
Takdir. Sesuatu yang mungkin tak bisa kita rubah. Tapi terkadang, bisa saja berubah jika memang Yang Maha Kuasa menghendakinya. Karena memang, kita tak pernah tahu alur dari takdir Tuhan.
"Kita mau kemana, Yah?" Tanya Umar polos, saat melihat Adit membereskan tas besar berisi pakaiannya.
Umar baru saja selesai mandi. Ia juga baru saja masuk ke kamarnya dan bersiap untuk mengenakan seragam sekolahnya. Tapi, semua bajunya telah dimasukkan ke dalan tas besar oleh ayahnya.
"Kita ke Jogja." Jawab Adit singkat.
"Tapi, Umar kan mau sekolah?"
"Kamu akan pindah sekolah di sana nanti. Ayah yang akan mengurusnya." Jawab Adit tanpa menghiraukan tatapan bingung sang putra.
"Nggak mau! Umar nggak mau pindah sekolah!" Jawab Umar merajuk.
"Kita akan tinggal di sana, Sayang. Ayah ada pekerjaan di sana. Jadi, kita akan pindah ke Jogja." Jelas Adit segera.
"Apa akung dan uti juga ikut?"
"Kasihan akung kalau harus menempuh perjalanan jauh dari Surabaya ke Jogja, Nak. Jadi, mereka akan tetap di sini."
"Kalau gitu, Umar di sini aja sama akung sama uti. Ayah sama mama dan adek aja yang pindah ke Jogja." Jawab Umar ringan.
"Nggak boleh! Kamu harus ikut Ayah ke Jogja. Ayah sudah siapkan tiketnya. Dan kamu, tidak perlu berangkat sekolah mulai hari ini." Jelas Adit dengan sedikit penekanan.
"Nggak mau!" Jawab Umar lagi.
"Jangan membantah Ayah! Sekarang, pakai bajumu yang sudah Ayah siapkan! Segera turun dan sarapan! Setelah itu, kita berangkat ke bandara." Bentak Adit yang mulai kesal karena penolakan Umar.
Adit segera keluar dari kamar Umar. Ia pun membawa tas besar tadi keluar kamar dan turun ke lantai satu.
Umar akhirnya mengalah pada ayahnya. Ia segera mengenakan bajunya yang sudah disiapkan ayahnya di atas kasur. Hatinya mendadak sedih, karena harus kembali jauh dari ibunya jika ia pindah ke Jogja. Apalagi, ia tak bisa memberi tahu ibunya, jika ia pindah ke Jogja bersama ayahnya.
Selesai berpakaian, Umar tidak langsung turun sesuai permintaan ayahnya. Ia malah menangis di kamarnya sendirian. Ia sungguh tak ingin lagi, jauh dari ibunya.
Ya, Adit ingin membawa kabur Umar dari Aini. Ia tak ingin menyerahkan Umar pada Aini. Karena sungguh, ia juga menyayangi putra sulungnya itu. Ia tak bisa jika harus jauh darinya. Apalagi, membiarkan Umar tinggal dengan ibunya, yang ia tahu, bisa melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk, menjual diri. Itu pemikiran Adit.
Adit tahu, jika ia pasti akan kalah dalam persidangan kali ini. Jadi, ia pasti akan kehilangan hak asuh Umar. Karena ia yakin, Aini dan tim kuasa hukumnya pasti akan mempermasalahkan Adit yang sudah melanggar keputusan pengadilan, dengan melarang Aini menemui Umar selama ini.
Dan lagi, Adit juga sudah mencari informasi tentang dua pengacara yang menangani kasus Aini. Mereka adalah pengacara handal dari firma hukum kenamaan, yang sudah berhasil memenangkan banyak kasus ketidakadilan. Kepiawaian dan profesionalitas mereka, sudah tidak diragukan lagi.
Adit juga sudah berusaha menghubungi beberapa pengacara yang ia kenali. Tapi mereka tak berani jika menjadi rival dari dua pengacara yang mengangani kasus Aini.
Adit akhirnya nekat mengambil keputusan itu semalam. Setelah berunding, dengan ibu dan istrinya dan mengalami kebuntuan. Adit akan membawa kabur Umar dari Aini. Meski ia tahu, ia bisa saja menjadi buronan pihak berwajib karena itu.
Hingga pukul setengah sembilan pagi, Umar masih belum keluar kamar. Padahal, pesawat yang akan membawanya dan Adit ke Jogja, berangkat pukul sembilan pagi nanti.
__ADS_1
"Panggil Umar! Kita harus segera berangkat ke bandara. Dia juga belum sarapan." Pinta Adit pada Ratri.
Ratri pun mengangguk paham. Ia yang baru saja selesai menyuapi putranya, segera memberikan putranya pada sang suami.
Dan saat Ratri hendak memanggil Umar, pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang. Adit pun segera beranjak dari kursinya sembari menggendong putra keduanya.
"Iya?" Ucap Adit saat ia melihat empat orang laki-laki berdiri di depan pintu rumahnya.
"Apa benar, ini rumah Bapak Aditya Eka Subrata?" Tanya seorang lelaki, yang berada tepat di depan Adit.
"Iya, saya Aditya. Bapak-bapak ini siapa?" Tanya Adit bingung.
Empat orang laki-laki itu terlihat ramah dan tegas. Penampilan mereka sangat rapi, dengan setelan kerja yang tak begitu formal.
"Saya Handoko, pengacara Bu Aini. Saya bersama petugas dari Komisi Perlindungan Anak. Kami mendapat tugas, untuk menjemput putra Bapak yang bernama,,"
Ucapan laki-laki itu terpotong, karena lupa dengan nama orang yang harus dijemputnya. Ia pun membuka surat perintah yang sedari tadi dibawanya.
",, putra Bapak yang bernama Umar El Farizki." Imbuhnya setelah berhasil membaca nama yang ada dalam surat perintah itu.
"Apa maksud Anda?" Tanya Adit bingung.
"Kami mendapat perintah, untuk menjemput putra Bapak, untuk di bawa ke kantor Komisi Perlindungan Anak. Selama proses persidangan gugatan hak asuh atas putra Anda berlangsung, putra Anda akan berada dalam pengawasan Komisi Perlindungan Anak. Hingga pengadilan memutuskan, ia akan ikut dengan ibunya atau dengan ayahnya, ia tidak bisa tinggal bersama Anda atau pun ibunya." Jelas laki-laki itu.
"Kami hanya menjalankan perintah, Pak. Jika Anda menghalangi, kami tak segan memperkarakan hal ini pada pihak berwajib." Sahut laki-laki tadi tegas.
"Tapi saya ayahnya."
"Kami mengerti, Pak. Tapi, kami juga hanya menjalankan perintah. Jadi, mohon pengertian dan kerjasamanya." Sahut laki-laki lain yang berdiri di samping pintu.
"Umar nggak mau, Mas." Ucap Ratri yang baru saja dari kamar Umar.
Adit segera menoleh pada sang istri yang berada di belakangnya.
"Ijinkan kami bertemu dengan putra Bapak. Kami akan menjelaskannya perlahan." Pinta Handoko.
"Siapa mereka, Mas?" Tanya Ratri penasaran, sambil mengambil alih putranya dari sang ayah.
"Aku tidak mengijinkannya." Jawab Adit tegas.
Perdebatan pun tak bisa dihindari. Adit tetap berkeras tak ingin menyerahkan putranya pada keempat laki-laki itu untuk dibawa. Ia tetap pada rencana awalnya. Akan membawa Umar pergi ke Jogja.
"Kita akan terlambat, Mas. Ini sudah hampir jam sembilan." Sela Ratri segera.
"Umar nggak mau ke Jogja!" Ucap Umar tiba-tiba, saat ia digandeng turun oleh neneknya.
__ADS_1
"Udah, sana berangkat! Kalian nanti ketinggalan pesawat." Saran Suharti.
Adit dan para tamunya, segera menoleh pada wanita yang sedang menggandeng cucunya dengan sedikit memaksanya. Para tamu Adit pun mulai menyadari, jika anak itu adalah Umar, yang harus mereka jemput.
"Hai, Umar!" Sapa Handoko ramah.
Umar yang tadi meronta dari cengkeraman neneknya, segera mengalihkan pandangannya. Ia menatap aneh Handoko. Cengkeraman tangan Suharti pun sedikit mengendor. Umar segera melepaskan diri.
"Kamu nggak sekolah, Umar?" Tanya Handoko mencoba mendekati Umar.
"Enggak Om. Ayah nggak ngijinin Umar berangkat hari ini. Ayah mau ngajak Umar pindah ke Jogja. Tapi Umar nggak mau." Jujur Umar tanpa ragu.
Umar bukanlah anak pemalu. Ia anak yang akyif dan tanggap. Ia akan merespon siapa saja yang menyapanya, meski ia tidak mengenalinya.
Keempat tamu itu, segera menatap tajam pada Adit.
"Benar dugaan pak Ardi dan pak Dika. Pak Adit akan membawa kabur Umar." Batin Handoko.
"Umar, masuk!" Pinta Adit tegas.
"Umar, mau ikut Om nggak? Ke sekolah. Kamu dicariin Kenzo, lhoo." Rayu Handoko cepat.
Adit menoleh pada para tamunya. Ia tak menyangka, mereka bisa tahu nama teman dekat Umar.
"Mau Om. Ini kan Rabu. Bunda pasti datang ke sekolah nemuin Umar." Sahut Umar antusias.
Umar segera berlari ke arah pintu. Tapi segera dicegat oleh Adit.
"Umar mau sekolah, Yah." Ucap Umar segera.
"Masuk kamar!" Hardik Adit keras.
"Umar mau ketemu bunda." Rengek Umar lagi.
"Umar!"
Adit yang sudah tersulut amarahnya sejak tadi, membentak Umar dengan sangat keras. Hati Umar segera menciut mendengar bentakan ayahnya.
"Maaf, Pak. Anda tidak boleh memperlakukan putra Anda seperti itu!" Sela Handoko tanpa ragu.
"Pergi kalian dari sini! Saya tidak akan menyerahkan putra saya pada siapapun." Jawab Adit marah.
Handoko segera menoleh pada ketiga temannya. Mereka saling menganggukkan kepala. Dan segera, kegaduhan pun tak dapat dihindari. Handoko dan ketiga temannya memaksa masuk dan berusaha membawa Umar bersama mereka.
Apa yang harusnya terjadi, pasti akan terjadi. Hanya waktunya saja, yang tak pernah kita ketahui, kapan ia akan datang.
__ADS_1