
Manusia tidak pernah tahu, jalan takdir seperti apa yang akan mereka lalui. Apakah jalan itu lurus tanpa hambatan, ataukah penuh dengan persimpangan yang membutuhkan banyak pertimbangan untuk memilihnya.
Aini duduk di sebuah kursi untuk menunggu panggilan dari pihak WO untuk keluar. Ia ditemani Ratna yang sedari tadi belum melepaskannya.
Ratna tersenyum haru menatap adik semata wayangnya yang pagi ini sudah nampak begitu paripurna dengan kebaya berwarna putih yang ia kenakan. Air matanya pun mengalir tanpa permisi.
"Jangan nangis, Mbak! Nanti aku ikutan nangis. Kan make up ku jadi belepotan nanti." Rengek Aini manja.
"Yang ngerias kamu itu udah profesional. Mana ada istilah make upnya luntur dan belepotan karena nangis." Cibir Ratna sambil sedikit sesenggukan.
Aini mengerucutkan bibirnya dengan manja. Ia pun memeluk erat kakaknya itu, setelah berdiri dan menghambur ke tubuh Ratna.
"Kamu harus bahagia, Ni!" Pinta Ratna haru.
"Iya, Mbak. Terima kasih telah menjagaku setelah bapak dan ibu tiada. Mereka pasti bangga padamu." Sahut Aini tak kalah haru.
"Aku hanya punya kamu, adikku satu-satunya. Mana mungkin aku tidak menjagamu."
Aini menganggukkan kepalanya di bahu Ratna.
"Jika nanti Ardi membuatmu menangis, bilang sama Mbak! Mbak akan marahi dia nanti."
Aini pun kembali mengangguk.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat adegan haru itu. Niken. Ia tadi berniat untuk menyapa Aini dan mengatakan beberapa hal pada Aini. Tapi setelah melihat dan mendengar percakapan sepasang kakak dan adik itu, ia mengurungkan niatnya. Dan membiarkan mereka menikmati waktunya.
"Nanti saja aku menemui Aini." Batin Niken.
Niken pun akhirnya kembali ke tempat dimana ia dan sang suami tadi menunggu.
"Besok, kita ke makan bapak dan ibu lagi ya, Mbak?" Ajak Aini.
"Kamu nggak bulan madu?" Tanya Ratna bingung, setelah melepaskan pelukan Aini.
"Mbak ini ada-ada saja. Mana ada hal seperti itu, Mbak?"
"Ardi itu orang berada, Ni. Kehidupannya jauh berbeda dengan kita."
"Tapi, mas Ardi nggak ngomongin soal itu kemarin, Mbak."
"Mungkin, mau bikin kejutan buat kamu." Goda Ratna.
"Mbak Ratna ada-ada aja dari tadi. Kenzo sama Umar gimana, Mbak?"
"Kan ada bu Niken dan pak Rama. Ada Mbak sama mas Imron juga." Goda Ratna lagi, dengan wajah nakalnya.
Pikiran Aini tiba-tiba melayang jauh membayangkan ia sedang berdua dengan Ardi menikmati masa indah pengantin baru. Dan itu membuatnya sedikit melamun.
"Nggak usah dibayangin! Diadepin aja besok." Goda Ratna lagi.
"A,, apa, Mbak?" Gagap Aini terkejut.
Ratna hanya tersenyum melihat adiknya yang wajahnya sedikit malu-malu. Tapi ia bersyukur, karena itu berarti, Aini merasa bahagia menjalani apa yang ia lakukan saat ini.
Tak lama, dari pihak WO ada yang memanggil Aini dan memintanya untuk datang ke tempat acara akad nikah diadakan. Ratna dan Aini pun segera keluar dn berjalan bersama.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Ratna teringat sesuatu karena ajakan Aini tadi. Sesuatu yang membuatnya makin yakin pada Ardi yang memang tulus dan bersungguh-sungguh menerima Aini.
Flashback On
Pagi yang sedikit mendung. Sang surya pun masih belum sempurna menampakkan dirinya. Tapi, keluarga kecil Imron dan Ratna sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Mereka sudah memiliki janji untuk hari ini.
"Ayo, Pak! Keburu kesiangan nanti." Ajak Ratna.
"Iya, Buk."
Imron dan Ratna segera memanasi motor mereka. Mereka akan pergi keluar kota hari ini. Tepat di hari terakhir libur sekolah Rafi dan Deni. Mereka akan ke Jogja. Lebih tepatnya, ke pusara kedua orang tua Ratna.
Ratna sudah janjian dengan Aini. Mereka akan mengunjungi pusara kedua orang tuanya hari ini. Sekaligus, meminta restu untuk pernikahan Aini, dan mengabari beberapa keluarga yang ada di Jogja.
Setelah berkendara lebih dari tiga jam, Imron dan Ratna tiba di rumah adik dari mendiang Ratmini. Mereka beristirahat sejenak, sambil menunggu kedatangan Aini.
Tak lama, Aini menelepon. Ia ternyata baru saja tiba di pusara kedua orang tuanya. Imron dan keluarga kecilnya pun segera berangkat ke makam, yang letaknya tidak jauh dari rumah adik mendiang Ratmini.
"Bu Niken? Pak Rama?" Sapa Ratna tak percaya.
"Iya, Na. Ini kami." Jawab Niken ramah.
Imron dan Ratna segera menyalami Rama dan Niken yang baru saja keluar dari mobil.
"Ardi dan Aini sudah masuk lebih dulu." Tutur Niken.
"Ardi?"
"Iya. Kenzo dan Umar juga ikut."
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan Ardi dan Aini di telepon. Ardi bilang, ia ingin mengunjungi pusara orang tua kalian sebelum menikah dengan Aini. Jadi, mereka membuat janji hari ini." Jujur Niken.
"Tapi, Aini tidak bilang kalau ia akan datang dengan Ardi." Sanggah Ratna.
"Itu memang permintaan Ardi."
"Permintaan Ardi?"
"Iya. Dia takut akan merepotkan keluarga kalian jika dia mengatakan ingin berkunjung."
Ratna terdiam dan berusaha memahami maksud ucapan Niken.
"Kedatanganku dan papanya Ardi, Aini dan Ardi tidak merencanakannya. Kami memang sengaja mengikuti Ardi yang menemui Aini ke Surabaya." Imbuh Niken.
"Maksud, Bu Niken?"
"Dari awal, kami tidak mengatakan pada Ardi dan Aini, jika akan ikut ke Jogja hari ini. Kami merencanakan ini diam-diam. Kami juga ingin berkunjung kemari sebelum mereka menikah." Jujur Niken.
Iya. Rencana berziarah ke makam mendiang orangtua Aini adalah permintaan Ardi. Awalnya mereka hanya akan berangkat berempat, bersama Umar dan Kenzo. Tapi ternyata, Niken dan Rama juga ingin ikut dan sedikit memperkenalkan diri, meski tidak secara langsung.
Ratna tersenyum haru mendengar penuturan Niken. Ia tak menyangka, keluarga Ardi begitu menghargai keluarganya, yang notabene, jauh berbeda dengan mereka.
"Ayo ziarah dulu!" Ajak Rama.
"Iya, Pak Rama." Jawab Imron yakin.
__ADS_1
Imron dan keluarga kecilnya, serta Rama dan Niken, lalu masuk ke makam. Mereka menghampiri Ardi, Aini dan kedua putranya yang masih sibuk membersihkan sekitar pusara ayah Aini.
Mereka semua lalu sejenak membersihkan pusara mendiang orang tua Ratna dan Aini. Setelah bersih, mereka bersama-sama mendo'akannya.
"Buk! Aini akan menikah lagi. Ini calon suami Aini. Namanya mas Ardi. Aini ingin meminta restu dari Ibu dan bapak." Ucap Aini sedih.
Aini tak bisa membendung airmatanya. Perasaannya seketika berubah sedih tatkala mengatakan kalimat itu. Ardi yang berada di sampingnya, segera merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Jangan sedih, Sayang! Mereka pasti bangga memiliki putri sehebat dirimu. Dan jangan lupa, masih ada mas Imron dan mbak Ratna yang selalu ada untukmu." Hibur Ardi.
Aini berusaha keras menghentikan air matanya yang mengalir, tapi terasa begitu sulit. Di benaknya, terbersit angan, akan indahnya hari bahagianya esok, jika dihadiri oleh kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum, Buk. Perkenalkan, saya Ardi. Saya papanya Kenzo, teman sekolahnya Umar. Saya bertemu dengan Aini, juga karena Kenzo dan Umar. Saya kemari, ingin meminta restu dari Ibu dan bapak, karena saya ingin menikahi Aini." Ucap Ardi, demi mengalihkan perhatian Aini.
"Saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan yang seutuhnya pada Aini, karena saya sendiri, pernah melukainya. Tapi, saya akan berusaha membuatnya bahagia, hingga Aini bisa melupakan kenangan buruk yang pernah dialaminya. Saya juga akan selalu berusaha, membahagiakan Umar, seperti saya membahagiakan Kenzo." Imbuh Ardi.
Aini yang masih sesenggukan di pelukan Ardi, segera menengadahkan wajahnya.
"Mas?"
Ardi hanya menoleh sejenak pada Aini.
"Dan terima kasih, karena kalian telah membesarkan, mendidik dan menjaga wanita sehebat Aini. Setelah ini, saya mohon, ijinkan saya yang menjaganya dan menyempurnakan separuh agamanya." Imbuh Ardi lagi, seraya mengeratkan pelukannya pada Aini.
Dan hal itu jelas didengar oleh Imron dan Ratna. Ratna sedikit tercengang, Ardi bisa mengatakan hal itu.
"Apa itu tadi benar Ardi?" Batin Ratna tak percaya.
"Semoga bapak dan ibu merestui mereka ya, Buk!" Ucap Imron penuh harap.
"Iya, Pak. Semoga." Jawab Ratna spontan.
Karena hal sederhana inilah, Ratna semakin yakin dengan Ardi. Ia yakin, Ardi bisa menjadi suami yang baik bagi Aini. Memang sepele, tapi, tidak semua orang bisa melakukan hal itu. Mengakui kesalahannya dan tidak memberikan janji yang begitu tinggi dan penuh harap. Hanya demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Flashback Off
Ratna mengantar Aini ke sisi lain acara ijab qobul. Dan ternyata, dua putra Aini sudah menunggu mereka di sana. Ratna pun ikut menemani Aini di sana. Dan setelah beberapa saat,,
"Saaahh." Sambut para hadirin.
"Alhamdulillah."
Semua mengucap syukur yang dilanjutkan dengan penghulu yang membacakan do'a untuk mempelai. Dan setelah selesai, Aini diminta untuk duduk di samping Ardi, yang kini telah sah menjadi suaminya. Mereka pun menandatangani buku nikah yang setelah itu diserahkan pada mereka oleh penghulu.
Acara segera dilanjutkan dengan ramah tamah dan para tamu juga dipersilahkan menikmati hidangan yang dipersiapkan. Ardi dan Aini pun langsung sibuk meladeni sesi foto selfie para keluarga dan rekan yang hadir. Hingga membuat mereka belum bisa saling mengobrol santai.
Setelah selesai, Aini dan Ardi kembali ke ruang ganti. Mereka kembali dirias untuk acara resepsi yang akan diadakan selepas dzuhur. Mereka pun juga berganti pakaian.
Jika tadi pasangan pengantin itu memakai pakaian tradisional, dalam resepsinya, mereka akan mengenakan pakaian modern. Atau lebih tepatnya, Ardi akan mengenakan jas dan Aini akan mengenakan gaun pengantin, yang kemarin sudah mereka pilih.
Hampir pukul satu siang, Ardi menyambangi ruang ganti Aini. Ia ingin menjemput istri barunya, untuk berjalan bersama menuju acara resepsi, seperti arahan pihak WO. Dan,,
"Masya Allah." Ucap Ardi lirih, kala melihat istrinya berada di balik pintu.
Netra Ardi membulat sempurna. Ia tak menyangka, penampilan Aini begitu menawan saat ini. Dengan balutan gaun pengantin putih pilihannya, Aini nampak bagaikan bidadari di mata Ardi. Terlihat jelas, bahwa Ardi terpukau dengan penampilan Aini.
__ADS_1
"Resepsinya dibatalin aja, Ma!" Pinta Ardi saat melihat ibunya menggandeng Aini.