Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Firasat


__ADS_3

Perhatian. Sebuah kata dengan makna yang begitu besar. Sebuah kata, yang terkadang menjadi hal yang diharapkan banyak orang. Sebuah kata, yang bisa menjadi sesuatu yang istimewa bagi orang lain.


"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Ardi lembut, saat ia sudah masuk ke mobilnya bersama Aini.


"Umar, Mas." Sahut Aini sedih.


"Umar baru sekolah, Sayang. Dia pasti baik-baik saja dengan Kenzo."


"Tapi, mas Adit sudah tahu tentang masalah itu."


"Masalah apa?" Polos Ardi, demi menutupi beberapa hal yang memang harus ia rahasiakan dari Aini.


"Masalahku dengan mbak Ratri dan ibu." Jawab Aini makin cemas.


"Memangnya ada apa?"


Aini tertegun. Ia tersadar, hampir saja menceritakan masa lalu kelamnya pada Ardi. Meski sebenarnya, tak masalah jika Ardi mengetahui hal itu.


"Katakan padaku, Sayang! Agar aku bisa membantumu." Pinta Ardi lembut, sambil mengusap tangan Aini.


Aini masih diam. Ia berusaha mengambil keputusan yang terbaik, apakah ia akan menceritakan masa lalunya pada Ardi, ataukah tetap menyimpannya.


Bayangan perlakuan Suharti di masa lalu, tiba-tiba berkelebat di benaknya. Bagaimana ia selalu disudutkan dan disalah-salahkan, bahkan untuk hal yang sangat sepele. Ia juga teringat, bagaimana ia harus hidup berjauhan dari Umar, padahal ia sudah menuruti semua kemauan Suharti.


"Sayang!" Panggil Ardi pelan.


"Sayang!"


"Aini!"


Ardi akhirnya sedikit meninggikan nada bicaranya untuk menyadarkan Aini yang sedikit melamun.


"Kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Ardi cemas.


"Umar." Lirih Aini.


Ardi kembali menarik tubuh Aini ke dalam pelukannya. Ia tahu, Aini sedang mencemaskan putra sulungnya saat ini. Putra yang sudah ia perjuangkan dengan banyak cara.


"Tak akan terjadi apapun dengan Umar. Dia pasti akan baik-baik saja." Hibur Ardi.


"Tapi, ibu,," Ucap Aini lirih


"Apa kamu tadi tidak mendengarnya? Bu Suharti mengalami stroke saat ini. Ia kesulitan melakukan apapun seorang diri. Jadi, beliau tak akan bisa melakukan apapun pada Umar. Lagi pula, beliau neneknya Umar, bukan?" Jelas Ardi perlahan.


"Tapi, ibu bisa meminta seseorang untuk melakukan apapun pada Umar, Mas."


"Aku, juga bisa melakukan apapun untuk Umar. Termasuk melindunginya dari siapapun yang berusaha menyakitinya." Jawab Ardi yakin.


Aini meresapi kalimat terakhir Ardi. Ada rasa percaya dan bahagia yang menelusup dalam hatinya. Ia sejenak lupa, Ardi sudah begitu menyayangi Umar akhir-akhir ini. Ardi juga bahkan, terlihat memperlakukan Umar dengan sangat baik. Bahkan ia memperlakukan Umar seperti Kenzo, putranya sendiri.


Aini segera mengeratkan pelukannya pada Ardi. Ia pun mengangguk bahagia di dada Ardi.


"Terima kasih, Mas." Ucap Aini tulus.


"Tentu saja, Sayang."


Ardi lega, Aini sudah lebih tenang nada bicaranya. Sepasang duda dan janda itu, masih saling berpelukan untuk beberapa saat. Mereka saling menikmati, aliran rasa tenang dan bahagia yang tercipta secara perlahan. Menelusup dengan pasti, menggantikan rasa cemas dan takut dalam hati.


"Kamu ingin pulang, atau ikut aku ke kantor, Sayang?" Tanya Ardi pelan.


Aini pun melepaskan pelukannya. "Kalau aku ikut Mas ke kantor, aku mau ngapain Mas disana?"


"Nemenin aku." Jawab Ardi santai.

__ADS_1


"Yang ada, aku malah ganggu Mas kerja nanti." Sanggah Aini.


"Aku tak akan marah, jika kamu yang menggangguku."


Aini menatap Ardi dengan aneh. Sedang Ardi, malah memasang wajah polos nan penuh harap di depan Aini.


"Kamu ini, Mas. Ada-ada saja." Cibir Aini sambil membenarkan posisi duduknya kembali.


Ardi tersenyum kecil. Ia lalu ikut membenarkan posisi duduknya.


"Oke. Karena tidak ada penolakan, kita akan segera ke kantor. Dika sedang menungguku sekarang." Monolog Ardi bahagia.


Aini yang tadi sedang menatap barisan kendaraan yang terparkir rapi di parkiran kantor polisi, segera menoleh pada Ardi.


"Aku belum menyetujuinya, Mas." Sahut Aini segera.


"Tapi, kamu juga tidak menolaknya, bukan?" Sanggah Ardi santai.


"Iya. Tapi kan Mas,,"


"Atau, kamu mau kita jalan-jalan saja? Kencan. Kita belum berkencan sejak kamu mengakui perasaanmu kemarin." Goda Ardi, seraya mulai menyalakan mesin mobilnya.


"A,, apa?"


Aini mendadak gugup karena teringat kejadian ketika ia mengakui perasaannya pada Ardi. Meski sebenarnya, ia juga bahagia karena bisa mengatakan hal itu pada Ardi.


"Tak perlu segugup itu, Sayang." Goda Ardi lagi.


Wajah Aini jelas segera merona. Lidahnya mendadak kelu dan tak bisa membalas ucapan Ardi. Hatinya berdegup terlalu kencang hanya karena godaan dari Ardi tadi.


Sedang Ardi, jelas bahagia karena berhasil menggoda Aini. Meski sebenarnya, Aini memanglah mudah untuk digoda. Atau mungkin, Ardi yang terlalu pandai menggoda Aini.


"Kita ke kantor saja, ya? Lain kali kita akan berkencan. Dika sudah menungguku untuk beberapa alasan." Ucap Ardi lembut.


Aini pun menoleh pada Ardi yang bersiap menjalankan mobilnya untuk keluar dari barisan kendaraan yang terparkir.


Ardi pun mulai melajukan mobilnya. Ia benar-benar membawa Aini ke kantor hari ini. Meski, ada beberapa pekerjaan yang sudah menunggunya. Tapi ia yakin, mengajak Aini bisa menjadi semangat tersendiri baginya melewati hari ini.


Bahagia itu sederhana. Kita hanya perlu mensyukuri dan menikmati segala hal yang telah Tuhan berikan pada kita. Tanpa perlu membandingkan atau melihat kebahagiaan milik orang lain, yang kita tak pernah tahu, seperti apa kisah dibalik itu semua.


Daann,,


Iya. Suharti mengalami stroke saat ini. Tekanan darahnya naik sangat tinggi, hingga ia mengalami stroke. Itu semua terjadi setelah kembalinya Adit dan Ratri malam itu.


Suharti terkejut melihat kondisi anak dan menantunya yang begitu buruk. Apalagi, Adit dan Ratri juga mengakui, bahwa mereka telah menculik Aini kemarin, hingga kondisi Aini begitu buruk.


Sampai saat ini, Suharti masih dirawat di rumah sakit. Ia hanya ditemani oleh pengasuh Rafa. Sedang Rafa, di rumah Suharti bersama Arif dan Heni yang masih menunggu hasil sidang untuk putri mereka.


Kita memang tak pernah tahu, takdir seperti apa yang menanti kita. Tapi, kita bisa selalu berbuat baik, sebagai usaha agar kita tidak mengalami takdir buruk yang mungkin menjadi karma atas perbuatan kita.


Lalu, bagaimana dengan Oliv dan Reni?


Oliv jelas mengandalkan sahabat sekaligus manajernya, Desi, untuk saat ini. Desi mengurus segala keperluan Oliv dengan baik, seperti biasa.


Dari mencari pengacara, urusan rumah sakit dan kepolisian, hingga mengurusi pemberitaan media elektronik dan non elektronik, yang kembali memberitakan tentang kehidupan pribadi Oliv.


Desi juga terkejut, karena semua yang Oliv lakukan. Ia sedikit tidak percaya jika Oliv bisa melakukan itu pada Aini. Meski ia tahu, Oliv terkadang bisa lepas kendali demi apa yang ia inginkan.


Sedang Reni, menghubungi rekannya di panti asuhan dulu yang bekerja di salah satu kantor pengacara. Ia meminta rekannya itu untuk membantunya menyewa pengacara, untuk menangani kasusnya.


Kehidupan Reni tidaklah buruk. Diluar pekerjaannya sebagai preman bayaran, ia sebenarnya bekerja di salah satu pabrik plastik di kota ini. Selain untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga memiliki tanggung jawab seorang putri yang ia lahirkan saat ia masih remaja.


Ya, Reni sebenarnya sudah memiliki anak, karena keperawanannya direnggut oleh salah satu rekannya di panti asuhan dulu. Awalnya, Reni menolak untuk melahirkan anak itu. Tapi karena kehamilannya telah diketahui oleh pengurus panti, mereka berusaha membujuk Reni untuk tetap mempertahankan anak itu.

__ADS_1


Dan setelah Reni melahirkannya, ia pergi dari panti dan hidup dijalanan. Lalu perlahan-lahan menata hidup, meski dengan cara yang berbeda. Tapi, ia tetap tidak melupakan anaknya itu. Ia tetap mengirimkan biaya hidup untuk anaknya setiap bulan ke panti. Dan diam-diam, sering mengamati anaknya itu dari jauh.


Dan karena itulah, sampai saat ini Reni belum menikah. Meski usianya sudah kepala tiga. Ia belum bisa berdamai dengan makhluk yang namanya laki-laki, dalam lubuk hati terdalamnya.


Tapi tidak dengan Adit. Sejak pertemuan mereka, Reni sudah tertarik dengan Adit. Hingga ia bisa melakukan banyak hal dengan Adit dan rela menjadi selingkuhannya.


Setiap orang memiliki kisah hidupnya masing-masing. Memiliki lika-liku jalan kehidupannya sendiri-sendiri. Terkadang, apa yang terlihat di luar, tidaklah seperti yang sebenarnya terjadi. Karena terkadang, beberapa orang lebih memilih untuk menutup kehidupan pribadinya, agar tidak menjadi konsumsi publik.


...****************...


Di kantor Ardi.


Aini benar-benar menemani Ardi mengerjakan pekerjaannya yang sedikit menumpuk. Ia duduk diam di sofa ruangan kerja Ardi, sambil sesekali diajak mengobrol oleh Ardi.


"Kemarilah sebentar, Sayang!" Pinta Ardi, seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


"Mas butuh sesuatu?" Tanya Aini, seraya berdiri dan lalu berjalan ke arah Ardi.


Ardi mengangguk begitu saja. Aini lalu bersiap duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Ardi.


"Jangan duduk di sana, kemarilah!" Pinta Ardi, sambil sedikit mengangguk.


Aini pun mengurungkan niatnya untuk duduk, lalu berjalan mendekati Ardi. Tiba-tiba, Ardi menarik tangan Aini, hingga Aini jatuh tepat di pangkuan Ardi. Ardi segera melingkarkan tangannya di pinggang Aini.


"Mas, ini di kantor!" Tegur Aini sambil sedikit meronta.


"Tenanglah! Aku sudah meminta Dika untuk tidak mengijinkan siapapun mengganggu kita." Jawab Ardi santai.


"Tapi Mas,,"


"Ada yang ingin kukatakan padamu, Sayang." Ucap Ardi dengan wajah serius.


Aini pun berhenti meronta untuk melepaskan diri. Ia sedikit terkejut dengan ekspresi wajah Ardi.


"Ada apa, Mas? Apa ada masalah?" Tanya Aini sedikit cemas.


"Aku harus ke Bandung lagi." Jawab Ardi sedih.


Aini tersenyum lega. "Iya Mas, tidak apa."


"Aku akan menjemput seseorang di Jakarta, dan membawanya kemari setelah itu."


"Siapa, Mas?" Tanya Aini antusias.


"Esok akan kukenalkan, saat kalian bertemu."


Aini mengangguk. "Laki-laki atau perempuan, Mas?"


Ardi terdiam sejenak. "Perempuan."


Aini sedikit tertegun.


"Kamu percaya padaku, bukan?" Tanya Ardi ragu.


Aini tersenyum tulus pada laki-laki yang sedang memangkunya. Meski, mendadak ada sebersit firasat tak baik menerpa hatinya.


"Iya, Mas. Aku percaya padamu." Jawab Aini yakin.


"Terima kasih, Sayang."


"Iya, Mas. Jadi, kapan Mas akan berangkat?"


"Setelah persidanganmu selesai. Mungkin, dua atau tiga minggu lagi."

__ADS_1


Aini mengangguk lagi dan tersenyum. Ardi pun ikut tersenyum seperti Aini.


"Semoga, ini hanya firasat sesaat." Batin Aini di balik senyumnya.


__ADS_2