
Bulan dan bintang bersinar cerah. Menggantung indah diantara kegelapan malam. Menerangi dan menyinari pekatnya asa, yang perlahan hadir memenuhi relung jiwa.
Selepas isya, suasana vila yang di sewa Ardi masih begitu riuh. Semua bersiap untuk makan malam yang sedang disiapkan para pria yang ingin menikmati ikan bakar seperti rencana yang sudah Ardi persiapkan.
Tadi sudah ada yang mengantarkan ikan laut ke vila itu selepas maghrib. Dan kini, mereka bersiap untuk mengolahnya. Para wanita sudah menyiapkan bumbu yang diperlukan. Tinggal para pria yang akan bekerja untuk membakarnya di atas bara api. Para bocil, jelas tinggal menikmati saja nanti.
"Ma! Mama lupa bawa kecap?" Tanya Ardi setelah kebingungan mencari bumbu berbahan kedelai hitam itu.
"Enggak kok. Mama udah beli banyak kemarin. Coba kamu tanya mbok Sri atau Aini. Mereka yang mengemas keperluan tadi pagi." Jawab Niken yakin.
Deg. Ardi malah mematung. Ia teringat percakapannya dengan Aini tadi saat mereka hendak pulang dari pantai. Hatinya mendadak gugup tak terkira kala nama itu menggema di telinganya.
"Nah, itu Aini. Aini!" Panggil Niken santai.
Ardi berusaha keras menutupi kegugupannya. Ia masih tak tahu, harus bagaimana menghadapi Aini. Ia memilih berdiri diam dan tak menoleh ke arah Niken melihat Aini.
Aini yang baru saja membantu Maya menenangkan putrinya, segera menghampiri Niken. Ia juga jelas melihat, ada Ardi di depan Niken. Ia pun ikut dilanda kegugupan. Dan pastinya, alasan yang sama dengan Ardi, yang juga menjadi penyebab kegugupan Aini.
"Iya, Bu. Ada apa?" Tanya Aini senetral mungkin.
"Kamu nggak lupa bawa kecap yang kemarin udah disiapin, kan?" Tanya Niken segera.
"Tidak, Bu. Apa saya lupa belum membawanya ke depan?" Sahut Aini bingung.
"Ini, Ardi yang nanyain."
Aini segera menoleh ke arah laki-laki yang bediri di sebelahnya. Dan tanpa sengaja, Ardi pun menoleh padanya.
"Sebentar, akan saya cek di dapur." Pamit Aini segera.
Aini tak bisa berlama-lama bertemu pandang dengan wajah tampan itu. Hatinya akan bergetar hebat, hingga membuat tubuhnya berkeringat dingin tak karuan. Jadi, ia memilih segera menghindar darinya yang sudah menggetarkan hatinya kembali.
"Sana, ikut Aini!" Pinta Niken santai.
Niken pun melenggang meninggalkan Ardi yang masih mematung. Ardi malah berpikir berkali-kali untuk menuruti permintaan ibunya. Tapi akhirnya, ia pun melangkahkan kakinya ke dapur.
"Maaf, Mas. Saya lupa membawa kecapnya ke depan tadi." Ucap Aini sambil tertunduk, dengan tangan yang mengulur untuk menyerahkan beberapa kemasan kecap.
Ardi segera menerimanya. Aini pun berniat untuk segera berpamitan.
"Saya per,,"
"Ni,,"
Ucapan Aini terpotong, saat Ardi memanggilnya. Aini pun refleks mengangkat wajahnya.
"Iya?"
"Maaf. Jika ucapanku tadi membuatmu tidak nyaman." Tulus Ardi.
Aini segera tertunduk kembali.
__ADS_1
"Aku bukan tipikal orang yang bisa dan akan menyembunyikan perasaanku pada orang lain. Aku hanya ingin jujur padamu." Jelas Ardi.
Aini masih diam tak bereaksi.
"Terima kasih kecapnya." Imbuh Ardi.
Ardi segera pergi meninggalkan Aini. Ardi mengatakan itu, karena ia menyadari perubahan sikap Aini semenjak mereka meninggalkan pantai tadi. Aini nampak sedikit menghindari Ardi. Ia merasa tak nyaman dengan sikap Aini.
Sedang Aini, lantas mencari kursi, karena kakinya mendadak lemas begitu saja. Ia tak ingin terlihat konyol, karena tiba-tiba terjatuh tanpa alasan.
Aini pun kembali mengingat apa yang tadi Ardi ungkapkan padanya.
Flashback On
"Bagaimana jika aku yang jatuh hati padamu?" Ucap Ardi dengan penuh keyakinan hatinya.
"Apa?"
Aini segera menghentikan langkahnya. Tepat satu langkah di belakang Ardi. Ardi yang menyadari Aini berhenti, pun segera berhenti dan berbalik badan.
Aini menatap penuh keterkejutan pada laki-laki di hadapannya itu. Ia mencoba membaca raut wajah Ardi yang kini menatapnya dengan seksama. Tak ada raut wajah kebohongan atau sekedar candaan di sana.
"Aku juga tak tahu, sejak kapan aku mulai jatuh hati padamu. Aku juga tak tahu, kenapa aku bisa jatuh hati pada dirimu. Tapi yang aku tahu, aku selalu mengingat dan mengkhawatirkanmu. Aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpamu. Aku sangat ingin selalu berada di dekatmu. Aku bahagia, jika melihatmu meski hanya sejenak. Tatapan teduhmu, bisa menenangkanku dalam sekejap. Senyuman di wajahmu, bisa menghilangkan lelahku meski aku tak memintanya."
Aini kebingungan mendengar setiap kata yang Ardi ucapkan. Ia berusaha keras, memahami apa yang Ardi utarakan. Meski ia tahu, itu hanyalah kalimat-kalimat yang sederhana.
"Aku tak akan meminta atau bahkan memaksamu membalas perasaanku. Aku tahu, mungkin ini sangat mengejutkanmu. Tapi aku hanya ingin jujur padamu."
"Ayo pulang! Mereka pasti sudah pergi lebih dulu." Ajak Ardi demi mengurai suasana.
Ardi pun meraih tangan Aini. Ia menggandengnya dengan penuh keyakinan.
Aini yang tadi terpaku sambil menatap Ardi penuh tanya. Segera mengalihkan perhatiannya ke arah tangannya yang digenggam lembut oleh Ardi. Ia pun refleks melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Ardi, kembali ke parkiran mobil.
Sepasang duda dan janda itu, sibuk dengan perasaan dan pikirannya masing-masing. Ardi jelas dengan cemas dengan reaksi Aini nanti. Dan Aini, masih bingung dengan apa yang akan ia katakan dan lakukan pada Ardi nantinya.
Mereka pun pulang dengan lebih diam. Nyaris tak ada percakapan. Hanya Ardi yang sesekali bertanya, tapi Aini menanggapinya dengan secukupnya saja. Aini masih terkejut dengan pengakuan Ardi.
Flashback Off
"Apa sikap mas Ardi belakangan ini, juga karena hal itu?" Gumam Aini.
Aini mulai teringat beberapa perlakuan Ardi yang cukup berbeda. Cukup tak biasa. Dari pembelaan Ardi untuk Aini saat di rumah Adit. Perubahan sikap Ardi yang sedikit romantis setelah kepulangannya dari Bandung. Kekhawatirannya saat menemukan Aini terjebak hujan hingga malam karena ulah Oliv. Hingga perhatian Ardi yang sangat besar, saat Aini pingsan di atap rumahnya.
"Tapii, mbak Oliv dan Kenzo?"
Hati Aini makin bimbang ketika teringat pada Oliv. Ia masih ingat, bahwa Oliv ingin kembali pada Ardi dan Kenzo. Ia ingin menjadi ibu Kenzo seutuhnya kembali.
"Mungkin itu alasan mbak Oliv meninggalkanku waktu itu? Dia ingin memberiku peringatan, agar tak aneh-aneh pada mas Ardi." Batin Aini.
Aini menghembuskan nafas beratnya. Ia tak tahu harus bagaimana menyikapi semua hal itu.
__ADS_1
Ingin rasa hati Aini, membalas perasaan Ardi yang begitu nyata terasa. Tapi, ia juga tak bisa mengabaikan, mantan istri Ardi, yang ingin kembali menjadi ibu yang lebih baik untuk putranya. Ia juga seorang wanita, yang juga paham bagaimana perasaan wanita lain jika di posisi itu.
Lama Aini duduk sendirian. Memikirkan kemelut hatinya yang mulai mendera. Yang mulai mengusik keyakinannya.
Awalnya, Aini ingin menutupi perasaannya pada Ardi. Ia berniat memendam perasaan pada laki-laki yang berhasil menggetarkan kembali hatinya yang sempat terluka. Tapi, ucapan dan perlakuan Ardi, tak bisa ia abaikan begitu saja.
Kebimbangan Aini akhirnya teralihkan oleh panggilan Umar yang mengajaknya untuk makan malam bersama yang lain. Ia pun berusaha menutupi gelisah hatinya semaksimal mungkin.
Semua larut dalam obrolan dan canda tawa disela acara makan malam yang penuh kehangatan. Berbagi cerita dan cinta dalam riuhnya suasana kekeluargaan.
Selesai makan malam, semua mulai bersiap untuk beristirahat. Beberapa dari anak-anak sudah terbang ke alam mimpi karena kelelahan. Tapi, keriuhan sedikit terjadi.
"Kamu gimana sih, Di? Kamarnya kenapa kurang satu?" Kesal Niken.
Ardi mencoba kembali mengingat perhitungannya. Ia ingat betul, sudah menghitung jumlah kamar yang diperlukan agar semua mendapatkan kamar untuk beristirahat.
"Kenapa jadi kurang satu?" Gumam Ardi bingung.
"Dika, bukankah kemarin kita sudah menghitungnya?" Tanya Ardi cepat.
"Iya, Pak."
"Kenapa jadi kurang satu?" Tanya Ardi ikut kesal.
Dika pun sebenarnya sudah ikut kebingungan seperti Ardi. Ia juga ingat betul, sudah menghitung jumlah kamar yang diperlukan.
Iya, ada satu orang yang tak mendapatkan kamar saat ini. Aini. Ia sedari tadi keluar masuk kamar Umar dan Kenzo untuk urusan pribadinya. Ia tak membawa banyak baju ganti, jadi ia menjadikan satu baju-bajunya di tas Umar.
"Kita tidak salah menghitung, Pak. Hanya ada sedikit kesalahan saja." Celetuk Dika.
"Apa?"
"Anda kemarin menyiapkan satu kamar untuk Umar dan bu Aini, dan satu kamar lain untuk Anda dan Kenzo. Tapi, malam ini, Kenzo dan Umar sudah tidur dalam satu kamar yang sama. Jadi, jelas saja, bu Aini,,"
Dika sengaja menggantung kalimatnya. Aini dan Ardi malah tanpa sengaja saling pandang. Mereka paham apa yang Dika jelaskan.
"Semesta mendukungmu, Di." Goda Gilang semangat.
Semua orang pun segera menoleh pada Gilang yang nampak begitu bahagia karena bisa menggoda sahabatnya itu. Apalagi, sahabatnya itu terjebak dalam situasi yang tak direncanakan.
Semua orang paham maksud ucapan Gilang. Tapi tidak Aini. Ia tadi tidak mendengar ucapan Gilang saat berteriak di pantai. Jadi, ia cukup kebingungan dengan sikap Gilang.
"Bener juga." Batin Niken kegelian.
Saat semua menahan tawa karena ulah Gilang, Ardi dan Aini malah gugup tak terkira. Mereka sama-sama tak tahu bagaimana harus bereaksi. Mereka berusaha berpikir keras agar bisa keluar dari situasi yang tak nyaman ini.
"Begini saja,," Sela Niken tiba-tiba.
Niken mengulas senyum nakalnya pada Ardi. Semua pun akhirnya penasaran dengan apa yang akan Niken katakan. Karena mereka tahu, ibu dari Ardi ini, sangat susah ditebak ulahnya.
"Aini tidur di kamar Ardi dengan,,"
__ADS_1