Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Rencana Kunjungan


__ADS_3

Pagi telah menyapa. Sahutan suara alam, terdengar riuh menyapa sang mentari yang mulai menghangatkan bumi. Langit biru dengan barisan awan putih tipis di beberapa sisi, menjadi lukisan alam yang begitu paripurna, melengkapi pagi ini.


Ardi dan Aini sudah kembali mesra seperti sedia kala. Keduanya bahkan tersenyum bahagia pagi ini, saat keluar dari kamar. Mereka segera menghampiri kamar dua putra mereka bersamaan. Yang ternyata, sudah kosong tak berpenghuni.


"Kemana mereka sepagi ini?" Bingung Aini saat tak mendapati Kenzo dan Umar di kamar masing-masing.


Hari memang masih pagi. Bahkan mentari pun belum sempurna menampakkan sinarnya. Jadi, Aini cukup kebingungan saat tak mendapati dua putranya di kamar masing-masing. Karena seingatnya, Umar dan Kenzo pun tidak berpamitan akan pergi atau melakukan sesuatu pagi ini padanya.


"Mungkin sedang bersama mama atau papa." Ucap Ardi berusaha menenangkan.


Aini segera berlari kecil menuruni tangga. Ia sedikit cemas karena belum menemukan dua putranya.


"Ma! Mama lihat Umar sama Kenzo?" Tanya Aini, saat bertemu Niken di ujung tangga.


"Di atas, sama opanya." Santai Niken.


"Nggak,, eh,,"


Aini lupa, jika rumah Ardi di Surabaya memiliki tiga lantai. Ia hampir saja menjawab Niken, karena tak menemukan Umar dan Kenzo di lantai dua.


Niken hanya menggelengkan kepalanya melihat kepanikan Aini pagi-pagi. Tapi ia bersyukur, berarti Aini sangat memperhatikan putranya.


Aini segera memutar tubuhnya lagi. Ia kembali berlari ke atas untuk mencari Umar dan Kenzo. Dan ternyata memang benar. Umar dan Kenzo ada di lantai teratas sedang berolahraga kecil dengan Rama. Aini segera menghela nafas lega.


"Kaaann, bener yang aku bilang." Celetuk Ardi setelah melihat Umar dan Kenzo sedang asik berolahraga dengan Rama.


"Iya, Mas."


Ardi yang juga mengikuti Aini ke atas, akhirnya menghampiri tiga orang yang sedang berolahraga itu bersama Aini. Mereka jelas disambut dengan senyum bahagia oleh ketiganya.


"Papa! Bunda! Ayo olahraga!" Ajak Umar dan Kenzo bersamaan.


"Papa tadi udah olahraga pagi sama bunda." Santai Ardi.


"Maaass!" Tegur Aini malu.


Aini malu sekaligus kesal pada Ardi. Ia jelas malu pada Rama yang jelas tahu maksud ucapan Ardi. Ia segera mendaratkan cubitan kecil di pinggang Ardi.


"Kenapa? Bener kan tapi?"


"Malu, Mas." Sahut Aini sambil melirik ke arah Rama.


"Kenapa malu? Papa udah biasa dengan hal itu. Ya kan, Pa?"


Ardi menoleh sejenak pada ayahnya. Yang disambut dengan anggukan kepala dari Rama.


Wajah Aini jelas tambah merona. Ia benar-benar merasa malu, karena ketahuan sudah berolahraga pagi dengan Ardi di kamar tadi.


"Kok olahraganya di kamar, Pa?" Celetuk Kenzo.


"Olahraga kan bisa dimana aja, Ken." Santai Ardi.


Kenzo hanya mengangguk paham. Ia dan Umar lalu kembali berolahraga kecil dengan Rama. Dan tak lama, Niken pun menyusul mereka ke atas. Semua akhirnya menikmati pagi di lantai atas. Menikmati kehangatan mentari pagi yang terus menyapu segala yang dikehendakinya.


Setelah selesai, Umar dan Kenzo segera duduk di dekat Aini. Mereka selalu bermanja pada Aini jika tidak ke sekolah.


"Nanti, ikut Bunda ke suatu tempat, ya?" Tawar Aini perlahan.


"Kemana, Bunda?" Tanya Kenzo.


"Ke tempat mama Oliv. Kenzo mau kan?"


"Kita akan mengunjungi tante Oliv, Bun?" Terka Umar.


"Iya." Yakin Aini.


Ucapan Aini jelas didengar oleh semua orang. Rama dan Niken jelas terkejut dengan apa yang Aini katakan pada dua putranya.


"Ni!" Panggil Niken segera.


"Iya, Ma."


"Ardi sudah mengijinkannya, Ma." Sela Ardi.

__ADS_1


Rama dan Niken gantian menoleh pada Ardi dengan bingung.


"Nanti akan Aini jelaskan, Ma!" Sahut Aini paham.


Niken akhirnya mengangguk paham.


"Memang, mama Oliv di Surabaya, Bunda?" Polos Kenzo.


"Iya. Untuk beberapa waktu kedepan, mama Oliv tinggal di Surabaya." Jelas Aini perlahan.


"Dia tinggal di lapas, Ken. Sama mama Ratri dan ayah Adit." Sela Umar.


Ucapan Umar, jelas mengejutkan Rama dan Niken lagi. Mereka tidak menyangka, Umar tahu hal itu.


"Lapas? Dimana itu?" Tanya Kenzo.


"Rumah dari pemerintah, Ken. Aku pernah kesana sama bunda beberapa kali. Ya kan, Bun?" Jawab Umar setahunya.


Kenzo masih belum paham. Ia menatap Umar dan Aini bergantian.


"Iya. Mama Oliv sedang tinggal di rumah dari pemerintah. Mama sedang belajar sesuatu di sana." Jelas Aini hati-hati.


"Apa jauh?"


"Lumayan. Gimana? Mau, kan?"


Aini sangat berharap, Kenzo mau pergi dengannya. Karena sejujurnya, itu adalah permintaan Oliv, bertemu dengan Kenzo.


Oliv sangat ingin bertemu dengan Kenzo. Ia mengatakan pada Aini beberapa bulan lalu, saat ia dan Umar mengunjunginya ke lapas. Sangat tidak mungkin bagi Oliv, bisa bertemu Kenzo dengan keadaannya sekarang, tanpa campur tangan orang lain.


"Apa boleh, Pa?" Tanya Kenzo.


"Boleh, Ken. Asal sama bunda." Jawab Ardi perhatian.


"Papa nggak ikut?"


"Enggak. Papa ada urusan di kantor hari ini. Besok Papa baru bisa nemenin kalian. Oke?"


"Oke, Pa." Sahut Kenzo bahagia.


"Kita akan menemui mama Ratri dan tante Oliv hari ini. Besok, kita baru akan menemui ayah. Sama papa." Jelas Aini.


Umar mengangguk paham.


Obrolan Aini dengan Umar dan Kenzo jelas didengar juga oleh Rama dan Niken. Mereka makin penasaran dengan alasan Aini mengajak dua putranya itu menemui orang-orang yang sudah menyakitinya dulu.


Apalagi, Ardi bahkan mengijinkan dan mau menemani Aini menemui orang yang setahu mereka, adalah orang yang dibenci Ardi. Dan jelas Ardi tidak mau menemui orang yang dibencinya, tanpa alasan yang kuat.


Setelah cukup beristirahat setelah olahraga, Umar dan Kenzo kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Meninggalkan para orang dewasa yang masih ingin menikmati pagi mereka.


"Mama nggak salah denger kan tadi, Di?" Celetuk Niken.


"Salah denger apa, Ma?" Santai Ardi, yang masih bermanja tiduran di pangkuan Aini.


"Kamu mau ke lapas besok?"


"Iya, Ma. Nemenin Aini sama Umar."


Aini tersenyum kecil. Ia lega mendengar nada bicara Ardi yang begitu santai dan tulus menjawab pertanyaan Niken.


Niken pun menghela nafas lega. Ia tidak menyangka, Ardi bisa melakukan itu. Dan itu jelas karena Aini.


"Ayo Sayang, bantu aku bersiap ke kantor!" Ajak Ardi, seraya bangun dari posisinya.


Aini hanya mengangguk patuh. Ia dan Ardi lalu kembali ke dalam rumah lebih dulu. Meninggalkan Rama dan Niken yang masih bersantai.


"Kita tidak salah memilih Aini untuk Ardi, Pa." Ucap Niken bahagia, setelah Ardi dan Aini masuk.


"Iya, Ma. Aini membawa hal baik pada Ardi perlahan-lahan." Aku Rama.


"Iya. Entah apa yang Aini katakan pada Ardi, hingga ia mau menemani Aini menemui ayahnya Umar."


"Satu yang pasti, Ma. Itu bukan rayuan istri pada suami. Tapi rayuan seorang wanita hebat pada lelakinya."

__ADS_1


"Iya. Karena Aini bukan tipikal wanita yang akan merayu suaminya dengan rayuan yang biasa."


"Iya. Beda banget sama Mama."


"Maksud, Papa?" Ucap Niken tak terima.


"Mama pahamlah, maksud Papa gimana." Santai Rama.


Niken merungut kesal. Meski benar adanya, tapi ia jelas kesal karena disindir secara halus oleh sang suami. Niken pun akhirnya meninggalkan Rama sendirian di atas. Dan itu jelas membuat Rama tertawa geli.


Tak berapa lama, semua sudah bersiap untuk sarapan. Semua bertemu di ruang makan untuk bersantap pagi bersama. Dan setelah selesai sarapan, Ardi segera ke kantor bersama Dika yang sudah menjemputnya. Sedang Niken,,


"Boleh Mama bicara sebentar denganmu, Ni?" Tanya Niken yakin.


"Iya, Ma."


Niken mengajak Aini ke taman belakang. Mereka mengobrol bersama di sana. Sedang Umar dan Kenzo, kembali bersama Rama untuk menghabiskan waktu.


"Ada apa, Ma? Apa ada masalah?" Tanya Aini perhatian.


"Tidak. Hanya saja, Mama sedikit penasaran." Jujur Niken.


"Apa tentang rencana Aini mengajak Umar dan Kenzo ke lapas?" Terka Aini.


"Iya."


"Aini sebenarnya sudah dua atau tiga kali ke sana bersama Umar, selama Aini di Banyuwangi. Erna juga tahu tentang itu. Dan Aini yakin, Erna juga mengatakan itu pada mas Ardi."


"Kenapa kamu kesana?"


"Aini hanya ingin Umar tidak melupakan ayah kandungnya. Aini juga ingin tetap menjalin silaturahmi yang baik dengan mas Adit, mbak Ratri dan mbak Oliv juga."


"Tapi,,"


"Tapi mereka pernah melakukan hal buruk pada Aini? Itu maksud Mama?"


Niken mengangguk setuju.


"Semua sudah berlalu, Ma. Semua terjadi juga karena sebuah kesalahpahaman. Jadi, menurut Aini, tidak ada salahnya jika Aini tetap menjalin hubungan baik dengan mereka."


"Ardi?"


"Aini sudah menjelaskan semua pada mas Ardi yadi, Ma. Juga tentang permintaan mbak Oliv yang ingin bertemu dengan Kenzo, meski hanya sekali."


Aini sudah menjelaskan pada Ardi tadi, saat ia membantu Ardi bersiap ke kantor. Ia mengatakan pada Ardi, bahwa Oliv ingin menemui Kenzo. Dan Ardi mengijinkan hal itu, sesuai keputusan awalnya.


"Kamu membawa perubahan yang baik pada Ardi. Terima kasih, Ni." Haru Niken.


"Kita semua, pasti ingin semuanya berubah menjadi lebih baik. Bukan begitu, Ma?"


"Kamu benar."


"Aini hanya melakukan apa yang menurut Aini benar. Selebihnya, adalah kehendak Yang Maha Kuasa, Ma."


"Ardi memang tidak salah memilih dan memperjuangkanmu, Ni."


"Mas Ardi sebenarnya memiliki hati yang baik, Ma. Hanya saja, luka di masa lalunya, sedikit membuat hatinya tertutup dalam beberapa hal. Dan itu perlahan bisa diperbaiki, Ma. Hanya butuh kesabaran. Dan itu juga butuh waktu."


"Iya. Terima kasih, Ni."


"Sama-sama, Ma. Aini juga ingin mas Ardi menjadi laki-laki yang lebih baik, Ma. Untuk Mama, papa dan semuanya."


"Semoga itu bisa terwujud, Ni."


"Aamiin."


"Tolong selalu bantu Aini dan ingatkan Aini jika Aini lupa, Ma! Karena Aini juga bukan wanita yang sempurna."


"Tentu saja, Nak. Kita akan saling mengingatkan untuk kebaikan semuanya."


Aini mengangguk haru.


"Beruntung sekali Kenzo memilikimu sekarang."

__ADS_1


Aini hanya mengangguk lagi. Ia bahkan sudah tidak bisa menahan air mata harunya. Ia langsung menghambur ke pelukan Niken. Dan Niken jelas menyambutnya.


Semua selalu bisa dibicarakan dengan baik-baik. Agar semua pun berakhir dengan baik. Karena jika kita memiliki niat hati yang baik dan tulus, Allah pasti memberikan jalan untuk itu. Yakinlah!


__ADS_2