
Selamat pagi dunia. Selamat pagi juga pada asa yang tertanam dalam jiwa. Dan pada rasa yang selalu menyapa dengan cara yang terkadang tak biasa.
Pagi yang cerah mengawali hari yang selalu penuh dengan harapan dan kebaikan. Di awal pekan ini, semua mulai disibukkan dengan rutinitas seperti biasa. Tapi tentu saja, dengan asa yang selalu menemani dalam setiap tarikan dan hembusan nafas.
Pagi di rumah Ardi sedikit gaduh. Dan itu hanya karena Ardi. Ia lupa bahwa hari ini ada pertemuan penting dengan kolega bisnisnya. Ada juga agenda rapat dengan para karyawannya tentang proposal tender yang akan diajukan perusahaan Ardi. Dan Ardi belum menyiapkan apapun untuk itu.
Ardi berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Ardi juga sudah berjanji dengan Dika, akan ke kantor lebih pagi. Ia ke kantor bersamaan dengan Kenzo dan Umar yang berangkat ke sekolah. Dan itu sangat pagi bagi Ardi.
Saat sampai di kantor, Ardi sangat disibukkan dengan semua berkas dan laporannya. Apalagi, ia sempat libur dengan urusan kantor selama beberapa hari karena liburan. Jadi jelas, laporannya menumpuk cukup banyak. Ia pun langsung berkutat dengan semua urusan kantornya bersama Dika dan Mira.
Hingga jam istirahat siang, Ardi baru saja menyelesaikan dua jadwal rapatnya. Masih ada jadwal rapat lain yang menunggunya siang nanti.
"Ah, selesai juga rapatnya." Gumam Ardi sambil menjatuhkan punggungnya ke kursi kerjanya.
Ardi memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam untuk melepas penatnya sejenak. Dan tiba-tiba, bayangan seseorang segera muncul dibenaknya.
"Aku sudah rindu padanya." Batin Ardi sambil tersenyum.
"Ponsel." Monolog Ardi sambil membuka matanya.
Dan ternyata, Dika juga baru saja memasuki ruangannya. Tapi, Ardi sedikit mengacuhkan Dika. Ia memilih mencari ponselnya, dengan satu tujuan. Melihat foto-foto Aini yang ada di galeri ponselnya.
Saat liburan kemarin, Ardi bisa mengoleksi banyak foto Aini. Tanpa sepengetahuan Aini pastinya. Ia mengambilnya, saat Aini sedang sibuk dengan yang lain.
"Bapak, ingin makan siang dimana?" Tanya Dika santai.
Ardi masih diam tak menjawab. Ia masih sibuk mencari ponselnya.
"Bapak, mencari apa?" Tanya Dika lagi.
"Ponsel. Dimana aku meletakkannya?" Jawab Ardi, dengan tangan dan mata yang terus mencari.
Dika pun akhirnya ikut celingukan mencari ponsel Ardi. Ia juga mengingat-ingat apa yang mereka lakukan sejak di kantor.
"Saya tidak melihat Bapak memegangnya sejak tadi. Apa mungkin tertinggal di mobil?" Sahut Dika segera.
Ardi segera mematung. Ia pun mengingat-ingat apa yang Dika katakan.
"Sepertinya, aku tidak meninggalkannya di mobil. Apa tertinggal di rumah?" Gumam Ardi ragu.
Ardi yang masih mengingat kejadian pagi ini satu demi satu, tiba-tiba menatap Dika tajam. Dika pun kebingungan karena hal itu.
"Pinjam ponselmu sebentar!" Pinta Ardi seraya berdiri dan berjalan menghampiri Dika.
Dika pun segera memberikan ponselnya pada Ardi. Ardi sejenak mengutak-atik ponsel Dika. Lalu melakukan panggilan dengan benda pipih itu.
"Assalamu'alaikum, Dik."
"Wa'alaikumussalam, Ma. Ini Ardi, Ma." Ucap Ardi segera.
Dika menatap aneh pada Ardi.
"Kenapa pakai ponsel Dika? Ponselmu kemana?"
"Ponsel Ardi sepertinya tertinggal di rumah, Ma. Mama bisa tolong periksakan di kamar Ardi?" Tanya Ardi penuh harap.
"Sebentar!"
Ardi pun terlihat sedikit sumringah. Lalu terdengar suara Niken di seberang telepon sedang berbincang dengan seseorang.
"Ni, tolong kamu periksa di kamar Ardi, apa ponselnya tertinggal di kamar!"
"Baik, Bu."
Ardi tersenyun kecil mendengar suara Aini di seberang telepon. Hatinya yang tadi sedikit kesal karena tak kunjung menemukan ponselnya, mendadak bahagia hanya karena suara Aini dari seberang telepon. Gimana kalau ketemu langsung?
Sedang si pemilik ponsel, hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah atasannya.
"Kamu mau modusin Aini?"
"Mana ada, Ma. Ardi beneran nggak tahu kalau ponsel Ardi ketinggalan." Jujur Ardi membela diri.
"Terus? Kenapa baru sekarang ingetnya?"
"Tadi ada dua rapat pagi, Ma. Ini juga baru keluar ruang rapat." Jelas Ardi mulai kesal.
"Ada, Bu."
Suara Aini kembali menggema di seberang telepon.
"Ma, bisa tolong minta pak Prapto anter ponsel Ardi ke kantor?"
"Pak Prapto baru nganterin pijit papa ke tukang pijit langganannya. Tukang pijit langganan papa baru keluar kota katanya."
"Pak Joko?"
"Siapa yang jaga rumah kalau pak Joko juga pergi?"
"Kalau gitu, minta tolong Aini aja, Ma! Ardi tunggu di kantor ya, Ma." Pinta Ardi sambil cengengesan.
"Modus!"
"Dikit, Ma. Bantuin anaknya kenapa, Ma?" Rengek Ardi manja.
"Iya, iya."
"Oke, Ma. Ardi tunggu di kantor, ya Ma?"
"Iya."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Panggilan pun segera terputus. Ardi sedikit menarik sudut bibirnya karena berhasil mendapatkan alasan untuk bisa menemui Aini di kantor.
"Terima kasih." Tulus Ardi, sambil mengembalikan ponsel Dika.
"Sama-sama, Pak."
"Dan, kamu makan sianglah dulu! Aku akan makan siang dengan Aini nanti." Ucap Ardi santai.
"Baik, Pak."
Dika lalu menganggukkan kepala untuk berpamitan. Ia pun keluar dari ruangan Ardi dan bersiap untuk makan siang.
Setelah menunggu cukup lama sembari mengecek laporan dan proposal yang menjadi PR-nya, fokus Ardi teralihkan oleh suara ketukan dari pintu kantornya. Padahal ini sedang jam makan siang.
"Masuk!" Jawab Ardi datar.
Dan ternyata, dia yang ditunggu pun akhirnya tiba. Aini. Ia masuk dengan senyumnya yang sedikit malu-malu. Ardi pun segera beranjak dari kursinya.
"Kamu sudah tiba? Maaf, merepotkanmu siang ini." Ucap Ardi segera.
"Tidak apa-apa, Mas. Ini ponselnya."
Aini segera menyerahkan ponsel Ardi yang baru saja ia ambil dari tas kecilnya.
"Terima kasih."
Ardi pun segera mengutak-atik ponselnya sejenak. Ia lalu mengantonginya di saku celananya.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Ardi tanpa ragu.
"Belum, Mas."
"Tolong temani aku makan siang! Dika sudah pergi makan siang sejak tadi." Pinta Ardi.
"Tapii,,"
"Kamu ada janji atau acara nanti?" Tanya Ardi cemas.
"Tidak, Mas. Tapi, bu Niken meminta saya untuk mampir belanja setelah saya memberikan ponsel Anda." Jujur Aini.
Ardi menarik satu sudut bibirnya. Ia lalu berjalan mendekati Aini dengan tatapan nakal. Aini pun refleks memundurkan langkahnya untuk menghindari Ardi. Ia bahkan menjadi sangat gugup dalam seketika.
Tapi sayangnya, langkah Aini terhenti karena menabrak sofa di ruangan itu. Tapi Ardi tidak menghentikan langkahnya. Aini pun berusaha mencondongkan tubuhnya ke belakang, saat Ardi masih tetap mendekat ke arahnya. Aini sampai kesulitan menelan salivanya.
"Apa kamu bilang tadi? Saya dan anda?" Lirih Ardi tepat di depan wajah Aini.
Aini baru ingat, ia dan Ardi sudah pernah memiliki kesepakatan sebelumnya. Aini tidak boleh lagi menggunakan saya dan anda saat berbincang dengan Ardi. Agar terdengar lebih akrab, itu kata Ardi.
"Maaf, Mas. Saya,, eh,, aku lupa." Jawab Aini gelagapan.
"Tak apa. Lain kali, jika kamu mengulanginya lagi, kamu harus dihukum!" Jawab Ardi nakal.
"Dihukum?" Ulang Aini tak percaya.
Ardi hanya mengangguk.
"Hukuman apa?"
Ardi terdiam sejenak. Ia sedikit memikirkan hukuman seperti apa yang akan diberikannya pada Aini nanti.
"Nanti, aku akan memberitahumu. Tapi sekarang, kamu harus menemaniku makan siang." Jawab Ardi nakal.
"Tapi Mas,,".
"Nanti aku temani belanja. Apa mama sudah memberimu uang belanja?"
Aini terdiam. Ia baru sadar, jika Niken tidak memberinya uang belanja tadi. Ia pun menggelengkan kepalanya.
"Oke. Nanti aku temani kamu belanja."
Ardi pun menegakkan kembali tubuhnya. Ia lalu berjalan ke arah meja kerjanya. Sedikit membereskan meja kerjanya lalu meraih jas dan tas kerjanya.
Aini hanya memandangi Ardi tanpa berucap. Ia masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang sedikit tak terkendali karena ulah Ardi tadi.
"Apa aku bermimpi, dicintai oleh orang setampan dan sehebat itu?" Batin Aini, sambil terus memandangi Ardi.
Setelah Ardi selesai, mereka segera keluar ruangan. Dan kebetulan, berpapasan dengan Dika yang baru saja kembali dari makan siang.
"Re-schedule rapat siang ini!" Pinta Ardi tegas.
"Baik, Pak." Jawab Dika paham, setelah melihat Aini yang berada di samping Ardi.
"Aku pergi dulu." Pamit Ardi.
"Baik, Pak." Jawab Dika sambil mengangguk paham.
"Mari, Pak Dika." Sapa Aini ramah.
"Silahkan, Bu Aini." Dika pun menjawab sapaan Aini tak kalah ramah.
Ardi segera meraih tangan Aini dan menggenggamnya lembut. ia tak ragu atau malu menggandeng tangan itu di depan para karyawannya. Meski, ulahnya itu mendapat tatapan tak biasa dari para karyawannya.
"Eehh,, Mas,,"
Aini terkejut saat Ardi menggandeng tangannya. Ia berusaha melepaskannya karena mereka sedang ada di tempat umum. Ia cukup malu dengan hal itu. Tapi sayangnya, Ardi tidak mau melepaskannya sama sekali. Aini pun akhirnya pasrah begitu saja. Karena Ardi pun tak menanggapi panggilannya.
__ADS_1
Dengan tatapan tak biasa, Ardi dan Aini menyusuri lorong dan lobi kantor Ardi langkah demi langkah. Dan hanya Aini yang merasa kikuk karena tatapan para karyawan Ardi. Sedang Ardi, tanpa rasa bersalah menggandeng tangan Aini di sepanjang langkah mereka.
"Kita mau kemana, Mas?" Tanya Aini setelah masuk mobil.
"Kencan." Jawab Ardi, sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Kencan? Tapi kita sudah bukan ABG lagi, Mas." Jawab Aini cepat.
Ardi sejenak menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh dengan tatapan tak percaya pada Aini.
"Berarti kamu setuju kan, kalau kita berkencan hari ini?"
"Eh,,??"
Aini kebingungan sendiri. Ia cukup paham maksud ucapan Ardi. Tanpa sengaja, ia baru saja menyetujui ajakan kencan Ardi.
Ardi pun segera melajukan mobilnya setelah tersenyum pada Aini. Mereka segera menuju salah satu restoran yang sudah menjadi langganan Ardi. Mereka pun makan siang di sana.
"Mama memintamu belanja apa?" Tanya Ardi, setelah mereka selesai makan.
Aini pun mengambil catatan yang Niken berikan padanya tadi. Ia lalu menyerahkannya pada Ardi. Ardi segera membacanya.
"Oke. Kita ke mall." Ajak Ardi yakin.
Aini hanya tersenyum. Hatinya masih berusaha mengurai rasa bahagia yang menderanya, karena bisa makan berdua dengan Ardi. Meski hanya makanan biasa yang mereka nikmati, tapi terasa istimewa bagi keduanya.
Setelah merasa nyaman dengan perut masing-masing setelah makan, Ardi dan Aini segera menuju salah satu mall besar di Kota Surabaya. Karena daftar belanja Aini bukan sayur atau lauk pauk, melainkan kebutuhan rumah bulanan. Jadi, Ardi sengaja mengajak Aini belanja di mall. Sekalian jalan-jalan. (Modus lagii 🤭)
Ardi sudah menanggalkan jas kerjanya di mobil. Ia nampak lebih santai dengan setelah kemeja, vest dan celana kain yang ia kenakan saat ini. Ardi pun tak ragu, mendorong troli belanja yang akan ia gunakan untuk meletakkan belanjaannya nanti bersama Aini.
Ardi dan Aini mulai menyusuri lorong demi lorong salah satu pusat perbelanjaan yang ada di mall itu. Mereka pun berbincang sambil sedikit bersenda gurau saat memilih beberapa barang belanjaan.
Semua nampak sangat natural dan begitu santai. Aini pun mulai terbiasa dengan nada bicara yang lebih santai pada Ardi. Ia mulai terbiasa dengan sapaan aku dan kamu pada duda yang sedang bersamanya itu.
"Aini?"
Di antara keriuhan suasana pusat perbelanjaan, suara seorang wanita yang familiar di telinga Aini, tiba-tiba menggema begitu saja. Sang empunya nama yang sedang melihat beberapa barang di rak sambil memgangi troli, pun segera menoleh.
"Mbak Ratri?" Sahut Aini tak percaya.
Aini pun berusaha bersikap ramah pada Ratri. Meski, hatinya mendadak mendung karena teringat perlakuan buruk Ratri yang pernah dilakukan padanya.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Ratri sinis.
"Belanja, Mbak. Mbak sendirian? Rafa nggak ikut?" Jawab Aini seramah mungkin.
"Enggak. Rafa sama ibu di rumah."
"Oh,,"
Ratri sudah biasa belanja di pusat perbelanjaan ini. Gaya hidupnya sejak dulu memang seperti ini. Cukup mewah dan berkecukupan. Jadi, ia sudah biasa belanja kebutuhan rumah bulanan, di pusat perbelanjaan di mall seperti saat ini.
"Kamu nggak salah belanja di sini?" Sindir Ratri.
"Inii,,"
"Ini belanjaan kami. Apa ada yang salah?" Sahut Ardi tiba-tiba, tepat di belakang Aini. Bahkan, Ardi mengungkung tubuh Aini dengan tubuhnya dan troli.
Aini segera menoleh karena terkejut. Tapi, ia tak bisa banyak bergerak. Karena terkunci oleh tubuh Ardi dan troli belanjanya.
Ratri pun sedikit terkejut karena jawaban Ardi. Ia tak menyangka, Aini datang dengan laki-laki yang pernah datang ke rumahnya beberapa waktu lalu. Yang ia ketahui, laki-laki itu bukanlah orang sembarangan.
"Oh, tidak." Jawab Ratri singkat.
Ratri kemudian berlalu begitu saja. Ia bahkan tak berpamitan atau sekedar menyapa Aini lagi sebelum ia pergi. Hatinya sudah menciut, karena melihat Aini bersama laki-laki itu.
Ardi segera membalikkan tubuh Aini. Ia menatap Aini penuh cemas.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Ardi panik.
Aini hanya menggeleng.
"Dia tidak melakukan apa-apa padamu bukan? Tidak mengatakan hal buruk padamu lagi, bukan?" Tanya Ardi makin cemas.
"Tidak, Mas. Aku tidak apa-apa. Kami hanya saling bertegur sapa tadi." Jujur Aini sambil tersenyum.
"Maaf, karena meninggalkanmu sendirian. Minumlah!"
Ardi cukup menyesal karena meninggalkan Aini sejenak tadi. Ia sebenarnya membeli minum untuknya dan Aini tadi. Tak disangka, saat ia pergi, Aini bertemu dengan mantan madunya.
Aini pun meminum air yang Ardi berikan. Ia pun lalu memberikannya pada Ardi.
"Mas minumlah juga! Tenanglah, aku tak apa-apa!" Pinta Aini lembut.
Aini tahu, Ardi khawatir padanya. Jadi, ia pun berusaha menenangkan hati Ardi yang sedang mencemaskannya.
Ardi menerima botol minum Aini dan segera meminumnya. Dan kini, sudah tak ada lagi rasa canggung yang melanda mereka, saat mereka minum dari satu tempat minum yang sama.
Hal sederhana, tapi merupakan sebuah tanda dan kemajuan kecil dari hubungan mereka.
"Kita cari yang lain, Mas! Masih ada beberapa yang belum masuk troli." Ajak Aini, demi mengalihkan perhatian Ardi.
Ardi pun mengangguk setuju. Mereka kembali menyusuri pusat perbelanjaan itu untuk mencari barang yang sudah menjadi daftar belanjaan mereka.
Ardi tanpa sengaja, kembali meninggalkan Aini seorang diri. Ia teringat sesuatu dan ingin membelinya. Ia pun mencarinya sendiri dan meninggalkan Aini bersama troli belanjanya.
"Aini?"
Dan lagi. Suara seseorang yang familiar di indera pendengaran Aini, menggema lagi tanpa permisi. Membuat sang pemilik nama, kembali berusaha mengurai keterkejutannya. Apalagi, tidak ada Ardi di sampingnya saat ini.
__ADS_1
****************
Suara siapa hayoooo??? 😁😁