
Pagi yang indah. Kehangatan sinar mentari pagi, menelusup sempurna ke setiap penjuru. Memberikan kelegaan nan hakiki, pada setiap hati yang mendamba penuh rasa syukur.
Tak terasa, satu minggu sudah Aini memulai kesibukan barunya. Ia masih sangat beradaptasi dengan warung makan Dian, walaupun, ia sudah pernah mengelola warungnya sendiri sebelumnya. Belum lagi, ia harus berkenalan dan mengenal para karyawan Dian yang di masing-masing warung ada lima orang. Itu menjadi PR tersendiri bagi Aini.
Aini setiap pagi diantar Reno ke warung. Ia berangkat setelah Ardi pun berangkat ke kantor. Ia tetap memprioritaskan keluarga tentunya.
Dan baru saja Aini tiba di warung Dian yang tak jauh dari rumahnya, ia mendapat kabar bahwa Dian dibawa ke rumah sakit karena bayinya mulai kontraksi. Aini jelas senang mendengar hal itu.
"Mas, kita nanti ke rumah sakit, ya!" Ajak Aini antusias, saat sambungan teleponnya sudah tersambung.
"Siapa yang sakit?"
"Mbak Dian lahiran, Mas."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan menjemputmu ke warung."
"Iya, Mas."
Aini juga mengabarkan hal itu pada para karyawan Dian. Mereka juga ikut bahagia menyambut kelahiran bayi kembar dari atasannya itu.
Pukul sepuluh pagi, Aini dan Ardi tiba di rumah sakit dimana Dian melahirkan. Dian harus menjalani operasi sesar karena bayi kembarnya. Dan saat Ardi dan Aini tiba, Dian baru saja dipindahkan kembali ke ruang rawatnya. Dan kebetulan, Dian sedang ditinggal oleh ibunya untuk menjemput ayahnya.
"Selamat ya, Mbak." Ucap Aini penuh antusias.
"Iya. Terima kasih." Jawab Dian perih.
Aini pun segera memeluk Dian dengan gemas. Tapi, Dian malah membalas pelukan Aini dengan sangat erat. Dan perlahan, terdengar isakan di telinga Aini.
"Mbak, kenapa?" Cemas Aini.
Dian tak menjawab apapun. Ia hanya memeluk Aini dengan sangat erat, sambil terus menangis. Menumpahkan rasa di hatinya yang beberapa waktu ini ia pendam.
"Anak kita sudah lahir, Mas. Anak kita sudah lahir." Batin Dian pedih.
Hati mana yang tak pedih, mengingat penantian panjang dan banyaknya usaha dan do'a yang telah dilakukan. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain. Penantian itu terasa makin pedih, kala teman penantian itu, akhirnya harus pergi lebih dulu.
Aini tidak lagi bertanya pada Dian. Ia membiarkan Dian menumpahkan tangisnya terlebih dahulu. Meski ia tidak tahu pasti, alasan Dian menangis hingga tersedu-sedu.
Ardi yang sedang asik mengamati bayi kembar Dian, akhirnya menoleh karena isakan Dian. Ia tahu, alasan Dian menangis. Jadi, ia pun membiarkan Dian menangis lebih dulu, agar hatinya lebih lega. Karena ia juga cukup tahu, Dian berusaha kuat dan tegar dihadapan kedua orang tuanya karena kepergian Rio.
Dan kini, saat penantian Dian telah berakhir, hanya tinggal ia sendiri yang menyambutnya. Itu terasa pedih bagi Dian.
Setelah beberapa saat,
__ADS_1
"Apa mereka sudah diadzani?" Tanya Ardi perhatian.
Dian dan Aini yang masih berpelukan, akhirnya menoleh pada Ardi. Dian lalu menggelengkan kepalanya.
"Boleh aku adzani mereka?" Ijin Ardi.
Dian segera mengangguk haru. "Makasih, Di."
Tanpa menjawab lagi, Ardi dengan segera bergantian mengadzani dua bayi kembar laki-laki dan perempuan itu. Tangis Dian pun kembali pecah saat melihat hal itu. Aini pun dengan segera menenangkan Dian lagi. Ia mulai mengerti alasan Dian menangis tadi.
"Kami di sini bersamamu, Mbak. Jangan simpan itu sendirian!" Hibur Aini.
Dian mengangguk patuh pada Aini. Dian tidak tahu kenapa, ia bisa menangis begitu saja di pelukan Aini sejak tadi. Padahal, ia sendiri juga tahu, kalau ia belum lama mengenal Aini.
"Biarkan Rio tenang, Di! Kamu tidak sendirian. Ada kami di sini." Sela Ardi seteleh selesai.
Aini dan Dian lalu menoleh pada Ardi.
"Kalau kamu ingin bercerita apapun itu, hubungi aku atau Aini! Kami siap menemanimu dan mendengarkan ceritamu. Bukan begitu, Sayang?" Imbuh Ardi.
"Tentu, Mas." Yakin Aini sambil tersenyum hangat pada Dian.
Aini kini sudah tidak lagi merasa cemburu atau berprasangka yang tidak-tidak pada Dian. Karena ia sudah sangat yakin pada Ardi dan Dian.
"Makasih, Di." Jawab Dian sesenggukan.
"Fokuslah pada mereka, Mbak! Mereka butuh kasih sayangmu sepenuhnya." Ucap Aini
"Iya, Ni. Tapi, aku ragu, apa aku bisa melakukannya." Sedih Dian.
"Yakinlah, Mbak! Mbak pasti bisa melakukan itu untuk mereka. Kalau Mbak butuh bantuan, Mbak jangan sungkan menghubungiku!" Tulus Aini.
"Kita baru berkenalan beberapa hari, Ni. Tapi, kenapa aku merasa, kita sudah sangat dekat?"
"Aku masih berusaha mengenalmu, Mbak."
"Beruntung sekali Ardi memilikimu, Ni."
"Kamu benar, Di. Aku sangat beruntung memilikinya." Timpal Ardi.
"Jaga dia dengan baik, Di! Aku bahkan tidak bisa sepertinya."
"Tentu, Di. Aku akan selalu menjaganya." Yakin Ardi.
__ADS_1
Aini tidak bisa menjawab apapun. Ia merasa beruntung berada diantara dua sahabat lama itu. Mereka saling mengerti dan memahami satu sama lain.
"Dan semoga, perut datar ini, segera terisi oleh anugrah dari Yang Maha Kuasa." Tulus Dian, sambil mengusap perut Aini.
"Aamiin. Makasih, Mbak." Jawab Aini bahagia.
"Tapi, kalau aku hamil, nanti aku nggak bisa bantu Mbak Dian ngurus warung lagi." Imbuh Aini.
"Itu biar jadi urusanku, Sayang. Kamu hanya perlu fokus pada calon anak kita nanti!" Santai Ardi.
"Tuh, dengerin suamimu!" Goda Dian.
"Iya, Mbak."
Tiga orang itu kembali mengobrol banyak hal. Tak lupa, Aini jelas menyempatkan diri untuk menggendong bayi kembar yang terlihat sangat menggemaskan itu. Apalagi, salah satu dari mereka sempat terbangun dan menangis. Tangan Aini jelas gatal untuk segera menenangkan bayi itu. Dan ternyata berhasil.
"Semoga Allah segera menitipkan calon anak kita di rahimmu, Sayang." Batin Ardi, saat melihat Aini menggendong salah satu bayi Dian.
Ardi memang sangat ingin segera memiliki buah cintanya dengan Aini. Tapi, ia juga tidak bisa memaksakan kehendak Yang Maha Kuasa, yang jelas lebih tahu yang terbaik bagi makhluk-Nya.
Hingga selepas dzuhur, Ardi dan Aini akhirnya berpamitan pada Dian dan kedua orang tuanya yang telah tiba di rumah sakit. Ardi tidak kembali ke kantor, karena ingin menghabiskan waktu dengan Aini. Ia akhirnya mengajak Aini berjalan-jalan ke taman kota untuk menikmati waktu.
"Mas, ingin anak laki-laki atau perempuan?" Tanya Aini manja di pelukan Ardi.
"Dua-duanya, Sayang." Jujur Ardi.
"Tapi, aku tidak memiliki gen kembar seperti mbak Dian, Mas."
"Aku juga nggak punya, Sayang. Kalau begitu, kita harus lebih semangat dalam berusaha, Sayang."
"Maksud, Mas?"
"Kalau nanti kamu hamil dan ternyata melahirkan anak perempuan, berarti kita harus berusaha lebih semangat lagi untuk dapat anak laki-laki." Santai Ardi.
"Maaass! Kok gitu, sih?" Sungut Aini manja.
"Kan bener, Sayang."
"Tapi,,"
"Tenanglah, Sayang! Kita serahkan semuanya pada Allah. Semua pasti akan indah pada waktunya."
Aini menghela nafas lega. Ia pun segera mengangguk setuju pada Ardi.
__ADS_1
Kita tidak pernah tahu, siapa saja yang Allah kirim untuk menemani jalan yang kita lalui. Tapi yakinlah, Allah pasti memberikan teman dan jalan yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Kita hanya perlu berusaha, berdo'a dan berpasrah pada Allah. Karena Allah Maha Mengetahu, apa yang terbaik bagi kita.