
Kita sebagai manusia, tidak pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita nantinya. Semua menjadi misteri yang hanya diketahui oleh Sang Maha Pencipta. Kita hanya perlu berusaha dan berbaik sangka pada-Nya. Karena Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi kita.
Ardi baru saja tiba di kantor. Ia langsung memeriksa berkas kasus yang baru ia tangani kemarin yang telah memasuki babak baru. Ia membacanya sekilas.
"Oke, kita lanjutkan nanti. Apa rapatnya sudah siap?" Tanya Ardi pada Dika, yang sedang berdiri membawakan beberapa berkas untuk rapat.
"Sudah, Pak. Klien kita juga baru saja tiba." Jujur Dika.
"Oke. Ayo!"
Ardi segera mengulurkan tangannya untuk meminta berkas yang dibawa Dika. Ia membaca sepintas isi berkas itu. Karena ia belum sempat membacanya kemarin.
Ardi, Dika dan sekretaris Ardi, disambut ramah oleh tiga orang lain yang juga baru saja tiba di ruang rapat. Mereka segera saling berjabat tangan untuk formalitas.
Salah satu dari tamu Ardi, segera memberikan presentasi tentang proyek yang ingin mereka ajukan ke perusahaan Ardi. Presentasinya cukup singkat, namun sangat berisi. Dan Ardi sangat menyukai itu. Ardi kembali membaca berkas proposal yang diajukan kliennya. Tapi, ponsel Dika tiba-tiba berdering.
"Baik." Jawab Dika singkat, saat menerima telepon.
Dika segera mendekat ke Ardi dan berbisik. "Maaf, Pak. Bu Aini pingsan di warung."
"Sial!" Umpat Ardi lirih.
Ardi segera berdiri dan berlari keluar tanpa berpamitan pada kliennya. Ia tidak peduli dengan anggapan kliennya nanti. Ia hanya ingin segera menemui istrinya, yang ia dengar, telah pingsan di warung Dian.
"Pak Ardi?" Ucap klien Ardi bingung.
"Maaf, Pak. Baru saja, pak Ardi menerima berita kurang baik mengenai istrinya." Jujur Dika.
"Begitu rupanya. Baiklah. Semoga istrinya baik-baik saja." Tulus klien Ardi.
"Iya, Pak. Terima kasih."
Dika pun melanjutkan rapat dengan kliennya. Dan membiarkan Ardi menyusul Aini ke warung.
Di warung.
Aini segera dibopong oleh Reno ke joglo. Ia dibaringkan di atas karpet kecil yang ada di joglo. Tak lama, Ira tiba dengan botol minyak angin di tangannya.
Agung yang memang berprofesi sebagai dokter, segera memberikan pertolongan pada Aini. Ia mengambil botol minyak angin yang Ira bawa. Lalu mendekatkan botol itu ke hidung Aini.
Semua cukup panik karena Aini mendadak pingsan. Meski tadi Reno sudah diberitahu oleh Ardi, bahwa kondisi Aini masih kelelahan. Terlebih Ira dan Agung, yang tadi berbincang dengan Aini. Meski Agung sudah memperkirakan kondisi Aini yang kurang baik, ia tidak mengira Aini akan pingsan.
Dan beruntung, Aini segera merespon. Ia pun segera sadar tanpa harus mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Kedua kelopak mata Aini mulai terbuka perlahan.
"Anda tidak apa-apa, Buk?" Tanya Reno cemas.
Ya, Reno sangat cemas saat mendapati Aini pingsan tadi. Bayangan Ardi melampiaskan kemarahannya dulu saat Aini diculik, menjadi ketakutan tersendiri di hati Reno. Karena ia gagal menjaga Aini, orang yang berarti bagi Ardi.
"Berikan dia minum hangat!" Pinta Agung.
Ira segera berlari ke dalam warung dan mengambilkan minum hangat untuk Aini.
"Jangan ditanyai dulu! Biarkan kesadarannya kembali lebih dulu." Saran Agung.
Agung cukup yakin, Aini pingsan karena kelelahan dan kondisinya menurun. Bukan karena kondisi penyakit serius.
Ira lalu membantu Aini untuk bangun dan duduk bersandar padanya. Ia pun membantu Aini untuk meminum air hangat yang tadi ia ambil.
"Anda sudah tidak apa-apa, Bu Aini?" Tanya Agung perlahan.
"Masih sedikit pusing, Pak." Jujur Aini.
Aini mengerutkan dahinya begitu dalam. "Kenapa kalian di sini?"
"Ibuk tadi pingsan di depan pintu. Umi yang nemuin Ibu." Sahut Ira segera.
"Aku pingsan?"
Aini sedikit mencari memori terakhirnya. Dan ia ingat, saat ia merasakan kepalanya yang mendadak pusing.
"Bagaimana Anda tahu nama beliau?" Sela Reno.
"Kalian memanggil namanya sejak tadi karena panik. Bagaimana saya tidak tahu namanya?" Santai Agung.
Reno yang masih cemas, masih menaruh curiga pada Agung. Jadi, ia lupa, bahwa ia tadi pun memanggil Aini dengan sangat jelas saat berusaha menyadarkannya.
"Tidak apa, Mas Reno." Lirih Aini menenangkan Reno.
"Maaf, Bu. Saya tidak menjaga Anda tadi."
"Saya yang salah, Mas. Saya tidak mendengarkan peringatanmu tadi." Sesal Aini.
"Pak Ardi sedang menuju kemari, Buk."
"Mas bilang ke mas Ardi kalau aku pingsan?"
"Tentu saja. Saya tidak mungkin merahasiakan hal ini dari beliau." Jelas Reno.
"Siapa Ardi? Apa dia suami Aini?" Batin Agung penasaran.
"Boleh saya memeriksa kondisi Anda, Bu Aini?" Sela Agung.
"Anda dokter, Pak Agung?" Tanya Aini memastikan.
"Iya. Saya praktek di rumah sakit Graha Medica. Dan juga buka praktek sendiri di rumah." Jujur Agung.
"Begitu rupanya."
"Pak Agung tadi yang melarang mas Reno membawa Ibuk ke rumah sakit." Cerita Ira.
"Baiklah. Terima kasih, Dokter Agung." Ramah Aini.
"Jangan memanggil saya seperti itu. Saya sedang tidak praktek saat ini."
"Bukankah Anda akan memeriksa saya? Berarti, Anda sedang praktek, bukan?" Sanggah Aini.
Agung tersenyum kecil. "Baiklah. Jika itu lebih nyaman bagi Anda."
"Terima kasih, Dokter."
__ADS_1
Agung lalu memeriksa denyut nadi Aini. Kebetulan ia juga membawa stetoskopnya. Jadi, ia memeriksa Aini lebih detil.
"Apa Anda memiliki masalah pencernaan?" Tanya Agung.
"Tidak. Tapi memang akhir-akhir ini nafsu makan saya berkurang." Jujur Aini.
"Boleh saya memeriksa perut Anda?"
"Oh, iya. Tentu."
"Anda berbaring saja!"
"Baiklah."
Ira lalu membiarkan Aini tiduran sempurna. Dan membiarkan Agung memeriksa kondisi Aini dengan seksama.
Reno masih setia mengamati dan mengawasi Agung yang sedang memeriksa Aini. Ia juga masih menunggu Ardi yang sedang dalam perjalanan menuju ke warung.
Agung sedikit menekan-nekan perut Aini. Dan mencoba mencari bagian yang bermasalah pada Aini. Tapi, Aini terlihat datar saja ekspresi wajahnya.
"Apa ada masalah, Dokter?" Tanya Aini saat Agung selesai memeriksa perutnya.
"Tidak. Anda sepertinya kelelahan, hingga membuat kondisi fisik Anda menurun. Anda sudah sarapan pagi ini?" Tanya Agung memastikan.
"Belum. Tadinya aku ingin makan urap buatan Ira. Tapi ternyata sudah habis diborong." Jujur Aini, seraya bangun dari posisinya.
"Bersandar saja dulu, kalau tidak nyaman berbaring!" Saran Agung.
Aini lalu bergeser ke salah satu tiang joglo dan bersandar di sana. Ia pun kembali meminum air hangat yang tadi dibawa Ira untuknya.
"Anda harus lebih banyak istirahat, Bu Aini." Nasehat Agung.
Aini hanya tersenyum. "Kalau saja aku tadi menurut pada mas Ardi, pasti aku tidak akan pingsan di warung."
"Saya ambilkan makan ya, Buk?" Tawar Ira.
"Apa ada bubur?" Tanya Agung.
"Tidak, Pak. Tapi, mungkin diseberang jalan masih ada." Jawab Ira yakin.
"Berikan bu Aini bubur untuk sarapan! Tak perlu banyak, yang penting ada asupan yang masuk ke tubuhnya." Pinta Agung.
"Nggak usah, Ra! Aku makan nasi aja." Tolak Aini segera.
"Iya, Pak. Saya ke depan sebentar." Jawab Ira tanpa mempedulikan penolakan Aini.
"Raa!" Rengek Aini.
Ira segera berdiri. Ia lalu berjalan keluar warung untuk membelikan bubur di depan warung. Yang memang, ada kedai bubur ayam buka jika pagi.
Aini akhirnya hanya pasrah. Ia tahu, itu salahnya sendiri karena tidak menuruti nasehat Ardi tadi pagi.
"Apa kita benar-benar tidak perlu membawa bu Aini ke rumah sakit atau klinik, Dokter?" Tanya Reno.
"Tidak apa-apa. Tubuhnya hanya butuh asupan." Jawab Agung ramah.
"Baiklah."
"Anda harus memiliki tenaga untuk mengurus warung bukan, Bu Aini?" Sindir Agung santai.
"Anda benar, Pak Agung."
Aini akhirnya memakan bubur itu perlahan sambil mengobrol dengan Agung dan Reno. Ira lebih dulu kembali ke warung untuk membantu yang lain.
"Dimana Aini?"
Suara khas itu menggema di telinga Aini tidak begitu jelas, karena berbaur dengan riuhnya keramaian jalan raya dan warung. Tapi, ia tahu, itu suara yang sangat diharapkannya.
"Di joglo, Pak." Suara Ira terdengar segera.
Dan beberapa detik kemudian, Ardi muncul dari dalam warung dengan wajah yang sangat cemas. Ia segera menghampiri Aini yang baru saja menghabiskan buburnya. Aini tersenyum menyambut Ardi.
Dan hal itu, membuat Agung mengalihkan perhatiannya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Ardi panik.
"Aku nggak papa, Mas. Tadi pusing aja." Jawab Aini untuk menenangkan Aini.
"Apa dia Ardi, yang tadi disebutkan Reno dan Aini? Siapa dia? Apa dia suami Aini?" Batin Agung penasaran.
"Trus, kenapa bisa sampai pingsan? Kamu udah jadi makan, kan? Tadi di rumah kamu nggak mau makan."
"Aku tadi baru mau pulang, Mas. Tapi, keburu oleng. Hhehe,,"
"Kamu udah makan belum?"
"Udah, Mas. Nih!" Jawab Aini sambil menunjukkan tempat bekas makan buburnya tadi.
"Kamu makan apa?"
"Bubur, Mas."
Ardi menghela nafas berat. Ia lalu segera menoleh pada Reno.
"Ren! Aku sudah memintamu untuk segera mengantar Aini pulang. Kenapa malah bisa pingsan di sini? Dan kenapa nggak dibawa ke rumah sakit?" Marah Ardi.
"Maaf, Pak. Tadi saya,,"
"Jangan marah sama mas Reno, Mas!" Sela Aini tiba-tiba.
"Kamu diem dulu saja, Sayang! Oke?" Nasehat Ardi lembut.
"Mas Reno tadi udah ngingetin aku, Mas. Tapi akunya yang ngeyel." Aku Aini.
Ardi mendengus pasrah mendengar penjelasan Aini. Ia cukup paham sifat istri tersayangnya itu. Yang memang, sering ngeyel jika dinasehati.
"Kenapa nggak ke rumah sakit?" Tanya Ardi lagi.
"Saya yang mencegahnya tadi." Aku Agung.
__ADS_1
"Oh iya, Mas. Ini pak Agung. Beliau ini dokter. Kata mas Reno dan Ira, beliau yang membantu menyadarkanku tadi." Sahut Aini.
Ardi pun segera mengalihkan perhatiannya pada Agung. Ia sedari tadi tidak begitu menaruh perhatian pada Agung, karena fokus pada Aini.
"Dan Pak Agung, ini mas Ardi, suami saya." Imbuh Aini bahagia.
Ardi lalu menyambut ramah Agung. Ia segera mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Agung, dan berniat untuk berterima kasih padanya. Agung pun segera menyambutnya.
"Ardi."
"Agung."
"Aini sudah menikah rupanya." Batin Agung kecewa.
"Terima kasih, karena telah membantu istri saya." Tulus Ardi.
"Hanya hal kecil, Pak Ardi." Rendah Agung.
"Tapi tetap saja, bantuan Anda sangat berarti bagi kami. Terima kasih sekali lagi."
"Tentu, Pak."
Ardi dan Agung saling melempar senyum.
"Saya ada sedikit saran untuk Anda berdua." Sambung Agung.
"Tentu saja. Silahkan, Pak!" Jawab Ardi bingung.
"Berkunjunglah ke dokter spesialis kandungan secepatnya. Karena sepertinya, bu Aini sedang mengandung." Saran Agung sambil tersenyum.
Ardi dan Aini sejenak merasa bingung. Tapi, senyum nan indah itu, segera merekah indah di wajah Ardi.
"Firasatku benar, Sayang. Kamu hamil." Ucap Ardi sangat bahagia.
Aini malah makin kebingungan mendengar ucapan Ardi.
"Anda sudah mengetahuinya, Pak Ardi?" Tanya Agung penasaran.
"Firasat, Dokter." Singkat Ardi dengan wajah yang masih tersenyum bahagia.
Aini pun akhirnya juga tersenyum bahagia. "Apa benar, saya sedang hamil, Dokter?"
"Saya hanya melakukan pemeriksaan kecil tadi. Untuk hasil lebih pastinya, Anda bisa mengecek dengan test pack dan mengunjungi dokter spesialis kandungan." Saran Agung.
"Maasss,,"
Aini tiba-tiba menangis haru. Meski belum tahu pasti tentang kehamilannya, tapi hatinya sudah sangat bahagia. Penantiannya beberapa bulan ini, akhirnya mendapatkan jawaban yang begitu indah.
"Kenapa nangis?" Bingung Ardi.
Tanpa basa-basi, Aini segera memeluk tubuh Ardi dan menenggelamkan wajahnya di dada Ardi. Ia memeluk Ardi dengan begitu kuat.
"Aku hamil, Mas." Ucap Aini lirih.
"Iya, Sayang."
Ardi pun juga segera membalas pelukan Aini dengan bahagia. Hatinya juga jelas bahagia mendengar penuturan Agung tadi. Karena itu berarti, firasatnya selama satu bulan terakhir, benar adanya.
Ardi memang sudah memiliki firasat tentang kehamilan Aini. Tapi ia menutupinya dari Aini. Ia takut, seolah-olah memaksa Aini untuk segera hamil, meski Ardi memang sudah sangat mengharapkan buah hati mereka segera hadir.
Sejenak, Ardi dan Aini menumpahkan rasa bahagia mereka dalam pelukan yang begitu hangat. Saling menyalurkan rasa bahagia dalam hati, yang memang seketika terasa menggebu penuh irama. Mereka sejenak lupa, jika sedang berada di tempat umum.
"Syukurlah." Batin Reno ikut bahagia.
"Mereka sepertinya sangat menantikan kehadiran bayi ini." Batin Agung yang menyaksikan luapan perasaan Ardi dan Aini.
"Kita ke dokter setelah ini!" Ajak Ardi yakin.
Aini hanya mengangguk. Karena saking bahagianya, ia bingung, bahkan untuk sekedar menjawab ajakan Ardi.
"Jika Anda berdua berkenan, mampirlah ke klinik saya! Atau bisa ke rumah sakit Graha Medica. Saya praktek di sana." Tawar Agung.
Ardi dan Aini lalu melepaskan pelukan mereka.
"Anda?"
"Saya dokter spesialis kandungan. Sebentar!"
Agung lalu merogoh tas kecilnya. Ia lalu mengeluarka sebuah kertas kecil dan memberikannya pada Ardi.
"Ini kartu nama saya." Ucap Agung, sambil menyerahkan kartu namanya.
Ardi pun menerima kartu nama Agung. Ia sejenak membaca kartu nama itu.
"Baiklah, Dokter. Terima kasih." Jawab Ardi ramah.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Dan Bu Aini. Jangan lupa jaga kondisi Anda, jangan sampai menurun lagi!" Nasehat Agung.
"Tentu, Dokter. Saya akan memastikan itu." Yakin Ardi.
"Baiklah. Saya permisi."
"Iya, Dokter. Terima kasih, sekali lagi."
"Sama-sama Pak Ardi, Bu Aini."
Agung lalu berdiri dan meninggalkan joglo kecil itu. Ia lalu diantar Reno hingga ke depan warung. Meninggalkan Ardi dan Aini yang sedang bahagia.
"Mulai besok, kamu nggak boleh ngurus warung lagi! Warung, biar Reno yang handle." Yakin Ardi.
"Tapi Mas,,"
"Kamu sudah janji padaku, Sayang."
Aini menghela nafas pelan. Ia lalu tersenyum dan mengangguk patuh pada Ardi.
"Umar dan Kenzo, pasti bahagia mendengar kabar ini." Terka Ardi.
"Jangan dikasih tahu dulu, Mas! Kita cek dulu aja, baru kasih tahu mereka."
__ADS_1
"Iya, Sayang."
Ardi mendaratkan kecupan hangatnya di kening Aini. Mereka lalu mengobrol sejenak untuk memastikan kondisi Aini benar-benar sudah stabil. Dan setelah yakin kondisi Aini sudah stabil, mereka lalu pulang terlebih dahulu dan berencana akan pergi ke dokter spesialis kandungan setelah ini.