada di Banyuwangi bersama Umar. Dan bahkan, Ratna pun berjanji tidak akan memberitahu Ardi terntang keberadaannya.
"Ni! Aini!"
Suara seorang perempuan dari dalam rumah, menggema begitu saja sampai halaman depan. Aini yang melamun, sedikit terkejut karena terlalu fokus pada laki-laki yang sedang menghampirinya.
Aini segera menjatuhkan sapu yang ada ditangannya. "Iya, Budhe."
Aini mulai berbalik badan, dan bersiap untuk masuk dan menghampiri orang yang memanggilnya.
"Sayang! Tunggu!"
Ardi segera berlari untuk mencegah Aini masuk ke rumah. Aini sedikit mengabaikan panggilan Ardi, karena ia belum siap untuk bertemu dengannya.
"Sayang!" Panggil Ardi lagi, saat ia berhasil meraih salah satu tangan Aini.
"Sayang, aku minta maaf." Ucap Ardi segera.
Aini masih diam tak bereaksi.
"Aku tahu, sikapku salah padamu. Aku tahu, aku melanggar janji kita. Tapi tolong, dengarkan penjelasanku lebih dulu!" Pinta Ardi penuh harap.
Aini masih diam.
"Maafkan aku, Sayang!" Pinta Ardi sedih.
"Aku tak marah padamu, Mas." Singkat Aini.
"Lalu, kenapa kamu pergi dan tak mengabariku?"
"Kamu yang memintanya, bukan? Aku pergi karena Mas yang memintanya kemarin."
"Mila bukan tunanganku. Dia,,"
"Sepupumu."
Ucapan Ardi disela begitu saja oleh Aini. Ardi terkejut saat mendengar ucapan Aini.
"Kamu tahu?"
"Mbok Sri yang mengatakannya padaku." Jujur Aini.
"Lalu, kenapa kamu pergi jika kamu mengetahuinya? Kenapa kamu tidak bertanya apapun, atau bahkan meminta penjelasan padaku?"
"Karena aku percaya padamu, Mas. Aku percaya, kamu pasti memiliki alasan yang kuat untuk melakukan hal itu."
Deg. Ardi terpaku mendengar jawaban Aini. Ia tak menyangka, Aini begitu percaya padanya. Bahkan, meski ia menyakitinya kemarin.
"Aku sudah berjanji padamu, untuk percaya padamu, Mas. Dan aku hanya berusaha menepati janjiku." Imbuh Aini.
"Aku tak ingin kamu terluka, Sayang." Gumam Ardi lirih.
"Aku tahu Mas, kamu memiliki alasan yang baik melakukan hal itu. Meski aku tak tahu apa alasan yang sebenarnya." Sahut Aini perhatian.
"Maafkan aku, Sayang!" Pinta Ardi penuh penyesalan.
"Aku tak marah padamu, Mas. Jadi, tak ada yang perlu dimaafkan." Tulus Aini.
Aini memang tidak marah pada Ardi. Ia hanya kecewa pada Ardi, karena tidak jujur sepenuhnya pada Aini.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kembali ke Surabaya! Semua sedang menunggumu dan Umar." Ajak Ardi tanpa ragu.
"Aku tidak bisa, Mas." Jawab Aini segera.
"Kenapa, Sayang?"
"Aku ingin di sini lebih dulu."
Ardi terdiam. Ia bisa measakan, perasaan kecewa Aini dari nada bicaranya.
"Aku tahu, aku yang bersalah dalam hal ini. Maafkan aku, Sayang! Dan kumohon, kembalilah ke Surabaya denganku!" Bujuk Ardi.
"Aku tidak bisa, Mas. Aku ingin memulai kehidupan baruki dengan Umar di sini." Jujur Aini pedih.
"Apa kamu tidak ingin memulai hidup barumu denganku dan Kenzo?"
Aini hanya tersenyum kecil.
"Kumohon, Sayang! Kembalilah denganku ke Surabaya! Kenzo sedang menunggumu." Bujuk Ardi tanpa lelah.
"Aku sudah menitipkan surat kecil untuk Kenzo pada mbok Sri. Aku sudah menjelaskan pada Kenzo tentang semuanya." Tolak Aini perlahan.
"Tapi dia ingin dirimu di sampingnya. Menemaninya seperti kemarin."
"Ini keputusanku, Mas. Aku harap, Mas Ardi memahaminya!" Jawab Aini sedatar mungkin, demi menutupi gejolak hatinya.
"Kenzo di rumah sakit saat ini. Ia pingsan kemarin, karena kehilanganmu."
Aini terdiam. Hati keibuannya bergejolak tak karuan. Ia tahu, Ardi pasti akan membujuknya menggunakan Kenzo. Tapi, ia tidak menyangka, jika Kenzo sampai pingsan karena mencarinya.
"Maaf Mas, aku tidak bisa ikut denganmu kembali ke Surabaya." Jawab Aini getir.
"Tapi Sayang,,"
"Ainii!"
Suara budhe Aini, kembali menggema sampai ke halaman rumah. Aini pun menoleh ke arah rumah.
"Iya Budhe, sebentar!" Sahut Aini sedikit berteriak.
"Umar. Dimana Umar? Ijinkan aku menemuinya, Sayang!" Pinta Ardi cepat.
"Dia masih tidur, Mas. Dia kelelahan karena semalam menghabiskan waktu bersama sepupunya." Jujur Aini.
"Ijinkan aku bicara dengannya setelah ia bangun!"
Aini memegang tangan kekar Ardi yang masih setia memegangi tangannya. Dipandanginya dengan lembut, laki-laki yang terlihat cukup lelah wajahnya itu.
"Mas. Ini pilihanku. Aku harap, Mas mengerti. Aku tidak bisa kembali ke Surabaya denganmu saat ini." Ucap Aini lembut.
"Lalu, kapan kamu akan kembali, Sayang? Besok? Atau lusa? Akan kuajak Kenzo kemari secepatnya. Ia ingin segera menemuimu." Jawab Ardi penuh harap.
"Maafkan aku, Mas!" Singkat Aini, seraya berusaha melepaskan tangan Ardi dari tangannya.
Ardi segera mengalihkan pandangannya ke arah tangannya. Tangannya pun mendadak melemas karena sikap Aini.
"Kumohon, Sayang! Aku sangat mencintaimu." Bujuk Ardi lagi.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Jawab Aini sambil tersenyum.
"Jadi, kembalilah bersamaku ke Surabaya!"
"Aku tidak bisa, Mas." Tolak Aini lagi.
Dalam hati Aini, ia sebenarnya ingin kembali pada Ardi. Tapi, ia sudah membulatkan keputusannya sejak pergi dari rumah Ardi tempo hari. Ia akan menjalani hidupnya bersama Umar saja sementara ini. Jadi, ia pun menolak permintaan Ardi dengan berat hati.
"Tapi Sayang,,"
"Maaf Mas, budhe memanggilku! Aku masuk dulu, Mas." Pamit Aini.
Ardi terdiam. Bahkan, tangannya melemas begitu saja, saat Aini melepaskan tangannya.
"Tolong jangan menemuiku dulu setelah ini, Mas!"
"Tapi Sayang,,"
"Dan tolong sampaikan maafku untuk pak Rama, bu Niken dan Kenzo! Terima kasih, Mas." Sela Aini.
Aini lalu berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Ardi. Ia benar-benar menolak permintaan Ardi untuk kembali ke Surabaya bersamanya.
Ardi sudah tidak bisa menahan Aini lagi. Ia akhirnya membiarkan Aini menjauh darinya langkah demi langkah.
Perlahan dan diam-diam, airmata Aini mengalir begitu saja. Hatinya sesungguhnya tidak menginginkan ini. Tapi hanya ia ingin membenahi hatinya yang sempat kecewa kemarin.
Ardi akhirnya juga kembali ke mobilnya. Ia pun berkali-kali menoleh ke belakang, dengan harapan, Aini akan kembali padanya. Tapi ternyata tidak. Bahkan sampai ia menunggu beberapa saat di dalam mobil, Aini tetap tidak keluar kembali. Bahkan untuk sekedar menyelesaikan menyapunya.
"Aku akan menuruti permintaanmu, Sayang. Aku akan melepaskanmu saat ini. Tapi, jika nanti Allah mempertemukan kita kembali dengan cara-Nya, sungguh, aku tidak akan melepaskanmu. Meskipun jika nanti kamu sudah memiliki pendamping, aku tetap akan memperjuangkanmu." Batin Ardi, seraya menatap rumah dimana Aini tinggal sekarang.
Ardi lalu memilih pulang dengan tangan kosong lagi. Tapi setidaknya, ia sudah berusaha membujuk dan meminta Aini untuk kembali padanya, meski ia ditolak.
"Maafkan aku, Mas! Bukan aku marah padamu, aku hanya ingin sendiri untuk saat ini. Aku harap, kamu mengerti dengan keputusanku! Tapi, jika nanti Allah kembali mempertemukan kita dengan cara-Nya, sungguh, aku tidak akan melepaskanmu, Mas." Batin Aini, seraya menatap mobil Ardi dari dalam rumah.
Setelah sampai di rumah, Ardi berusaha sangat keras untuk menjelaskan semuanya pada Kenzo. Ia menjelaskan pada Kenzo dengan sangat hati-hati, agar kondisi Kenzo tidak drop kembali.
Dan setelah kondisi Kenzo benar-benar stabil, Ardi akhirnya memboyong keluarganya untuk tinggal di Bandung. Dengan harapan, Kenzo akan terus membaik dengan suasana baru di Bandung, meski tanpa Aini.
__ADS_1
Flashback Off
"Bagaimana kabarmu, Sayang? Aku sangat rindu padamu." Gumam Ardi, sambil terus mengendarai mobilnya menuju rumah Dika.