
Naluri mengalir dengan begitu lembut atas kuasa Sang Ilahi. Memberikan pertanda pada sang rasa, agar lebih peka pada apa yang mungkin terjadi.
Sebagaimana naluri seorang ibu. Yang bisa sangat peka terhadap apa yang ada di sekitarnya. Entah itu baik ataupun buruk.
Dan itulah yang membawa Niken pulang lebih cepat. Nalurinya menuntunnya pada rasa yang tak biasa, hingga ia menyadari, ada sesuatu yang terjadi di rumahnya.
Dan di sinilah Niken sekarang, di rumahnya, di Surabaya.
"Arr,, di."
Panggilan Niken terhenti segera, sesaat setelah ia memasuki kamar putranya. Ia berhenti tepat satu langkah setelah memasuki kamar Ardi. Langkahnya terhenti karena melihat putranya sedang berusaha menenangkan wanita yang dijaganya semalaman.
"Jika Mas Ardi yang melepaskan jilbab saya, lalu, siapa yang menggantikan pakaian saya? Apa,, Mas Ardi juga yang melakukannya?" Tanya Aini cemas.
Ardi terdiam. Wajahnya yang tadi menatap Aini penuh perhatian, tiba-tiba tertunduk begitu dalam. Bahkan, tangan kekar itu, perlahan melepaskan diri dari wajah sang wanita, yang sedari tadi membuatnya begitu cemas.
"Ituuu,," Ardi kesulitan menjawab pertanyaan Aini.
Aini dan Niken menunggu jawaban dari Ardi dengan perasaan masing-masing. Niken telah siap melangkahkan kembali kakinya, tapi ia urungkan.
"Maaf, Ni." Jawab Ardi lirih.
Air mata Aini segera meluncur tanpa permisi. Hatinya hancur, kala mendengar jawaban singkat Ardi. Apa yang ia jaga selama ini, ternyata sudah dilihat oleh laki-laki yang bahkan tidak berstatus mahramnya.
Ingin Aini tidak mempercayai ucapan Ardi, tapi sikap Ardi, membuat keraguan itu makin lemah. Ia tahu, kondisinya semalam mungkin sangat buruk, hingga Ardi harus melepaskan pakaiannya tanpa ijin. Tapi bukankah, ada wanita lain di rumah ini.
Aini membuang pandangannya dari laki-laki yang sedang duduk di sampingnya. Ia belum bisa menerima kenyataan, bahwa tubuhnya semalam ditelanjangi oleh laki-laki itu.
"Tapi, aku tak melihat apapun, Ni. Aku memang mengganti pakaianmu, tapi tubuhmu aku tutupi dengan selimut." Jujur Ardi tanpa ragu.
Aini menoleh lagi pada Ardi dengan tatapan tak percaya.
"Hanya,, bahu dan dada bagian atasmu saja yang tak sengaja terlihat, karena selimutnya tertarik ke bawah saat aku melepaskan gamismu." Imbuh Ardi malu.
Jleb. Ah, hati Aini dipenuhi oleh perasaan yang sulit dijabarkan. Ia tak tahu, harus bagaimana menghadapi sutuasinya saat ini. Air matanya makin deras mengalir.
Ingin Aini marah, karena Ardi telah lancang melepaskan semua pakaiannya tanpa ijin darinya. Ardi bahkan sempat melihat bahu dan dada atas Aini. Tapi, ia juga tak bisa mengabaikan niat baik Ardi, yang pasti ingin menolongnya semalam.
Bagaimana dengan Niken? Ia tersenyum bangga pada putranya, yang berani mengakui perbuatannya. Tanpa harus berbohong terlebih dahulu. Meski, ia tak tahu, bagaimana reaksi Aini nantinya.
"Bukankah ada mbok Sri dan mbak Tika, Mas?" Tanya Aini pasrah.
"Ardi, inii,, kamu sudah sadar, Ni?" Ucap Niken santai, sambil berjalan ke arah ranjang Ardi.
Niken kembali ke kamar Ardi untuk membawakan minuman hangat untuk putranya dan jilbab instan miliknya untuk Aini.
Ardi dan Aini segera menoleh. Mereka segera terdiam. Aini terkejut melihat Niken berada di sana saat ini.
"Bu Niken? Anda sudah kembali?" Sapa Aini tak percaya.
Aini berusaha bangun dari posisinya. Ia tak enak hati pada Niken, karena berada di kamar putranya dengan kondisinya saat ini. Tapi, ia masih kesulitan untuk bisa bangun sendiri, karena tubuhnya masih demam dan kepalanya yang masih terasa pusing.
Ardi berusaha membantu Aini, tapi ditolak dengan pelan oleh Aini.
"Tak usah bangun! Kondisimu masih belum baik." Pinta Niken, saat melihat Aini kesulitan untuk bangun.
__ADS_1
Aini menatap bingung pada Niken. Aini akhirnya kembali tiduran, karena kepalanya yang terasa berat. Ardi pun segera berdiri dan membiarkan Niken duduk di dekat Aini, setelah meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja.
"Ardi sudah menceritakan kondisimu tadi. Aku juga baru saja tiba. Sebenarnya, aku berencana pulang pagi ini. Tapi, karena firasatku tak baik, dan pak Prapto kepikiran terus sama mbok Sri yang lagi nggak enak badan, tadi jam dua kami berangkat dari Malang." Jujur Niken, setelah duduk di tepi ranjang.
Aini sejenak menoleh pada Ardi.
"Tolong maafkan Ardi, karena lancang melepaskan semua pakaianmu tadi malam. Ia hanya ingin menolongmu." Pinta Niken tulus, sambil meraih tangan Aini.
Aini mencoba membaca raut wajah Niken.
"Mama!" Panggil Ardi sedikit manja.
"Kenapa? Bukannya memang seperti itu?" Cibir Niken santai.
"Oh iya, itu, Mama bawakan teh hangat untukmu, Di. Mama tak tahu kalau Aini sudah sadar. Nanti, biar Mama minta Tika bawakan teh hangat untuk Aini kemari." Ucap Niken, sambil menoleh ke arah meja.
Ardi dan Aini pun akhirnya ikut menoleh ke arah meja. Ardi segera berjalan menghampiri teh hangat yang dibawakan ibunya. Ia pun segera meraihnya.
"Minumlah dulu! Agar tubuhmu lebih hangat." Pinta Ardi, sembari menyodorkan gelas teh itu pada Aini sambil setengah berjongkok.
Aini menatap bingung pada Ardi. Tapi, ada rasa bahagia yang menghampiri hatinya. Bahagia karena diperlakukan dengan lembut oleh laki-laki yang namanya telah terukir perlahan di dalam relung hatinya. Sedang Niken, malah tersenyum melihat putranya.
"Paham juga dikasih kode." Batin Niken.
"Itu teh hangatmu, Mas. Mas Ardi minum saja! Saya akan kebawah nanti untuk membuatnya sendiri." Tolak Aini.
Perasaan kecewa dan sedih Aini karena perlakuan Ardi semalam, sedikit teralihkan oleh sikap Ardi dan Niken.
"Kondisimu sedang tidak baik, Ni." Rayu Ardi.
"Benar yang dibilang Ardi, Ni. Minumlah dulu! Dan, kenakan ini!" Timpal Niken, sambil menyerahkan jilbab yang ia bawa tadi.
Aini menatap wanita paruh baya di sampingnya dengan keheranan. Bagaimana bisa, ia diperlakukan begitu istimewa oleh pemilik rumah ini? Sejenak Aini lupa, bahwa ia memang istimewa bagi keluarga pemilik rumah.
"Terima kasih, Bu." Jawab Aini sungkan, sambil menerima jilbab dari Niken.
"Dan sekarang, minum dulu teh hangatnya! Hari ini, kamu istirahatlah dulu di kamar Ardi! Di sini lebih hangat dibandingkan di kamarmu." Pinta Niken.
"Tapi Bu,,"
"Tidak ada tapi! Di kamarmu, kamu juga pasti akan kesulitan meletakkan infusnya bukan?" Remeh Niken.
Aini terdiam. Ia lalu melirik ke arah kantung infus yang tergantung di atasnya.
"Ya sudah, aku akan bangunkan Kenzo dan Umar dulu."
Niken segera berdiri. Ia menepuk bahu putranya setelah tersenyum pada Aini.
"Makasih, Ma." Jawab Ardi.
Niken pun meninggalkan kamar Ardi. Meninggalkan sepasang duda dan janda itu berdua lagi. Ardi pun segera duduk di tepi ranjangnya lagi. Tapi kini, sejajar dengan Aini.
"Aku bantu bangun, minumlah dulu!" Pinta Ardi setelah meletakkan gelas di nakas.
Aini akhirnya pasrah, saat lengan kekar Ardi, menelusup ke bawah punggungnya, dan perlahan mengangkat punggung lemah itu. Karena memang, ia merasa cukup haus saat ini. Aini pun disuapi oleh Ardi. Ia meminum setengah isinya.
__ADS_1
Aini pun segera memakai jilbab yang dibawakan Niken tadi. Ardi lalu kembali menidurkan Aini. Ia pun kembali meraih gelas minum yang isinya masih separuh tadi.
"Eehh, Mas, ituuu,," Cegah Aini, saat melihat Ardi meminum teh dari gelasnya tadi.
"Kenapa?" Tanya Ardi santai, setelah meneguk habis teh hangat sisa Aini tadi.
"Itu kan, teh sisa minum saya."
"Aku keburu kedinginan, Ni."
"Kalau Mas kedinginan, kenapa tehnya tadi diberikan pada saya?"
"Ladies first."
Aini tak paham maksud jawaban Ardi.
"Sudah, tak usah dipikirkan! Kamu bisa wudhu? Sudah adzan."
Aini diam. Ia juga tak tahu, apakah ia bisa berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.
"Ayo, aku bantu!"
Tanpa basa-basi, Ardi kembali membantu Aini bangun. Dan entah sihir apa yang Ardi berikan, Aini pun menurut padanya. Ia memapah tubuh Aini sembari memegangi infus yang masih terhubung ke tubuh Aini.
Aini pun lantas sholat di kamar Ardi sambil duduk. Sedang Ardi, segera keluar kamar untuk sholat dengan Kenzo dan Umar seperti biasa.
Pagi pun mulai gaduh, saat Kenzo dan Umar tahu bahwa Aini kondisinya memburuk. Mereka bahkan sempat menolak untuk berangkat ke sekolah karena ingin menjaga dan menemani Aini di rumah.
Tapi, setelah Aini merayu dan meyakinkan dua putranya itu bahwa ia akan baik-baik saja, mereka akhirnya mau untuk berangkat sekolah.
Dan karena Aini dan mbok Sri sedang sakit, semua tugas rumah dikerjakan oleh Tika. Kecuali memasak. Itu menjadi tugas Niken hari ini. Karena memang, Tika tak begitu pandai dalam memasak.
Pukul tujuh pagi, Dika dan Gilang sampai di rumah Ardi bersamaan. Mereka segera menuju kamar Ardi. Tapi dengan tujuan berbeda pastinya.
"Kenapa nggak ngabari kalau Aini udah sadar? Aku sampai ngebut pas kesini tadi." Kesal Gilang.
"Sorry, lupa Lang." Jawab Ardi, sambil menyengir kuda.
Ardi memang lupa pesan Gilang, untuk mengabarinya jika Aini sudah sadar. Ia terlalu fokus pada Aini yang masih terbaring di kamarnya.
Gilang segera memeriksa kondisi Aini. Setelah memastikan kondisinya sudah stabil, Gilang melepaskan infus di tangan Aini. Ardi dan yang lainnya pun lega, karena hal itu.
Gilang juga menyarankan, sementara ini, Aini diminta beristirahat di tempat dengan suhu kamar yang cukup hangat. Dan itu, jelas menjadikan Ardi memilki alasan untuk menahan Aini di kamarnya. (Dasar Pak Duda, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan 😏)
"Kamu mau ke kantor?" Sindir Gilang, saat ia dan Ardi berjalan keluar kamar.
Gilang tahu, Ardi sebenarnya sangat mencemaskan kondisi Aini. Jadi ia sedikit menyindir Ardi untuk memastikannya.
"Iya, nanti. Aku mau ke rumah Oliv dulu." Jawab Ardi santai.
"Ngapain?"
"Jenguk asistennya. Aini bilang, ia jatuh kemarin."
Gilang menoleh pada Aini sejenak. Ia yakin, Aini mendengar kalimat yang diucapkan Ardi. Karena mereka masih ada di dalam kamar. Gilang sedikit kebingungn dengan sikap Ardi. Tapi ia yakin, ada hal yang disembunyikan Ardi darinya.
__ADS_1
Aini yang tadi matanya mengikuti arah langkah dua sahabat itu, sedikit tertegun mendengar jawaban Ardi. Hatinya sedikit menciut karena hal itu. Ada rasa kecewa dan cemburu yang mendadak menghampirinya. Mengingat, Ardi begitu perhatian padanya beberapa hari ini. Tapi, ternyata ia juga masih begitu perhatian pada Oliv. Bahkan, ia berniat menjenguk asisten Oliv yang jatuh kemarin. Yang ia yakin, itu hanyalah sebuah kebohongan belaka.
Tak ada yang tahu, apa isi hati seseorang. Orang lain hanya bisa menebaknya, tanpa tahu yang sebenarnya.