Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Sebuah Pertemuan


__ADS_3

Do'a adalah hal yang sederhana namun besar dampaknya. Dalam keadaan apapun, do'a bisa menjadi jalan dan harapan yang tak pernah lekang oleh apapun.


Tubuh lemah dan tak berdaya itu, tak pernah lelah berdo'a pada Sang Kuasa. Sebait do'a yang ia panjatkan dari hatinya.


"Ya Allah, segalanya kupasrahkan pada-Mu, wahai Yang Maha Mengetahui."


Do'a sederhana dari seorang Aini yang kondisinya sedang sangat memprihatinkan. Tiga hari tanpa asupan energi karena keterpaksaan, membuat tubuhnya sangat lemah. Bahkan, untuk sekedar bangun dan duduk saja, dia kesulitan. Ia juga mulai sering kehilangan kesadarannya karena hal itu.


Bukan Aini tidak diberikan makanan oleh para penculiknya, tapi, makanan itu tidak bisa dimakan sama sekali. Makanan basi dan berjamur yang menjadi menu makanan Aini selama dua hari terakhir.


Belum lagi, cairan bening yang mirip air mineral kemasan yang diberikan padanya dalam botol air mineral, tapi berbau menyengat. Jelas Aini tak bisa meminumnya.


Aini lebih memilih kelaparan dan kehausan dari pada harus memakan dan meminum apa yang diberikan oleh para penculiknya itu.


"Bangun! Hei, bangun!" Pinta Reni keras.


Aini segera membuka matanya. Tapi karena tubuh yang lemas, ia benar-benar kesulitan untuk bisa fokus dengan apa yang terjadi. Ia juga masih harus menstabilkan matanya, dengan berkas cahaya yang ada.


"Halo, Aini!" Sapa seorang laki-laki, setelah tubuh Aini dibalik oleh Reni.


Aini sayup-sayup mendengar suara yang tak asing baginya. Netra sayunya pun mulai menangkap bayangan empat orang yang sedang berdiri di dekatnya. Terlihat samar, namun cukup bisa dipastikan. Tiga orang wanita dan satu laki-laki.


"Mbak Oliv? Mas Adit? Dan,, mbak Ratri?" Batin Aini saat berusaha meyakinkan penglihatannya.


"Apa dia masih mengenali kita?" Tanya Oliv santai.


"Kenapa tidak? Dia hanya lemah, ingatannya pasti masih berjalan dengan baik. Bukan begitu, mantan istriku?" Sahut si laki-laki tadi, yang tak lain memang adalah Adit.


Iya, yang bekerja sama dengan Oliv dalam penculikan ini adalah Adit. Awalnya, Ratri menolak untuk rencana mereka. Tapi akhirnya, ia pun ikut dalam rencana ini.


Flashback On


Sore itu, Oliv baru saja keluar dari sebuah swalayan kecil untuk membeli beberapa cemilan. Ia sedang pergi seorang diri, karena Desi sedang ada urusan pribadi.


Oliv terkejut, saat tiba-tiba ada sebuah motor melaju dengan kencangnya di sisi lain jalan di depannya. Ia pun refleks menoleh pada asal suara, yang tak lain adalah sebuah sepeda motor yang melaju dengan kencangnya. Dan seketika, ada dua buah motor yang segera mengejarnya.


Oliv pun melihat ke sekitar. Ternyata, ada kerumunan orang di seberang jalan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Mereka nampak khawatir dan bingung. Dan diantara orang-orang itu, ia bisa melihat dengan jelas, dua orang yang ia kenali.


"Ardi? Aini?" Gumam Oliv tak percaya.


Oliv bisa melihat cukup jelas, bahwa wajah Ardi nampak cemas dan marah. Cukup menakutkan baginya. Tapi ia tak menghiraukan hal itu. Ia lebih penasaran, dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Oliv pun hendak bertanya pada orang-orang di sekitar, tapi ia melihat seseorang yang sedikit tak asing baginya. Orang itu masih fokus pada motor yang melaju kencang sambil diikuti oleh dua motor tadi.


"Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi dimana?" Gumam Oliv bingung.


Oliv malah tak jadi mencari informasi tentang kejadian apa yang barusan terjadi. Ia malah dengan yakin, menghampiri seseorang yang cukup mencuri perhatiannya. Seorang laki-laki yang cukup tampan, dengan penampilan yang casual. Laki-laki itu berdiri sekitar seratus meter dari Oliv.


"Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?" Tanya Oliv tanpa ragu.


Oliv memang tipikal orang yang tak akan membiarkan rasa ingin tahunya tanpa jawaban. Ia akan berusaha mencari jawaban untuk rasa keponya tanpa ragu.


Laki-laki itu segera menoleh pada Oliv. Ia cukup terkejut karena dihampiri wanita cantik yang merasa pernah bertemu dengannya. Laki-laki itu berusaha memandangi wajah Oliv dengan seksama untuk mengingatnya.


"Tidak. Saya rasa, kita belum pernah bertemu. Tapi, sepertinya saya mengenali Anda." Jawab laki-laki itu yakin.


"Oh, ya?" Sahut Oliv santai.


"Anda Indah Olivia bukan? Model sekaligus mantan istri Ardiansyah El Baraja. Anda adalah wanita yang beberapa hari yang lalu, memaksa masuk di toko milik pak Ardi yang kebetulan buka sampai malam, tapi tidak diijinkan." Terka laki-laki itu yakin.


Oliv membulatkan matanya. Ia tak percaya, laki-laki di hadapannya, mengenalinya dengan sangat tepat. Dan bahkan, laki-laki itu tahu apa yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.


"Apa? Ah iya, Anda benar." Oliv tersenyum kaku.


"Apa ada masalah?"


"Tidak. Hanya saja, sepertinya saya pernah melihat Anda belum lama ini. Tapi saya tidak ingat dimana." Jujur Oliv, sembari terus mengingat.


"Benarkah? Saya hanya orang biasa, bukan seperti Anda yang memiliki popularitas. Mungkin hanya seseorang yang mirip dengan saya."


"Tidak. Aku yakin, itu Anda. Tapi, dimana?"


Oliv berusaha keras mengingat laki-laki itu. Ia lalu kembali melihat ke sekitar. Netranya kembali jatuh pada kerumunan yang mulai bubar. Ia masih bisa melihat dengan jelas, Aini dan Ardi sedang menyeberangi jalan.


"Ah, iya. Anda mantan suami Aini. Benar bukan?" Terka Oliv tanpa ragu.


Laki-laki itu terkejut saat Oliv mengucapkan kalimatnya yang barusan. Ia tak menyangka, Oliv bisa mengetahui tentang siapa dia. Karena laki-laki itu memang Adit. Aditya Eka Subraja.

__ADS_1


Adit berada ditempat ini, karena mengawasi pekerjaan orang suruhannya, yang ia minta untuk menghabisi Aini. Ia sudah mengawasi Aini sejak Aini dan Ardi di taman tadi.


"Benar bukan?" Tanya Oliv lagi untuk meyakinkan.


Adit yang tadi terkejut, langsung menoleh pada Oliv. Ia bisa melihat dengan jelas, wajah Oliv yang sangat yakin dengan tebakannya.


"Iya, itu benar." Jawab Adit malas.


Adit kembali melihat ke arah orang suruhannya yang sedang berusaha melarikan diri. Dan jelas, Oliv menyadari itu.


"Apa yang Anda lihat?" Tanya Oliv makin penasaran.


"Bukan apa-apa." Jawab Adit singkat.


"Apa Anda tahu, apa yang terjadi barusan? Kenapa ada kerumunan di sana?"


"Ada yang melukai seseorang."


Oliv cukup terkejut dengan jawaban Adit. Tapi ia bisa melihat dengan jelas, wajah serius Adit saat ini.


"Siapa?"


"Salah sasaran."


"Apa?"


"Tidak ada."


Oliv mulai kesal karena jawaban Adit. Ia pun mulai curiga karena sikap Adit yang tak biasa. Dan karena hal itu, ia mengumpat sesuatu.


"Dasar! Sama saja dengan mantan istrinya. Menyebalkan!" Umpat Oliv kesal.


Adit mendengar hal itu dengan cukup jelas, hingga mulai tersulutlah amarahnya. "Apa maksud ucapanmu?"


"Tidak ada!" Jawab Oliv ketus, lalu berbalik badan hendak meninggalkan Adit.


Adit jelas makin kesal karena sikap Oliv. Ia seketika menahan tangan Oliv agar tak pergi kemanapun. Oliv pun langsung menoleh pada Adit dengan marah.


"Apa maksudmu?" Tanya Adit lagi.


"Jelaskan dulu maksud ucapanmu!"


Bukannya menjelaskan, Oliv malah makin meronta. Hingga mereka pun sedikit mengundang perhatian beberapa pasang mata. Adit yang menyadari hal itu, jelas langsung melepaskan tangannya dari Oliv.


"Aku ingin menghabisi Aini." Ucap Adit lirih, tepat di dekat telinga Oliv.


Oliv lalu menoleh dan menatap Adit dengan tajam. "Apa katamu?"


"Aku ingin menghabisinya." Jawab Adit yakin.


Adit menyadari ketidaksukaan Oliv pada Aini. Ia pun dengan cepat, berusaha mencoba memancing Oliv untuk memastikannya. Karena jika memang benar, ia ternyata bertemu dengan seseorang yang bisa ia jadikan rekan dalam rencananya.


Oliv yang masih terkejut dan tidak percaya, masih mematung tak bereaksi. Ia tak mengira, laki-laki di hadapannya memiliki niatan yang hampir sama dengannya.


Adit tiba-tiba berlalu pergi begitu saja meninggalkan Oliv yang masih terkejut. Ia tak berucap apapun pada Oliv. Tapi ia yakin, ia berhasil memancing rasa keingintahuan Oliv yang juga tak menyukai Aini.


Dan benar. Oliv terpancing dengan ucapan Adit. Tapi ia terlambat, karena Adit telah pergi dari tempat itu, saat ia masih sedikit terbengong tadi. Ia lalu kembali ke tempat dimana mobilnya terparkir.


"Aku harus menemuinya!" Gumam Oliv sambil mengemudi pulang.


Malam harinya, Oliv berusaha mencari tahu siapa Adit. Ia mencari informasi dari internet. Ia pun berhasil mendapatkan alamat rumah dan tempatnya bekerja, yang tak lain adalah rumah makan keluarga Adit.


Dan keesokan paginya, Oliv segera bergegas untuk mengunjungi alamat yang ia temukan semalam. Salah satu rumah makan milik keluarga Adit. Dengan harapan, ia bisa bertemu dengan orang yang membuatnya tak bisa tidur semalaman karena penasaran.


Oliv sedikit menutupi penampilannya. Ia tak ingin terlalu mengundang perhatian. Meski kini popularitasnya sedang menurun, tapi pasti beberapa orang akan ada yang mengenalinya jika ia tidak sedikit menutupi wajahnya.


"Apa, pak Adit ada?" Tanya Oliv pada salah satu karyawan.


"Ada. Beliau sedang berada di kantornya." Jawab karyawan itu ramah.


"Bisakah aku bertemu dengannya?" Tanya Oliv lagi.


"Sebentar, akan saya tanyakan! Dengan Ibu siapa?"


"Oliv."


"Baik, tunggu sebentar! Silahkan duduk dulu, Bu Oliv!"

__ADS_1


Karyawan itu lalu pergi meninggalkan Oliv. Oliv pun mencari salah satu meja kosong yang ada. Ia lalu duduk dan menunggu di sana.


Tak lama, karyawan tadi kembali menemui Oliv. Ia mengajak Oliv ke ruangan kantor Adit, sesuai permintaan Adit. Oliv pun menurutinya.


"Aku yakin, kamu akan menemuiku hari ini." Ucap Adit sombong.


Oliv pun seketika kesal dengan ucapan Adit.


"Tapi, karena kamu ada di sini, mari kita bekerja sama! Aku rasa, kamu juga tidak menyukai Aini. Bukan begitu?" Ucap Adit santai dan tanpa ragu.


"Gila kamu! Kita bahkan baru saja berkenalan kemarin, tapi kamu langsung bisa mengucapkan hal itu." Remeh Oliv.


"Aku tak ingin berlama-lama dengan urusan itu. Aku ingin segera menuntaskan urusanku dengan wanita tak tahu diri itu."


"Apa masalah kalian sebenarnya? Kenapa, sepertinya kamu sangat membencinya?"


"Terlalu rumit untuk diceritakan. Tapi intinya, aku ingin wanita itu segera menemui ajalnya."


"Apa kamu yakin ingin membunuhnya?"


"Apa kamu tidak menginginkannya?" Tantang Adit.


"Aku hanya ingin membuatnya menjauh dari Ardi dan Kenzo."


"Mari bekerja sama!" Ajak Adit yakin.


Oliv berpikir sejenak. "Aku hanya ingin membuatnya jera dan menjauh dari Ardi, tapi tidak membunuhnya."


"Bodoh! Sepertinya, aku salah mengajakmu menjadi rekanku." Remeh Adit.


"Jaga ucapanmu! Jangan lupa, ada Ardi di samping Aini sekarang! Dan ia bukan orang sembarangan. Ia pasti akan melindungi Aini." Bela Oliv.


"Aku akan mencari orang-orang profesional untuk rencanaku. Lagian, apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki itu?"


"Jangan remehkan Ardi! Ia bisa menjadi hal yang paling tidak ingin kamu temui nanti."


"Benarkah? Tapi, bukankah di atas langit masih ada langit?" Jawab Adit ringan.


Oliv terdiam. Ia paham maksud ucapan Adit. Ia cukup mengerti siapa Ardi. Tapi, apa yang dikatakan Adit pun ada benarnya.


"Aku sudah mendapatkan orang-orang profesional yang akan menjalankan rencanaku. Jika kamu ingin ikut, aku pasti akan menyambutmu dengan tangan terbuka." Imbuh Adit segera, demi memprovokasi Oliv.


"Apa rencanamu?" Tanya Oliv penasaran.


"Apa kita rekan?"


Oliv masih ragu. Tapi, ucapan Adit berhasil mempengaruhi dirinya. Ia pun berusaha mengambil keputusan terakhirnya dengan penuh pertimbangan.


"Oke. Kita rekan." Jawab Oliv yakin.


Adit tersenyum puas. Ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Oliv. Oliv pun menyambutnya.


Dan setelah itu, Adit pun menceritakan rencana yang sudah ia buat. Ia juga menceritakan tentang beberapa kenalannya yang akan menjalankan rencananya. Orang-orang profesional yang telah ia percaya untuk rencana jahatnya.


"Apa istrimu tahu?" Tanya Oliv, setelah Ardi menjelaskan semuanya.


"Iya, dia tahu."


"Dia menyetujuinya?"


"Awalnya tidak. Tapi setelah aku jelaskan lagi, ia akhirnya menyetujuinya."


"Kalian gila!" Cibir Oliv.


"Terserah! Aku hanya ingin segera menyelesaikan ini."


Oliv menggeleng heran. Tapi ia tak mau ikut campur urusan pribadi Adit dan istrinya. Jadi, ia tak lagi banyak berkomentar. Oliv pun lalu meninggalkan kantor Ardi setelah menyepakati semuanya. Mereka akan berkomunikasi melalui ponsel untuk rencana berikutnya.


Flashback Off


Aini berusaha meyakinkan diri dengan penglihatannya. Tapi, saat ia semakin yakin, suara Adit tadi benar-benar menyadarkannya.


"Apa mereka yang memerintahkan orang-orang itu membawaku kemari?" Batin Aini tak percaya.


Tubuh lemas Aini, membuatnya enggan berbicara. Meski, mulutnya kini tidak ditutup dengan lakban lagi. Airmatanya pun seketika menetes pilu.


"Takdir apa lagi ini, Ya Allah?" Batin Aini pedih.

__ADS_1


__ADS_2