
"Bunda!" Panggil seorang anak laki-laki dari ambang pintu.
Dua wanita yang sedang mengobrol di dalam ruangan, segera menoleh ke sumber suara. Mereka tersenyum melihat sang anak laki-laki menyunggingkan senyum indahnya.
"Kamu sendirian, Nak? Umar mana?" Tanya salah satu wanita itu, yang tak lain adalah Aini.
"Umar nggak berangkat sekolah, Bunda." Jujur sang anak laki-laki. Dia Kenzo.
"Nggak berangkat?" Ulang Aini tak percaya.
Kenzo pun mengangguk. Ia lantas duduk di samping Aini. Tak lupa, Kenzo menyalami Aini seperti biasa.
Aini segera menyiapkan bekal yang ia bawa untuk Kenzo seperti biasa. Tapi, pikirannya juga tak lepas dari putranya yang hari ini tak berangkat sekolah.
Saat Aini menyiapkan bekal Kenzo, Mala segera menghubungi wali kelas Umar dan Kenzo. Ia ingin menanyakan alasan Umar tidak berangkat sekolah hari ini.
"Wali kelas Umar bilang, dia sedang ada urusan keluarga." Sela Mala setelah selesai menghubungi wali kelas Umar.
"Urusan keluarga?" Ulang Aini bingung.
"Dia baik-baik saja. Tenanglah!" Ucap seorang laki-laki, yang tiba-tiba muncul di pintu masuk.
Semua lantas menoleh.
"Pak Ardi." Batin Aini.
"Papa!" Panggil Kenzo bahagia.
Laki-laki itu tersenyum pada Kenzo.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Mala, seraya berdiri dari kursinya untuk menyambut sang tamu, Ardi.
"Pagi, Bu Mala." Jawab Ardi ramah.
Kenzo segera berdiri dan menghampiri ayahnya.
"Ayo Pa, duduk!" Ucap Kenzo antusias, seraya menarik tangan Ardi hingga terduduk di kursi panjang yang tadi ia duduki.
"Coba deh, Pa! Ini dadar gulung bikinan Bunda. Enak lhoo." Seru Kenzo antusias.
Kenzo segera mengambil sepotong dadar gulung yang dibawa Aini untuknya, dan langsung menyuapkannya pada sang ayah. Ardi pun tak bisa menolak keinginan sederhana putranya. Ia menggigit dadar gulung yang Kenzo suapkan
"Iya, enak." Sahut Ardi singkat sambil tersenyum pada Kenzo.
Ardi segera menoleh pada Aini. Ia bisa melihat dengan jelas, wajah khawatir Aini yang belum hilang.
"Coba Kenzo suapi Bunda!" Pinta Ardi tiba-tiba, untuk mengalihkan perhatian Aini.
Kenzo pun mengangguk dengan mantap.
"Ayo Bunda, aaaaa,," Kenzo segera menyuapkan sisa potongan dadar gulung di tangannya pada Aini.
Aini yang tak fokus, refleks membuka mulutnya dan menerima suapan dari Kenzo. Aini pun menggigit dadar gulung itu sedikit.
"Seandainya." Batin Mala haru, saat melihat adegan sederhana di ruangan itu.
"Kenzo, itu kan bekas gigitan Papa." Tegur Ardi tiba-tiba.
__ADS_1
Kenzo dan Aini segera menoleh pada Ardi. Kenzo dengan polosnya menatap ayahnya penuh kebingungan. Sedang Aini, seketika menjadi kikuk karena memakan dadar gulung bekas gigitan Ardi.
Aini pun kebingungan dengan dadar gulung yang masih di dalam mulutnya. Jika ia memuntahkannya, akan sangat tidak sopan. Dan akan terlihat aneh, karena itu dadar gulung buatannya sendiri. Tapi jika ia melanjutkan memakannya, sungguh terlihat sangat canggung. Mengingat, itu adalah bekas gigitan Ardi.
"Memangnya kenapa, Pa? Papa juga biasa gitu sama Kenzo." Polos Kenzo.
Aini masih diam tak bereaksi. Ia kebingungan memperlakukan potongan dadar gulung yang ada di mulutnya.
"Aduh, gimana ini? Kenapa aku tadi sampai ngelamun juga sih?" Batin Aini panik.
"Sayang, kamu kan anak Papa. Nggak papa kalau kamu makan bekas gigitan Papa, atau sebaliknya. Kalau Bunda kan bukan, Sayang." Jelas Ardi sekenanya.
Kenzo terdiam. Ia berusaha memahami ucapan Ardi.
"Kenzo juga biasa nyuapin Bunda, makanan yang dibawa Bunda" Bantah Kenzo.
"Kan Kenzo masih kecil." Sanggah Ardi pelan-pelan.
"Kata Papa, Kenzo udah besar. Kok jadi masih kecil?" Protes Kenzo.
"Maksud Papa, kalau nanti Kenzo udah makin besar, jangan menyuapkan makanan bekas gigitan Kenzo ke orang lain. Kurang sopan, Nak." Sela Aini tiba-tiba.
Sepasang ayah dan anak yang sedang berdebat kecil itu, segera menoleh pada Aini.
"Aini benar-benar memakannya?" Batin Ardi tak percaya.
"Tapi, Papa sama Kenzo kok boleh, Bunda?"
"Karena dia papamu." Jawab Aini sambil mengusap pipi Kenzo.
"Terus, kenapa tadi Bunda mau disuapi Kenzo bekas gigitan Papa?" Tanya Kenzo lagi.
Kenzo akhirnya mengangguk paham. Ia pun lalu duduk kembali. Duduk diantara papa dan bundanya. Dan dengan lahap, menghabiskan makanan yang dibawa Aini seperti yang biasa ia lakukan.
Hingga bel tanda istirahat selesai pun berbunyi. Kenzo pun kembali ke kelasnya.
"Bisa saya bicara dengan Anda sebentar?" Pinta Ardi, setelah Kenzo pergi.
Aini dan Mala menoleh pada Ardi.
"Saya, Pak?" Tanya Aini menegaskan.
"Iya. Apa Anda ada waktu?" Jawab Ardi sopan.
"Iya, Pak." Jawab Aini singkat.
Mala akhirnya berpamitan untuk keluar ruangan. Dan membiarkan Ardi dan Aini untuk berbincang berdua.
"Kamu tak perlu khawatir tentang Umar! Pengacaramu sedang berusaha melakukan yang terbaik, agar Umar kembali padamu." Saran Ardi.
Aini menghela nafas beratnya. " Baik, Pak. Terima kasih."
Hati Aini masih mendung. Perasaannya tidak tenang mengingat putranya. Ia punya firasat kurang baik dengan absennya Umar di sekolah hari ini.
"Bolehkah, bekalmu untukku?" Tanya Ardi tiba-tiba.
Aini yang sedikit melamun, terkejut dengan ucapan Ardi.
__ADS_1
"Maaf, Pak?" Tanya Aini bingung.
"Bekal yang kamu bawa. Bolehkah itu untukku?" Ulang Ardi ramah.
Aini diam tak bereaksi. Ia kebingungan dengan sikap dan ucapan Ardi.
"Tak apa jika tidak boleh." Imbuh Ardi, setelah tak mendapat respon dari Aini.
"Oh, boleh Pak, silahkan! Tapi ini hanya makanan sederhana, Pak." Jawab Aini sungkan.
"Masih bisa dimakan, kan?"
"Apa? Oh, masih Pak. Ini hanya kue tradisional pesanan Umar minggu lalu." Jujur Aini.
Ardi tersenyum.
Dan tiba-tiba, jantung Aini berdegup begitu kencang melihat senyuman pria tampan di hadapannya. Suasana di sekitarnya mendadak hening. Seolah, ia berada di ruang hampa, hanya berdua dengan Ardi.
"Apa Pak Ardi memang setampan ini?" Batin Aini dengan tatapan yang belum terlepas dari Ardi.
Ardi menyadari keterpakuan Aini. Ia lantas sedikit berdehem untuk menyadarkan Aini.
Aini segera mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat malu karena ketahuan menatap Ardi dengan begitu seksama. Ia langsung gugup dan salah tingkah.
"Oh, iya. Ini Pak, silahkan! Maaf, jika rasanya kurang pas dengan indera perasa Bapak." Ucap Aini sedikit terbata karena gugup.
Aini pun menyerahkan kotak bekal yang ia letakkan di meja sejak tadi pada Ardi.
"Terima kasih." Jawab Ardi singkat.
"Sama-sama, Pak."
"Akan kuberikan pada Umar nanti." Batin Ardi.
"Apa masih ada yang lain, Pak?" Tanya Aini segera.
"Oh, tidak."
"Kalau begitu, saya permisi, Pak."
"Tentu, silahkan!"
Aini pun segera beranjak dari kursinya. Ia lantas keluar dari ruang tamu sekolah dengan perasaan yang sedikit susah untuk dijabarkan.
Khawatir. Karena Aini tak tahu alasan yang sebenarnya Umar tidak masuk sekolah hari ini. Ia takut, jika sesuatu yang kurang baik terjadi pada Umar.
Bahagia. Aini tak tahu pasti, kenapa hatinya merasa bahagia. Ada perasaan gugup dan sedikit gelisah mendera hatinya sejak tadi. Ia bahkan memikirkannya sepanjang perjalanan pulangnya.
"Kenapa jantungku mendadak berdegup kencang tadi? Dan kenapa juga aku tadi bisa berpikiran seperti itu pada pak Ardi?" Gumam Aini selama di perjalanan.
Aini benar-benar memikirkan sikap anehnya pada Ardi tadi. Ia sedikit kebingungan dengan apa yang dia rasakan tadi.
Bagaimana dengan Ardi? Ardi ditinggalkan Aini, dengan perasaannya yang sedang berada di awal musim semi. Perasaan Ardi sedikit berbunga-bunga sejak beberapa saat lalu.
Kenapa? Alasannya sangat sederhana. Karena Aini mau menerima suapan dari Kenzo, yang merupakan bekas gigitan Ardi. Ardi bahkan tak tahu pasti, jika Aini tadi tidak begitu menyadari, jika itu bekas gigitan Ardi.
Ardi juga bahkan tak lupa, bagaimana tadi Aini menatapnya cukup intens dan bahkan sedikit gugup setelah Ardi sedikit berdehem untuk menyadarkannya.
__ADS_1
"Apa dia terpesona padaku?" Gumam Ardi sambil tersenyum kecil.