Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Pembalasan Part 2


__ADS_3

"Dari tiga botol itu, hanya satu yang berisi air hangat. Ambillah! Aku akan lihat, siapa yang beruntung?"


Ardi tersenyum puas melihat layar di hadapannya. Ia tersenyum begitu licik melihat tiga wanita yang sedang ia sekap.


Tiga wanita itu jelas langsung berlari menuju tiga botol berukuran sedang yang baru saja masuk ke ruangan itu. Mereka segera meraih setiap botol yang mereka incar. Reni dan Ratri sempat berebut botol yang sama, tapi Ratri segera mengalah.


Semua botol terasa dingin di bagian luarnya. Sehingga, tidak ada yang tahu botol mana yang benar. Mereka pun bergegas membukanya.


Tapi sayang, botol milik Ratri dan Reni berisi air es yang begitu dingin. Bahkan, ada beberapa bongkahan es batu di dalamnya. Dan lagi, air itu berbau sangat menyengat, seperti dicampur dengan cairan pemutih pakaian.


"Apa ini?" Keluh Reni kesal.


Reni segera melemparkan botol yang dipegangnya tadi. Hingga isinya pun berceceran di lantai.


Ratri pun sama. Ia juga segera membuang botol di tangannya, tapi setelah ia menutupnya kembali.


Ratri dan Reni segera menoleh pada Oliv. Oliv yang merasa botol minumnya terancam, segera menenggak air hangat yang ada di dalam botol itu.


Tapi belum sempat Oliv menghabiskannya, botol itu direbut oleh Ratri. Ratri pun segera meminumnya juga.


Dan kini, giliran Reni yang merebut botol yang dipegang Ratri. Hingga, tiga wanita itu bisa meminum air yang ada dalam botol itu, meski sedikit.


Ya, tiga wanita itu bisa menikmati air yang diberikan oleh entah siapa melalui pintu kecil tadi. Tapi mereka sama sekali tidak tahu, bahwa itu bukanlah air minum biasa. Air itu jelas sudah dicampur sesuatu oleh anak buah Ardi.


"Bagaimana? Apa enak?" Sapa Ardi santai.


Reni mulai menyadari sesuatu. Ada yang aneh dengan rasa dari air itu. Ia mengecap lidahnya beberapa kali, untuk memastikan sesuatu.


"Apa yang kamu campurkan dalam air tadi?" Teriak Reni tiba-tiba.


Ratri dan Oliv segera menatap Reni penuh curiga.


"Kamu pintar juga rupanya." Sahut Ardi puas.


"Cepat katakan! Ada sesuatu yang berbeda dari rasa air putih tadi."


"Siapa kau, berani memerintahku?" Remeh Ardi.


Reni jelas geram mendengar jawaban Ardi. Ia mencoba mengingat-ingat, rasa yang sepertinya pernah ia rasakan. Tapi ia sungguh tidak mengingatnya.


"Apa yang Anda campurkan, Pak?" Sahut Adit tiba-tiba.


Ardi menoleh santai pada Adit. "Kenapa Anda ingin tahu, Pak Adit? Apa Anda juga ingin mencicipinya? Saya masih memiliki banyak persediaan untuk itu."


"Kamu jangan bercanda, Ren? Mana mungkin mas Ardi memberi kita minuman beracun?" Kesal Oliv.


"Aku tidak mengatakan itu racun, Bod*h! Tapi dalam minuman tadi, sudah dicampur obat. Dan entah, obat apa itu." Jawab Reni makin kesal.


"Kalian tenang saja! Itu hanya dosis rendah. Kalian tidak akan begitu kelabakan nantinya." Timpal Ardi tiba-tiba.


Semua jelas kebingungan mendengar jawaban Ardi. Karena mereka jelas tidak tahu, obat apa yang ada dalam air tadi.


"Baiklah! Sambil menunggu obat itu bereaksi, saya ingin bertanya pada Anda, Pak Adit." Ucap Ardi santai.


Adit yang sedang memikirkan nasib ketiga wanita yang sedang disekap itu, jelas segera menoleh pada Ardi. Ia menoleh dengan enggan pada Ardi.


"Kenapa Anda melakukan hal itu pada Aini? Apa yang dia lakukan, hingga Anda begitu tega melakukan itu pada mantan istri Anda sendiri." Tanya Ardi datar.


"Dia pantas mendapatkan itu. Perilakunya, tidak sesuai dengan penampilannya. Anda jangan sampai tertipu, Pak Ardi." Jawab Adit yakin.


"Benarkah?"


"Dia itu suka berselingkuh. Dan bahkan, dulu dia sampai hamil dengan selingkuhannya."


Ardi terdiam. Ia berusaha mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Jika Anda tidak percaya, tanyakan saja pada istri saya. Dia juga tahu, betapa buruknya sifat Aini yang sebenarnya." Imbuh Adit yakin.


Meski Ratri sedang di ruangan lain, tapi ia bisa mendengar percakapan Ardi dan adit dari pengeras suara yang ada di layar LED. Ia segera teringat akan fitnah yang sempat ia berikan pada Aini dulu, hingga hancurlah rumah tangga Aini dengan Adit.


Ardi sedikit melirik pada layar di depannya. Ia ingin melihat, bagaimana reaksi Ratri saat Adit mengucapkan hal itu.


"Apa maksud ucapan Anda? Apa Aini pernah berselingkuh dari Anda, dulu?" Tanya Ardi tak percaya.


"Benar. Saat itu, Aini berselingkuh dengan teman lamanya saat ia menjalani kursus setelah lulus sekolah. Cih! Bahkan selingkuhannya itu gemuk dan jelek." Jawab Adit semangat.


Adit merasa yakin, Ardi mulai percaya dengannya. Dengan apa yang ia katakan barusan, ia yakin, kepercayaan Ardi pada Aini sedikit goyah.


Ardi mengingat biodata Aini yang sempat ia dapatkan dari Dika beberapa waktu yang lalu. Meski tidak begitu detail, tapi dalam permasalahan yang diajukan ke pengadilan sebagai dasar gugatan perceraian Adit pada Aini, ada perihal yang menyebutkan tentang perselingkuhan yang dilakukan Aini.


"Tapi, yang aku dengar, Aini difitnah saat itu." Jawab Ardi bingung.


"Apa wanita itu yang mengatakannya pada Anda?" Tanya Adit yakin.


"Bukan."


"Siapapun yang mengatakan hal itu pada Anda, jangan percaya dengan hal itu, Pak Ardi! Itu hanya tipu muslihat saja. Wanita itu hanya mengincar harta Anda." Tuduh Adit tanpa ragu.


Ardi terdiam sejenak. Ia berpikir, ingin memulai permainannya saat ini.


"Tapi, bagaimana Anda tahu, kalau Aini berselingkuh dari Anda?"


"Saya melihatnya sendiri saat itu. Mereka janjian bertemu secara diam-diam di tempat umum." Jawab Adit makin yakin.


"Apa Aini juga mengakuinya?"


"Iya, dia mengakuinya. Dia dengan jelas mengaku bahwa dia berselingkuh."


"Apa alasannya? Tak mungkin seseorang berselingkuh tanpa alasan bukan?"


"Aku berselingkuh darimu Mas. Karena Mas sudah tak pernah lagi memperhatikanku dan memberikanku kasih sayang seperti dulu. Mas hanya mementingkan Mbak Ratri."


Kalimat itu, tiba-tiba terngiang jelas di kepala Adit.


"Atau jangan-jangan, Anda tidak lagi memperhatikannya? Karena sudah ada istri kedua Anda saat itu?" Terka Ardi santai.


Adit menatap Ardi penuh selidik. Ia tak percaya, kalimat itu keluar dari mulut Ardi. Dan itu sama dengan apa yanv ada di dalam kepalanya saat ini.


"Dia, dia, yang terlalu egois. Dia tidak mau memikirkan kondisi Ratri yang sedang hamil saat itu." Jawab Adit ragu.


Kening Ardi berkerut dalam. "Kita mulai."


Tapi tiba-tiba, Dika mendekat pada Ardi dan membisikkan sesuatu.


"Pak Imron menelepon. Bu Aini kembali membuka matanya."


Ardi jelas segera menoleh pada Dika dengan rasa terkejut. Hatinya begitu bahagia mendengar kabar itu. Ia tersenyum begitu saja pada Dika.


"Sayang sekali, Pak Adit. Saya sebenarnya ingin mengobrol banyak dengan Anda dan ketiga wanita itu. Tapi sayang, Aini sedang menungguku saat ini. Dia sudah sadar dan kondisinya pun semakin membaik. Saya tak ingin melewatkan kesempatan ini. Mungkin, kita lanjutkan lain waktu." Ucap Ardi puas, setelah menoleh sinis pada Adit.


Adit jelas kalang kabut mendengar Aini sadar. Ia jelas dilanda kepanikan karena orang yang ia inginkan akhir hidupnya, malah kondisinya membaik.


Bukan hanya Adit tentunya yang kalang kabut. Oliv, Reni dan Ratri pun juga merasakan hal itu. Hanya saja, ada setitik rasa lega dalam hati Ratri, karena Aini telah selamat.


"Ah, iya. Dan satu hal lagi. Jangan cemas! Polisi sedang mencari keberadaan kalian saat ini. Bukan karena kalian trlah menculik Aini kemarin, tapi karena kalian menghilang tanpa kabar." Imbuh Ardi seraya berdiri dari kursinya.


"Anda pasti akan dihukum atas apa yang Anda lakukan saat ini." Sahut Adit geram.


"Oh ya?" Tantang Ardi santai.


"Tapi jika kalian ditemukan, bukankah kalian juga akan dihukum nanti? Yang pasti, untuk apa yang telah kalian lakukan pada Aini kemarin."

__ADS_1


Ardi menjeda ucapannya. Ia berjalan mendekati Adit.


"Saya telah mendapatkan semua bukti yang akan membuat kalian semua tinggal lama di penjara. Dan Aini, saya pastikan akan bersaksi untuk memberatkan kalian nanti." Imbuh Ardi yakin.


Adit jelas makin kelabakan. Ia tak menyangka, niat hatinya untuk menyingkirkan Aini dari kehidupannya dan demi membalas kematian ayahnya, malah membuatnya terkena masalah besar.


"Ada hal lain yang juga harus kalian cemaskan saat ini. Umar dan Kenzo." Imbuh Ardi santai.


"Umar?" Gumam Adit dan Ratri bersamaan.


"Iya. Dua anak laki-laki itu, belum tahu, siapa yang membuat bundanya seperti saat ini. Terbaring tak berdaya di rumah sakit. Bagaimanakah, jika mereka sampai tahu, bahwa kalianlah yang membuat Aini seperti itu? Apakah, mereka masih mau menemui kalian? Yang notabene, adalah orang tua mereka."


Adit, Ratri dan Oliv jelas terdiam. Mereka belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Mereka kemarin cukup yakin, bahwa akan berhasil menyingkirkan Aini tanpa ketahuan siapapun.


Meski sasaran Oliv hanya harta Ardi, tapi bagaimanapun, Kenzo tetap darah dagingnya sendiri. Ia masih tetap memiliki hati keibuan, yang tak akan tahan, jika sampai Kenzo tak mau lagi menemuinya, karena apa yang telah dilakukannya.


Sedangkan Adit dan Ratri jelas, mereka masih menyayangi Umar. Mereka tak akan bisa, jika sampai Umar tak mau menemui mereka karena apa yang telah mereka lakukan pada Aini.


"Sepertinya, kalian telah siap untuk hal itu." Cibir Ardi yakin, setelah melihat reaksi para tawanannya.


Ardi jelas tersenyum sinis. Ia berhasil memulai permainan kata-katanya. Sebagai awal dari permainan yang ingin ia buat nanti.


Ardi lalu berjalan santai menuju pintu keluar. Dika dan Reno pun mengikuti langkahnya. Tapi, ia berhenti, tepat sebelum melewati pintu.


"Dan, Pak Adit. Selamat menikmati pertunjukan dari ketiga wanita itu!" Akhir Ardi tanpa menoleh. Ia lalu melenggang pergi.


"Pertunjukan?" Gumam Adit bingung.


Para anak buah Ardi, lalu membawa keluar semua barang yang tadi dibawa masuk ke ruangan itu. Dan sebagai gantinya, sebuah layar LED menyala di salah satu sudut ruangan, yang kini pencahayaannya sangat minim. Dan jelas, menampilkan tiga wanita yang berada di ruangan lain.


Sebelum menutup rapat pintu ruangan itu, seorang anak buah Ardi meletakkan sebuah kotak di ruangan itu.


"Apa itu?" Ketus Adit.


"Bukalah!" Jawab anak buah itu santai.


Anak buah Ardi tadi, segera pergi keluar dan menutup rapat pintu. Sedang Adit, segera menghampiri kotak yang menyita perhatiannya. Ia sedikit kesulitan untuk itu, karena tangannya yang diikat.


Adit sedikit menendang kotak itu. Tapi tak ada reaksi apapun. Ia pun menendangnya lebih keras, hingga kotak itu terguling. Lalu, beberapa serangga pun keluar dari sana.


"Sial!" Umpat Adit kesal.


Adit mendengus kesal, sambil menginjak beberapa serangga yang bisa ia raih. Ia pun mengejar beberapa yang lain, agar nanti tak mengganggunya.


Sedang di ruangan lain, tiga wanita itu juga mendapat kotak yang sama. Mereka semua juga penasaran dengan isinya.


"Aaaaa! Kecoa!" Teriak Oliv histeris.


Dan mereka juga terkejut, saat mendapati isi kotak itu, adalah serangga yang membuat mereka berteriak histeris karena jijik dan geli. Mereka berusaha membunuhnya dengan botol yang mereka dapat tadi.


Mereka bertiga cukup kesulitan membunuh semua serangga itu. Dan saat mereka berhasil, mereka sudah mulai kelelahan. Tapi, ada sesuatu yang aneh muncul dalam diri mereka. Sesuatu yang menyeruak perlahan dari dalam diri mereka.


"Sial! Itu tadi obat perangs*ng." Geram Reni, saat menyadari gejolak dalam dirinya.


Ratri dan Oliv juga merasakan hal yang sama. Mereka mulai merasakan kegerahan dan dorongan yang kuat hadir dalam diri mereka. Menuntut raga, untuk memberikan penuntasan.


Ratri berusaha keras meredam gejolak tubuhnya. Ia tak ingin lepas kendali, karena jelas, apa yang ia lakukan saat ini, jelas terekam oleh CCTV. Tapi ternyata, Reni menghampirinya. Ia juga menggandeng Oliv yang sedang berusaha meredam gejolak yang sama.


"Ayo! Kita lakukan!" Ajak Reni yakin, pada Ratri dan Oliv.


Ratri dan Oliv jelas paham maksud ucapan Reni. Mereka jelas tak bisa menahan apa yang ada di dalam tubuh mereka saat ini. Ingin menolak, tapi jelas akan sangat sulit untuk itu. Tapi jika menerimanya, akan menjadi hal yang sangat memalukan nantinya.


...****************...


Jadii,, kira-kira, ajakan Reni diterima atau enggak ya sama si Ratri dan si Oliv? 🤔😁

__ADS_1


__ADS_2