Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Semakin Jauh


__ADS_3

Hari berganti minggu. Dan minggu berganti bulan. Berjalan dan terus berganti tanpa ingin berhenti. Menapaki setiap garis takdir yang telah tercatat rapi oleh tangan Sang Ilahi.


Tak terasa, tiga bulan sudah Aini menyandang predikat istri pertama. Dan selama tiga bulan ini pula, Aini menyadari perubahan sikap Adit padanya.


Sekeras apapun seorang suami berusaha bersikap adil pada istri-istrinya, itu tetaplah bukan hal mudah. Pasti akan ada salah satu diantara para istri itu yang sedikit tersisih dan terabaikan. Dan itulah yang kini Aini alami.


Aini mulai merasakan Adit sedikit menjauh darinya. Apalagi, ketika Suharti berkunjung ke rumah, ia pasti akan sangat tersisihkan oleh Ratri yang menjadi menantu pilihannya.


"Kamu nggak kasihan sama suamimu Ni, cari nafkah sendiri?" Sindir Suharti pada Aini yang sedang menemani Umar menonton tv.


Adit, Ratri dan Hadi yang juga sedang duduk santai sembari mengobrol, segera menoleh pada Suharti yang santai dengan martabak yang tadi dibelinya. Sedang Aini, hanya diam tak menanggapi.


"Aini kan harus mengurus Umar Bu'. Lagian, Adit masih sanggup menafkahi istri-istri Adit." Sahut Adit datar.


"Iya Bu'. Aini kan harus mengurus Umar. Biar Ratri saja yang kerja bantu Mas Adit." Imbuh Ratri ramah.


"Sudahlah Bu'! Nggak usah ikut-ikutan dalam rumah tangga Adit lagi. Kalau sampai Ibu berulah lagi, Bapak ajak pindah ke Surabaya." Ancam Hadi tegas.


"Ya biar Ratri yang mengurus Umar di rumah. Dia kan sekalian ikut promil, jadi harus lebih banyak istirahat kan. Siapa tahu, gara-gara momong Umar, Ratri juga segera hamil." Sahut Suharti santai.


Adit dan Ratri terdiam. Hati mereka setuju dengan pemikiran Suharti. Tapi mereka juga tak bisa memaksa Aini untuk bekerja dan meninggalkan Umar begitu saja. Mengingat, Aini adalah ibu kandungnya. Dan selama ini, Aini merawat Umar sendiri tanpa bantuan pengasuh.


"Ayo pulang Bu'!" Ajak Hadi cepat, seraya berdiri dari kursinya.


"Kok pulang Pak?" Tanya Suharti tak terima.


"Pulang ya pulang!" Sahut Hadi seraya berjalan menghampiri Aini dan Umar.


"Akung pulang dulu ya Le!" Pamit Hadi pada Umar yang asik menonton tv di pangkuan Aini.


Umar dan Aini lalu menyalami Hadi. Suharti pun kemudian berpamitan juga pada cucu pertamanya dengan hati yang sedikit kesal, karena mendadak diajak pulang oleh suaminya.


Ketika malam mulai larut, Aini pun sudah mengantar Umar ke alam mimpinya. Badannya mendadak demam tinggi, dan kebetulan malam ini Adit sedang tidur bersama Ratri. Aini membulatkan tekadnya untuk menyusul Adit dan meminta bantuannya untuk menjaga Umar malam ini hingga demamnya turun.


Ketika sampai di depan kamar Ratri, Aini menghentikan langkahnya karena tak sengaja mendengar percakapan Adit dan Ratri.


"Kasihan Umar Mas kalau Aini kerja." Suara Ratri terdengar cukup lirih.


"Tapi aku juga tak bisa membiarkanmu kembali bekerja. Kamu kan sedang menjalani promil Sayang." Jawab Adit.


"Aku sebenarnya juga sependapat denganmu dan Ibu Mas. Tapi, apa harus Aini bekerja?"


"Aku sebenarnya masih mampu menafkahi kalian."


"Kalau begitu, Aini tak perlu kembali bekerja kan Mas?"


"Entahlah Sayang. *Sebenarnya, aku juga sependapat dengan Ibu. Mungkin dengan kamu mengurus Umar, kamu juga bisa segera hamil. Seperti kata orang-orang tua*."


Aini melangkah mundur perlahan. Tubuhnya semakin lemas mendengar penuturan suaminya. Ia pun mengurungkan niatnya meminta bantuan Adit untuk menemani Umar malam ini. Dan memilih kembali ke kamarnya dengan tangan hampa.


Hati Aini terasa begitu pedih malam ini. Dengan tubuh demamnya, ia terlelap begitu saja disamping Umar. Bahkan, ia terlupa untuk meminum obat demam yang sudah ia siapkan sedari tadi.


Hingga pagi menjelang. Aini terbangun karena tangan Umar tak sengaja menepuk wajahnya. Tubuhnya masih demam pagi ini. Beruntung, Umar tidak rewel semalam. Jadi dia bisa beristirahat lebih tenang.


Saat melirik ke arah jam dinding di kamarnya, ia segera bangun dari tidurnya. Ia sudah terlambat melaksanakan sholat subuh ternyata. Ia pun bergegas mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat subuh.


Saat Aini sedang sholat, Adit masuk ke kamar. Adit terkejut karena tak biasanya Aini terlambat sholat. Ia menunggu Aini hingga selesai sambil menemani Umar yang masih terlelap.


"Aku ingin menginap di rumah Ibu Mas." Ucap Aini setelah ia selesai sholat.


"Oke. Aku juga sudah lama tidak menginap di rumah Ibu." Sahut Adit santai.


"Mbak Ratri bagaimana Mas?"


Adit terdiam. Ia sejenak lupa jika ia memiliki dua istri saat ini.


"Aku akan menginap dengan Umar saja malam ini. Mas tetap di rumah dengan Mbak Ratri. Kasihan Mbak Ratri jika di rumah sendirian."


Aini berjalan keluar kamar perlahan. Kepalanya sedikit pusing pagi ini. Efek demam sejak tadi malam, tubuhnya makin terasa tidak nyaman hari ini. Ia meninggalkan Adit yang masih kebingungan menghadapi Aini yang terasa makin menjauh darinya.


Di dapur, Ratri sedang menyiapkan air panas untuk membuatkan minuman hangat untuk Adit. Aini perlahan menghampirinya.


"Mau masak apa Ai hari ini?" Tanya Ratri ramah.

__ADS_1


"Mbak Ratri pengen makan apa? Aini sedang tidak ada ide." Jawab Aini lirih.


"Kamu sakit Ai? Kok suaramu lirih gitu? Wajahmu juga pucat." Ucap Ratri sambil berjalan menghampiri Aini yang sedang berdiri di depan kulkas untuk memilih bahan makanan.


"Enggak kok Mbak." Jawab Aini singkat.


Ratri segera memegang tangan Aini. Istri kedua Adit itu, bahkan bisa merasakan panas tubuh Aini meski terhalang oleh lengan panjang gamis Aini.


"Kamu demam gini Ai. Kamu istirahat aja! Biar aku yang siapin sarapan." Ucap Ratri perhatian.


"Mbak Ratri mau makan apa? Cuma ada kentang dan telur di kulkas. Kemarin Aini lupa belanja."


"Udah, kamu istirahat aja!' Pinta Ratri sembari merebut kentang yang Aini ambil dari kulkas.


Tubuh Aini terhuyung kedepan karena ulah Ratri. Ia bahkan sedikit menubruk tubuh Ratri. Ratri pun menangkap tubuh Aini sebisanya.


"Mas! Mas!" Panggil Ratri sedikit berteriak.


Aini segera menegakkan lagi tubuhnya sembari menahan kepalanya yang berdenyut keras. Ia berusaha berdiri tegak demi menutupi kondisinya di depan Adit.


"Kenapa teriak-teriak pagi-pagi?" Tanya Adit saat menghampiri dua istrinya.


"Aini demam Mas. Badannya panas sekali." Sahut Ratri cepat.


"Enggak kok Mas. Mbak Ratri mengada-ada. Mbak Ratri cuma pengen masak sarapan buat Mas." Sahut Aini cepat.


Adit tak percaya pada Aini. Ia paham betul, bagaimana kondisi Aini jika sedang tidak enak badan. Ia pun bisa melihat, wajah Aini yang pucat sejak tadi.


Aini berjalan menjauh dari Adit. Ia cukup yakin, Adit akan mendekatinya dan mengecek apa yang Ratri ucapkan. Namun sayang, kepalanya berdenyut makin keras. Ia berhenti tepat di belakang tubuh Ratri sembari memejamkan matanya dan berpegangan pada meja dapur.


"Tak usah membohongiku! Ayo, istirahat di kamar!" Pinta Adit yang tiba-tiba sudah memegangi kedua lengan Aini.


Aini melepaskan tangan Adit di lengannya.


"Aku bisa sendiri Mas." Sahut Aini lirih.


Aini berjalan memutari meja dapurnya. Ia berjalan sambil berpegangan pada apapun yang bisa ia pegang untuk dijadikan sandaran tubuhnya agar tak terjatuh.


Adit mengikuti Aini. Ia takut, jika Aini sampai terjatuh seperti yang sudah-sudah.


Langkah Adit terhenti saat mendengar ucapan Aini. Ia belum pernah melihat Aini yang seperti ini. Biasanya, Aini akan sangat manja padanya jika sedang tidak enak badan. Ia bahkan kadang harus bolos kerja, demi menemani Aini yang manja jika sedang sakit. Tapi kali ini, Aini bahkan tak mau ia di dekatnya.


Adit menoleh pada Ratri. Ratri hanya menganggukkan kepala.


Adit lalu kembali mengikuti langkah Aini kembali ke kamarnya. Saat Aini hendak menutup pintu, Adit mencegahnya.


"Biarkan aku menemanimu Sayang! Seperti biasanya." Ucap Adit seraya menahan pintu.


"Aku bisa sendiri Mas." Sahut Aini makin lirih.


Adit tetap tak menghiraukan jawaban Aini. Ia memaksa masuk ke kamarnya yang selama ini ditempati bersama Aini.


Aini yang tubuhnya sedang lemah, sedikit terhuyung ke belakang karena tak bisa menahan pintunya lagi. Adit pun segera menangkap tubuh Aini yang hampir terjatuh.


"Lepaskan Mas! Kasihan Mbak Ratri sendirian di dapur. Mas temani Mbak Ratri saja!" Pinta Aini sambil sedikit meronta.


"Kamu sedang sakit Sayang." Jawab Adit lembut.


"Panggil aku Aini saja Mas." Pinta Aini datar.


"Sudah, jangan banyak bicara! Istirahatlah! Umar biar aku yang menjaganya nanti. Dan malam ini, kamu tak boleh menginap di rumah Ibu jika kondisimu seperti ini." Sahut Adit tegas.


"Aku kangen Ibu Mas."


"Besok kan bisa Sayang, jika kondisimu sudah membaik."


Aini hanya menggelengkan kepalanya sambil terus meronta agar terlepas dari pelukan Adit.


"Jangan membantahku! Kamu tak pernah seperti ini sebelumnya. Aku tak akan tenang jika kamu menginap di rumah Ibu dengan kondisimu seperti ini. Kamu tahu itu bukan?"


Hati Aini makin menciut mendengar ucapan Adit.


"Lepas Mas! Nggak enak jika dilihat Mbak Ratri." Sahut Aini sekenanya.

__ADS_1


"Biar! Kamu juga istriku." Jawab Adit tegas.


"Lepas Mas! Aku akan tetap menginap di rumah Ibu malam ini Mas." Jawab Aini dengan sisa tenaganya.


"Kenapa kamu jadi ngeyel gini?" Adit malah mengeratkan pelukannya.


"Mas, lepas!" Aini meronta lebih kuat.


"Kamu ini kenapa?" Bentak Adit sedikit keras.


Aini yang sibuk meronta, terkejut dengan bentakan Adit. Ia menatap Adit dengan tatapan tak percaya dan penuh kekecewaan.


Adit segera menyadari tatapan Aini. Pelukannya pun seketika mengendur.


"Maaf Sayang! Aku tak bermaksud membentakmu." Ucap Adit penuh sesal, setelah Aini berhasil lepas dari pelukannya.


"Biarkan aku sendiri Mas!" Pinta Aini sembari berjalan menuju ranjangnya.


"Sayang! Aku temani di sini ya?" Rayu Adit sambil duduk di tepi ranjang.


"Jangan panggil aku dengan panggilan itu lagi Mas. Panggil aku Aini saja. Itu lebih baik sekarang." Pinta Aini sambil memeluk Umar dan membelakangi Adit.


"Kamu bicara apa Sayang?" Ucap Adit sambil mengusap lembut kepala Aini yang terasa panas.


"Tolong tinggalkan aku sendiri Mas!"


"Tidak. Aku akan di sini menemanimu dan Umar."


Aini diam tak menjawab. Ia memeluk Umar yang sedikit menggeliat karena percakapan kedua orang tuanya. Umar pun akhirnya terbangun.


"Jagoan Bunda sudah bangun. Kita ke rumah Uti ya Sayang!" Ucap Aini lirih sambil mengusap lembut pipi Umar.


"Aku tak mengizinkannya." Sahut Adit cepat.


"Aku hanya ingin menginap di rumah Ibu Mas. Kenapa tak boleh? Kemarin, kamu selalu mengizinkanku. Kenapa sekarang tidak? Apa karena Mbak Ratri? Kamu tak tega meninggalkan dia sendirian di rumah?" Sahut Aini cepat, setelah ia bangun dari posisinya.


"Bukan begitu Sayang."


"Aku tak memintamu untuk ikut menginap Mas. Karena aku tahu, ada Mbak Ratri sekarang di rumah. Jadi, aku akan menginap di rumah Ibu hanya bersama Umar."


"Tapi Sayang, kamu sedang,,"


"Cukup Mas! Dan satu lagi, jangan memanggilku dengan panggilan itu lagi. Panggil aku Aini saja." Tegas Aini.


Adit menghela nafasnya demi menahan kekesalan hatinya pada Aini yang sekarang berani menentang keputusannya dan terasa semakin menjauh. Ia tak tahu, kenapa Aini bisa berubah seperti ini.


Adit akhirnya mengalah pada Aini. Ia meninggalkan Aini dan Umar di kamar.


Aini lantas mengajak Umar mandi dan bersiap untuk berangkat ke rumah Ratmini. Hari memang masih pagi dan kondisi Aini pun belum membaik. Tapi Aini benar-benar ingin bertemu dengan ibunya saat ini.


"Aku antar!" Pinta Adit saat Aini hendak berpamitan.


"Tak perlu Mas! Aku akan naik motor bersama Umar. Mas Adit sarapan saja dengan Mbak Ratri. Kasihan Mbak Ratri sarapan sendiri." Tolak Aini halus.


Perdebatan kecil pun kembali terjadi. Dan akhirnya, Adit kembali mengalah pada Aini yang sungguh berbeda hari ini. Dan ia tak tahu kenapa.


Aini pun berangkat ke rumah Ratmini dengan sepeda motornya perlahan.


Malam harinya, pukul delapan malam, Adit tiba di rumah Ratmini. Aini baru saja terlelap di kamar karena tubuhnya masih demam. Sedang Umar, seharian bermain bersama neneknya.


Aini sudah menceritakan apa yang terjadi di rumahnya pagi ini pada Ratmini.


"Selesaikan masalah kalian! Umar biar tidur dengan Ibu malam ini." Pinta Ratmini lembut setelah Adit menggendong Umar.


"Iya Bu'. Terima kasih."


Adit sejenak bermain bersama Umar. Setelah Umar mengantuk, ia menyerahkannya pada Ratmini. Ratmini pun segera mengajak cucunya itu tidur. Sedang Adit, segera menghampiri Aini di kamarnya.


Adit lalu merebahkan tubuhnya di samping Aini. Ia pun segera memeluk tubuh yang masih terasa sedikit panas itu.


Aini yang merasakan pelukan yang sangat familiar baginya, segera beringsut lebih dalam. Ia membalas pelukan sang suami dengan begitu erat sambil menahan air matanya.


"Aku akan menuruti keinginanmu Mas." Ucap Aini lirih.

__ADS_1


"Keinginan apa Sayang?" Sahut Adit sambil mengusap punggung Aini lembut.


"Aku akan bekerja kembali dan membiarkan Umar diasuh oleh Mbak Ratri ketika aku bekerja." Jawab Aini getir.


__ADS_2