Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Bukti Baru


__ADS_3

Hai readers πŸ€—πŸ€—


Sebelum lanjut ke part berikutnya, othor mau minta maap buat episod sebelumnya ya 😊 πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Bukan maksud othor ngeprank kalian dengan permintaan Ardi yaa 😁😁 tapi, memang dari awal bukan itu permintaan Ardi ke Aini saat ini 🀭🀭


Othor nggak nyangka lhoo, banyak yang ke prank sama alurnya 🀭🀭 maap yaa semuanya 😊 πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Oke,, next ke part berikutnya aja yaaa πŸ˜‰


makasih buat yang tetap stay sama cerita othor 😍


love you all πŸ₯°πŸ˜


****************


"Bersaksilah di pengadilan dan katakan yang sebenarnya pada polisi dan saat persidangan! Jangan menutupi atau membela orang-orang yang telah menyakitimu kemarin!" Pinta Ardi yakin.


Ekspresi wajah Aini seketika berubah. Ia tak menyangka, Ardi akan meminta hal itu padanya.


Bukan Aini tak marah arau merasa sakit hati pada orang-orang yang telah menculiknya kemarin, hanya saja, ia memikirkan masa depan dua anak laki-laki yang ia sayangi. Jika sampai dua anak laki-laki itu tahu, apa yang diperbuat oleh Oliv, Adit dan Ratri pada Aini, entah bagaimana nantinya hubungan antara orang tua dan anak itu.


Aini jelas tak mau membuat citra buruk ayah kandung Umar dan ibu Kenzo, dihadapan putranya sendiri. Meski itu benar adanya. Ia memikirkan mental Umar dan Kenzo, jika sampai hal itu sampai ke telinga mereka.


Karena jika sampai Aini mengakui semua yang ia ketahui saat penculikan itu, para pelakunya jelas akan mendapatkan hukuman yang tidak akan ringan. Apalagi, ada Ardi dan tim pengacaranya yang jelas siap mendampingi Aini dan memastikan semua mendapat balasan yang seharusnya.


"Tapi Mas,,"


"Hanya itu saja permintaanku, Sayang." Jawab Ardi lembut.


"Bagaimana dengan Umar dan Kenzo, Mas?"


"Kita tidak akan memberitahu mereka kebenarannya. Kita akan mencari alasan lain untuk mereka." Jawab Ardi paham.


"Tapi Mas,,"


"Polisi hanya menunggu kondisimu membaik. Lalu mereka akan memintai keteranganmu, setelah kamu diijinkan oleh dokter untuk itu."


Aini tak bisa menjawab apa yang Ardi katakan. Ia kehabisan kata-kata untuk membantah argumen Ardi.


"Polisi juga sudah tahu, siapa pelakunya?" Tanya Aini cemas.


"Belum. Aku belum mengatakan pada mereka tentang hal itu. Mereka hanya tahu, kamu telah ditemukan oleh anak buahku, di sebuah rumah kosong di Pasuruan." Jujur Ardi.


"Tolong tutup kasusnya, Mas!" Pinta Aini pilu.


"Aku tidak bisa, Sayang. Polisi pasti akan tetap mengusut kasus ini hingga tuntas. Dan lagi, kamu juga sudah berjanji padaku tadi, bukan? Bahwa kamu akan memenuhi permintaanku." Jawab Ardi penuh perhatian.


Aini terjebak dalam dilemanya. Ia sebenarnya tidak ingin memperpanjang masalah ini, karena menurutnya, apa yang ia alami hanya karena salah paham semata. Dan itu tak perlu melibatkan pihak berwajib.


Tapi, Aini tadi juga sudah berjanji pada Ardi, jika ia akan memenuhi permintaan Ardi. Agar Ardi tidak kembali menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang menimpa Aini kemarin.


Kepala Aini mendadak berdenyut kencang. Dilemanya tadi, segera bereaksi ke kepalanya, hingga membuat kepalanya menjadi sakit. Aini pun memejamkan matanya untuk menahan sakit.


"Kamu kenapa, Sayang?" Panik Ardi.

__ADS_1


Ardi segera memencet tombol darurat untuk memanggil perawat. Seorang perawat segera tiba untuk memeriksa Aini.


Aini pun akhirnya diberi obat melalui infusnya untuk meredakan sakit kepalanya. Perawat pun memintanya untuk lebih banyak beristirahat.


"Maaf, Sayang! Aku tak bermaksud membuatmu bertambah sakit." Ucap Ardi sedih.


"Enggak, Mas. Aku yang terlalu keras memikirkannya." Hibur Aini.


Ardi akhirnya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia mengobrol hal lain dengan Aini, agar Aini bisa lebih rileks pikirannya.


Dan karena obat yang diberikan perawat tadi, Aini segera merasakan kantuk yang mulai menyapanya. Perlahan-lahan, netra sayu dan teduh itu pun tertutup rapat. Dan mulai menjelajah ke alam bawah sadarnya.


Ardi menghela nafas lega setelah Aini tertidur. Ia lalu keluar dari ruang rawat, dan segera menghubungi anak buahnya yang berada di rumah lamanya. Untuk memantau para tawanannya.


Setelah selesai, Ardi sejenak memeriksa laporan pekerjaannya yang dikirimkan oleh Dika atau sekertarisnya. Ia menemani Aini sembari mengecek banyak hal.


...****************...


Pagi yang cerah menyapa kembali. Langit biru nan indah, menjadi pemandangan yang begitu memanjakan mata setiap pemiliknya. Gumpalan-gumpalan awan putih, menjadi pelengkap permadani indah ciptaan Yang Maha Kuasa.


Pagi ini, Imron dan Ratna datang ke rumah sakit bersama Niken, Rama dan Kenzo. Mereka berangkat, setelah Umar pergi ke sekolah seperti biasa. Karena Kenzo masih belum bersekolah seperti biasa.


"Bunda!" Panggil Kenzo manja.


"Iya, Sayang. Bagaimana kondisimu?" Jawab Aini senang, karena bertemu dengan Kenzo.


"Baik, Bunda."


"Gimana kondisimu, Ni?" Tanya Ratna.


Niken dan Rama mendekati Aini. Netra sendu wanita paruh baya itu, nampak berkaca-kaca menatap wajah Aini yang masih dihiasi luka.


"Bu Niken. Pak Rama." Sapa Aini canggung.


Rama dan Niken tersenyum hangat pada Aini.


"Bagaimana keadaanmu, Ni?" Tanya Rama perhatian.


"Sudah lebih baik, Pak." Jawab Aini singkat.


"Syukurlah."


Tangan Niken tiba-tiba terangkat, dan membelai lembut wajah Aini. Hatinya begitu pedih melihat wajah cantik Aini, sedikit ternodai oleh luka yang tidak hanya satu.


"Apa ini sakit, Ni?" Tanya Niken perlahan, sambil mengusap tepian luka di wajah Aini.


Aini tidak mengetahui, bagaimana kondisi wajahnya saat ini. Ia hanya tahu, ada beberapa luka di wajahnya karena ulah Oliv kemarin. Tapi ia tidak tahu, seberapa parah luka itu. Karena memang, Aini belum memantulkan bayangan dirinya di depan kaca sampai saat ini.


"Tidak apa-apa, Bu Niken." Jawab Aini pelan.


Rama dan Niken sudah mendengar banyak hal tentang apa yang dialami oleh Aini selama diculik dari Ardi. Mereka tak menyangka, jika Aini mendapat perlakuan seburuk itu kemarin.


Tapi, Imron dan Ratna masih belum tahu apa yang dialami Aini secara detail. Mereka hanya tahu, siapa pelakunya saja. Mereka juga tak tahu, jika Ardi sudah menyekap para pelakunya.


"Ma! Pa! Ardi berangkat dulu." Pamit Ardi, setelah beberapa saat mereka mengobrol.

__ADS_1


"Mas belum sarapan, kan?" Cegah Aini segera.


"Nanti. Aku sarapan di kantor saja." Jawab Ardi untuk menenangkan Aini.


"Papa! Kenzo mau nemenin bunda hari ini." Pinta Kenzo manja.


Ardi segera menghampiri Kenzo yang sedang duduk di tepi ranjang Aini.


"Minta ijin sama om Gilang dulu, ya!" Saran Ardi bijak.


"Pasti boleh kalau sama om Gilang." Sahut Kenzo bahagia.


Aini tersenyum melihat Kenzo begitu bahagia. Apalagi, kondisinya terlihat sangat baik pasca operasi yang ia jalani.


Kenzo sebenarnya belum diijinkan terlalu lama berada di rumah sakit, sesuai peraturan yang ada. Tapi karena Ardi yang memiliki saham yang tidak sedikit di rumah sakit itu, Kenzo sedikit memiliki hak istimewa. Tapi tetap, pihak rumah sakit akan membatasi waktu yang diberikan pada Kenzo jika ingin menemani pasien.


"Aku berangkat dulu, ya." Pamit Ardi pada Aini.


"Iya, Mas." Jawab Aini singkat.


Kenzo dengan sigap meraih tangan Ardi dan menciumnya seperti biasa. Ardi pun lalu berpamitan pada semua dan segera berangkat menuju tempat tujuannya.


Tak lama setelah Ardi berangkat, Gilang tiba di ruang rawat Aini. Ia pun segera memeriksa kondisi Aini. Dan seperti yang dikatakan Ardi tadi, Kenzo pun meminta ijin pada Gilang untuk menemani Aini hari ini.


"Hanya sampai siang." Jawab Gilang tegas.


"Tapi Om,," Rengek Kenzo manja.


"Kamu juga masih harus memulihkan kondisimu, Ken. Om nggak mau, kalau sampai kondisimu menurun dan terjadi hal yang tidak diinginkan." Jelas Gilang ramah.


"Benar yang dikatakan om Gilang, Ken. Kamu juga harus banyak istirahat, agar kondisimu lekas pulih." Timpal Aini.


"Tapi Bunda,,"


"Kamu bisa kembali lagi besok, Sayang. Iya kan, Om Gilang?" Rayu Aini perlahan.


"Tentu. Tapi tetap, tidak boleh seharian penuh. Karena kamu pasti akan kelelahan." Jawab Gilang yakin.


Setelah sekian rayuan dan bujukan dari Gilang dan Aini, Kenzo pun akhirnya menuruti apa yang dikatakan Gilang. Ia akan pulang setelah jam makan siang Aini nanti. Gilang dan yang lain pun lega, karena Kenzo mau menurut.


Di sisi lain, Ardi segera berkutat dengan pekerjaannya setelah tiba di kantor. Ia harus menyelesaikan banyak pekerjaan yang sempat ia tinggal selama beberapa hari belakangan. Apalagi, sore ini, ia memiliki jadwal untuk menemui empat orang yang sedang berada di rumah lamanya.


"Ini Pak, yang Anda minta. Saya juga telah mengirimkan beberapa file lain ke email Bapak." Ucap Dika, seraya menyerahkan satu bendel kertas yang ia dapatkan dari hasil pencarian anak buahnya.


Ardi segera menerima dan membaca apa yang Dika berikan padanya. Ia tersenyum penuh kepuasan dengan apa yang ada di tangannya. Sebuah bukti yang jelas akan membuat beberapa orang kelabakan.


"Seperti dugaan Anda. Beliau sepertinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh istrinya." Imbuh Dika yakin.


"Oke! Ini pasti akan sangat menarik. Terima kasih." Jawab Ardi yakin.


"Tentu, Pak. Saya permisi."


"Iya."


Dika lalu kembali keluar dari ruangan Ardi. Ardi pun segera memeriksa email yang dikirimkan oleh Dika. Yang ternyata, berisi beberapa video yang didapat dari hasil pencarian singkat dari para anak buah hebatnya.

__ADS_1


"Kita lihat, bagaimana reaksimu nanti, Pak Aditya Eka Subrata." Gumam Ardi kesal.


__ADS_2