
"Khadijah Isnaini. Maukah engkau menikah denganku dan menjadi bunda yang seutuhnya untuk Kenzo? Menghabiskan hari tua bersama denganku dan melihat Umar dan Kenzo tumbuh dewasa bersama-sama." Ucap Ardi yakin.
Nyaris semua pasang mata yang ada di tempat itu membelalak karena terkejut. Mereka tak menyangka, wanita cantik yang sedari tadi bersama Maya, adalah kekasih Ardi.
"Kalah cepet, Net!" Celetuk Roy, yang berdiri tak jauh dari Ardi dan Aini.
"Iya. Kita kalah cepet." Sahut Junet sedih.
Aini menatap dengan seksama wajah Ardi yang setengah berdiri dengan satu kakinya. Wajah yang memang berhasil memberikan warna indah dalam hidupnya setelah hancurnya kehidupannya dulu.
Aini menoleh dengan segera ke arah Maya. Ia kebingungan bagaimana akan menjawab pertanyaan Ardi.
"Jawablah! Ardi menunggu jawabanmu." Pinta Maya, yang memahami tatapan Aini.
Tiba-tiba,,
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
Suasana menjadi ramai sekali karena teriakan teman-teman Ardi yang mendukung Aini untuk menerima lamaran Ardi. Aini menjadi makin gugup dan malu karena itu.
Otak Aini mendadak kosong. Ia benar-benar tak tahu, bagaimana menghadapi situasinya saat ini. Ia terlalu gugup hingga kesulitan untuk berucap.
Aini melihat sekitar. Ada Dika di belakang Ardi dan puluhan pasang mata yang menatapnya. Aini jadi bertambah gugup.
Lalu, Aini melihat sedikit celah diantara beberapa orang. Aini tak berpikir panjang. Ia berjalan meninggalkan Ardi begitu saja dengan wajah yang tertunduk. Menerobos orang-orang yang mengerumuninya karena sikap Ardi barusan.
"Sayang!"
Ardi segera berdiri dan mengikuti langkah Aini setelah menyimpan cincinnya. Ia pun mencoba memanggil Aini agar berhenti lebih dulu. Tapi Aini malah mempercepat langkahnya. Teman-teman Ardi pun memberikan jalan bagi mereka.
Perasaan Ardi sudah tak karuan saat melihat Aini pergi dari hadapannya begitu saja. Aini bahkan belum menjawab pertanyaan yang diajukannya tadi.
"Aini! Sayang!" Panggil Ardi terus.
Dan saat Aini hampir sampai pintu masuk ballroom, Ardi berhasil mencegatnya. Meraih tangannya yang tidak memegangi buket bunga darinya tadi.
Aini tersentak hingga mengangkat wajahnya. "Mas?"
"Kamu kenapa pergi begitu saja?" Tanya Ardi bingung.
Ardi dan Aini jelas masih menjadi pusat perhatian. Tapi Aini tidak tahu itu, karena ia membelakangi teman-teman Ardi. Maya dan Gilang pun tadi ikut menyusul mereka bersama Dika juga.
"Maaf, jika aku melakukan kesalahan lagi." Sesal Ardi.
"Aku malu, Mas." Jujur Aini lirih, sambil kembali tertunduk.
"Apa?" Ucap Ardi tak percaya.
Ardi menahan tawanya agar tak menyakiti hati Aini. Ia sungguh tak mengira, Aini merasa malu karena diperlakukan begitu romantis olehnya tadi. Ardi bahkan tadi sempat cemas, jika Aini marah karena tak menginginkan hal itu.
"Ah iya, dia itu berbeda dan sangat istimewa." Batin Ardi sambil menahan tawanya.
Ardi menempelkan jari telunjuknya di bibir dan hidungnya, sambil melihat ke arah teman-temannya yang sedang melihat adegan yang mirip di film atau sinetron itu. Memberi isyarat pada teman-temannya agar diam sejenak.
Ardi menghela nafas. Ia lalu menarik perlahan dagu Aini.
"Tatap mataku, Sayang!" Pinta Ardi lembut.
Aini pun memenuhi permintaan Ardi. Ia menatap mata Ardi yang sedang menatapnya dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Tolong jawab pertanyaanku, Sayang." Pinta Ardi lagi, sambil melepaskan tangannya dari dagu Aini.
Aini hanya diam tak menjawab.
"Khadijah Isnaini. Maukah engkau menikah denganku?" Tanya Ardi lagi, dengan nada yang penuh perhatian dan begitu lembut.
Aini mengangguk perlahan sambil tersenyum kecil. Ardi pun tersenyum bahagia mendapatkan jawaban dari Aini. Ardi lalu mengambil kembali cincin yang sedari tadi menjadi penghuni saku celananya.
"Ini?" Ucap Aini tak percaya, saat melihat cincin yang akan Ardi berikan padanya.
"Ini cincin pilihanmu, bukan? Papa yang memberikannya padaku." Jujur Ardi.
Aini pun tersenyum. Ardi lalu memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiri Aini.
"Terima kasih, Sayang." Tulus Ardi.
Perasaan Ardi sungguh meluap-luap. Perasaan bahagia itu mendominasi hatinya tanpa bisa dibendung. Memaksa sang pemilik hati, melakukan sesuatu agar rasa itu terungkapkan dengan baik.
Hingga, Ardi langsung menarik tubuh Aini dengan santainya. Memeluknya dengan begitu erat dan penuh perhatian.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Ardi lagi, seraya mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Aini.
Aini hanya mengangguk, sambil menikmati pelukan Ardi dan perlahan-lahan menetralkan perasaaannya.
Daaann,, plok, plok, plok, plok.
Suasana menjadi riuh kembali. Semua teman Ardi bersorak bahagia melihat kejadian itu. Mereka ikut bahagia karena Ardi berhasil melamar kekasihnya.
Aini berjingkat di pelukan Ardi saking terkejutnya. Ia langsung menoleh ke sumber suara yang ada di belakangnya. Ia tak mengira, teman-teman Ardi melihatnya sejak tadi.
Aini pun membalas pelukan Ardi dan mengeratkannya. Ia masih merasa malu dengan apa yang dihadapinya. Meski, ia juga bahagia karena akhirnya Ardi melamarnya dengan begitu romantis.
Ardi merasakan pelukan Aini yang mengerat padanya. Aini bahkan menyembunyikan wajahnya di dada Ardi dengan tak karuan. Ia tahu, Aini merasa tidak nyaman dengan itu.
"Hhhuuuuu,,"
Teman-teman Ardi kembali bersorak dengan keras. Membuat Aini semakin mengeratkan lagi pelukannya dan makin menyembunyikan wajahnya.
Ardi lalu mengusap-usap punggung Aini, dan berusaha menenangkannya.
"Makasih Lang, May, Dik. Dan terima kasih semuanya." Ucap Ardi segera.
Gilang hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Demikian dengan Maya dan Dika. Dan teman-teman Ardi pun akhirnya bertepuk tangan dengan bahagia.
Ardi pun lalu menuntun Aini untuk keluar dari tempat acara. Ia masih memeluk Aini yang belum mau melepaskan pelukannya.
"I love you." Lirih Ardi sembari terus berjalan.
Bukannya menjawab, Aini malah mencubit perut Ardi. Ardi tersenyum geli perutnya dicubit Aini.
"Kamu udah berani nakal ya sekarang, Sayang?" Goda Ardi.
"Udah, Mas!" Rajuk Aini.
"Iya, iya." Jawab Ardi sedikit cekikikan.
Ardi menghentikan langkahnya tepat di depan hotel. Aini pun akhirnya ikut berhenti. Ia lalu melepaskan pelukannya dan perlahan melihat ke belakang, untuk memastikan, bahwa teman-teman Ardi tidak mengikuti mereka.
Dan ternyata, hanya ada Dika yang berjalan mengikuti mereka berdua tadi. Teman-teman Ardi kembali melanjutkan acaranya.
Ardi mengamati wajah Aini dengan seksama. Wajahnya begitu merona dibawah sinar lampu yang cukup terang.
"Kita jalan-jalan dulu, ya?" Ajak Ardi.
__ADS_1
"Mau kemana, Mas? Kan udah malem."
"Kemana aja."
"Yaudah, terserah Mas aja."
Ardi pun tersenyum bahagia. Ia lalu menggandeng tangan Aini dan membawanya ke mobil. Mereka pun benar-benar berkeliling kota untuk menghabiskan waktu bersama.
Tak banyak obrolan diantara dua sejoli yang baru saja memulai babak baru hubungan mereka itu. Mereka hanya saling tersenyum bahagia satu sama lain. Ardi bahkan nyaris tak melepaskan tangannya dari tangan Aini.
Setelah beberapa saat berkendara, Ardi menghentikan mobilnya di salah satu sudut taman kota. Ia pun mengajak Aini untuk turun dan menikmati suasana malam sebelum pulang.
"Mas,," Panggil Aini lirih, setelah ia dan Ardi duduk di salah satu kursi taman.
"Iya, Sayang?" Jawab Ardi, sambil merengkuh tubuh Aini dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Kenapa Mas menungguku?" Tanya Aini tanpa ragu, setelah menyamankan posisinya, bersandar pada bahu Ardi.
"Karena kamu memang pantas untuk ditunggu, Sayang."
"Bagaimana jika aku sudah menikah lagi, Mas?"
"Aku akan merebutmu darinya."
"Apa?" Aini mendongakkan wajahnya.
"Itu janjiku, Sayang. Janji yang aku ucapkan saat kamu memintaku untuk melepaskanmu saat itu."
"Maksud, Mas?"
"Aku berjanji pada diriku sendiri saat itu, untuk tidak menemuimu meski aku bisa. Dan jika Allah mempertemukan kita dengan cara-Nya, aku akan memperjuangkanmu. Meski jika itu berarti, aku harus merebutmu dari suamimu."
Aini mencoba memahami setiap kata yang Ardi ucapkan. Yang ternyata, janji Ardi, sama dengan janji yang pernah ia buat dulu.
"Aku selalu menyempatkan diri untuk melihatmu dari jauh, Sayang. Tapi aku tidak berani untuk bertatap mata denganmu karena janji itu. Hingga kemarin, aku bertemu dengan Umar." Imbuh Ardi.
"Bagaimana bisa kita mengucapkan janji yang sama, Mas?" Ucap Aini seraya menegakkan tubuhnya secara perlahan.
"Apa?" Bingung Ardi, sambil perlahan melepaskan pelukannya.
"Saat aku memintamu untuk tidak menemuiku saat itu, aku juga membuat janji yang sama denganmu, Mas."
Ardi dan Aini saling pandang. Mereka pun lalu tersenyum.
"Ini takdir kita, Sayang."
Aini mengangguk setuju.
"Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan, Sayang."
"Terima kasih, Mas."
"Tentu, Sayang."
Aini segera teringat sesuatu. "Tapi sebelum itu, Mas harus mendapatkan restu dari mbak Ratna lebih dulu."
"Mbak,, Rat,, na?" Gagap Ardi.
"Iya. Mas harus bisa membuatnya merestui hubungan kita."
Ardi segera terdiam. Ingatannya melayang pada kejadian satu tahun yang lalu, saat ia mencari Aini ke Semarang. Ia sangat ingat, bagaimana Ratna begitu marah dan kesal padanya saat itu.
".. Aku menyesal menuruti Aini waktu itu. Aku tak akan merestui hubungan kalian lagi."
__ADS_1
Kalimat itu menggema di kepala Ardi secara tiba-tiba. Saking marah dan kesalnya Ratna pada Ardi yang telah membuat Aini menghilang tanpa kabar, hingga membuat Ratna mengucapkan kalimat itu pada Ardi, sebelum Ardi pergi dari rumah Ratna saat itu.