
Malam telah menyapa. Sinar sang surya, telah tergantikan oleh indahnya kerlip bintang di langit yang gelap. Ditemani pula oleh suara-suara alam, yang tak lekang oleh apapun.
"Apa bu Aini berada di rumah itu?" Ucap salah seorang laki-laki, yang sedari tadi mengikuti Oliv.
"Kita harus segera memastikannya!" Sahut satu yang lain.
"Tapi bagaimana?"
Dua orang laki-laki yang tak lain adalah pengawal Ardi itu, mulai memikirkan segala cara yang bisa mereka lakukan. Mereka cukup penasaran dengan apa yang dilakukan Oliv di rumah yang cukup jauh dari pemukiman warga itu. Rumah yang nampak mencurigakan.
Belum sempat mereka menemukan cara, terdengar suara yang cukup mengejutkan. Suara sebuah cambukan dari sesuatu. Meski tak terdengar jelas, tapi cukup bisa mereka pastikan, bahwa itu suara cambukan.
"Kita minta bantuan saja! Jaga-jaga kalau bu Oliv tiba-tiba pergi dan kita sedang memastikan posisi bu Aini." Usul salah satu dari mereka.
"Oke."
Tuut. Tuuuutt. Panggilan tak segera tersambung. Mereka pun sedikit geram.
"Kenapa nggak diangkat-angkat sih, sama mas Reno?" Gerutu si penelepon.
"Sabar! Coba lagi!"
Dan benar, baru saja mereka mau mencoba menelepon Reno kembali, Reno ternyata balik menelepon mereka.
"Ada apa?" Suara Reno, menggema jelas di ujung telepon.
"Kami butuh bantuan, Mas. Kami sepertinya menemukan lokasi bu Aini."
"Kalian yakin?"
"Kami belum memastikannya. Kami butuh bantuan untuk mengawasi bu Oliv, selama kami memastikannya."
"Kirimkan lokasi kalian!"
"Iya, Mas."
Mereka segera mengirimkan lokasi mereka saat ini pada Reno. Sembari menunggu, mereka mengambil beberapa foto rumah, lalu mereka kirimkan pada Reno. Mereka juga mencoba mencari cara untuk memastikan apakah Aini ada di dalam rumah itu.
Dan selagi mereka menunggu dan mencari cara, suara cambukan dari dalam rumah masih belum berhenti. Dan juga, suara Oliv yang sedang marah-marah pun terdengar cukup jelas di telinga para pengawal Ardi, yang mulai mendekati rumah.
Hampir setengah jam, mereka mencoba membaca lokasi dan suasana rumah itu. Mereka mencoba menerka, berapa orang yang ada di rumah itu.
"Mereka lebih dari lima orang. Sekitar delapan sampai sepuluh orang. Belum lagi, ada bu Oliv." Ucap salah satu pengawal Ardi, saat berada di belakang rumah.
"Iya. Kita tak bisa menyerang tanpa bantuan dari yang lain. Kita pasti kalah jumlah dan kemampuan." Sahut yang lain.
"Kabari mas Reno lagi! Kita kembali ke depan! Bu Oliv sepertinya sudah tidak berada di dalam." Imbuhnya lagi.
Mereka lalu kembali mengabari Reno tentang situasi yang berhasil mereka baca. Meski mereka belum tahu pasti apakah Aini ada di dalan atau tidak, tapi mereka cukup lega karena tidak lagi terdengar suara cambukan dari dalam rumah.
Dan benar, Oliv sudah berada di depan rumah bersama seorang wanita. Para pengawal Ardi pun tak lupa mengambil foto dua wanita itu dan kembali mengirimkannya pada Reno.
Oliv dan wanita itu, yang tak lain adalah Reni, berbincang cukup lama di teras rumah. Dan itu jelas menguntungkan para pengawal Ardi. Mereka bisa menunggu rekan mereka tiba, sembari mengawasi Oliv dengan cukup mudah.
Tiga puluh menit kemudian, Oliv berpamitan pada Reni. Dua pengawal Ardi pun bersiap untuk kembali mengikuti Oliv. Dan akan menyerahkan semuanya pada rekan yang dikirimkan Reno untuk melanjutkan pengintaian.
Tak jauh dari rumah itu, Oliv terlihat membuang sesuatu di antara semak belukar yang tumbuh lebat di tepi jalan menuju jalan utama. Dan hal itu, jelas dilihat oleh pengawal Ardi. Mereka berusaha menandai lokasi itu. Yang mereka yakini, yang dibuang Oliv tadi, adalah sesuatu yang ia gunakan untuk mencambuk tadi.
Oliv jelas tak menyadari jika ia sedang diikuti. Hatinya yang cukup lega setelah menyiksa Aini, membuatnya makin lupa dengan peringatan Adit tentang pengawal Ardi.
Sedang di rumah terpencil itu, setelah Oliv meninggalkan tempat itu, kini giliran Adit bersama Ratri yang tiba di sana. Adit tahu, jika ia selama beberapa hari ternyata diikuti oleh pengawal Ardi.
Tapi semua memiliki kekurangan. Termasuk para pegawal Ardi yang mengikuti Adit. Beberapa hari yang lalu, mereka teledor karena bisa sampai kehilangan jejak Adit saat akan mengunjungi Aini.
Tapi kali ini tidak. Mereka berhasil mengikuti Adit sampai tempat tujuannya. Dan Adit tidak mengetahui hal itu.
Adit mengira telah berhasil mengecoh para pengawal Ardi tadi. Jadi ia cukup santai berkendara dengan Ratri sampai tempat terpencil itu.
Adit dan Ratri juga segera disambut oleh Reni dan para rekannya. Mereka menceritakan perlakuan Oliv pada Aini tadi.
Ratri jelas tak tega hatinya. Ia benar-benar tak bisa melihat kondisi Aini saat ini, yang bahkan telah tak sadarkan diri karena siksaan yang telah diberikan Oliv tadi.
"Mas, ayo bawa Aini ke rumah sakit! Kasihan dia, Mas." Pinta Ratri mengiba.
"Bicara apa kamu? Aku sudah memperingatkanmu tadi untuk tidak membuat keributan bukan?" Marah Adit.
Ratri mendekati Aini dan berusaha membangunkannya. Tapi sama sekali tak ada respon. Aini benar-benar tak sadarkan diri dengan luka yang kemerahan di beberapa bagian tubuhnya yang tidak tertutupi oleh pakaian panjangnya.
Ratri yang memang sudah berjanji pada Adit untuk tidak mengganggu urursan Adit mengenai penculikan Aini, memilih untuk keluar dari rumah itu. Hatinya sungguh tak tega melihat kondisi Aini saat ini.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ni!" Gumam Ratri berkali-kali, sembari berjalan kembali ke mobil.
Adit tersenyum puas saat melihat kondisi Aini. Dan ia juga tersenyum remeh melihat tingkah cengeng Ratri. Dan beberapa saat setelah Ratri keluar dari ruangan gelap itu, Adit duduk santai di satu-satunya kursi yang ada di ruangan itu.
"Tutup pintunya!" Pinta Adit pada Reni.
Reni pun dengan patuh menutup pintu ruangan itu. Ia lalu berjalan mendekati Adit. Dan adegan yang tidak terpikirkan pun terjadi.
Adit menarik Reni kedalam pangkuannya. Ia langsung memeluk pinggang itu dan mendaratkan bibirnya dengan rakus di bibir Reni. Reni pun segera menyambut perlakuan Adit.
"Aku merindukanmu, Ren!" Ucap Adit disela ciumannya.
"Aku juga." Jawab Reni manja.
Dua insan yang sedang duduk berpangkuan itu, kembali saling memagut bibir satu sama lain dengan penuh gairah. Keduanya saling meraba dan menyentuh dengan penuh gejolak yang tak terbendung, karena rasa rindu yang mendera.
"Jangan di sini! Nanti kursinya patah." Tolak Reni, saat Adit berusaha menyiapkan senjatanya.
"Baiklah. Kita bertemu besok di tempat biasa! Aku sudah sangat rindu dengan ini." Jawab Adit santai, sambil memainkan bagian intim Reni.
Reni hanya mengangguk pasrah, karena sudah terpancing oleh permainan tangan Adit yang berhasil membuka kancing baju dan memainkan dua gundukan miliknya serta bagian intimnya.
Reni memanglah cantik. Dengan tubuhnya yang bisa dibilang body goals bagi seorang perempuan, ia bisa dengan mudah menarik perhatian para lelaki yang ia inginkan. Termasuk Adit.
Pertemuan Reni dan Adit pertama kali, membuat Reni langsung tertarik dengan laki-laki yang sudah menikah dua kali itu. Perawakan Adit yang tegap, dengan wajah yang cukup tampan, membuat Reni tak bisa menolak pesonanya.
Adit mengenal Reni setelah mencari tahu informasi tentang beberapa orang yang bisa ia bayar untuk membalaskan dendamnya pada Aini. Ia mendapatkan informasi tentang Reni dan anak buahnya dari beberapa preman yang ia temui di beberapa tempat.
Reni jelas bukanlah wanita bodoh. Ia jelas bahagia karena Adit mau bekerja sama dengannya untuk suatu kepentingan. Yang berarti, ia akan bisa bertemu dengan Adit setelah pertemuan pertama mereka.
Dan hal itu jelas dimanfaat oleh Reni. Ia menggoda dan mendekati Adit setiap ada kesempatan. Dan karena pesona dan kepiawaian Reni dalam merayu, Adit pun akhirnya juga menyambut Reni dengan baik.
Sedang di luar, empat pengawal Ardi baru saja tiba. Mereka menghampiri dua temannya yang sedang mengawasi Adit dan Ratri yang belum lama tiba. Empat pengawal itu segera mendekati rumah dan berusaha mencari keberadaan Aini untuk memastikannya.
Mereka harus memutar jalan lebih jauh, untuk bisa mendapatkan tempat yang aman, untuk bisa memastikan Aini dan lokasinya. Karena dua pengawal Ardi yang mengikuti Oliv, nyaris ketahuan karena medan yang tak mereka kenali dengan baik.
Malam yang makin bergulir, membuat para anak buah Reni mulai sibuk dengan kegiatan mereka. Berjudi untuk mengisi waktu luang. Tak lupa, beberapa botol alkohol juga menemani kegiatan itu. Dan jelas, hal iti memberikan kesempatan untuk pengawal Ardi memastikan Aini.
Meski harus memutar jalan, mereka akhirnya bisa menemukan bagian belakang rumah. Mereka berusaha mencari celah untuk bisa masuk atau sekedar melihat dimana Aini dan bagaimana keadaannya.
Saat sampai di bagian samping belakang rumah, mereka mendengar suara aneh dari dalam rumah. Suara sepasang laki-laki dan perempuan yang sepertinya sedang bercumbu memadu kasih. Rasa ingin tahu mereka pun hadir dengan cepat.
Mereka mencoba mencari celah, mungkin saja di jendela kaca itu ada celah untuk mengintip atau bahkan bisa terbuka. Karena jendela kaca itu ditutupi dengan beberapa papan kayu melintang sebagai pelindungnya.
Dan mereka beruntung. Ada sedikit celah di sana. Mereka jelas berebut untuk mengintip, karena penasaran dengan suara yang terdengar.
"Pak Adit." Ucap lirih salah satu diantara mereka yang berhasil melihat.
Iya, mereka berhasil melihat adegan panas Adit dengan seorang wanita yang tidak begitu jelas dan kenali wajahnya. Wanita itu sudah setengah telanjang dan sedang berada di pangkuan Adit.
Tapi, ada hal lain yang mencuri perhatian pengawal itu. Ada seseorang yang tergeletak tak berdaya di atas lantai. Wajahnya samar, tak begitu jelas. Tapi yang pasti, ia memakai jilbab.
"Ada seseorang tergeletak." Ucapnya lagi.
"Siapa?"
"Bu Aini."
"Kamu yakin?" Tanya pengawal lain.
"Wajahnya tidak begitu terlihat jelas. Apa baju yang dipakai bu Aini saat itu?"
"Gamis ungu, kata mas Reno."
"Sepertinya, itu juga baju berwarna ungu."
"Kita cari cara lain! Kita harus segera memastikannya.
Keempat pengawal itu, kembali mencari celah untuk memastikan bahwa Aini yang tergeletak di dalam.
"Atap." Usul satu diantara mereka.
"Apa tidak berplafon?"
Salah satu diantara mereka kembali mengintip, untuk memastikan ada atau tidaknya plafon di atap rumah itu.
"Tidak ada."
"Bagus."
__ADS_1
Mereka segera berusaha untuk memanjat tembok yang ada. Mencoba membuka genteng atap, untuk memastikan siapa yang tergeletak.
"Tunggu!" Cegah salah satu diantara mereka.
"Apalagi?"
"Bukankah ada pak Adit di dalam sedang bercumbu? Jika sekarang, kita pasti ketahuan."
"Benar juga. Biarkan dia selesai! Kita lapor ke mas Reno dulu saja."
Semua pengawal itu mengangguk setuju. Mereka sedikit menunda untuk membiarkan Adit lebih dulu pergi dari ruangan itu. Mereka juga segera melaporkan apa yang mereka temukan pada Reno.
Setelah hampir setengah jam,,
"Itu bu Aini." Ucap salah satu pengawal, yang berhasil melihat wajah Aini dari Atap dengan cukup jelas.
"Beritahu mas Reno!"
"Kita mundur dulu! Tunggu yang lain! Kita jelas kalah jumlah."
Mereka berempat setuju. Mereka langsung kembali ke tempat yang lebih aman.
"Bu Aini ketemu, Mas. Dia di rumah itu." Ucap salah satu pengawal, saat panggilan telepon dengan Reno tersambung.
"Kamu yakin?"
"Iya. Kami sudah memastikannya."
"Oke. Tunggu kami tiba!"
"Baik, Mas."
Panggilan segera terputus.
Mereka pun kembali mengawasi rumah itu sembari menunggu Reno bersama pengawal lain tiba. Mereka juga mengawasi Adit yang belum meninggalkan tempat itu.
Sedang di rumah itu, Adit dan Reni keluar bersamaan dari ruangan itu. Mereka berbincang santai dan menyapa anak buah Reni yang sedang asik bermain di ruang depan.
"Kenapa lama banget sih, Mas?" Kesal Ratri, yang baru saja masuk kembali ke rumah.
"Aku sedang membicarakan sesuatu tadi." Jawab Adit datar.
"Aini bagaimana, Mas?"
"Bagaimana apanya?"
"Kondisinya sekarang?"
"Lihat sendiri!"
Ratri segera berlari menuju ruangan dimana Aini berada. Hatinya makin pedih karena mendapati Aini masih tak sadarkan diri. Dan kini, kondisinya sangat buruk.
Lama Ratri berada di ruangan itu. Ia menyesal karena telah membantu Adit melakukan rencana jahatnya. Ia menangis di dekat Aini.
"Maaf, Ni. Maaf." Ucap Ratri penuh penyesalan.
Sementara di ruang depan, Adit mengobrol dengan semua yang ada di sana.
"Bos, mau diapakan wanita itu?" Tanya salah satu anak buah Reni.
"Iya. Mau kita apakan dia?" Imbuh Reni.
"Terserah kalian! Aku sudah cukup berurusan dengannya." Jawab Adit santai.
"Berarti, boleh dong kalau kita menjamahnya?" Tanya laki-laki lain.
"Kalian masih berselera dengan kondisinya saat ini?" Tanya Adit tak percaya.
"Lumayan, Bos. Daripada harus membayar jal*ng." Sahut laki-laki tadi.
"Terserah!" Jawab Adit enteng.
"Jangan, Mas! Jangan lakukan itu pada Aini!" Tolak Ratri tegas, dengan mata yang cukup sembab.
"Diam saja kamu! Jika sudah selesai, ayo pulang!" Pinta Adit singkat.
"Jangan lakukan itu pada Aini, Mas!" Pinta Ratri lagi.
Adit berdiri dan segera melangkahkan kakinya untuk keluar rumah. Ratri pun refleks mengikuti Adit. Tapi, Adit berhenti tepat sebelum ia keluar dari pintu.
__ADS_1
"Gagahi dia, setelah aku pergi!" Ucap Adit tanpa perasaan.