
"Tapi jangan lupa, Pak Adit! Aku dengar, Anda-lah yang lebih dulu menemui Reni dan anak buahnya, dan meminta mereka untuk menculik Aini. Benar bukan, Pak Adit?" Ucap Ardi menahan geram.
Adit tak bisa membantah. Yang dikatakan Ardi memang ada benarnya. Ia yang lebih dulu menemui Reni dan memintanya beserta anak buahnya untuk menculik Aini.
Saat Ardi masih menatap geram pada Adit yang tak bisa mengelak, tiba-tiba, sebuah suara yang tak terduga, terdengar dari ruangan para wanita.
PLAK. Ardi segera menoleh ke arah laptop di hadapannya. Adit yang tadi melengos ke sembarang arah, segera menoleh ke layar LED. Nampak jelas di netra mereka, Ratri sedang berdiri di depan Oliv dengan ekspresi yang terlihat marah.
"Kenapa kamu melakukan itu pada Aini?" Bentak Ratri tanpa takut.
Oliv jelas terkejut dan refleks mengusap pipinya yang baru saja menjadi tempat mendarat tangan kanan Ratri dengan cukup keras. Ia menatap Ratri dengan kesal.
"Memangnya kenapa? Salahnya sendiri berani menggoda dan merebut mas Ardi." Sahut Oliv berani.
"Aini bukan wanita penggoda!" Jawab Ratri tak terima.
"Lalu, apakah kamu yang wanita penggoda? Bukankah kamu yang merebut suamimu dari wanita sialan itu?"
Ratri jelas tak terima dikatai oleh Oliv sebagai wanita penggoda. Tangannya segera kembali terangkat. Namun kini, tangan itu segera menjambak rambut panjang nan indah milik Oliv. Menariknya sekuat tenaga dan berusaha membenturkan kepala Oliv ke tembok.
Perkelahian dua wanita itu tak dapat dihindari. Oliv jelas melawan. Ia juga refleks menarik rambut Ratri untuk membalasnya.
"Dasar! Model nggak laku!" Umpat Ratri marah.
"Wanita penggoda!" Balas Oliv tak terima.
Reni yang tadi tak mau ikut-ikutan dengan urusan ikat pinggang itu, akhirnya berdiri dan melerai dua wanita itu.
"Apa yang kalian lakukan? Hentikan!" Pinta Reni, sambil berusaha memisahkan Ratri dan Oliv.
Ardi jelas tersenyum puas, karena berhasil membuat dua wanita saling berkelahi. Meskipun, hanya sejenak.
Adit pun melihat itu dengan kesal. Ia juga tak terima jika Ratri dicap sebagai wanita penggoda oleh Oliv.
"Cukup Bu Ratri! Anda masih harus menyimpan energi Anda untuk nanti." Pinta Ardi santai.
Reni yang berusaha keras melerai dua rekan seruangannya itu, akhirnya bisa lega setelah Ratri dan Oliv saling melepaskan satu sama lain.
Ratri akhirnya menuruti Ardi karena ia harus menyimpan energinya untuk bertahan di ruangan itu, entah sampai kapan. Ia berjalan menjauh dari Oliv, yang masih dipegangi oleh Reni.
"Bagaimana, Pak Adit? Menarik bukan? Tapi, ini belum selesai." Ucap Ardi santai.
Adit tidak menggubris Ardi. Ia masih sibuk melihat kondisi Ratri melalui layar.
"Oh iya, Bu Ratri. Oliv bilang tadi, Anda merebut Pak Adit dari Aini? Apa itu benar?" Pancing Ardi.
"Tidak, itu tidak benar. Ratri tidak menggoda atau merebutku dari wanita itu." Bela Adit tanpa ragu.
"Benarkah?"
"Iya. Wanita itu yang tak tahu diri. Dia berselingkuh dan sibuk dengan pekerjaannya saja. Hingga melupakan tugasnya sebagai seorang istri."
"Tapi bukankah, Anda seharusnya bisa memberitahunya secara baik-baik, Pak Adit?"
"Saya sudah melakukannya. Tapi dia tetap tidak berubah. Dia tetap berselingkuh, bahkan sampai hamil dengan selingkuhannya."
"Apa Anda memiliki bukti bahwa Aini berselingkuh? Dan dari informasi yang aku dapat, Aini saat itu dipaksa oleh ibu kandung Anda, untuk bekerja demi membantu keuangan keluarga, karena Anda memiliki dua istri. Bagaimana dengan itu, Pak Adit?"
"Ada. Saya ada buktinya. Bahkan saya melihatnya sendiri, dia bertemu dengan selingkuhannya itu untuk membeli alat tes kehamilan."
"Apa dia yang Anda maksud sebagai selingkuhan Aini?" Ucap Ardi, seraya melirik ke arah laptop.
Di layar, sebuah foto laki-laki tambun pun muncul. Lalu, foto yang dulu dijadikan bukti oleh Suharti untuk menuduh Aini berselingkuh pun juga ada di sana.
"Anda lihat sendiri? Dia berpelukan dengan laki-laki itu bukan?" Sahut Adit yakin.
__ADS_1
"Iya. Tapi, apakah Anda tahu, kejadian yang sebenarnya dari foto itu?" Tantang Ardi.
Adit terdiam. Ia tak tahu sama sekali dengan apa yang dimaksud oleh Ardi. Ia hanya tahu, bahwa foto itu didapat dari salah satu teman Suharti. Dan ia jelas segera naik pitam saat melihat foto itu dahulu.
Tiba-tiba, sebuah video CCTV di sebuah rumah makan diputar di layar. Terlihat jelas, rumah makan itu sedang ramai pengunjung. Dan tak lama, adegan saat Aini jatuh ke pelukan Fajar karena ditubruk oleh pengunjung lain pun, jelas terlihat di sana.
Anak buah Ardi berusaha sangat keras untuk mendapatkan video itu. Karena kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun lalu.
"Bagaimana, Pak Adit? Apa itu sebuah perselingkuhan? Bukankah itu sebuah ketidaksengajaan? Dan laki-laki yang bernama Fajar itu, hanya berusaha menolong Aini. Dan itu, Anda anggap sebagai perselingkuhan? Sempit sekali pemikiran Anda, Pak Adit." Remeh Ardi.
Adit terdiam. Ia cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya tadi. Ia juga tahu, kejadian itu jelas sebuah ketidaksengajaan. Tapi ia malah mempercayai hal itu dulu.
"Bagaimana, Bu Ratri? Anda tidak lupa bukan dengan hal itu?" Imbuh Ardi.
Ratri pun terdiam. Ia ingat, ia sedikit memberikan bumbu pemanas suasana saat itu. Dan jelas, ia menyesali itu semua saat ini.
Ardi menyeringai puas dengan apa yang dilihatnya.
"Bukahkah Anda tahu sendiri Pak Adit, ibu kandung Anda tidak menyukai Aini sejak awal kalian menikah. Karena dari yang aku dengar, Anda menikahi Aini karena Anda menjebaknya saat itu. Hingga Aini hamil sebelum kalian menikah. Bukan begitu?" Tanya Ardi lagi.
Kenangan itu kembali menari indah di benak Adit. Bagaimana ia dulu menjebak Aini agar bisa menikah dengan Aini karena tak mendapat restu dari Suharti.
"Atau jangan-jangan, yang Anda rasakan pada Aini saat itu, bukanlah perasaan cinta. Melainkan hanya sebuah obsesi semata, Pak Adit? Anda bisa membedakan bukan, mana itu cinta dan mana obsesi?"
Adit terdiam. Ia tak pernah berpikir sejauh itu sampai saat ini. Tapi yang ia ingat, ia menyayangi dan memperlakukan Aini dengan penuh cinta dan ketulusan selama mereka menikah. Meski diawali dengan sebuah kesalahan.
"Baiklah, aku rasa Anda mulai bingung saat ini." Sahut Ardi puas.
"Ada yang mengatakan padaku, Pak Adit. Anda menikah dengan bu Ratri karena dijebak oleh ibu kandung Anda sendiri, yang tidak menyukai Aini sejak awal? Apa itu benar?"
"Dan dari sumber lain yang kudapat juga, bahwa ternyata Anda juga diam-diam menemui bu Ratri sebelum Anda menikah dengannya. Bukankah itu berarti, Anda yang berselingkuh dari Aini, Pak Adit? Tapi kenapa Anda malah menuduh Aini yang berselingkuh? Atau jangan-jangan, ada yang memang ingin membuat Anda berpisah dengan Aini saat itu. Jadi dia berusaha membuat Anda marah dengan Aini hanya karena sebuah foto yang belum pasti kejelasannya. Bukan begitu, Bu Ratri?"
Adit masih diam. Ia memikirkan dengan seksama apa yang Ardi katakan tadi. Otaknya mulai berkelana pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Dan mengingat setiap kejadian yang Ardi maksudkan perlahan.
"Apa itu memang ulah ibu? Dan, apa Ratri juga ikut andil untuk itu?" Batin Adit mulai menyesal.
Ratri ingat betul kejadian itu. Bagaimana ia memanas-manasi hati Adit, agar hubungannya dengan Aini merenggang. Ia benar-benar dibutakan oleh ucapan Suharti dan perasaannya sendiri saat itu.
Belum reda kebingungan yang Adit rasakan, suara dari layar mengalihkan perhatiannya. Ada sebuah video yang diputar di sana. Video dari seorang yang cukup ia kenali sosoknya.
"Nama saya, Fajar. Saya teman Aini saat di tempat kursus dulu." Suara itu menggema di ruangan itu dengan jelas.
Semua yang di ruangan itu jelas mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.
"Maaf, Ni. Aku nggak tahu kalau waktu itu, hubunganmu dengan Adit kurang baik, karena kehadiran istri kedua Adit. Aku nggak nyangka, Adit bisa menduakanmu seperti itu. Dan bahkan, ia sampai memfitnahmu berselingkuh denganku."
"Sepertinya, orang yang memfitnahmu berselingkuh denganku itu, buta. Mana mungkin, kamu mau denganku, yang jika dibandingkan dengan Adit, jelas aku kalah dari segi manapun. Dia jelas lebih mapan dan tampan dariku. Iya, kan? Dan lagi, kalau memang kita saling memiliki perasaan, kenapa juga nggak dari dulu kita menjalin hubungan?"
"Tapi aku lega Ni, kalau kamu akhirnya berpisah darinya. Bukan aku bahagia dengan perceraianmu, tapi, jika orang yang seharusnya memahami dan mengertimu saja malah mempercayai ucapan orang lain yang seharusnya tidak ikut campur urusan rumah tanggamu, aku jelas lebih lega jika kamu berpisah dengannya."
"Semoga, kamu bertemu dengan seorang laki-laki yang akan selalu mengerti, memahami dan mempercayaimu sepenuhnya. Semoga, kalian berjodoh dan dia selalu mencintaimu dunia akhirat. Aku dan Tika menantikan kabar bahagiamu, Ni."
Video itu berakhir begitu saja. Ardi menatap Adit dan Ratri bergantian. Ia yakin, video itu berhasil mengusik hati Adit dan Ratri.
"Ah ya, Bu Ratri. Boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Ardi santai.
Ratri yang tertunduk penuh penyesalan, segera mengangkat kepalanya perlahan. Jelas terlihat di sana, wajah Ratri sudah mulai merah karena menangis.
"Anda tidak memfitnah Aini bukan, saat itu? Karena yang aku dengar, Anda dan mertua anda, berusaha membuat hubungan Adit dan Aini merenggang saat itu. Itu tidak benar bukan?" Tantang Ardi.
Ratri diam tak menjawab. Memorinya tentang bagaimana ia berusaha menjatuhkan Aini di depan Adit dulu, segera bermain indah di benaknya.
"Kenapa Anda diam, Bu Ratri? Apakah saya harus menanyakan hal ini pada mertua anda?"
"Tidak mungkin. Mereka tak mungkin melakukan itu." Sela Adit tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa Anda yakin, Pak Adit?"
"Iya. Mereka tak mungkin melakukan itu padaku." jawab Adit yakin.
"Jika seperti itu, berarti, video dari rekan Aini tadi, hanya bualan saja?"
"Tentu saja. Lagi pula, apa Anda mengenali laki-laki itu? Dia tinggal di Jogja."
"Saya mengenalnya. Beberapa waktu yang lalu, kami bertemu di pusat perbelanjaan, saat saya dan Aini sedang berbelanja. Dan sekarang, dia tinggal bersama keluarganya di Surabaya."
Adit terdiam. Ia jelas tidak mengetahui tentang hal itu.
"Dan bahkan, istrinya juga terlihat begitu dekat dengan Aini. Karena kata Aini, mereka adalah teman saat sekolah. Bukan begitu, Bu Ratri?"
Ratri mencoba mengingat nama yangvtadi disebutkan Fajar dalan video. Ia ingat, Aini memiliki seorang teman bernama Tika dulu. Dan ia juga sempat mendengar dulu, bahwa teman sekolah Aini, menjalin hubungan dengan teman kursus Aini.
"Iya." Jawab Ratri lirih.
"Rupanya, Anda masih ingat, Bu Ratri."
Ratri diam tak menjawab.
"Jika begitu, seharusnya Anda juga tidak lupa bukan, Bu Ratri? Bahwa ginjal yang ada dalam tubuh Anda, adalah milik Aini, yang ia donorkan pada Anda dahulu?"
Ratri menggeleng.
"Lalu, kenapa Anda bisa dengan tega, masuk dalam rumah tangga Aini dan pak Adit saat itu? Apa karena, pak Adit cinta pertama Anda? Sehingga Anda tidak bisa melupakannya." Cibir Ardi.
Ratri menggeleng kembali.
"Lantas? Apa Anda memang tak rela, jika Aini menikah dengan cinta pertama Anda?"
"Cukup, Pak Ardi! Kenapa Anda menyudutkan Ratri?" Bela Adit tak terima.
"Saya? Menyudutkan istri Anda? Anda jangan mengada-ada, Pak Adit! Saya hanya bertanya saja padanya. Bagian mana yang Anda sebut menyudutkan?" Remeh Ardi.
"Setiap perkataan Anda tadi, sangat menyudutkan Ratri. Dia tidak pernah berniat mengganggu rumah tangga saya dulu." Jawab Adit yakin.
"Jika begitu, berarti Anda mengakui, bahwa Anda yang berselingkuh dari Aini?" Tuduh Ardi cepat.
"Apa maksud, Anda?"
"Anda tadi mengatakan, jika bu Ratri tidak berniat mengganggu rumah tangga Anda dengan Aini dulu. Lalu, kenapa Anda diam-diam bertemu dengannya? Bukankah itu berarti, Anda yang membuka peluang untuk sebuah perselingkuhan? Dan Anda malah menyalahkan Aini?" Sahut Ardi mulai geram kembali.
"Saya tidak pernah berselingkuh. Dan Ratri, tidak pernah berniat merebut saya dari Aini saat itu."
"Tapi bukankah kalian diam-diam saling bertemu?"
"Tapi kami tidak melakukan apapun."
"Iya, karena belum ada kesempatan. Bagaimana jika kesempatan itu datang dulu? Apakah kalian akan melewatkannya?"
"Kami tidak seperti itu. Ratri adalah wanita baik-baik. Tidak seperti Aini yang mudah sekali berpindah ke pria lain hanya karena hal sepele."
"Hal sepele?"
"Iya. Dia pernah berkata, jika dia mengakui kalau dia berselingkuh karena saya tidak lagi memperhatikannya dan lebih mementingkan Ratri yang sedang hamil saat itu."
"Itu bukan hal sepele, Pak Adit."
"Itu jelas hal sederhana, Pak Ardi. Dia seharusnya lebih mengerti bagaimana kondisi seorang wanita yang sedang hamil dan butuh perhatian lebih. Karena dia pun pernah merasakannya. Bukannya dia mengerti dan memahami situasi, tapi dia malah menggunakan itu untuk alasan agar dia bisa berselingkuh."
"Tapi Pak Adit,,"
"CUKUP! Hentikan perdebatan kalian!" Sela Ratri sambil berteriak dan menatap layar dengan geram.
__ADS_1
Ardi dan Adit yang sedang beradu argumen pun, segera menoleh ke arah layar. Mereka menatap wajah Ratri dengan bingung.
"Cukup, Mas! Aini memang tak pernah berselingkuh darimu. Aku dan ibu yang telah memfitnahnya." Ucap Ratri yakin.