Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Ini kamarmu." Ucap Ardi, setelah membukakan pintu sebuah kamar di lantai dua rumahnya.


Aini terbengong melihat kamar yang Ardi tunjukkan. Kamar berukuran cukup besar dengan segala isinya, beehasil membuat Aini kebingungan. Bukan karena ia tak suka, tapi karena ia merasa kurang pas dengan kamar itu. Mengingat, ia hanyalah seorang perawat dari putra pemilik rumah.


"Ini terlalu besar, Pak. Saya kurang pantas menempati kamar ini." Sahut Aini yakin.


Ardi yang hendak mengajak Aini masuk, segera menoleh ke arah Aini, yang tangannya masih setia ia pegangi.


"Kamu tamu di rumah ini. Dan ini memang kamar untuk tamu."


"Saya hanya perawat Kenzo, Pak. Tidak pantas rasanya jika saya menempati kamar tamu di rumah Anda." Jelas Aini.


"Tapi, ini kamar terdekat dengan kamar Kenzo. Kamar kosong yang lain ada di lantai bawah."


"Apa masih ada kamar untuk ART di rumah ini? Jika masih ada, saya lebih baik di kamar itu saja, Pak."


"Kamu bukan ART di rumah ini. Kamu juga bukan sekedar perawat Kenzo. Kamu penolong putraku." Jelas Ardi tak mau kalah.


"Tapi, saya kurang pantas jika menempati kamar ini." Bantah Aini lagi.


Ardi mengerutkan keningnya. Ia menjadi kesal karena Aini tak menuruti kemauannya.


"Kalau gitu, kamu tidur di kamar Ardi aja. Kamar Ardi kan luas banget. Pasti muat kalau untuk kalian berdua." Sela Niken tiba-tiba.


Ardi dan Aini segera menoleh pada Niken yang sedang berjalan menghampiri mereka.


"Pegangan tangannya, betah banget Di." Sindir Niken santai.


Ardi dan Aini spontan mengalihkan perhatian mereka ke tangan yang masih saling bertaut sejak tadi. Mereka refleks saling melepaskan tautan tangan yang sedari tadi masih setia.


"Mama nggak usah aneh-aneh, deh!" Sahut Ardi ketus.


"Aneh-aneh gimana? Kan Mama cuma usul tadi." Jawab Niken sekenanya.


"Gimana, Ni? Kamu mau satu kamar sama Ardi? Kan lebih dekat malahan sama kamar Kenzo. Kamar Kenzo, yang itu." Tunjuk Niken pada pintu kamar yang berada di sisi lain tangga.


"Eh, tidak Bu." Jawab Aini cepat.


Ardi dan Aini masih tetap berdebat tentang kamar yang akan Aini tempati. Niken malah cekikikan melihat dua insan yang sedang beradu argumen yang sama kerasnya itu.


"Oma! Opa!"


Suara seorang anak kecil, menggema indah ke seluruh penjuru rumah. Mengalihkan perhatian setiap penghuni yang ada di dalamnya.


"Cucu-cucuku sudah pulang." Gumam Niken.


Niken segera menuruni tangga kembali. Yang juga segera diikuti oleh Ardi dan Aini. Niken segera disambut dengan pelukan seorang anak laki-laki yang masih berseragam sekolah dengan tas yang masih berada di punggungnya. Sedang seorang anak laki-laki lain, menyalami tangan Rama seperti biasanya.


"Umar?" Gumam Aini tak percaya, saat ia melihat sosok yang sangat ia rindukan.


"Umar!" Panggil Aini cukup keras.


Sang empunya nama segera menoleh.


"Bunda?" Gumam anak itu penuh tanya.


Aini segera berlari meninggalkan Ardi yang berdiri di sampingnya. Ia menghampiri anak laki-laki yang baru saja selesai menyalami Rama. Anak itu memang Umar.


"Bundaaa!" Sahut Umar haru.


Aini segera memeluk tubuh putra semata wayangnya dengan haru. Ia bahkan langsung menitikan airmata bahagianya karena bisa bertemu Umar saat ini. (Ah Readers, kalian bayangin aja ya, kayak adegan di sinetron-sinetron itu lhoo 😅 othor baru mode lebay 😁)


Aini memeluk erat Umar, tanpa menghiraukan tatapan para pemilik rumah. Ia terlalu rindu pada putranya itu, meski baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu di sekolah seperti biasa.


Para pemilik rumah, menatap Aini dan Umar penuh haru. Tak terkecuali Kenzo yang sudah menyelesaikan sesi pelukannya dengan sang nenek.


"Bunda di sini?" Sela Kenzo tiba-tiba.


Aini segera menoleh pada Kenzo. Ia tersenyum bahagia melihat anak laki-laki yang sebentar lagi akan menjalani operasi bersamanya itu.


"Iya, Sayang." Jawab Aini sambil tersenyum, setelah melepaskan pelukannya dari Umar.

__ADS_1


"Boleh Kenzo peluk Bunda?" Tanya Kenzo segera.


"Boleh. Sini!"


Aini merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Kenzo. Rama yang belum pernah melihat kedekatan Kenzo dan Aini, terbengong melihat tingkah cucu semata wayangnya itu.


"Assalamu'alaikum."


Suara seorang laki-laki, membuyarkan perhatian semua orang. Mereka segera mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara. Laki-laki yang dikenali oleh para hadirin di ruang tamu yang luas itu.


"Wa'alaikumussalam." Jawab semua bersamaan.


"Wah, baru pada kumpul nih!" Ucapnya santai.


"Iya, Lang. Kenzo dan Umar baru pulang sekolah." Jujur Niken ramah.


"Ada apa, Om? Apa Kenzo harus check up lagi?" Tanya Kenzo seraya menghampiri laki-laki itu, setelah melepaskan pelukan Aini.


"Enggak dong, Jagoan. Om kesini, bawa kabar bagus buat kamu."


"Apa Om?"


Laki-laki itu, segera mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kenzo.


"Papa sudah dapat pendonor buat kamu." Ucap laki-laki itu bahagia.


"Yang bener Pa?" Tanya Kenzo antusias.


Ardi mengangguk sambil tersenyum melihat raut wajah bahagia putranya. Semua orang pun ikut bahagia mendengar itu. Meski sebenarnya, mereka sudah tahu tentang hal itu sebelumnya.


Ardi pun menghampiri Kenzo yang sedang berhadapan dengan laki-laki itu. Yang tak lain adalah, Gilang, dokter pribadinya.


"Maka dari itu, Papa meminta Bunda, buat ngerawat kamu, nanti setelah operasi." Ucap Ardi setelah bersimpuh di depan Kenzo.


Kenzo menoleh pada Aini dengan tatapan kebingungan.


"Jadi, Bunda akan tinggal di sini, Pa?" Tanya Kenzo bahagia.


"Bunda akan tinggal sama Kenzo?" Tanya Kenzo setelah ia menghampiri Aini lagi.


"Iya. Apa boleh?" Sahut Aini polos.


"Boleh dong, Bunda." Jawab Kenzo makin bahagia.


Semua terhipnotis oleh kebahagiaan yang dirasakan oleh Kenzo saat ini. Mereka juga ikit bahagia karena kebahagiaan yang Kenzo rasakan. Hingga membuat, perhatian mereka semua, terpusat pada Kenzo. Kemana Kenzo berlari, mata mereka pun akan mengekorinya.


"Om, sini!"


Kenzo menghampiri Gilang dan segera menarik tangannya. Membawa dokter berusia 37 tahun itu, mendekati Aini dan Umar.


"Om, kenalin! Ini Bunda Aini. Bundanya Umar dan Kenzo." Ucap Kenzo antusias.


Gilang yang sudah terbiasa dengan sikap Kenzo, segera menyambut kepolosan pasiennya itu. Ia pun berpura-pura mengajak Aini berkenalan. Dan Aini pun juga menyambutnya.


"Kata papa, bunda yang akan ngerawat Kenzo setelah operasi besok." Ucap Kenzo antusias.


"Benarkah? Tapi, bunda besok ngerawat Kenzo atau ngerawat papa ya lama-lama?" Goda Gilang sambil melirik pada Ardi yang sedang setia menatap Kenzo.


"Dua-duanya." Celetuk Niken segera.


Rama, Gilang dan Dika, tersenyum mendengar jawaban Niken. Sedang Ardi, menatap tajam pada sahabat lamanya itu dengan penuh kesal.


Lalu, bagaimana dengan Aini? Perasaan Aini mendadak gugup karena godaan dari Gilang tadi. Meski ia tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Tapi, ia tak tahu, kenapa ia bisa mendadak gugup hanya karena digoda seperti itu.


"Sudah! Ayo, duduk semuanya!" Ajak Niken.


Semua lantas melangkahkan kaki menuju kursi yang ada di ruang tamu nan luas itu. Kecuali, dua anak laki-laki yang baru saja pulang sekolah. Mereka segera menuju kamar mereka untuk berganti pakaian. Dan Aini mengikuti mereka.


Aini sangat terkejut, saat mengetahui bahwa Umar sudah tinggal di sini sejak beberapa minggu terakhir. Ia tak mengira, bahwa Ardi menyembunyikan Umar di rumahnya selama beberapa minggu ini.


"Akan kutanyakan pada pak Ardi nanti." Batin Aini seraya membantu dua putranya, bergantian berganti pakaian.

__ADS_1


Malam menjelang. Malam ini, Aini akhirnya memilih tidur di kamar Umar. Ia ingin tidur bersama putranya itu. Hal sederhana yang sangat ia dambakan selama dua tahun terakhir. Tapi sayang, ia tak dapat terlelap meski malam sudah bergulir sejak tadi. Bahkan, Umar pun sudah terlelap lebih dulu.


Aini keluar dari kamar Umar. Ia menuju lantai bawah untuk membuat minum hangat. Tak sengaja, ia bertemu dengan Niken, yang juga ingin membuat minuman hangat.


"Bisa kita mengobrol sebentar, Ni?" Tanya Niken saat Aini membuatkan minuman untuknya.


"Tentu, Bu." Jawab Aini ramah.


"Aku tunggu di halaman belakang ya!"


"Iya, Bu. Saya akan menyusul, setelah ini siap."


Niken pun tersenyum. Ia segera meninggalkan Aini di dapur. Ia pun berjalan menuju halaman belakang rumahnya, yang merupakan tempat favoritnya. Ia sering menghabiskan waktu di sana untuk berkebun.


"Terima kasih, Ni. Terima kasih karena kamu mau menjadi pendonor untuk Kenzo." Ucap Niken tulus, setelah Aini tiba dengan minuman buatannya.


"Saya yang seharusnya berterima kasih, Bu. Karena bantuan pak Ardi, saya bisa kembali bersama dengan Umar saat ini." Jujur Aini.


"Aku sedikit mendengar tentangmu dari Ardi dan Mala. Aku turut prihatin karena kamu harus berpisah dari Umar saat itu."


"Terima kasih, Bu. Itu sudah masa lalu. Yang terpenting sekarang, saya sudah bisa kembali dengan Umar. Dan Kenzo, akan segera dioperasi untuk kesembuhannya."


"Terima kasih, Nduk."


Niken yang duduk di kursi panjang bersama Aini, segera memeluk Aini dengan penuh kehangatan. Aini terkesiap karena mendapat pelukan dari Niken. Tubuhnya seketika mematung saking terkejutnya.


Perlahan namun pasti, Aini berusaha membalas pelukan Niken. Ia bisa merasakan ketulusan dan kehangatan yang Niken berikan saat ini. Dan seketika itu, ia teringat oleh ibunya yang telah tiada. Hingga akhirnya, Aini tak bisa menahan air matanya lepas dari singgasananya, karena teringat oleh ibunya.


Niken sedikit kebingungan karena mendengar isakan kecil dari Aini. Ia segera melepaskan pelukannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Niken perhatian.


"Maaf, Bu. Saya tidak apa-apa." Bohong Aini.


"Lalu, kenapa kamu menangis? Apa kamu sakit?


"Tidak, Bu. Saya baik-baik saja."


Aini segera menetralkan kembali suasana hatinya. Meski sedikit sulit, tapi ia berusaha agar tak menangis lagi. Niken kembali memeluk Aini untuk menenangkannya.


"Apa kamu tak ingin menikah lagi, Ni?" Tanya Niken di sela obrolannya.


"Saya tidak tahu, Bu. Untuk saat ini, saya hanya ingin bersama dengan Umar." Jujur Aini.


"Apa tak pernah ada laki-laki yang mendekatimu?"


"Saya yang menutup diri, Bu. Saya masih ingin menata hati terlebih dahulu."


Niken menatap Aini dengan sendu. Ada semburat kekecewaan di wajah Niken, setelah mendengar jawaban Aini.


Aini dan Niken akhirnya mengobrol di halaman belakang rumah dengan santai. Hingga akhirnya, Niken berpamitan pada Aini untuk kembali ke kamar lebih dulu, karena tubuhnya mulai lelah.


"Ada apa, Di?" Tanya Niken saat ia melihat putranya selesai menuruni tangga.


"Mau ke halaman belakang sebentar, Ma. Cari angin. Mama dari mana?" Jawab Ardi santai.


"Dari halaman belakang juga. Mama nggak bisa tidur tadi." Jujur Niken.


"Yaudah, Mama istirahat dulu, ya!" Imbuh Niken.


"Iya, Ma."


Niken pun meninggalkan Ardi sambil menyembunyikan senyum nakalnya. Ia berjalan ke kamarnya dengan hati yang, eemmhh, bahagia, lega, dan sedikit merasa geli. Hati ibu satu itu, sangat berharap, putranya bisa segera mengakhiri masa dudanya.


"Aini?"


Aini yang sedang melihat bulan yang terlihat begitu indah malam ini, segera mengalihkan pandangannya.


"Iya, Pak,,"


Apa yang akan terjadi nanti, selalu menjadi misteri bagi semua. Yang terkadang, tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Jadi, apa yang akan Aini dan Ardi lakukan nanti? 😊


__ADS_2