Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Urusan Pribadi


__ADS_3

Sinar surya menjelang senja, menghangatkan hati setiap penikmatnya dengan cara yang berbeda-beda. Memberi makna tersendiri bagi setiap rasa yang mungkin tercipta dari setiap sentuhan nan lembut menyapa.


"Bagaimana, Pak? Ada yang perlu saya bantu?" Tanya Dika, setelah ia menghampiri Ardi yang sedang menatap lalu lalang kendaraan.


"Tidak. Aini sedang dipanggilkan oleh majikannya." Jawab Ardi singkat, sambil menoleh pada Dika.


Laki-laki dengan perawakan tak kalah tegap dari Ardi itu, menatap Ardi dengan penuh keanehan. Ada pertanyaan cukup tak biasa melintas di benaknya sejak tadi.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Ardi yang menyadari tatapan tak biasa asistennya.


"Em, maaf Pak. Hanya saja, ada yang sedikit lain dari Anda." Jujur Dika tanpa ragu.


"Lain? Maksudmu?" Ardi mengerutkan keningnya.


"Selama saya bekerja untuk Anda, baru kali ini, Anda memanggil seseorang yang belum mengenal Anda dan Anda kenali apalagi dekat dengan Anda, hanya dengan namanya saja." Ucap Dika yakin.


Ardi terdiam. Ia memikirkan maksud perkataan Dika dengan serius. Ia sangat paham, asisten pribadinya itu sudah sangat memahami semua hal tentang dirinya, atau apa yang ia akan lakukan, meski ia sendiri belum mengatakannya.


Tapi, otak cemerlang Ardi yang biasanya bisa dengan sangat cepat dan tanggap dengan segala hal, mendadak entah hilang kemana. Ia tak bisa memahami maksud ucapan Dika.


"Maksudmu apa?" Tanya Ardi bingung.


"Bu Aini. Akhir-akhir ini, Anda selalu memanggil bu Aini dengan namanya saja. Padahal setahu saya, Anda dan bu Aini belum saling mengenal secara baik." Ungkap Dika santai.


Ardi akhirnya mengerti maksud ucapan Dika. Ia pun mulai mengingat apa yang dimaksud Dika. Dan itu semua benar adanya.


Ardi bukanlah tipikal orang yang bisa dengan santai dan mudahnya dekat dengan orang lain. Ia akan selalu menggunakan sapaan pada orang lain yang belum dekat atau memiliki ikatan khusus dengannya. Meskipun ia tidak berhadapan langsung dengannya.


Tapi tidak dengan Aini. Ardi baru menyadari, bahwa ia tidak menyebut Aini dengan sapaan di depan namanya, seperti pada yang lainnya.


"Benar juga kata Dika. Kenapa aku tak pernah menyebut bu Aini. Padahal, mengobrol saja belum pernah. Bagaimana bisa?" Batin Ardi penasaran.


Ardi menatap ke arah jalan raya, sambil terus memikirkan ucapan Dika.


"Dengan bu Mala saja, aku tak pernah menyebutnya tanpa sapaan. Tapi kenapa dengan Aini tidak?"


Batin Ardi makin kebingungan mencari jawabannya. Ia pun mulai memikirkan, alasan apa yang membuatnya seperti itu.


Dengan pikiran dan batin yang sedang kebingungan, Ardi menatap ke arah jalanan di depan rumah Dewi, yang masih tetap ramai meski hari sudah sore. Keberadaannya di sana, cukup menyita perhatian beberapa pengendara yang melintas. Ardiansyah El Baraja, memang memiliki pesona tersendiri.


Dan tepat di sebelah Ardi, sang asisten, tersenyum penuh arti melihat atasannya. Ia menatap atasan yang selalu memahaminya di setiap keadaannya yang terkadang sangat menyulitkannya.


Sedang di dalam rumah, dua orang wanita yang sedang berbincang, masih kebingungan dengan tindakan apa yang harus mereka lakukan.


"Saya harus bagaimana, Bu'?" Tanya Aini panik.


"Tunggu deh, Ni! Bagaimana bisa, seorang Ardiansyah El Baraja, tahu rumah ini tempat kerjamu? Kalian sebenarnya sudah saling kenal ya? Hayo, ngaku!" Cecar Dewi tiba-tiba.


"Eh, Ibu kok bilang gitu? Saya saja, bertemu dengan Pak Ardi baru minggu lalu di sekolah. Bicara sama Pak Ardi saja belum,,"


Ucapan Aini tiba-tiba terhenti. Ia teringat beberapa kejadian yang terjadi di sekolah Umar minggu lalu.


"Hayo, kalian sebenarnya udah sering ngobrol ya? Atau jangan-jangan, kalian udah saling berkomunikasi lewat ponsel atau media sosial yaaa?" Terka Dewi tanpa ragu.


"Enggak Bu, nggak pernah. Eh, pernah sekali ngobrol sebentar. Kemarin waktu di ruangan bu Mala." Jujur Aini.


"Yakin cuma itu?"


"Iya, Bu'."


"Terus, kenapa pipimu berubah agak merah?" Goda Dewi.


Aini terdiam. Ia tak paham maksud ucapan Dewi.


"Kamu nggak mendadak demam kan?" Tanya Dewi santai.


"Enggak, Bu."


"Terus, kenapa pipimu merah? Kamu suka ya sama Pak Ardi?" Goda Dewi makin gencar.


"Apa? Ah Ibu, ada-ada saja. Mana ada hal seperti itu?" Sahut Aini sedikit salah tingkah.


"Ada kok. Tuh lihat, kamu salting kan?"


"Ibu ini, ada-ada saja." Jawab Aini sambil berjalan menuju kamarnya.


Dewi tersenyum melihat Aini yang pipinya tadi sedikit bersemu.


Tak dapat Aini pungkiri, pesona Ardi, sungguh terlalu sulit untuk diabaikan. Apalagi, ia sempat mendapatkan perlakuan yang baik darinya, meski hanya sebuah tawaran sederhana minggu lalu.

__ADS_1


Aini memang belum pernah melihat Ardi sebelumnya. Hingga ia melihatnya minggu lalu, berdiri di atas panggung menyelesaikan sambutannya dengan senyum yang sangat ramah.


"Eh, Ni! Kamu mau kemana?" Panggil Dewi cepat.


"Ke kamar sebentar, Bu. Terus mau nerusin masak." Jujur Aini santai.


"Eh, gimana sih kamu? Itu ditungguin tamu di depan." Sahut Dewi gemas.


"Oh, iya." Sahut Aini, seketika menghentikan langkahnya.


Dewi menggelengkan kepalanya. Ia pun menertawai Aini.


"Cie, cie, ada yang salting nih." Goda Dewi.


Aini yang cukup paham sifat majikannya, hanya diam dan tersenyum aneh menanggapi godaan sang majikan. Ia pun berjalan menuju depan bersama Dewi.


"Eh, itu mobil siapa ya? Kok nggak asing?" Gumam Dewi setelah ia keluar rumah.


"Yang mana, Bu?" Tanya Aini penasaran.


"Itu di depan."


Dewi menunjuk pada mobil yang terparkir diluar halaman rumahnya. Tepat di sebelah konter pulsa miliknya.


"Mobil pak Ardi mungkin, Bu." Jawab Aini sekenanya.


"Kayak pernah lihat? Tapi dimana ya?" Gumam Dewi penasaran.


Dewi menghentikan langkahnya di teras rumah. Aini yang berjalan beriringan dengannya pun, akhirnya menghentikan langkahnya juga.


"Oh iya. Itu mobil yang minggu lalu terlihat di CCTV depan. Mas Galih sempet nanyain ke aku kemarin." Ucap Dewi yakin.


Aini menoleh pada sang majikan dengan penuh tanya. Indra pendengarannya, dengan sangat jelas mendengar ucapan Dewi tadi.


"Iya, Ni. Waktu minggu lalu kamu pulang dari sekolah Umar, mobil itu berhenti cukup lama di depan rumah." Jujur Dewi.


Otak kecil Aini segera merespon. Ia pun memandang Dewi penuh tanya.


"Kalau itu mobil pak Ardi, berarti?" Gumam Dewi lirih.


"Saya bilang mungkin ya Bu, tadi." Sahut Aini cepat.


"Kalau iya, gimana?"


"Konternya nggak ada yang jaga, Bu?" Tanya Aini.


"Oh, iya."


Dewi segera melesat menuju konter miliknya. Di sana, ia bisa melihat dua orang laki-laki gagah sedang berbincang santai sembari menikmati sore.


"Pak!" Panggil Dika, setelah menyadari ada orang di belakang mereka.


"Ya?" Sahut Ardi, sembari mengikuti arah pandangan Dika ke dalam konter.


Di saat bersamaan, Aini pun masuk ke dalam konter dari pintu belakang. Ia lantas menoleh ke arah dua laki-laki yang sedang menanti kedatangannya.


"Selamat sore, Bu Aini." Sapa Dika cepat.


"Iya, selamat sore." Jawab Aini ramah.


"Sebentar, Pak. Apa itu mobil, Bapak?" Sela Dewi tanpa canggung, sambil menunjuk ke arah mobil Ardi.


Ardi dan Dika pun menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Dewi.


"Iya, itu mobil saya." Jawab Ardi datar.


"Apa Bapak juga, yang minggu lalu mengikuti Aini pulang? Mobil Anda terekam di CCTV depan rumah saya." Tanya Dewi lagi.


"Bukan, itu bukan Pak Ardi. Saya yang membawanya minggu lalu. Saya diminta Pak Ardi, memastikan Bu Aini selamat sampai rumah, setelah apa yang terjadi di sekolah." Jujur Dika.


Dika, Aini dan Dewi, segera menoleh pada Ardi. Mereka menatap Ardi dengan tatapan yang sama. Tatapan yang menuntut sebuah jawaban, dari penuturan Dika tadi.


"Iya. Saya meminta Dika mengikuti Aini pulang minggu lalu." Jujur Ardi.


Wajah Dewi mendadak berbinar. Ia menyenggol dengan keras lengan Aini, yang berdiri tepat di sampingnya. Aini pun menoleh pada Dewi dengan penuh tanya.


"Bisa kita bicara sebentar, Aini?" Tanya Ardi tanpa-basi.


"Ada apa ya, Pak?" Tanya Aini cemas.

__ADS_1


"Ini masalah pribadi. Bisa kita bicara di mobil?" Pinta Ardi segera.


"Tapi,,"


"Tenang, Bu Aini! Ini tidak ada hubungannya dengan kejadian minggu lalu di sekolah." Sela Dika, yang paham tatapan kecemasan Aini.


Aini menoleh pada Dika. Ia bisa melihat raut wajah kejujuran di wajah Dika.


"Nggak papa. Nanti kalau ada apa-apa, kamu teriak yang kenceng! Aku di sini kok." Bisik Dewi di telinga kiri Aini.


Aini menoleh penuh keraguan pada Dewi.


"Ini tidak akan lama, Bu Aini." Rayu Dika cepat.


Aini menoleh pada Ardi dan Dika. Lalu kembali menoleh pada Dewi. Dewi lalu menganggukkan kepalanya.


Aini berusaha meyakinkan hatinya untuk bicara berdua dengan Ardi di dalam mobilnya. Karena ia tak tahu, orang seperti apa Ardi itu. Jadi, ia cukup was-was jika berdua dengan orang yang baru ia kenali.


"Baik, Pak." Jawab Aini sambil mengangguk.


Dika pun tersenyum. Sedang Ardi, ia memasang wajah datarnya dan segera berjalan menuju mobilnya. Yang juga segera diikuti oleh Dika dan Aini. Ardi segera masuk ke kursi belakang. Dan Aini pun mengikutinya.


"Bolehkah, pintunya tetap terbuka?" Tanya Aini ketika ia baru saja duduk.


"Dika, biarkan pintunya terbuka!" Pinta Ardi tegas.


Aini sedikit lega mendengar ucapan Ardi. Tapi hatinya sedikit cemas, dengan sikap datar Ardi. Yang berbeda jauh dengan sikap Dika yang ramah sejak tadi.


"Sebelumnya, mari kita berkenalan lebih dulu. Saya Ardi." Ucap Ardi dengan nada yang lembut dan ramah.


Hati Aini bergetar mendengar ucapan Ardi yang begitu lembut, menyusup ke gendang telinganya dengan begitu jelas. Sangat berbeda dengan nada bicaranya yang tegas dan datar sejak tadi.


"Oh, iya Pak. Saya Aini." Jawab Aini singkat.


Mereka berjabat tangan dengan sedikit kecanggungan.


"Apa kamu tahu, siapa saya?"


"Bapak, pemilik yayasan yang menaungi sekolah putra saya, Umar."


"Dan?"


"Dan?" Tanya Aini bingung.


"Saya papanya Kenzo."


Aini membolakan kedua matanya. Ia tak menyangka, Kenzo adalah putra dari seseorang yang sangat hebat.


"Maaf, Pak. Maaf. Maaf, saya lancang karena memberikan sesuatu yang kurang pantas bagi Kenzo selama ini. Saya benar-benar tidak tahu, jika Kenzo adalah putra dari orang hebat seperti Anda." Aini makin ketakutan, mengingat setiap perlakuannya pada Kenzo.


"Terima kasih, karena telah memperlakukan Kenzo dengan begitu tulus selama ini." Ucap Ardi tulus.


"Apa?"


"Terima kasih, karena telah menyayangi Kenzo seperti putramu. Dan kamu mengijinkannya memanggilmu bunda."


Aini terkejut, Ardi tahu tentang itu. Saat Aini masih dalam keterkejutannya, Ardi segera mengungkapkan niat hatinya pada Aini.


"Langsung saja, saya memiliki sebuah penawaran untuk Anda."


Ardi tak ingin berbasa-basi.


"Penawaran?"


"Iya. Sebelum itu, saya ingin bertanya. Apa Anda tidak ingin, putra Anda kembali pada Anda?" Tanya Ardi tanpa ragu.


Aini terdiam. Hatinya bergejolak secara tiba-tiba. Rasa keibuannya muncul tak dapat dibendungnya. Hanya karena sebuah pertanyaan yang Ardi ajukan barusan.


Ibu mana yang tak ingin dekat dengan putranya? Apalagi, ia harus dipisahkan secara paksa dengan putranya dalam waktu yang lama. Ia bahkan harus kesulitan jika ingin menemui putranya, meski sekejap mata.


Ardi yang cukup berpengalaman membaca gelagat lawan bicaranya, bisa dengan mudah membaca reaksi Aini. Ia sedikit menarik sudut bibirnya.


"Saya bisa membantu Anda berkumpul kembali dengan putra Anda, Umar." Sela Ardi, ditengah lamunan Aini.


Aini yang tadi tertunduk, segera mengangkat wajahnya menatap wajah tampan dihadapannya. Manik mata mereka tanpa sengaja bertemu pandang.


"Tapi, ada yang saya inginkan dari Anda." Imbuh Ardi datar.


Aini masih berusaha mengusai perasaannya yang berkecamuk. Mengingat, minggu lalu, Umar diperlakukan cukup kasar oleh ayahnya, hingga membuat hati Aini begitu pedih. Ia akhirnya sedikit tergoda dengan ucapan Ardi tadi.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Aini ragu.


"Tubuhmu." Sahut Ardi singkat.


__ADS_2