
Siang yang cerah. Terik matahari terasa begitu panas menerpa hamparan bumi nan luas. Memaksa beberapa dari para penghuninya, mencari tempat berlindung dari terik sang surya.
Ardi sedang sangat fokus dengan pekerjaannya di kantor. Belum lagi, pikirannya masih bercabang dengan semua hal yang sedang ia hadapi.
Tiba-tiba, pintu ruangan kantornya terbuka tanpa permisi. Seorang perempuan mungil nan cantik, muncul begitu saja tanpa permisi. Ardi pun reflek menoleh ke arah pintu dan membulatkan matanya saat melihat perempuan itu.
"Aini?" Ucap Ardi sambil berdiri.
Perempuan tadi tersenyum hangat pada Ardi. Ia pun berjalan menghampiri Ardi dengan santai.
"Kenapa, Mas? Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya perempuan itu ramah. Dan memang, itu Aini.
"Aku tidak sedang bermimpi bukan?"
"Kamu bicara apa sih, Mas?"
"Kamu,,??"
"Aku kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Jawab Aini, sambil melihat gamis berwarna ungu yang ia kenakan.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanya Ardi bingung.
"Diantar pak Prapto tadi."
"Apa?"
"Mas kenapa sih? Kenapa melihatku seperti melihat hantu?"
Ardi tak menjawab. Ia memilih mendekati Aini dan langsung memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat. Aini pun lalu membalasnya.
"Mas, kita sedang di kantor!" Tegur Aini segera, karena Ardi tak kunjung melepaskan pelukannya.
"Biarkan seperti ini! Aku sangat rindu padamu, Sayang." Jawab Ardi dengan tangan yang masih tetap memeluk Aini.
Aini diam tak menjawab. Ia membiarkan Ardi memeluknya, karena memang, ia juga rindu pada Ardi.
"Apa Mas ada waktu? Aku ingin pergi ke suatu tempat." Tanya Aini masih dalam pelukan Ardi.
Ardi lalu melepaskan pekukannya. Menatap lembut wajah wanita mungil di hadapannya. Aini pun sedikit mendongak untuk melihat wajah Ardi.
"Aku selalu ada waktu untukmu. Kamu mau pergi kemana?" Sahut Ardi lembut.
"Ke suatu tempat, Mas. Tapi, sedikit jauh. Di luar kota." Jawab Aini manja.
"Luar kota?"
Aini mengangguk manja. "Tapi, jika Mas sedang sibuk, lain kali saja."
"Tidak. Aku sedang tidak banyak pekerjaan." Bohong Ardi.
Aini melirik ke arah meja kerja Ardi. "Tapi, kenapa berkas di mejamu banyak sekali, Mas?"
"Tinggal beberapa saja yang belum kukerjakan. Dika pasti bisa mengatasinya."
"Mas yakin?"
"Kamu tak percaya padaku?" Rajuk Ardi.
"Aku percaya padamu, Mas." Jawab Aini, sambil mengusap lembut pipi Ardi.
Ardi pun tersenyum lalu mengecup tangan Aini. "Aku ambil kunci mobil dulu!"
Aini mengangguk paham. Ardi pun lalu meraih kunci mobil dan ponselnya. Tak lupa, ia berpamitan terlebih dahulu pada Dika sebelum pergi.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan di lorong kantor, Ardi tak segan menggandeng tangan Aini dengan penuh perhatian. Ia tak menghiraukan tatapan para karyawannya.
"Mas, dilihatin banyak orang, itu!" Tegur Aini sambil menahan malu.
"Biar saja! Biar mereka tahu, kamu adalah milikku." Jawab Ardi santai, setelah menghentikan langkahnya dan menoleh pada Aini.
Aini kebingungan menjawab Ardi. Ardi pun lalu kembali melangkahkan kakinya, yang juga diikuti Aini kemudian.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Ardi menoleh pada Aini. Ia seakan ingin mendekap Aini tanpa melepaskannya. Ia merasa sangat bahagia, karena Aini bisa di dekatnya saat ini. Ia bahkan sampai lupa, hal yang sangat mengganjal pikirannya tadi, saat Aini tiba di kantornya.
"Kita mau kemana, Sayang?" Tanya Ardi penasaran, sambil terus menyetir.
"Sebentar lagi kita sampai, Mas." Jawab Aini yakin.
Ardi malah kebingungan dengan Aini. Karena mereka sudah berkendara hampir sembilan puluh menit. Dan memang, sudah keluar dari Kota Surabaya. Tapi ternyata, masih belum sampai juga. Dan Aini pun tidak mengatakan, tempat tujuan yang ingin ia kunjungi dengan jelas.
Tiba-tiba, Aini meminta Ardi membelokkan mobilnya menuju sebuah perkampungan kecil yang sepi penduduk. Beberapa rumah bahkan terbengkalai tanpa penghuni.
"Kita mau kemana, Sayang? Ini, nggak salah jalannya?" Tanya Ardi bingung.
"Enggak, Mas. Di depan ada rumah lagi. Kita ke sana." Jawab Aini yakin.
Ardi hanya menuruti petunjuk yang Aini berikan. Ia melewati jalanan kampung yang benar-benar sepi. Tak ada seorang pun yang mereka temui.
"Itu Mas, rumahnya." Tunjuk Aini, pada sebuah rumah sederhana yang berada nyaris di dalam sebuah kebun tak terawat, yang lebih mirip hutan kecil.
"Itu rumah siapa, Sayang?" Tanya Ardi bingung.
Aini diam tak menjawab.
Ardi lantas memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah yang tadi ditunjuk oleh Aini. Rumahnya cukup besar, untuk ukuran rumah-rumah di sekitarnya yang sudah tak terawat. Rumah itu pun nampak begitu nyaman, dengan beberapa tanaman hias yang ada di depannya.
"Ayo, Mas!" Ajak Aini antusias, saar Ardi selesai memarkirkan mobilnya.
Aini berjalan santai menuju rumah itu. Ardi pun segera mengikutinya. Aini lalu dengan santainya membuka pintu rumah itu. Ardi sedikit terkesiap dengan apa yang dilakukan Aini.
"Ini dimana, Sayang? Ini rumah siapa?" Tanya Ardi lagi.
"Mas, lupa?"
"Lupa apa?"
"Tempat ini, Mas. Rumah ini." Jawab Aini antusias.
"Rumah ini?" Ulang Ardi penuh kebingungan.
Aini mengangguk manja pada Ardi. Ia pun masuk begitu saja ke rumah itu.
"Bukankah di sini, kita bertemu Mas?" Ucap Aini santai, sambil berjalan menuju bagian dalam rumah.
"Apa?"
"Kok Mas lupa, sih?" Rajuk Aini.
Ardi masih terus mengikuti langkah Aini yang menyusuri setiap sudut rumah yang menarik perhatiannya. Rumah itu begitu terawat. Dengan beberapa perabotan rumah yang masih begitu bagus.
"Kamu bicara apa? Kita kan bertemu di sekolah. Dan lagi, ini rumah siapa, Sayang?"
"Mas ini gimana? Kita bertemu di sini, Mas." Jawab Aini santai, sambil terus berjalan.
Aini berhenti di depan salah satu pintu kamar. Ia menoleh dan tersenyum pada Ardi yang masih melihat-lihat suasana rumah yang sangat asing baginya.
"Atau mungkin, ini adalah tempat terakhir kita bertemu nantinya." Imbuh Aini.
__ADS_1
"Apa?"
Ardi makin bingung dengan Aini. Dan ketika Ardi masih berusaha memahami ucapan Aini, Aini tiba-tiba membuka pintu kamar yang ada di hadapannya. Ia pun masuk begitu saja.
Ardi pun mengikuti langkah Aini yang masuk ke dalam kamar. Kamarnya gelap. Ia lalu berusaha mencari saklar lampu di dekat pintu. Seketika, sebuah lampu yang redup menyala.
Ardi makin kebingungan. Karena ruangan itu kosong. Hanya ada sebuah kursi di sana. Dan bahkan,,
"Sayang! Sayang! Kamu dimana?" Ucap Ardi sedikit berteriak.
Tak ada jawaban apapun dan dari siapapun. Ardi lalu masuk ke dalam ruangan itu lebih dalam untuk mencari Aini. Ia menuju sebuah ruang kecil yang mirip seperti toilet.
"Sayang?" Panggil Ardi lagi.
Tapi ternyata, tak ada siapapun di sana. Aini menghilang.
"Sayang! Jangan bercanda! Kamu dimana? Sayang!" Teriak Ardi mulai panik.
"Sayang!"
"Aini!"
Ardi segera berlari kesana kemari mencari keberadaan Aini yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ia mencari ke seluruh sudut rumah sambil berteriak memanggil Aini. Tapi, tak ditemukannya.
Ardi terduduk lemas di kursi yang ada di ruang tamu. Mata tajamnya terpejam karena berusaha mengingat apa yang Aini lakukan tadi. Hingga, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.
"Aini!" Ucap Ardi lagi, seraya berdiri.
Ardi makin kebingungan. Karena tiba-tiba, ia bisa berada di ruang kerjanya di rumah. Ia segera menoleh kesana-kemari untuk memastikan.
"Aku,,??"
Ardi berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun mengingat perlahan, apa yang sedang ia lakukan tadi.
"Astaga! Aku pasti bermimpi tadi." Ucap Ardi, seraya mengusap wajahnya.
"Kamu dimana, Sayang?" Gumam Ardi, seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi yang tadi ia duduki.
Ya, Ardi tadi bermimpi tentang Aini. Mimpinya terasa begitu nyata baginya. Mimpi yang seakan benar-benar terjadi.
Malam ini, Ardi tidak menemani Kenzo di rumah sakit. Ia tadi pulang terlambat dari kantor. Jadi Niken memintanya untuk istirahat di rumah saja. Dan malam ini, Kenzo akan ditemani oleh Niken dan Rama.
Saat pulang tadi, Ardi langsung melihat kondisi Umar. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu, masih banyak diam. Ia masih dilanda kesedihan. Tapi, kondisinya sudah membaik.
Ardi tadi menyempatkan diri untuk mengobrol dan menemaninya hingga tertidur. Ia merasa sangat bersalah pada Umar, karena tak bisa menjaga ibunya dengan baik. Hingga membuat kondisi Umar pun kurang baik.
"Jam berapa ini?" Gumam Ardi lagi, seraya memejamkan kembali netranya.
Malam memang telah larut. Selepas Ardi menemani Umar tadi, ia membersihkan diri dan berniat untuk mengecek beberapa laporan dari pengawalnya di ruang kerjanya. Tapi karena kelelahan, ia malah tertidur di kursinya
Tok, tok, tok. Ketukan dari pintu ruang kerja Ardi, kembali mengalihkan perhatian Ardi. Ardi tadi tidak mengira, jika suara ketukan di pintu itu benar nyata.
"Iya. Masuk!" Sahut Ardi.
Pintu ruang kerja Ardi pun terbuka perlahan. Nampak Prapto perlahan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka.
"Ada apa, Pak?" Tanya Ardi cepat.
"Ada mas Reno, Pak." Jujur Prapto.
Belum sempat Ardi menjawab, Reno menyerobot masuk ke ruang kerja Ardi tanpa permisi. Prapto dan Ardi sampai terkejut.
"Ketemu, Pak. Bu Aini sudah ditemukan." Ucap Reno segera.
__ADS_1