Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Sepenggal Kisah


__ADS_3

"Bagaimana persiapan acara lustrum yayasan yang akan diadakan di sekolah?" Tanya seorang pria yang duduk di kursi belakang mobilnya.


"Sudah 95%, Pak. Para orang tua dan wali siswa juga sudah menerima undangannya. Para siswa juga sudah mematangkan penampilan mereka bersama para wali kelas dan pembimbingnya." Jawab sang asisten yang duduk di balik kemudi.


"Bagus." Jawab pria tadi singkat.


Tak lama berselang, sang asisten segera membelokkan mobilnya memasuki pelataran sekolah yang baru saja mereka bicarakan. Ia segera memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Mereka pun keluar dari mobil dengan segera.


Dari kejauhan, dua pria yang baru saja turun dari mobil itu, melihat seorang wanita yang berjalan cepat sambil menunduk. Ia seperti sedang ketakutan atau berusaha menghindari seseorang.


Tiba-tiba, salah satu dari dua pria tadi menghentikan langkahnya. Ia mencoba menghadang langkah wanita itu. Sang asisten pun ikut berhenti.


BRUK.


"Maaf, Pak. Maaf." Ucap wanita itu singkat, sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Dan anehnya, wanita itu sama sekali tidak melihat ke arah orang yang ditubruknya. Bahkan, untuk sekedar menoleh dan melihat kondisi orang yang ditubruknya apakah baik-baik saja atau tidak, pun tidak dilakukan oleh wanita itu.


Wanita itu justru dengan tergesa-gesa menuju parkiran motor, dan segera mengeluarkan motornya dari sana lalu dengan segera meninggalkan area sekolah.


"Siapa dia? Kenapa dia selalu seperti itu?" Gumam pria yang ditubruk wanita tadi.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" Tanya sang asisten khawatir.


"Ya."


Pria tadi segera berbalik badan dan kembali menuju area sekolah, setelah wanita tadi tidak terlihat lagi olehnya. Ia segera disambut dengan senyum ramah sang kepala sekolah.


"Selamat pagi Pak Ardi." Sapa wanita yang baru saja mengantar tamunya pergi itu.


"Pagi, Bu Mala." Jawab pria itu singkat.


Mereka saling menjabat tangan satu sama lain. Tak lupa, sang asisten pun ikut menjabat tangan sang kepala sekolah.


Pria itu kembali melangkahkan kaki jenjangnya memasuki area sekolah, diikuti oleh sang asisten dan sang kepala sekolah. Ia akan memeriksa kondisi sekolahnya secara langsung, seperti biasanya. Memeriksa keadaan kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah yang dinaungi oleh yayasan yang didirikan oleh ayahnya dulu.


Dan tak lupa, memeriksa putra kesayangannya yang juga bersekolah di sekolah itu.


"Bagaimana kemajuan Kenzo?" Tanya pria itu, setelah ia sampai di depan ruang kelas sang putra.


"Kenzo, sudah banyak kemajuan, Pak. Dia sudah jarang pingsan di sekolah." Jujur Mala.

__ADS_1


"Apa teman-temannya masih sering mengucilkan dan mengejeknya?" Imbuh pria itu, sambil menatap putranya dari luar jendela kelas.


"Masih ada. Tapi, dia punya seorang teman dekat, yang sepertinya tulus berteman dengannya. Mereka selalu terlihat berdua dimanapun."


Pria itu dengan cepat menoleh pada Mala.


"Namanya Umar. Dia duduk tepat di samping meja Kenzo." Jelas Mala, sambil melirik ke arah meja Umar.


"Apa dia dan orang tuanya tahu, jika Kenzo putraku?" Tanya pria itu cemas.


"Tidak, mereka tidak tahu."


"Anda yakin?"


"Iya."


"Siapa orang tuanya?"


"Umar adalah putra dari keluarga Subrata. Dan juga putra dari wanita yang tadi tidak sengaja menabrak Anda di depan."


Dua pria yang berdiri hampir sejajar itu, segera menoleh pada Mala, yang masih setia menatap Umar dan Kenzo di dalam kelas. Mereka pun kembali menoleh ke arah kelas.


"Umar adalah cucu pertama keluarga Subrata, yang sempat direbut paksa hak asuhnya dari tangan ibunya, oleh salah satu pengacara dari firma hukum Anda di Jogja." Ucap Mala datar.


"Apa maksud Anda, Bu Mala?" Tanya sang asisten.


"Saya dengar, kedua orang tua Umar bercerai. Hak asuh Umar awalnya jatuh ke tangan ibunya, tapi sang ayah menuntut hak asuhnya agar jatuh ke tangannya. Dan ternyata, salah satu pengacara dari firma hukum Anda yang memenangkannya." Jelas Mala singkat.


"Bagaimana bisa?" Tanya pria itu.


"Saya kurang tahu untuk hal itu, Pak." Jawab Mala ramah.


Pria yang sangat paham hukum itu, memikirkan dengan cermat ucapan Mala. Ia berusaha mencari alasan, bagaimana bisa hak asuh anak seusia itu jatuh ke tangan ayahnya. Akan butuh alasan yang cukup kuat bagi hakim, untuk memindahkan hak asuh seorang anak dari ibu pada ayahnya.


"Nanti akan kucari tahu." Batin pria itu.


Ketiga orang itu kembali berjalan menuju tempat lain. Mereka memeriksa aula yang akan menjadi tempat pelaksanaan acara lustrum yayasan yang akan diadakan dua minggu lagi.


Ah ya, pria itu adalah Ardiansyah El Baraja. Duda berusia 37 tahun dengan seorang putra, Devandra Kenzo El Baraja. Dia sudah menjadi duda sejak Kenzo masih bayi.


Ardi akhirnya menceraikan istrinya, Indah Olivia, enam bulam setelah Kenzo dilahirkan. Oliv lebih memilih karirnya sebagai model yang sedang dalam puncaknya, daripada harus mengurusi Kenzo kecil. Ardi benar-benar kecewa dengan Oliv saat itu.

__ADS_1


Oliv yang sebenarnya belum ingin memiliki momongan dari pernikahannya dengan Ardi, diam-diam mengkonsumsi pil kontrasepsi. Hal itu diketahui Ardi, setelah satu tahun pernikahan mereka. Ardi akhirnya menukar pil itu dengan obat penyubur kandungan tanpa sepengetahuan Oliv. Hingga akhirnya, Oliv pun hamil.


Oliv awalnya ingin menggugurkan kandungannya. Tapi karena ancaman dari Ardi yang akan menceraikannya, Oliv akhirnya tetap menjaga kandungannya. Bahkan, pekerjaannya sebagai model, malah semakin memuncak saat ia tengah hamil.


Dan setelah Oliv melahirkan, ia mendapatkan tawaran dari salah satu brand fashion dari luar negeri yang mengharuskan dirinya meninggalkan putranya. Ardi sempat menolak hal itu, karena Kenzo masih membutuhkan ibunya. Tapi Oliv ternyata memilih karirnya. Dan karena hal itulah, Ardi segera menceraikannya tanpa mau mendengarkan Oliv sedikit pun.


Sebenarnya, sudah banyak wanita yang berusaha mendekati Ardi. Atau juga, kedua orang tuanya yang juga ikut menjadi biro jodoh bagi putra semata wayangnya itu. Tapi, tak pernah ada yang bisa meluluhkan hati seorang Ardiansyah El Baraja.


Mengingat, Ardi bukanlah orang sembarangan. Ia adalah pemilik dari salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia yang didirikan oleh ayahnya, Maha Karya Construction. Yang telah berhasil mendirikan beberapa bangunan ikonik dan gedung-gedung pencakar langit di kota-kota di Indonesia.


Sebenarnya Ardi tak begitu tertarik dengan bisnis ayahnya, ia lebih tertarik pada bidang hukum. Jadi, ia dulu kuliah mengambil jurusan hukum hingga mendapatkan gelar magister hukumnya dari salah satu universitas kenamaan di kota kelahirannya, Bandung. Ia pun lalu mendirikan firma hukumnya sendiri, Alanna Law Firm.


Tapi Ardi juga sadar, ia adalah putra tunggal dari kedua orang tuanya. Jika bukan dia yang meneruskan perusahaan ayahnya, siapa lagi?


Ardi lantas memulai studi tentang bisnisnya demi kedua orang tuanya. Ia juga akhirnya menuntaskan gelar MBA-nya di universitas yang sama. Ia pun segera diserahi tugas oleh sang ayah untuk memegang kendali penuh dari semua usaha dan yayasan yang telah didirikan oleh ayahnya.


Kehidupan Ardi berjalan begitu lancar. Ia pun menikah dengan kekasihnya, Oliv, setelah mereka berpacaran selama dua tahun semasa kuliah. Tapi ternyata, rumah tangganya harus kandas karena sikap Oliv. Dan setelah itu, Ardi lebih memilih fokus pada pekerjaannya, daripada mencari pendamping hidup lagi.


Tapi disamping itu, ada sisi gelap seorang Ardi yang tak banyak diketahui orang. Karena kekecewaannya pada sang mantan istri, ia menilai kebanyakan wanita itu sama saja. Mereka terlalu egois dan mementingkan uang dan ketenaran di atas segalanya.


Ardi akhirnya menjadi seorang cassanova setelah perceraiannya. Ia bisa dengan mudahnya membayar wanita yang ia mau demi melayani semua keinginannya. Dengan catatan, wanita itu harus merahasiakan identitas Ardi. Jika tidak, Ardi bisa dengan mudahnya membuat wanita-wanita itu menyesal seumur hidup. Dan itu masih terjadi hingga saat ini.


Ardi selama ini menyembunyikan identitas putranya demi keamanannya. Mengingat, Kenzo kecil pernah nyaris diculik saat berada di pusat perbelanjaan bersama sang nenek dulu. Dan itu menjadi pembelajaran yang besar baginya.


Bukan hal yang sulit bagi seorang Ardi, menutupi identitas asli Kenzo. Dan Kenzo pun tidak keberatan akan hal itu. Ia juga ingin tahu, siapa temannya yang akan tulus menerima keadaannya yang tidak sempurna.


"Bagaimana hubungan Umar dengan Kenzo?" Tanya Ardi saat mereka sudah berada di ruangan Ardi.


"Semua tahu kondisi Kenzo. Tapi Umar terlihat tidak mempermasalahkan itu. Ia bahkan menjadi anak pertama yang selalu melaporkan, jika terjadi sesuatu pada Kenzo." Jujur Mala.


"Sedekat itu? Sejak kapan?" Tanya Ardi penasaran.


"Sejak mereka di kelas satu. Apalagi, setelah Bu Aini mengunjungi Umar seminggu sekali. Mereka semakin dekat."


"Bu Aini?"


"Iya. Ibu kandung Umar. Wanita yang tidak sengaja menabrak Bapak tadi." Jelas Mala singkat.


Ardi sebenarnya sudah beberapa kali melihat wanita yang tadi menabraknya, ketika ia mengunjungi sekolahnya seperti saat ini. Dan ia selalu terlihat ketakutan seperti tadi. Awalnya, ia tidak menghiraukan sikap wanita itu. Tapi karena penuturan Mala, ia jadi sedikit memikirkannya.


Mala pun menceritakan tentang kunjungan Aini setiap minggu demi bertemu dengan putranya. Ia juga menceritakan, bagaimana Kenzo selalu ikut dan antusias jika bertemu dengan Aini.

__ADS_1


"Aku bisa memanfaatkannya dan menjadikannya yang berikutnya." Batin Ardi, setelah Mala menyelesaikan ceritanya.


__ADS_2