Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Mengunjungi Lapas Part 2


__ADS_3

Dika baru saja keluar dari ruangan Ardi untuk menyerahkan beberapa laporan. Bertepatan dengan itu, ponsel yang ia tinggalkan di meja kerjanya berbunyi. Tanda sebuah pesan baru saja masuk.


"Sepertinya, dua putra pak Ardi dan bu Aini, sudah siap memiliki adik."


Netra Dika jelas membaca pesan itu dengan baik. Ia juga langsung memutar video yang dikirim oleh Reno padanya. Senyuman kecil pun tersungging indah di wajahnya.


"Aku harus menunjukkan ini pada pak Ardi." Monolog Dika.


Dika lalu kembali ke ruangan Ardi.


"Ada apa? Apa masih ada yang tertinggal?" Tanya Ardi, saat melihat Dika kembali masuk ke ruangannya.


"Tidak, Pak. Saya baru saja mendapat kiriman video dari Reno. Akan saya kirimkan ke nomor Bapak, agar Bapak juga bisa melihatnya."


Ardi terdiam. Ia ingat, Reno sedang mengantar Aini serta Umar dan Kenzo ke lapas.


"Video apa?"


"Sebentar! Akan saya kirimkan ke Bapak."


"Ya."


Dika pun mengirimkan video yang dikirim dari Reno pada Ardi. Ia tidak tahu, jika video itu akan menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak Ardi harapkan.


"Sudah, Pak."


"Ya. Terima kasih."


Dika lalu kembali keluar dari ruangan Ardi. Ardi pun segera meraih ponselnya karena penasaran dengan video yang dikirimkan oleh Dika padanya. Dika juga ternyata mengirimkan pesan yang menyertai video itu.


Ardi tersenyum kecil membaca pesannya. Ia pun sejenak tersenyum melihat video dimana Umar dan Kenzo sangat bahagia menyambut bayi yang sedang Aini gendong.


Tapi, sejurus kemudian ekspresi wajah Ardi berubah serius. Pikirannya mulai melayang jauh.


"Apa dia anak Ratri?" Batin Ardi setelah melihat sosok kedua orang tua Ratri.


Ardi tahu, jika Ratri sempat melahirkan anaknya di lapas beberapa bulan lalu. Itu juga karena Erna yang menemani Aini ke Surabaya untuk mengnjungi Ratri dan Adit.


"Apa mereka akan menemui Ratri dan Adit?"


Ardi mulai menerka-nerka. Karena dari cerita Erna yang pernah menemani Aini ke lapas, dan juga sempat secara tidak sengaja bertepatan dengan Arif dan Heni yang juga mengunjungi lapas, Arif dan Heni jelas menemui Ratri. Dan juga menantunya, Adit.


"Tidak. Aini-ku tidak akan mengingkari janjinya. Ia akan mematuhi ucapanku." Monolog Ardi demi meyakinkan hatinya yang mulai ragu.


Ardi mulai terbakar rasa cemburunya lagi. Ia mulai berpikir terlalu jauh.


"Tidak. Aini tidak akan menemui laki-laki itu. Ia pasti akan memenuhi ucapannya." Imbuh Ardi lagi.


Sosok Arif dan Heni yang berdiri di dekat Aini yang sedang menggendong seorang bayi, menari indah di benak Ardi. Menggoda dan mencoba menggoyahkan keyakinan Ardi pada Aini.


Arif dan Heni, memang sudah sering mengunjungi lapas, yang jelas untuk menemui putri mereka. Mereka juga selalu menemui Adit yang memang masih berstatus menantu mereka.


Apalagi, Adit kini hidup seorang diri. Setelah kepergian ayahnya dulu, hidup Adit mulai makin tak karuan. Apalagi setelah ia jelas divonis hukuman penjara karena perbuatan buruknya pada Aini. Hidupnya semakin semrawut.


Mulai dari ibunya yang mendapat serangan jantung, karena vonis hakim yang dijatuhkan padanya. Dan perlahan, membuat kondisi Suharti yang secara tidak langsung kehilangan sosok putranya di sampingnya, semakin memburuk kian hari.


Dan karena sikap sombong dan angkuh Suharti selama ini, saat ia sakit, kerabatnya tidak ada yang menjenguk atau menemaninya di rumah sakit. Meski mereka tahu, Suharti sedang dilanda kesedihan yang mendalam.


Iya, Suharti memang dikenal sebagai sosok wanita yang angkuh dan sombong, karena usaha suaminya yang makin sukses. Dan itu membuat kerabat-kerabatnya enggan untuk membantunya saat ia membutuhkan bantuan.


Saat Suharti sakit, hanya Arif dan Heni, serta pengasuh Rafa yang menemaninya. Arif dan Heni tak tega melihat kondisi Suharti. Apalagi, mereka juga merasakan apa yang Suharti rasakan. Anak mereka satu-satunya, sedang menjalani hukuman atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan.


Dan karena usia dan tekanan batin yang Suharti rasakan, kondisi kesehatannya memburuk. Apalagi saat mendengar Ratri hamil dan anak dalam kandungan Ratri belum tentu adalah anak Adit. Kondisi Suharti langsung menurun drastis. Hingga akhirnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Kematian Suharti jelas membuat Adit makin terpuruk. Tapi, saat itulah ia sadar. Bahwa apa yang dikatakan Ardi padanya, saat ia disekap, benar adanya. Semua hal buruk yang menimpa keluarganya, berawal dari Adit sendiri. Bahkan, kematian kedua orang tuanya, juga secara tidak langsung adalah karenanya.


Dan sejak saat itu, Adit mulai berubah. Ia menjadi pribadi yang lebih baik saat ini. Dan jelas, Ardi tidak mengetahui perubahan Adit. Karena ia jelas tak mau tahu tentang itu.


Di lapas, Aini masih asik menggendong Alya yang masih belum terusik tidurnya.


"Rafa mana, Ma?" Tanya Aini, karena tidak menemukan putra pertama Ratri.


"Itu masih di mobil." Sahut Heni, sambil melirikkan bola matanya.


Aini sedikit menoleh ke dalam mobil Heni. Dan benar ternyata, ada Rafa yang masih duduk di bangku depan.


"Baru ngambek dia." Ejek Heni santai.


"Ngambek kenapa, Ma?"

__ADS_1


"Sebenarnya, sudah sejak tadi pagi Rafa minta kemari. Tapi karena akungnya ada acara tadi pagi, jadi baru bisa siang ini kemari. Dia jadi ngambek dari pagi." Jelas Heni.


Aini berusaha mencari cara agar Rafa tidak ngambek lagi.


"Mar! Coba kamu ajak dek Rafa keluar! Nanti, kita masuk sama-sama, ketemu sama mama Ratri." Pinta Aini.


Umar mengangguk paham. Ia lalu mengetuk pintu mobil yang tepat berada di sebelah Rafa. Tapi diacuhkan oleh Rafa.


Umar akhirnya masuk melalui pintu belakang. Ia segera mencoba merayu Rafa agar tidak ngambek lagi, dan mau turun dari mobil. Jadi, mereka bisa masuk dan mengunjungi Ratri bersama.


"Ayo Dek, kita ketemu sama mama!" Rayu Umar.


Rafa masih diam. Dalam hatinya, sebenarnya ia sangat ingin menemui ibu kandungnya itu. Tapi, karena kekesalannya dengan kakek dan neneknya, ia menjadi sedikit jual mahal.


Aini pun juga memperhatikan Rafa yang belum berhasil dirayu oleh Umar.


"Rafa nggak kangen sama Bunda, sama mas Umar juga?" Goda Aini.


Rafa hanya melirik. Rafa sebenarnya sangat senang jika bertemu dengan Aini, apalagi Umar. Maklum, Rafa dan Umar sempat tinggal bersama dulu. Mereka juga saudara seayah. Jadi, ada ikatan tersendiri diantara mereka.


"Yaudah! Ayo mas Umar, kita ke tempat mama Ratri sama yang lain! Rafa biar di mobil aja sendirian." Goda Aini lagi.


"Tapi Bunda,," Rengek Umar kasihan.


Aini mengedipkan sebelah matanya pada Umar. Umar pun paham, itu adalah pancingan untuk Rafa. Jadi, ia pun menuruti ajakan Aini dan segera turun dari mobil.


"Ayo Ken, aku kenalin ke mama Ratri!" Ajak Umar antusias.


"Ayo!"


Semua akhirnya mulai berjalan menuju pintu masuk lapas. Baru juga melangkah, Rafa segera membuka pintu mobil dan berteriak.


"Mas Umar, tungguin Rafa!" Manja Rafa.


Semua menoleh ke arah Rafa. Mereka senang, Rafa mau turun dan ikut masuk bersama Umar.


Rafa segera menghambur ke pelukan Umar. Ia pun bergelayut manja pada Umar. Tapi, Rafa sedikit melirik aneh pada Kenzo. Dan itu disadari oleh Umar.


"Dia kakak barumu, Dek. Namanya mas Kenzo." Jelas Umar.


Kenzo yang merasa namanya disebut segera menoleh. Ia pun menyadari, tatapan aneh Rafa.


Umar mengangguk yakin.


"Hai, Dek Rafa. Aku Kenzo." Ramah Kenzo sambil mengulurkan tangannya.


Rafa menoleh pada Umar dengan tatapan bingung.


"Nggak papa. Mas Kenzo, juga kakaknya Rafa. Kayak Mas Umar." Rayu Umar.


Rafa sebenarnya bukan tipe anak pemalu. Tapi, karena suasana hatinya sedang kurang baik, jadi dia sedikit diam dengan Kenzo. Tapi akhirnya, Rafa mau berkenalan dengan Kenzo. Semua pun tersenyum lega. Umar lalu menggandeng Rafa masuk ke lapas bersama yang lain.


Setelah mendapat ijin untuk bertemu, semua menunggu kedatangan orang yang ingin mereka kunjungi. Tapi, Aini jelas mulai panik. Karena Arif dan Heni, juga akan menemui Adit. Jadi, secara tidak langsung, ia pun akan bertemu Adit nanti.


"Aku harus gimana? Aku sudah berjanji sama mas Ardi. Tapi, Umar juga sudah tahu jika mama dan papa akan menemui mas Adit. Bagaimana aku menjelaskan pada semuanya nanti?" Batin Aini.


Ya, Aini bingung menghadapi situasinya saat ini. Ia jelas sudah berjanji pada Ardi, jika akan menemui Adit besok bersama Ardi. Tapi, karena pertemuan yang tidak disengaja dengan Arif dan Heni, apalagi Rafa masih menggelayut manja pada Umar, ia jelas tidak mungkin membatalkan kunjungannya begitu saja.


"*Besok saja aku kemari la*gi dengan mas Ardi. Sebelum mbak Ratri dan mbak Oliv tiba, aku harus segera berpamitan pada mama dan papa. Aku tidak bisa mengingkari janjiku pada mas Ardi." Yakin Aini.


Aini yang tadi sudah duduk, segera berdiri dan mendekati Heni untuk menyerahkan Alya kembali pada Heni. Sekaligus untuk berpamitan padanya.


"Kenapa pulang sekarang? Apa ada masalah? Kamu tidak jadi bertemu Ratri?" Bingung Heni.


Aini kebingungan menjawab Heni. Karena, ia tidak mungkin mengatakan pada Heni, jika Ardi melarangnya menemui Adit sendirian hari ini.


"Tidak, Ma. Hanya saja,,"


"Kenzo!" Panggil seorang wanita berambut pendek, yang baru saja tiba.


Aini hafal benar suara wanita itu. Ia memejamkan matanya dengan kecewa.


"Mama!" Jawab Kenzo setelah menoleh ke orang yang memanggilnya, dan melambaikan tangan.


Wanita yang tak lain adalah Oliv itu, segera berlari ke arah Kenzo. Ia langsung memeluk Kenzo dengan begitu erat.


"Mama kangen, Ken." Lirih Oliv, dengan mata yang mulai basah.


Kenzo hanya mengangguk di pelukan Oliv. Dalam hati kecil Kenzo, ia juga rindu pada Oliv. Tapi, posisi Oliv jelas semakin tergantikan oleh kehadiran Aini. Hingga Kenzo pun tidak begitu merindukan kehadiran Oliv lagi.

__ADS_1


Aini menghela nafas pasrah. Ia sudah kehabisan akal untuk segera meninggalkan tempat itu saat ini, karena ingin memenuhi janjinya pada sang suami.


"Rafa! Umar!" Panggil wanita lain, yang datang di belakang Oliv.


"Mama!" Ucap Umar dan Rafa bersamaan.


Rafa segera berlari menghambur ke pelukan wanita itu, Ratri. Ia bahkan langsung meminta untuk digendong oleh Ratri. Dan tak lupa, mendaratkan kecupan gemas ke pipi Ratri.


"Kamu dateng bareng mas Umar?" Tanya Ratri tak percaya.


"Tadi ketemu di depan, Ma." Jujur Rafa.


Ratri mengangguk paham. Ia lalu membawa Rafa untuk duduk di dekatnya. Umar pun segera menghampirinya dan menyalami Ratri. Ratri juga segera menyalami dan memeluk kedua orang tuanya, dan juga gantian menggendong Alya.


"Gimana kabarmu, Ni?" Tanya Ratri, setelah berpelukan dengan Aini.


"Aku baik, Mbak. Alhamdulillah." Jawab Aini senatural mungkin, demi menutupi gelisah hatinya.


"Selamat ya untuk pernikahanmu. Semoga kamu bahagia bersama keluarga barumu." Tulus Ratri.


"Mbak tahu?"


"Mama dan papa yang bilang. Maaf, mereka tidak bisa hadir karena Alya sedang sakit kemarin."


"Nggak papa, Mbak."


"Mana pak Ardi? Dia nggak ikut?"


"Iya, Ni. Mana pak Ardi?" Sela laki-laki yang baru saja tiba, Adit.


"Mas Adit?" Gugup Aini.


Hati Aini makin gelisah. Ia benar-benar takut bertemu Adit saat ini. Bukan takut akan perlakuan buruk Adit, tapi karena takut melanggar janjinya pada Ardi.


"Ayah!" Sela Umar.


Adit segera menoleh pada Umar. Ia langsung menghampiri dan memeluk Umar dengan sangat erat.


"Anak Ayah yang hebat!" Sahut Adit.


Umar tersenyum bahagia.


"Ayah Ardi nggak ikut?" Tanya Adit.


"Maksudnya papa? Enggak, Yah. Besok papa baru kemari sama bunda. Eh, tapii,,"


Umar teringat, ucapan Aini tadi pagi. Tentang rencana Ardi dan Aini menemui Adit besok. Tapi, hari ini malah sudah bertemu.


"Besok?" Ulang Adit, sambil menoleh pada Aini.


"Mas Ardi sedang ada pekerjaan hari ini." Jawab Aini sekenanya.


"Begitu rupanya."


Adit, Ratri dan Oliv, sudah tahu jika Ardi sudah menikah dengan Aini satu bulan yang lalu. Mereka ikut bahagia, karena akhirnya Ardi benar-benar mempersunting Aini.


"Selamat ya, untuk pernikahan kalian." Tulus Adit.


"Terima kasih, Mas."


Semua lalu menghabiskan waktunya masing-masing. Oliv jelas mengobrol dengan Kenzo. Adit dan Ratri dengan Umar dan Rafa, serta Arif dan Heni.


Dan Aini? Ia masih bingung dan gelisah dengan posisinya saat ini. Karena Umar sudah terlanjur lengket dengan Rafa dan bertemu Adit. Sedang Kenzo, sudah terlanjur bertemu dengan Oliv.


Aini akhirnya memutuskan untuk diam saja. Ia bahkan sedikit menjauh dari Adit dan membiarkan yang lain berbagi cerita bersama. Ia pun jelas memikirkan cara, menjelaskan semuanya pada Ardi nanti. Karena sangat tidak mungkin, Ardi tidak tahu tentang pertemuan Aini dengan Adit saat ini.


Hingga,,


"Aini!"


Sayup-sayup suara seseorang terdengar di telinga Aini. Ia jelas sangat mengenali suara itu.


"Mas Ardi?" Gumam Aini lirih.


Dan benar, Aini melihat Ardi sedang berdiri tak begitu jauh darinya. Menatapnya dengan tatapan tak percaya. Dan semburat kekecewaan, nampak pula di wajah Ardi. Aini pun segera menghampirinya.


"Mas, biarkan aku menjelaskan semuanya!" Ucap Aini, setelah menghampiri Ardi.


Ardi diam tak menjawab. Ia menatap ke arah Adit, yang sedang santai bercengkrama dengan Umar. Hatinya jelas mulai bergemuruh.

__ADS_1


"Kamu mengingkari janjimu." Lirih Ardi penuh penekanan.


__ADS_2