
Angin berhembus lembut pagi ini. Menyapa setiap jiwa, dengan rasa yang berbeda di setiap hembusannya. Merangkai cita dan cinta dalam setiap hati yang mulai menemukan kembali harapannya.
Waktu berjalan dan terus berlalu tanpa mau berhenti. Menapaki setiap takdir yang telah tergariskan sejak ribuan tahun yang lalu.
Rabu pagi. Menjadi pagi yang sangat sibuk bagi Aini. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaan paginya sebelum berangkat ke sekolah Umar seperti biasa. Belum lagi, ia juga harus menyiapkan bekal makanan yang selalu Umar dan Kenzo pesan, untuk dibuatkan oleh Aini. Tapi ia bahagia untuk itu.
Ah iya, Kenzo. Devandra Kenzo El Baraja. Teman dekat Umar sejak mereka duduk dibangku kelas satu. Tak banyak teman sekelas Umar dan Kenzo yang mau bermain dengannya. Itu karena, fisiknya yang lemah dan latar belakang keluarganya yang tak jelas. Jadi, para orang tua teman-teman Kenzo, melarang anak-anak mereka berteman dan bermain dengan Kenzo.
Tapi tidak dengan Umar. Meski ia sudah dilarang oleh ayahnya, ia tetap mau berteman dengan Kenzo. Ia tidak pernah mempermasalahkan kondisi Kenzo yang lemah karena penyakitnya.
Kondisi tubuh Kenzo tidak sempurna. Ia dititipi oleh Tuhan sebuah ketidaksempurnaan dalam dirinya. Ia mengidap leukemia sejak berusia tiga bulan. Kondisinya bisa begitu lemah secara tiba-tiba.
Ardi sudah melakukan banyak cara untuk mencoba mengobati Kenzo, tapi belum berhasil. Ia bahkan sudah mencoba meminta Oliv untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk sang putra, tapi gagal. Dengan alasan, kesibukan Oliv yang tak pernah habis. Hingga Ardi pun tak pernah mau lagi menghubungi atau bahkan melihat Oliv sedikit pun.
Kenzo tak pernah mau menjalani kemo terapi. Ia tak ingin kepalanya botak. Ia malu pada teman-temannya. Ia hanya mengkonsumsi obat selama ini untuk menjaga kondisinya tidak memburuk. Dan sejak satu tahun terakhir, kondisinya sudah cukup stabil.
Tak terkecuali dua anak laki-laki yang juga sedang sibuk di rumah mereka masing-masing. Mereka selalu bahagia menyambut hari Rabu tiba. Mereka selalu tak sabar untuk segera tiba di sekolah.
"Kamu kenapa bahagia banget, Sayang?" Tanya seorang wanita paruh baya, yang sedang menyiapkan sarapan untuk Kenzo.
"Iya dong Oma. Ini kan hari Rabu. Nanti Tante Aini datang ke sekolah." Sahut Kenzo sambil menerima piring makannya dari sang nenek.
Wanita itu segera menoleh pada putra semata wayangnya yang duduk di samping Kenzo. Yang ditoleh, ternyata tak menyadari tatapan ibunya.
"Ardi!" Panggil wanita itu sedikit keras.
"Ada apa Ma? Kenapa teriak-teriak pagi-pagi? Ardi kan duduk di depan Mama." Sahut Ardi datar, setelah menelan makanannya.
Wanita itu mendengus kesal. Sedang laki-laki lain yang duduk di sebelah wanita itu, hanya menggelengkan kepalanya. Mereka lantas makan bersama tanpa banyak percakapan.
Mereka orang tua Ardi. Rama Harjuno dan Niken Anita. Merekalah yang selama ini merawat Kenzo, selama Ardi sibuk dengan pekerjaannya.
"Kok makanannya nggak dihabisin, Sayang?" Tanya Niken perhatian.
"Kenzo sudah pesan sama Tante Aini, minta dibuatin nasi goreng pelangi hari ini, Oma. Jadi, nanti Kenzo akan makan lagi di sekolah." Jujur Kenzo.
Niken akhirnya tak kembali banyak bertanya. Jika Kenzo sudah mengatakan tentang tante Aini, ia tak dapat lagi membantah atau mendebatnya. Tante Aini sudah seperti idola bagi Kenzo.
"Pa. Kenapa mama nggak pernah nemuin Kenzo?" Tanya Kenzo polos, saat ia bersiap berangkat.
Ardi yang sedang mengecek seragam Kenzo, seketika menghentikan aktivitasnya. Rama dan Niken yang juga sedang membantu Kenzo bersiap, segera menoleh pada Ardi.
"Mama sedang sibuk, Sayang." Jawab Ardi singkat.
"Tapi, Tante Aini selalu nyempatin nemuin Umar ke sekolah. Kenapa mama enggak? Padahal, tante juga sibuk kerja lho, Pa." Sanggah Kenzo.
"Mungkin mama sedang di luar negeri sekarang." Sahut Ardi datar.
Kenzo akhirnya hanya ber-oh ria mendengar jawaban ayahnya.
Kenzo tahu siapa ibunya. Ia sudah beberapa kali bertemu dengannya. Itu pun atas permintaan Kenzo, yang ingin tahu siapa ibunya. Kenzo yang tak tahu tentang perbuatan ibunya dulu, selalu senang ketika bisa bertemu dengan ibunya. Meski hanya satu atau dua kali dalam satu tahun.
__ADS_1
Hati dan pemikiran anak-anak masih cukup polos. Termasuk Kenzo. Ia tak tahu, bagaimana ibunya lebih mementingkan pekerjannya daripada harus merawatnya dulu. Ia hanya tahu, bahwa ibunya sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Jadi, ia harus bersabar jika ingin bertemu dengan ibunya yang sibuk dengan pekerjaannya.
Oliv masih belum berubah hingga kini. Ia masih sibuk mengejar karir modelnya. Ia pun menetap di luar negeri demi pekerjaan impiannya itu.
"Siapa Aini, Di?" Tanya Niken, setelah Kenzo berangkat sekolah diantar oleh sopir seperti biasa.
"Setahu Ardi, dia ibunya Umar. Teman dekat Kenzo." Jujur Ardi.
"Lalu, kenapa Kenzo bilang dia pesan nasi goreng pada Aini? Dia karyawan di kantin sekolah?"
"Bukan Ma."
"Lalu?"
"Kata bu Mala, ia selalu datang menemui Umar setiap hari Rabu saat jam istirahat. Ardi juga beberapa kali melihatnya di sekolah."
"Kenapa dia menemui putranya di sekolah?"
Ardi pun menceritakan pada ibunya, sedikit kisah Aini yang sempat ia ketahui dari Mala.
"Mama akan ke sekolah hari ini. Papa mau ikut?" Sahut Niken cepat.
"Mama mau apa ke sekolah?" Tanya Ardi penasaran.
"Mau ketemu sama Aini." Jujur Niken.
"Papa ada janji dengan pak Riko nanti." Jawab Rama singkat.
"Iya Ma." Jawab Ardi singkat.
Niken pun tersenyum lega. Nenek dari Kenzo itu, sudah cukup penasaran dengan sosok tante Aini yang sering diceritakan cucunya. Cucunya itu, selalu antusias jika menceritakan waktunya bersama Aini dan Umar.
Karena permintaan Niken, Ardi harus mengubah jadwalnya pagi ini. Ia berangkat ke sekolah bersama ibunya terlebih dahulu sebelum ke kantor.
Saat sampai di sekolah, pelajaran masih berlangsung. Aini pun belum tiba. Niken dan Ardi lantas berkeliling sekolah untuk kembali mengecek kondisi persiapan acara minggu depan.
Saat mereka selesai berkeliling, mereka berniat untuk ke ruangan Ardi. Tapi saat mereka melewati sisi lain ruang tamu sekolah, mereka mendengar percakapan dua orang wanita. Satu diantaranya, sudah sangat mereka kenali, Mala. Tapi yang satu, terdengar cukup asing.
Dan entah apa yang membuat Niken menghentikan langkahnya. Ia sangat penasaran dengan lawan bicara Mala. Ardi lalu meminta sang asisten, Dika, untuk mengecek siapa wanita yang sedang berbincang dengan Mala. Tapi sebelum Dika beranjak dari posisinya, mereka sudah mendapatkan jawabannya.
"Maaf Bu Mala, saya selalu merepotkan Anda." Ucap wanita itu.
"Tidak sama sekali, Bu Aini. Kita sama-sama wanita, jadi saya cukup paham bagaimana perasaan Anda." Sahut Mala tulus.
"Terima kasih, Bu Mala."
"Sama-sama, Bu Aini."
Itu Aini. Ia baru saja tiba di sekolah beberapa menit yang lalu, saat Ardi masih berkeliling bersama Niken dan Dika
Niken pun segera menoleh pada Ardi. Ternyata, sosok yang membuatnya penasaran telah tiba. Niken bersiap melangkahkan kakinya untuk menemui Aini, tapi dicegah oleh Ardi. Dan di saat bersamaan, bel tanda istirahat sekolah pun berbunyi.
__ADS_1
Ardi segera mengajak Niken dan Dika berpindah dari tempatnya. Mereka lantas masuk ke ruangan Mala, yang tepat berada di sebelah ruang tamu sekolah. Dan Mala tahu hal itu.
Tak lama, suara dua orang anak laki-laki pun mulai meramaikan ruang tamu itu.
"Ini pesanan Umar, dan ini pesanan Kenzo." Ucap Aini bahagia, sambil menyerahkan dua kotak bekal yang ia bawa.
Umar dan Kenzo yang sudah duduk mengapit Aini, segera membuka kotak mereka masing-masing. Mereka pun tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Bunda." Ucap Umar.
"Terima kasih, Tante." Ucap Kenzo.
Dan tanpa Aini duga, dua pipi mulusnya dikecup dengan hangatnya oleh dua anak laki-laki di sampingnya. Ia pun segera merentangkan kedua tangannya untuk memeluk mereka. Tak lupa, mendaratkan kecupan balasan di puncak kepala mereka secara bergantian.
"Iya, Sayang." Sahut Aini haru.
"Udah, ayo dimakan makanannya!" Imbuh Aini cepat.
Umar dan Kenzo pun segera memakan makanan mereka masing-masing. Umar dengan mi gorengnya, sedangkan Kenzo dengan nasi goreng pelanginya.
Ada sebulir air bening yang jatuh tanpa permisi, melewati pipi Aini. Ada rasa haru bercampur bahagia yang menyeruak tak tertahankan saat ini. Berada diantara dua anak laki-laki yang sangat menyayangi dan menghargainya.
Meski Kenzo bukanlah putranya, Aini sudah menyayanginya sejak ia sering datang bersama Umar saat menemuinya. Apalagi saat ia tahu, bahwa Kenzo tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya selama ini. Hati Aini begitu pedih mendengar cerita Mala kala itu.
Disaat Aini berjuang sangat keras untuk bisa bersama dengan putranya, malah ada ibu yang tega meninggalkan putranya demi karirnya. Itulah yang membuat hati Aini kasihan pada Kenzo. Hingga rasa kasihan itu, perlahan berubah menjadi rasa sayang yang begitu tulus padanya.
"Bunda, tolong minum!" Pinta Umar disela makannya.
Aini pun segera mengambilkan botol minum yang ia bawa. Ia lalu memberikannya pada Umar.
"Kenzo juga mau, Tante." Sahut Kenzo tak sabar.
Aini pun gantian memberikannya pada Kenzo.
Mala tersenyum haru melihat adegan itu. Termasuk Ardi, Niken dan Dika. Mereka tak menyangka, Aini nampak begitu tulus memperlakukan Kenzo, seperti memperlakukan Umar.
Kenzo ternyata menyelesaikan makannya lebih dulu dibanding Umar. Aini pun merapikan kotak bekalnya.
"Tante, apa Kenzo boleh meminta sesuatu?" Tanya Kenzo pelan-pelan.
"Tentu boleh. Kenzo mau minta apa? Kalau Tante bisa, pasti Tante akan lakukan." Sahut Aini, sambil menoleh pada Kenzo, dengan tangan yang masih sibuk merapikan kotak bekalnya.
"Bolehkah, Kenzo memanggil Tante, bunda? Seperti Umar." Ucap Kenzo lebih hati-hati.
Kenzo sebenarnya sudah cukup lama memendam pertanyaan itu. Ia takut, Aini dan Umar akan marah padanya. Mengingat, ia hanyalah teman sekelas Umar.
Aini segera menegakkan tubuhnya. Menghentikan aktivitasnya. Lalu menatap Kenzo dengan seksama. Tatapannya begitu datar.
Mala pun juga segera menoleh pada Kenzo. Sedang Ardi yang ada di ruangan sebelah, sudah bersiap untuk menghampiri Kenzo. Tapi ditahan oleh Niken.
Kenzo tertunduk. Ia cemas dengan jawaban dan reaksi yang akan Aini berikan nanti. Jari-jemari tangannya sangat dingin saat ini. Tapi, keringatnya keluar cukup banyak di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Keinginan hati. Terkadang terasa begitu sulit untuk diungkapkan. Meski hanyalah sebuah hal yang sederhana. Terkadang menjadi sebuah tantangan yang besar bagi pemiliknya, untuk bisa mengungkapkannya dengan benar dan disaat yang tepat.