Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Mengelabuhi


__ADS_3

Jalan takdir, selalu menjadi misteri bagi setiap ciptaan-Nya. Dan meski roda kehidupan selalu berputar, kita tak pernah tahu, kapan suka dan duka itu akan tiba. Hingga saatnya mereka datang, semua hanyalah misteri yang selalu berwarna abu-abu.


Aini terbangun dengan badan yang sangat tidak nyaman. Semalaman, ia tertidur di atas lantai cor yang dingin tanpa alas apapun. Kursi yang kemarin ada di ruangan itu, diambil dan dibawa keluar oleh para penculiknya. Hingga ia harus tertidur beralaskan lantai cor yang dingin.


Belum lagi, ada beberapa hewan berkeliaran yang mengganggunya semalaman. Hewan yang tinggal lebih dulu di ruangan itu sebelum ia tiba kemarin. Karena memang, rumah yang menjadi tempat dimana Aini disembunyikan, adalah rumah yang sudah lama tak dihuni. Meski bangunannya masih sangat kokoh.


Dan tak lupa, Aini juga memikirkan dua putranya yang sedang berada jauh darinya. Hal-hal itu, membuatnya tak bisa tertidur dengan baik semalam.


Dan kini saat pagi menjelang, Aini terbangun dengan badan yang mulai demam. Tubuh yang kemarin tak mendapat asupan energi apapun, membuat tubuhnya sedikit melemah. Belum lagi, bekas jahitan yang masih terasa nyeri sejak kemarin.


"Apa ini sudah pagi?" Batin Aini, saat melihat berkas cahaya yang menelusup dari ventilasi di atas jendela.


Aini berusaha bangun dan duduk. Kondisinya masih sama. Tangannya masih diikat dengan tali, dan mulutnya pun masih dilakban. Ia lalu berusaha merangkak mendekati tembok, untuk sekedar menyandarkan tubuhnya.


"Sepertinya, mereka masih tidur." Batin Aini lagi, karena tak mendengar suara apapun dari luar.


Aini kembali memikirkan hal nekat. Ia berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Ia lalu berjalan menuju pintu dan berusaha membuka pintu. Tapi sayang, satu-satunya pintu keluar dari ruangan itu ternyata dikunci dari luar.


"Siapapun, tolong!" Batin Aini putus asa.


Aini terduduk lemas di belakang pintu. Ia benar-benar tak bisa keluar dari tempat itu. Tiba-tiba, ia teringat oleh seorang laki-laki yang namanya mulai terukir indah di dalam hatinya. Ardi.


"Apa kamu mencariku, Mas?" Batin Aini sedih.


...****************...


Waktu terus saja bergulir. Jarum jam pun, tak hentinya berputar. Memaksa semuanya, tetaplah harus terus berjalan, tanpa mau berhenti barang sedetik saja.


Dan sampai detik ini, Ardi belum berhasil menemukan Aini. Padahal, ini sudah hari ketiga sejak Aini diculik.


Pengintaian Ardi terhadap Oliv ternyata belum membuahkan hasil. Tak ada yang mencurigakan sama sekali dari sikap Oliv selama dua hari ini. Oliv juga tak pergi ke tempat-tempat yang aneh selama dua hari ini.


Pihak polisi yang juga segera melakukan pencarian, ternyata juga belum menemukan apapun. Meski, mereka sudah mencoba menginterogasi beberapa orang yang dicurigai sebagai pelaku penculikan. Tak terkecuali, Aditya Eka Subrata.


Adit jelas mengelak. Ia bahkan sempat marah-marah saat undangan dari pihak polisi sampai ke rumahnya. Ia tak menyangka, namanya bisa masuk daftar orang yang dicurigai sebagai pelaku penculikan pada wanita yang sangat tidak ingin ia temui itu.


Adit awalnya menolak untuk menghadiri undangan itu. Tapi setelah berkonsultasi pada seorang pengacara, ia akhirnya memenuhi undangan itu. Karena sebenarnya, ia hanya dipanggil untuk dimintai keterangan.


"Jika memang, Anda tidak tahu menahu tentang mantan istri Anda itu, untuk apa Anda menolak menghadiri undangan itu? Anda hanya diundang untuk dimintai keterangan, Pak Adit." Ucap pengacara yang Adit pilih untuk diajak berkonsultasi.


"Anda benar juga, Pak."


"Lalu kenapa Anda ingin menolak menghadirinya"


"Saya hanya malas untuk mengurusi urusan yang bersangkutan dengan mantan istri saya itu." Jujur Adit tanpa ragu.


"Anggap saja, ini sebagai sedekah Anda. Dan semoga setelah ini, Anda tidak akan lagi dibawa-bawa dalam kasus yang bersangkutan dengan mantan istri Anda itu."


"Toh, Anda juga tidak kehilangan apapun bukan? Anggap saja sebagai liburan untuk waktu kerja Anda. Liburan yang jelas tak biasa. Karena Anda mengunjungi kantor polisi, bukan tempat wisata. Bukankah itu sangat berbeda dari kebanyakan orang?" Imbuh pengacara itu santai.


Adit pun menyetujui usulan pengacaranya. Ia pun memenuhi undangan dari kepolisian untuk dimintai keterangan, siang ini. Ia pun ke kantor polisi dengan ditemani oleh pengacaranya. Bahkan, sang istri pun ikut dipanggil juga untuk dimintai keterangan.


Meski Adit harus menahan kekesalannya, ia menjalani pemeriksaan bersama Ratri dengan lancar. Tak ada hambatan atau hal apapun yang membuatnya bisa dicurigai lebih jauh


Oliv pun juga tak luput dari panggilan pihak polisi. Ia sedikit mangkir dari undangan, karena sedang menemani Kenzo di rumah sakit. Undangan itu datang kemarin, dan baru hari ini ia mengetahui dan akan memenuhinya.


"Sial! Kenapa aku juga harus dipanggil?" Gumam Oliv kesal.


"Hebat banget akting Ardi kemarin. Aku nggak nyangka, dia bisa menutupi kasus sebesar ini dari kita." Sahut Desi santai.


Oliv tak menggubris ucapan Desi. Ia malah kesal bukan main karena harus terlibat dengan pihak polisi karena penculikan Aini. Yang padahal, dia juga turut andil dalam kasusu itu.


"Apa Kenzo tahu tentang hal ini, Liv?" Tanya Desi segera.


Oliv masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia terlalu kesal karena Ardi malah melaporkan hilangnya Aini pada polisi.


"Kenapa sih mas Ardi pake lapor polisi segala? Kenapa nggak dibiarin aja, itu wanita sialan hilang tak berjejak?" Batin Oliv kesal.


Desi yang tak mendapatkan jawaban dari Oliv, segera menoleh pada temannya itu. "Liv?"


"Eh, iya, apa?" Tanya Oliv terkejut.

__ADS_1


"Kamu ngapain? Ditanyain malah bengong? Kamu nggak berulah lagi kan sama Aini?" Terka Desi.


"Berulah gimana maksudmu?"


"Ya, nggak tahu. Makanya aku nanya."


"Malas banget berurusan sama dia. Mending fokus sama Kenzo sama mas Ardi." Jawab Oliv santai.


"Terserah kamu, deh!"


Desi memilih untuk tidak lagi mengganggu Oliv. Ia lebih memilih pergi ke kamarnya dan membiarkan Oliv dengan surat itu.


Oliv lalu pergi ke depan rumah. Ia lalu menelepon seseorang.


"Aku dapat surat panggilan pemeriksaan dari kantor polisi."


"Terus?"


"Gimana dong?"


"Ya dateng aja! Penuhi panggilannya! Kalau perlu, ajak pengacaramu! Tapi ingat, tetap tutup rapat mulutmu!"


"Oke. Apa sore ini kita jadi mengunjunginya?"


"Aku akan ke sana nanti. Kamu, terserah! Tapi, jika kamu juga akan ke sana nanti, jangan lupa untuk mengelabuhi pengawal Ardi yang sedang mengawasimu!"


"Bagaimana caranya?"


"Pikir sendiri!"


Panggilan pun segera terputus. Oliv pun mendengus kesal karena tak mendapat bantuan ide dari rekan jahatnya itu. Ia sedikit celingukan melihat sekitar depan rumahnya. Untuk memastikan apa yang dikatakan oleh rekannya tadi benar atau tidak. Bahwa ia sedang diawasi oleh pengawal Ardi.


"Nggak ada yang mencurigakan." Gumam Oliv bingung.


Oliv lalu masuk kembali ke rumah. Ia lalu meminta Desi menemaninya menemui salah satu kenalan pengacaranya untuk berkonsultasi tentang masalah itu. Dan Desi pun menyetujuinya.


Hari ini, Oliv sebenarnya masih ingin menemani Kenzo lagi. Tapi karena ia mendapat surat panggilan itu, dan Kenzo pun hari ini sudah kembali ditemani oleh neneknya, Oliv pun akhirnya tidak kembali ke rumah sakit.


"Anterin aku, Des!" Pinta Oliv manja, seperti biasa.


"Kemana lagi? Kita baru aja pulang dari kantor polisi, Liv."


"Ke tempat Yanuar." Sahut Oliv yakin.


Desi berusaha menahan senyumnya. Karena sebenarnya, Yanuar adalah teman lama mereka yang telah membuat Desi tak bisa mengalihkan perhatiannya pada pria lain. Meski, Yanuar adalah seorang gay.


"Mau ngapain ke sana?" Tanya Desi senatural mungkin. Karena sebenarnya, jantungnya sedang berdetak sangat cepat saat ini.


"Aku sebenarnya ada janji sama seseorang nanti. Mungkin pulang malam. Kamu mau di rumah aja atau nunggu di rumah Yanuar?" Tawar Oliv santai.


Desi terdiam. Ia sebenarnya cukup lelah, setelah seharian menemani Oliv di kantor polisi. Tapi, setelah nama itu disebut oleh Oliv, ia sungguh tak bisa mengabaikannya.


"Aku tunggu di rumah Yanuar aja. Bosen nanti kalau di rumah sendirian." Jawab Desi sok polos.


"Yaudah, ayo siap-siap!"


"Oke."


Dua wanita itu pergi ke kamar mereka masing-masing dengan senyuman indah yang tersungging di wajah cantik mereka karena perasaan bahagia yang berbeda.


Desi jelas, ia bahagia karena akan bertemu dengan Yanuar. Laki-laki yang berhasil merebut hatinya meski ia tahu, ia tak mungkin bisa memilikinya.


Sedangkan Oliv, bahagia karena ia bisa pergi dengan Desi sebagai tamengnya. Karena ia yakin, ia masih diawasi oleh pengawal Ardi sampai saat ini. Dan jika pengawal Ardi tahu ia pergi kemana sore ini, maka, semua rencanya akan gagal.


Yanuar adalah rayuan terampuh Oliv untuk Desi. Ia bisa dengan mudah merayu Desi untuk bermacam-macam hal, hanya dengan alasan seorang Yanuar.


"Kamu yang bawa mobilnya!" Pinta Oliv manja.


"Kamu aja, seperti biasa." Tolak Desi malas.


"Aku kan nanti masih nyetir sendiri setelah nganter kamu ke rumah Yanuar."

__ADS_1


"Kamu mau kemana sih?" Tanya Desi sangat penasaran.


"Ketemu sama sahabat lama. Dia sekarang ternyata tinggal di Pasuruan. Aku udah lama banget nggak ketemu sama dia. Mumpung kita jaraknya nggak jauh banget, aku janjian deh sama dia."


Desi mengangguk paham. Ia pun segera masuk ke mobil, yang juga diikuti oleh Oliv.


"Kamu ngapain?" Tanya Desi bingung, saat Oliv merebahkan kursinya.


"Tidur bentar. Capek tadi ditanyain macem-macem." Jawab Oliv cuek.


Desi pun segera melajukan mobilnya. Tak lupa, Ia menutup kembali gerbang rumahnya.


Oliv tersenyum jahat saat Desi melajukan mobilnya tanpa curiga. Ia pun tidur sejenak sambil menunggu Desi mengemudi sampai ke rumah Yanuar. Butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke rumah Yanuar.


Apalagi, dengan cara ini, ia yakin, pengawal Ardi yang mengawasinya, pasti tak akan tahu jika ia sudah keluar rumah. Hingga mereka tak akan mengikuti kemana ia pergi nanti.


Setelah Desi turun, Oliv segera pergi menuju tempat tujuannya yang berikutnya. Ia mengemudi dengan cukup kencang. Agar sampai tujuan tepat waktu.


Dan setelah hampir sembilan puluh menit berkendara, sampailah Oliv di sebuah tempat yang asing baginya. Tempat yang sudah diberikan alamatnya oleh temannya kemarin.


"Datang ternyata." Sambut seorang laki-laki yang sebenarnya belum lama Oliv kenali.


"Datang dong! Aku udah nggak sabar banget mau kesini dari kemarin. Tapi kamu yang nglarang aku." Jawab Oliv sedikit kesal.


"Cuma mengingatkan, nggak nglarang" Sahut laki-laki itu singkat.


"Terserah! Dimana dia?"


"Aku juga belum melihatnya. Aku baru saja tiba."


"Kalian sudah tiba?" Sapa seorang wanita cantik berambut panjang, dengan senyum indahnya, Reni.


"Dimana dia?" Tanya Oliv tak sabar.


"Di dalam."


"Masih hidup?" Tanya Oliv santai.


"Masih."


"Kalian kasih dia makan?" Tanya Oliv tak percaya.


"Iya. Aku beri dia roti berjamur dan makanan basi."


"Minum?"


"Aku beri dia bir dan c*u." Jawab Reni santai.


Tiga orang yang baru saja tiba itu, cukup terkejut dengan penuturan Reni. Mereka tak mengira, Reni bisa melakukan itu pada orang lain.


"Dia mau?" Tanya laki-laki tadi penasaran.


"Tidak. Dia tidak menyentuhnya sama sekali."


"Oke."


Laki-laki itu segera melangkahkan kakinya memasuki rumah. Diikuti oleh tiga wanita yang tadi mengobrol dengannya. Reni lantas menunjukkan ruangan yang ia maksud tadi.


Ruangannya gelap. Reni pun segera menyalakan satu-satunya lampu yang ada di ruangan itu. Dan seketika, nampak seorang wanita berjilbab, tengah tergeletak begitu saja membelakangi pintu.


"Dia sudah mati?" Tanya Oliv penasaran.


"Belum. Aku baru saja mengeceknya tadi. Tubuhnya mungkin terlalu lemah." Jawab Reni yakin.


"Bangunkan dia!" Pinta laki-laki itu pada Reni.


Reni pun mendekati wanita yang tergeletak itu. Ia menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu dengan satu kakinya.


"Bangun! Hei, bangun!" Pinta Reni keras.


Wanita itu segera membuka matanya. Tapi karena tubuh yang lemas, ia benar-benar kesulitan untuk bisa fokus dengan apa yang terjadi. Ia juga masih harus menstabilkan matanya, dengan berkas cahaya yanh ada.

__ADS_1


"Halo, Aini!" Sapa laki-laki tadi, setelah Reni berhasil membangunkannya.


__ADS_2