Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Ditemukan Part 2


__ADS_3

Resiko dari sebuah profesi pekerjaan, kadang memang tak kenal waktu. Tugas bisa hadir kapan saja, tanpa bisa kita tunda atau undurkan waktunya.


Reno baru saja membersihkan diri, setelah seharian menemani Ardi. Ia juga baru selesai menerima kabar dari anak buahnya yang akan memastikan apakah Aini ada di rumah yang didatangi Oliv dan Adit atau tidak.


"Bu Aini ketemu, Mas. Dia di rumah itu." Ucap seseorang di ujung telepon.


"Kamu yakin?"


"Iya. Kami sudah memastikannya."


"Oke. Tunggu kami tiba!"


"Baik, Mas."


Panggilan segera terputus. Reno segera berlari keluar dari markas. Ia berlari menuju rumah Ardi dengan perasaan yang cukup sulit dijelaskan.


Reno bahagia, akhirnya ada titik terang tentang keberadaan Aini. Tapi ia juga sedih, karena laporan dari anak buahnya sebelumnya, bahwa Aini mungkin sempat disiksa oleh Oliv.


"Minta semua pengawal berkumpul sekarang! Kita bersiap ke Pasuruan menjemput bu Aini!" Pinta Reno saat berpapasan dengan rekannya di ambang pintu.


"Baik, Mas." Jawab rekannya patuh.


Reno menggedor gerbang rumah Ardi. Prapto pun segera berlari dan membukakan pintu untuk Reno.


"Pak Ardi?" Tanya Reno cepat.


"Dia di ruangannya. Tadi selepas mandi, beliau masuk ke ruang kerja." Jujur Prapto.


"Ayo, Pak." Ajak Reno segera.


Prapto akhirnya mengikuti langkah Reno. Mereka berjalan masuk rumah dan segera menuju ruang kerja Ardi.


Tok, tok, tok. Prapto mengetuk pintu ruang kerja Ardi dengan sangat hati-hati. Tapi, tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Prapto pun kembali mengetuk pintu ruang kerja Ardi.


"Iya. Masuk!" Sahut Ardi dari dalam.


Prapto perlahan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka.


"Ada apa, Pak?" Tanya Ardi cepat.


"Ada mas Reno, Pak." Jujur Prapto.


Belum sempat Ardi menjawab, Reno menyerobot masuk ke ruang kerja Ardi tanpa permisi. Prapto dan Ardi sampai terkejut.


"Ketemu, Pak. Bu Aini sudah ditemukan." Ucap Reno segera.


Ardi yang sedang merenungi beberapa hal, pasti sangat terkejut. Begitu juga dengan Prapto yang masih menatap Reno karena terkejut.


"Dimana? Kamu sudah memastikannya?" Tanya Ardi panik.


"Sudah, Pak. Janu sudah memastikannya. Beliau ditemukan di Pasuruan." Sahut Reno yakin.


"Ayo, cepat!"


Ardi segera beranjak dari kursinya. Ia segera meraih ponselnya dan berjalan cepat menuju pintu.


"Tapi Pak,," Reno manahan langkah Ardi dengan segera.


"Tapi apa?" Tanya Ardi kesal.


"Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk!" Ucap Reno ragu.


"Apa maksudmu?" Ardi makin kesal karena ucapan Reno.


"Bu Aini,,"


"Ada apa dengannya?"


Reno kesulitan mengungkapkan apa yang ia dengar dari anak buahnya tadi. Tapi, ia juga tak bisa menyembunyikan hal itu dari Ardi.

__ADS_1


"Katakan!" Bentak Ardi.


"Bu Aini,, sepertinya disiksa oleh orang yang menculiknya." Ucap Reno lirih.


Darah Ardi seketika mendidih mendengar hal itu. Hatinya bergemuruh penuh amarah.


"Siapa yang menculiknya?" Tanya Ardi makin marah.


"Bu Oliv, pak Adit beserta istrinya."


"Apa? Bukankah kalian mengikutinya selama satu minggu ini? Kenapa baru sekarang kalian mengetahuinya?"


"Maaf, Pak."


"Bawa mereka padaku secepatnya!" Pinta Ardi sambil menahan amarahnya.


"Baik, Pak. Kami akan segera membawa mereka pada Anda." Jawab Reno yakin.


Reno kali ini benar-benar tak ingin mengecewakan orang yang telah berjasa banyak untuknya itu. Ia ingin melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk Ardi, seperti biasanya.


Ardi segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja. Reno dan Prapto pun mengikuti langkah Ardi.


"Pak Prapto! Tolong jaga Umar selagi aku pergi! Jangan beri tahu dia apapun tentang berita ini! Aku yang akan memberitahunya nanti." Pinta Ardi sambil terus berjalan.


"Baik, Mas."


"Dan tolong kabari mama dan papa!" Pinta Ardi lagi.


"Iya, Mas."


Ardi sampai di pintu depan. Ia segera berjalan menuju mobilnya bersama Reno.


"Hubungi Dika! Minta dia untuk menemui kita di perbatasan!" Pinta Ardi lagi.


"Baik, Pak."


"Bawa semua pengawal!"


Reno segera melajukan mobil Ardi keluar dari rumah. Di depan rumah, sudah berjajar empat mobil dan tujuh motor yang menunggu Ardi dan Reno. Tentu saja, dengan para pengawal yang sudah menunggu Ardi keluar rumah.


Semua pengawal Ardi segera menaiki kendaraan masing-masing. Dan jelas, para pengawal itu sedikit mencuri perhatian para tetangga yang belum terlelap saat ini. Beberapa tetangga melihat keluar rumah untuk memastikan suara keramaian kendaraan yang tiba-tiba terdengar di komplek perumahan mereka.


Ardi dan Reno segera memainkan ponselnya, dengan perasaan yang cemas. Mereka ingin menghubungi seseorang. Ardi ingin menghubungi Gilang, sedang Reno akan menghubungi Dika sembari menyetir.


"Lang, bawa ambulans rumah sakit ke Pasuruan!" Ucap Ardi, saat panggilan teleponnya telah tersambung.


"Itu diluar jangkauan. Memangnya ada apa di Pasuruan?"


"Aini sudah ditemukan." Jawab Ardi pedih.


"Di Pasuruan?"


"Iya."


"Aku akan minta tolong kenalanku untuk menyiapkan ambulansnya. Kamu dimana?"


"Baru saja keluar kompleks."


"Oke. Aku akan menunggumu di perbatasan."


"Oke. Dika juga menunggu di sana."


"Tenanglah! Aini pasti selamat."


Ardi terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Karena ia juga tak tahu bagaimana kondisi Aini saat ini. Apalagi, Reno tadi mengatakan, bahwa Aini sempat mengalami siksaan.


Ardi mematikan sambungan teleponnya. Netranya menatap kosong ke arah depan. Pikirannya melayang memikirkan Aini yang belum jelas kondisinya.


Jalanan kota yang mulai lengang, memberikan keuntungan bagi rombongan Ardi. Mereka bisa berkendara lebih cepat agar segera sampai.

__ADS_1


Sedang di rumah nan terpencil itu, terjadi perdebatan antara Ratri dan Adit.


"Gagahi dia, setelah aku pergi!" Ucap Adit tanpa perasaan.


"Mas!" Bentak Ratri tanpa rasa takut.


"Diam!" Bentak Adit tanpa ragu.


"Cukup, Mas! Apa kurang, Mas sudah memperlakukan Aini hingga seperti itu?"


"Tak usah ikut campur!"


"Untuk hal ini, aku akan ikut campur, Mas." Jawab Ratri yakin.


"Coba saja! Atau kamu akan menyesal nanti."


Ratri membuang muka dari Adit. Ia menatap para anak buah Reni yang menyaksikannya berdebat dengan Adit.


"Jangan sentuh Aini sedikitpun! Aku akan sewakan wanita untuk kalian. Jika sampai kalian menyentuh Aini sedikit saja, aku pasti akan melaporkan penculikan ini pada polisi." Ancam Ratri penuh keyakinan.


"Bukankah kamu juga akan terseret nanti, jika sampai hal ini sampai pada polisi?" Sela Reni santai.


"Aku tak peduli." Tegas Ratri.


"Aku sudah peringatkan sejak awal, untuk tidak macam-macam dengan urusan ini!" Sela Adit lagi.


"Aku hanya meminta satu hal, Mas. Aku juga tidak macam-macam sejak kemarin." Bela Ratri.


Ratri dan Adit malah berdebat cukup panjang. Hal itu jelas menjadi tontonan bagi semua yang ada di tempat itu. Tak terkecuali Reni. Ia tersenyum licik melihat perdebatan itu.


"Terus saja bertengkar! Aku akan lebih mudah untuk mendapatkan Adit setelah ini." Batin Reni yakin.


Reni bahkan tak tahu, bagaimana masa lalu Aini yang diperlakukan tidak baik oleh ibu mertuanya, karena status sosialnya yang tidak sebanding dengan Adit. Hingga akhirnya, Aini pun harus bercerai dengan Adit karena banyak fitnah yang diberikan padanya.


Adit akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Ratri yang tetap tak mau mengalah dengan keputusannya. Adit segera masuk mobil dengan perasaan yang sangat kesal.


Ratri pun akhirnya juga mengikuti langkah Adit, setelah menegaskan lagi pada para anak buah Reni, untuk tidak menyentuh Aini sedikit pun. Adit dan Ratri pun lalu pergi dari tempat itu.


"Gimana, Ren?" Tanya salah satu laki-laki diantara mereka.


"Tunggu sebentar lagi! Siapa tahu, mereka kembali kemari." Sahut Reni yakin.


Dalam gerombolan itu, hanya Reni saja wanita satu-satunya. Tapi, dia memanglah pimpinan dari mereka. Reni juga bukan sembarang wanita. Dia bisa bela diri dan memiliki beberapa koneksi yang membuatnya bisa memiliki beberapa anak buah.


Dulu sempat ada anak buahnya yang berniat tak baik pada Reni, karena Reni satu-satunya wanita diantara mereka. Tapi saat itu juga, Reni berhasil menyingkirkannya dengan tangannya sendiri.


Sedang tak jauh dari rumah itu, rombongan Ardi baru saja tiba. Empat anak buah Ardi segera melaporkan apa saja yang mereka lihat tadi.


"Kita nggak panggil polisi, Di?" Tanya Gilang, yang baru saja bertemu dengan Ardi.


"Nanti. Aku ingin melakukan dengan caraku terlebih dahulu." Jawab Ardi geram.


Gilang paham dengan maksud ucapan Ardi. Ia sudah tak bisa menahan Ardi, jika sahabatnya itu sudah mengatakan hal itu penuh keyakinan seperti tadi.


"Kepung!" Pinta Reno segera.


Para anak buah Ardi segera beraksi tanpa ragu. Mereka jelas menang jumlah dan kekuatan. Semua segera mendekati rumah itu dan mengepung dari segala sisi.


"Tempat ini?" Gumam Ardi seraga berjalan bersama para anak buahnya.


Ardi mencoba mengingat sesuatu. Ardi merasa ada yang tak asing dengan tempat yang baru saja ia sambangi itu.


"Mimpiku tadi." Batin Ardi yakin.


Tiba-tiba, di kepala Ardi terngiang ucapan Aini dalam mimpinya.


",, Kita bertemu di sini, Mas,, "


",, atau mungkin, ini adalah tempat terakhir kita bertemu nantinya,,"

__ADS_1


"Nggak! Nggak mungkin!" Ucap Ardi penuh kecemasan


__ADS_2