
Apa yang kita inginkan, tak selalu akan kita dapatkan. Terkadang, skenario Tuhan begitu diluar dugaan. Hingga membuat kita, hanya bisa menerima segala yang telah tergariskan dengan lapang dan ikhlas.
Oliv akhirnya menerima syarat dari Ardi. Ia mau membawa serta Aini dan Umar, jika akan pergi bersama Kenzo.
Aini pun menerima permintaan Ardi untuk membantunya. Ia jelas mengajak Umar ketika ia akan pergi bersama Kenzo dan Oliv. Dua anak laki-laki itu jelas bahagia, karena bisa pergi jalan-jalan bersama ibu mereka.
Siang harinya, Oliv menjemput Kenzo ke rumah dengan mobil. Ia mengajak Kenzo ke salah satu taman bermain anak yang cukup populer di Kota Surabaya. Mereka berempat, menghabiskan waktu hingga sore di tempat itu.
Dan selama itu juga, Aini tak menemukan kejanggalan dari sikap Oliv. Ia terlihat begitu bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Kenzo. Ia pun dua kali mendapat telepon dari Ardi untuk memastikan keadaan Kenzo.
Oliv duduk berdua dengan Aini di salah satu kursi kosong. Mereka bersama-sama mengawasi putra mereka masing-masing.
"Aku tahu tujuan mas Ardi mengirim dirimu saat ini." Ucap Oliv santai, dengan tatapan tetap ke arah Kenzo.
Aini segera menoleh pada Oliv.
"Tenang saja! Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku pada Kenzo dan mas Ardi di masa lalu." Imbuh Oliv tenang.
Aini tersenyum lega mendengar penuturan Oliv. Oliv pun segera menoleh pada Aini dan tersenyum hangat padanya.
"Kenzo pasti akan sangat bahagia nantinya, Bu." Sahut Aini tulus.
"Semoga."
"Saya dengar dari bu Niken, Kenzo sering merindukan Anda akhir-akhir ini." Tutur Aini pelan.
"Benarkah?"
"Itu yang bu Niken katakan pada saya beberapa hari yang lalu." Jujur Aini.
Oliv tersenyum haru mendengar penuturan Aini. Ada sebersit rasa bahagia yang begitu besar, menyeruak dalam hati Oliv. Rasa bahagia yang terasa berbeda.
Aini lalu menoleh pada Umar yang sedang asik bermain dengan Kenzo. Pikirannya tiba-tiba melayang jauh tanpa permisi.
"Semoga, bu Oliv memang tulus ingin kembali pada Kenzo dan pak Ardi." Batin Aini sedikit perih.
"Kenapa aku sedih?" Batin Aini bingung.
Aini masih belum menyadari, rasa itu telah tumbuh perlahan dalam hati kecilnya. Rasa yang sempat ia bunuh untuk beberapa waktu. Rasa yang sempat begitu menyakitinya beberapa tahun lalu.
...****************...
Waktu terus saja berjalan tanpa henti. Detik, menit hingg jam pun terus berlalu. Mengganti hari demi hari tanpa permisi. Semua berjalan tanpa keraguan.
Oliv benar-benar membuktikan kesungguhan ucapannya pada Aini. Aini pun sudah mengatakan apa yang Oliv katakan pada Niken, Rama dan Ardi. Dan seperti yang Aini kira, mereka meragukan perkataan Oliv padanya tempo hari. Terlebih, Ardi sudah mendapatkan beberapa alasan yang bisa menyanggah ucapan Oliv itu. Dan ia masih merahasiakannya dari Aini.
Hari ini, tepat satu minggu sudah, Ardi ke Bandung. Dan sudah kali ke tiganya, Oliv mengajak Kenzo untuk menghabiskan waktu bersamanya. Tentu saja, Aini pun ikut serta. Dan malam ini, Oliv mengajak Kenzo makan malam diluar bersamanya.
"Sayang,," Panggil Oliv manja pada Kenzo.
Kenzo yang sedang asik menyeruput jus mangga kesukaannya, segera menoleh pada ibunya yang duduk tepat di sebelahnya.
"Hm?" Sahut Kenzo, tanpa melepaskan sedotan yang sedang ada di mulutnya.
"Kenzo mau nggak, kalau Mama tiap hari nemenin Kenzo sama papa?" Tanya Oliv manja.
"Mau dong, Ma. Biar kayak Umar, ditemenin Bunda tiap hari." Jujur Kenzo antusias.
Oliv tersenyum bahagia. Ia menoleh pada Aini dan Umar, yang duduk di seberang. Aini pun segera mengalihkan perhatiannya pada Kenzo. Ia pun tersenyum mendengar percakapan sepasang ibu dan anak itu.
"Eemmm,," Gumam Oliv, sambil menampilkan ekpresi wajah sedikit berpikir.
__ADS_1
"Kalau gituu,, gimana kalau Kenzo minta sama papa?" Usul Oliv santai.
"Minta apa, Ma?"
"Minta sama papa, biar Mama bisa nemenin Kenzo tiap hari, setiap waktu. Kayak Umar dan Bunda." Jawab Oliv polos.
Kenzo diam sejenak. "Oke, Ma. Nanti Kenzo akan bilang sama papa."
Oliv tersenyum lega mendengar jawaban putranya.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Oliv, sambil merengkuh tubuh Kenzo ke dalam pelukannya.
"Iya, Ma."
Kasih sayang seorang ibu, memang terkadang tak bisa tergantikan oleh siapapun dan apapun. Terlebih, bagi seorang anak yang pemikiranny masih sangat polos. Dan pastinya, dia yang selalu merindukan kehadiran ibunya.
Setelah obrolan dan canda tawa yang cukup panjang, keempat orang itu akhirnya memutuskan untuk pulang. Karena memang, malam sudah bergulir semakin larut. Terlebih, bagi dua anak laki-laki yang masih berusia sekolah itu.
Saat sampai di rumah, Kenzo segera berpamitan pada Oliv. Ia sudah merasakan kantuk yang cukup berat. Kenzo dan Umar pun segera masuk ke rumah dan menuju kamar masing-masing.
"Bisa aku bicara denganmu sebentar, Ni?" Tanya Oliv sopan, sebelum ia berpamitan pada Aini.
"Iya, Bu." Jawab Aini singkat.
Mereka lantas duduk di tepian teras rumah. Duduk beralaskan lantai marmer berwarna cokelat, dengan corak yang indah. Oliv terlihat nyaman duduk begitu saja.
"Aku ingin minta tolong padamu." Jujur Oliv tanpa ragu.
"Minta tolong apa, Bu?" Tanya Aini perhatian.
"Kita sama-sama wanita dan juga seorang ibu. Kamu pasti tahu, rasanya berada jauh dari putramu." Ucap Oliv, dengan tatapan lurus ke arah taman depan rumah Ardi.
"Iya, Bu."
Aini terdiam. Ia mencoba membaca raut wajah Oliv yang berada di bawah cahaya lampu. Ada raut wajah keseriusan di sana.
Hati Aini sedikit bimbang. Ia teringat ucapan Niken beberapa hari yang lalu. Ia ingat betul, bagaimana cerita Niken tentang Oliv yang dengan teganya meninggalkan Kenzo kecil saat itu. Yang jelas, sangat berbeda dengan Oliv yang berada di sampingnya saat ini.
"Maksud Ibu, bagaimana?" Tanya Aini meyakinkan.
"Ayolah, Ni! Jangan panggil aku ibu. Usia kita hanya beda sekitar lima atau enam tahun mungkin. Panggil nama saja. Biar lebih akrab dan santai." Jawab Oliv ramah.
"Eh. Tapi,,"
"Ayolah, Ni! Terdengar kaku, jika kamu selalu memanggilku ibu. Atau panggil aku, mbak, saja. Gimana?"
Aini terdiam. Ia mencoba memikirkan usulan Oliv.
"Iya, Mbak." Jawab Aini ragu.
"Nah, gitu lebih enak." Sahut Oliv bahagia.
Aini pun tersenyum pada Oliv, yang ternyata juga sedang tersenyum padanya.
"Jadi, Bu,, eh, Mbak Oliv, mau minta tolong apa?" Tanya Aini lagi.
"Oh, iya."
Oliv yang tadi menatap lurus kedepan, tiba-tiba memutar tubuhnya menghadap Aini. Ia pun segera meraih kedua tangan Aini.
"Tolong bantu aku, agar bisa kembali pada mas Ardi dan Kenzo." Ucap Oliv yakin.
__ADS_1
Aini mengerutkan keningnya. Ia bingung menanggapi ucapan Oliv.
"Saya, bisa apa Bu? Eh, Mbak maksudnya." Ucap Aini gelagapan.
"Tolong bantu aku mendekati mas Ardi."
"Saya? Kenapa saya, Mbak? Saya hanya perawat Kenzo. Saya tidak tahu apa-apa tentang kehidupan pribadi pak Ardi."
"Maka dari itu, bantu aku! Kamu setiap hari pasti bertemu dengan mas Ardi, kan? Tolong bantu aku mendekati dan mengambil simpatinya lagi."
"Mbak Oliv pasti lebih mengenalnya dari pada saya."
"Iya, dulu. Tapi sekarang tidak. Mas Ardi sudah banyak berubah."
Aini terdiam. Hatinya terasa sedikit pedih mendengar permintaan Oliv sejak tadi. Ia berusaha menutupi hal itu, senatural mungkin.
"Saya tidak bisa membantu apapun, Mbak. Saya hanya perawat Kenzo."
"Nanti akan kuberi tahu apa yang bisa kamu bantu. Tapi yang pasti, kamu sangat bisa membantuku nanti."
Aini diam kembali. Ia masih belum paham maksud ucapan Oliv. Apalagi, ada sebersit rasa tak nyaman dan tak suka pada Oliv, yang tiba-tiba hadir memenuhi hatinya.
"Boleh aku minta nomor ponselmu? Agar kita lebih mudah berkomunikasi dan kamu lebih mudah membantuku nanti." Pinta Oliv segera.
"Iya, Mbak." Jawab Aini singkat.
Dua wanita itu pun saling bertukar nomor ponsel. Dan setelah itu, Oliv segera berpamitan pada Aini. Karena malam pun makin larut.
Setelah Oliv pulang, Aini segera pergi ke kamarnya. Tak lupa, ia menyempatkan diri, melihat dua putranya di kamar mereka masing-masing.
"Kenapa tiba-tiba aku merasa kurang suka dengan sikap mbak Oliv? Bukankah bagus, jika mbak Oliv kembali pada pak Ardi?" Gumam Aini sambil tiduran di kamarnya.
Aini mengubah posisi tidurnya. Ia berguling ke sebelah kanan, sambil memeluk erat gulingnya.
"Tak mungkin bukan, jika aku mulai jatuh hati pada pak Ardi?"
"Aahh, nggak mungkin, nggak mungkin, nggak mungkin!" Ucap Aini sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Nggak boleh, itu nggak boleh terjadi." Ucap Aini yakin.
Aini akhirnya menghela nafas panjangnya. Berusaha membuang pikirannya yang mulai berkelana tak tentu arah, memikirkan seorang laki-laki yang sudah satu minggu ini tidak ia temui. Meski ia beberapa kali mendapat telepon darinya, tapi jelas terasa berbeda jika bertemu secara langsung dengannya.
Keesokan paginya, semua berjalan seperti biasa. Kenzo dan Umar pun sudah berangkat ke sekolah diantar oleh Joko.
Sekita pukul sembilan pagi, Niken dan Rama sudah rapi dengan pakaian mereka. Mereka sudah berpamitan pada seisi rumah sejak pagi. Mereka akan ada acara ke Malang selama dua hari. Ada acara yayasan yang harus dihadiri oleh Rama.
Niken biasanya akan tinggal di rumah, karena menemani Kenzo. Tapi karena sudah ada Aini dan Umar, ia bisa pergi menemani sang suami pergi ke luar kota kali ini. Terlebih, Niken mendapat kabar, bahwa Ardi akan pulang dari Bandung hari ini. Tapi, ia tak tahu Ardi akan tiba di rumah jam berapa. Dan ia pun tidak memberi tahu Aini tentang hal ini.
"Mbak Aini, tolong, ponsel bu Niken tertinggal di meja!" Pinta Tika saat menemukan ponsel Niken.
"Oh, iya Mbak."
Aini segera menerima ponsel yang Tika sodorkan. Ia pun segera berlari menyusul Niken dan Rama yang baru saja melewati pintu depan. Aini berusaha berteriak, agar Niken tidak segera pergi.
"Bu, ponselnyaaa,,"
BRUK. Aini tiba-tiba menabrak seseorang tepat di tengah pintu. Orang itu hendak masuk ke rumah. Tak sengaja berpapasan dengan Aini yang sedang mengejar Niken.
Karena tabrakan yang tak diperkirakan, tubuh Aini sedikit terpental. Tubuhnya refleks dipegangi oleh orang yang ditabraknya.
"Astaghfirullah." Gumam Aini terkejut.
__ADS_1
Aini segera menengadahkan wajahnya.
"Pak Ardi?"