
Perasaan. Mengalir dan merangkai ceritanya masing-masing. Membingkai setiap hal dengan caranya sendiri-sendiri. Menjadikan setiap hal yang terjadi itu, bisa begitu berarti dan penuh makna dalam setiap detilnya.
Ada pepatah Jawa yang berbunyi, witing tresno jalaran soko kulino. Yang kurang lebihnya berarti, bahwa, perasaan sayang itu bisa tumbuh karena terbiasa. Dan itulah yang kini sedang Ardi dan Aini alami.
Seiring berjalannya waktu, perasaan mereka semakin kuat satu sama lain. Perasaan sayang yang tumbuh dengan perlahan karena sebuah ketulusan di hati masing-masing. Meski, tak pernah terucap secara langsung dari bibir mereka satu sama lain, tapi sikap mereka menunjukkan sebaliknya.
Ardi masih tetap setia dengan sikapnya yang terang-terangan jika menyangkut Aini. Ia tak pernah segan untuk selalu menunjukkan perasaannya pada Aini. Dan secara tidak langsung, itu membuat Aini bahagia.
Lalu bagaimana dengan Aini?
Aini sebenarnya masih dalam fase meyakinkan diri dengan apa yang ia rasakan pada Ardi. Meski ia sangat tahu, itu bukanlah perasaan yang sesaat dan jelas tidak bertepuk sebelah tangan. Dan ia mencoba meyakinkan dirinya pada perasaannya itu, dengan menerima segala perlakuan Ardi. Yang sebenarnya, sangat membuatnya merasa aman dan nyaman.
Satu minggu setelah kejadian itu, Hari sudah diijinkan pulang oleh dokter. Ia pulang ke rumah yang berada tepat di sebelah rumah Ardi. Ardi pun menyempatkan diri melihat kondisi Hari, di rumah yang menjadi markas para pengawalnya itu.
"Mana hari?" Tanya Ardi, saat ia kembali sampai di rumah itu, saat malam mulai bergulir.
"Di kamarnya, Pak." Jawab Reno.
"Panggil Hari!" Pinta Reno pada salah satu temannya.
Seorang laki-laki yang juga sedang menyambut kedatangan Ardi ke rumah itu, segera berlari ke lantai dua dan menuju salah satu kamar. Yang bukan lain adalah kamar Hari dan salah satu rekannya.
Tak lama, Hari pun turun untuk menemui Ardi yang sedang duduk mengobrol dengan Reno di kursi ruang makan.
"Malam, Pak." Sapa Hari ramah.
"Malam. Bagaimana kondisimu?" Tanya Ardi datar.
"Sudah lebih baik, Pak." Jujur Hari.
"Ya."
Hati Ardi sebenarnya masih sedikit kesal pada Hari karena kejadian beberapa hari lalu saat di rumah sakit. Bukan kesal, lebih tepatnya cemburu. Tapi, ia juga tak bisa mengabaikan kondisi Hari begitu saja. Meskipun, itu adalah salah satu resiko dari pekerjaannya saat ini, menjadi pengawal pribadi.
Flashback On
Dua hari setelah Ardi dan Aini menjenguk Hari ke rumah sakit, mereka kembali mengunjungi laki-laki yang masih berada di atas ranjang itu. Hari masih belum diijinkan oleh dokter untuk pulang, demi memastikan kondisi luka dan hasil operasinya memanglah baik.
Dan kunjungan Aini itu, tidak disia-siakan oleh Hari. Ia sedikit menggoda Aini untuk membuat atasannya itu sedikit cemburu. Karena jelas, posisinya kini jelas menang banyak. Karena ia sedang sakit karena menyelamatkan Aini kemarin. Dan Aini masih merasa tak enak hati untuk itu.
Aini mengobrol cukup banyak dengan Hari. Ia sangat santai menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang Hari ajukan.
"Bu Aini, sudah lama ya kenal dengan pak Ardi?" Tanya Hari polos.
"Belum, Mas. Baru sekitar dua bulan." Jujur Aini.
"Dua bulan?" Ucap Hari tak percaya.
"Iya."
"Saya kira sudah kenal lama, sampai bisa jadi calon istrinya."
"Belum, Mas." Jawab Aini sedikit malu, kini.
Tak dapat dipungkiri. Ucapan Hari ada benarnya. Belum lama Aini berkenalan dengan Ardi, tapi Ardi selalu memperkenalkan Aini sebagai calon istrinya pada orang lain. Dan Aini tak pernah menolak hal itu.
Karena memang, dalam hati kecil Aini, ada secuil harapan yang mulai tumbuh perlahan, bahwa hal itu memang benar adanya. Harapan yang pernah ia tutup rapat karena trauma masa lalunya.
"Aku kalah cepat." Gumam Hari sambil menahan tawa.
"Iya, Mas?" Tanya Aini karena tak begitu mendengar ucapan Hari.
"Kalah cepat, Bu Aini." Jawab Hari santai.
"Dengan siapa?" Tanya Aini polos.
"Dengan pak Ardi."
Ardi segera melirik ke arah Hari dengan tatapan yang tajam. Ia paham maksud ucapan Hari. Hatinya seketika bergemuruh dan sangat kesal pada Hari.
"Maksudnya?" Polos Aini.
"Tidak ada, Bu." Jawab Hari ramah.
Aini menoleh pada Ardi yang ternyata sedang menatapnya lembut. Ia menatap Ardi dengan tatapan penuh tanya. Berusaha mencoba mencari jawaban atas jawaban singkat Hari tadi.
"Kenapa?" Tanya Ardi lembut.
Aini diam. Ia akhirnya malah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Kami permisi pulang dulu, Mas Hari. Semoga Mas Hari lekas sembuh." Pamit Ardi segera.
"Oh, iya Pak, Bu. Terima kasih telah datang kemari." Jawab Hari tulus.
"Sama-sama. Saya juga sangat berterima kasih karena Anda menyelamatkan calon istri saya tempo hari." Sahut Ardi.
__ADS_1
"Iya, Pak. Sama-sama."
Ardi dan Aini lantas meninggalkan ruang rawat Hari setelah mereka berpamitan pada Hari. Yang kebetulan, hanya seorang diri di rumah sakit hari ini.
"Semoga bapak dan ibu bisa segera menikah, dan hidup bahagia." Batin Hari, sambil menatap sepasang duda dan janda itu keluar dari ruang rawatnya.
Flashback Off
"Lain kali, jika ingin bersaing denganku, katakan dengan tegas!" Ucap Ardi sambil berdiri.
"Iya, Pak?" Tanya Hari bingung.
Ardi tak menjawab apapun. Ia malah melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Para penghuni rumah itu pun mengantarkannya dengan sopan.
"Kamu mau main-main sama pak Ardi?" Tanya Reno setelah ia mengantar Ardi ke depan.
"Main-main gimana?" Sahut Hari bingung.
"Bu Aini."
"Oh itu. Aku hanya bercanda. Aku hanya ingin melihat, bagaimana reaksi pak Ardi jika sedang cemburu. Dan ternyata, cukup lucu." Jawab Hari sedikit cekikikan sambil mengingat kunjungan Ardi dan Aini ke rumah sakit.
"Gila kamu!"
"Nggak nyangka aja. Seorang bapak Ardiansyah El Baraja, pengusaha muda dengan banyak prestasi, bisa cemburu sama aku. Hhihi,,"
Beberapa pengawal lain yang juga sedang tak bertugas dan ada di rumah pun ikut cekikikan mendengarkan cerita Hari. Mereka duduk santai dan bercanda bersama sambil melepas lelah.
"Jadi itu maksudmu?"
Suara Ardi tiba-tiba kembali menggema di rumah itu. Semua pengawal yang sedang asik mendengar ocehan Hari pun segera menoleh. Mereka terkejut bukan main, saat seorang laki-laki yang sedang mereka bicarakan, ternyata berdiri tegap di ruangan yang sama dengan mereka.
"Pak Ardi?"
Kumpulan para pengawal yang sedang duduk santai itu pun segera berdiri. Jantung mereka berdegup kencang karena kehadiran Ardi yang tiba-tiba. Bahkan, Reno pun sangat terkejut. Karena ia yakin, telah mengantarkan Ardi hingga ke depan rumahnya.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" Ucap Reno demi mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Ardi masih diam tak menjawab. Ia menatap para pengawalnya itu tanpa ekspresi. Ia lalu kembali berbalik badan dan pergi meninggalkan para pengawalnya itu tanpa berucap.
Para pengawal itu sedikit merasa lega setelah Ardi pergi kembali.
"Apa pak Ardi marah, Mas Ren?" Tanya Hari penasaran.
"Yakin, Mas?"
"Enggak."
"Gimana sih, Mas Reno? Lagian, bukannya tadi Mas Reno udah nganter pak Ardi sampai rumah? Kenapa tiba-tiba pak Ardi bisa ke sini lagi?"
"Tadi udah sampai depan rumah. Tapi memang aku nggak lihat pak Ardi masuk gerbang." Bela Reno.
Semua mendengus sedikit kesal pada Reno. Tapi, tak bisa juga menyalahkan Reno sepenuhnya.
"Udah, istirahat! Besok harus siaga di rumah sakit, kan?" Pinta Reno demi membubarkan para pengawal yang sedikit kesal padanya.
Reno akhirnya mengikuti Ardi keluar rumah. Ia ingin memastikan, Ardi benar-benar sudah sampai rumah dengan selamat. Ia tadi sedikit teledor dengan tugas utamanya itu.
...****************...
Keesokan paginya, Ardi harus pergi ke kantor lebih pagi. Ia padahal juga baru saja pulang dari rumah sakit. Karena semalam, ia menemani Kenzo di rumah sakit, setelah mengunjungi markas para pengawalnya.
Ardi harus ke kantor dulu menyelesaikan beberapa hal, sebelum ia memastikan segala keperluan Aini yang harus menjalani rawat inap lebih dulu, terpenuhi. Sebelum esok hari, Aini harus menjalani pendonoran bersama Kenzo, yang sudah lebih dulu menginap di rumah sakit sejak dua hari yang lalu.
Dan saat ini, sang duda sedang menunggu Aini di kamarnya. Ada yang ingin ia katakan sebelum ia berangkat ke kantor.
"Ada apa, Mas?" Tanya Aini saat ia sudah sampai di kamar Ardi.
"Kamu nanti berangkat dengan pak Prapto, ya! Setelah Umar berangkat sekolah dan semua keperluanmu siap." Pinta Ardi sedikit cemas.
Aini mengangguk paham. Tapi, ia bisa melihat dengan jelas, raut wajah Ardi yang sedikit cemas pagi ini.
"Mas kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Aini perhatian.
"Aku kenapa memangnya?"
"Mas kelihatan cemas. Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Mas?"
Ardi tertegun sejenak. Tapi setelah itu, senyum indah itu tersungging sempurna di wajah tampannya. Ia pun meraih kedua tangan Aini. Mengamatinya dengan seksama, lalu mengusapnya dengan lembut tangan halus itu. (Belum halal, tapi berasa udah halal aja sikap mereka 😅)
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya memikirkan operasi yang akan kamu dan Kenzo jalani besok." Jawab Ardi dengan wajah yang lebih tenang.
"Semua yang harus terjadi, pasti terjadi, Mas. Serahkan semua pada Yang Maha Kuasa. Dia pasti memberi yang terbaik untuk setiap hamba-Nya." Sahut Aini, untuk lebih menenangkan Ardi.
"Bijak sekali calon istriku." Puji Ardi, dengan satu tangan yang sudah meraih dagu Aini, dan sedikit mengangkatnya.
__ADS_1
"Mas! Nanti Umar lihat!" Tegur Aini, sambil menarik tangan Ardi dari dagunya.
"Biar saja! Biar nanti dia minta ayah baru sama kamu." Goda Ardi dengan semangat.
Pipi Aini jelas langsung bersemu merah, meski tanpa blush on yang memerahkannya. Ada perasaan aneh yang menggelitik hati Aini saat Ardi mengatakan hal itu.
Ada rasa bahagia dalam hatinya, karena berarti, Ardi memang benar menyayanginya apa adanya, dan bahkan ingin menjadikannya sebagai istrinya dengan segera.
Tapi sungguh, rasa malu untuk mengakui dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya itu, menutupinya dengan begitu sempurna. Hingga ia hanya bisa tersenyum dan tersipu malu saat ini.
Tanpa berpamitan atau mengucapkan apapun, Aini memilih untuk meninggalkan kamar Ardi dengan segera. Ia sungguh malu, jika sampai Ardi mengetahui perasaan yang menggelitik hatinya saat ini.
Ardi tersenyum kecil saat Aini pergi meningalkannya. Ia jelas bahagia, karena bisa menggoda Aini pagi-pagi begini.
Setelah beberapa saat, Ardi turun bersamaan dengan Umar. Umar segera menghampiri Aini yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. Begitu juga dengan Ardi.
"Kok sepi, Bunda?" Tanya Umar polos.
"Oma Niken dan opa Rama, sudah ke rumah sakit pagi tadi. Mereka gantian nemenin Kenzo di rumah sakit, karena om Ardi mau ke kantor." Jelas Aini penuh perhatian.
Umar pun ber-oh ria mendengar jawaban ibunya. "Om Ardi nggak sarapan?"
"Nanti saja di kantor atau di rumah sakit. Om, harus menyelesaikan beberapa hal pagi ini." Jawab Ardi, setelah menyeruput kopi buatan Aini yang sudah terhidang di meja.
"Kenzo?" Tanya Umar perhatian.
"Do'akan saja, semuanya berjalan lancar!" Jawab Ardi sambil mengusap kepala Umar dengan penuh kasih sayang.
"Oke, Om." Jawab Umar bahagia.
Umar tersenyum lebar pada Ardi. Hatinya begitu bahagia, saat tangan kekar Ardi, mengusap kepalanya dengan penuh perhatian. Ia merasakan aliran kasih sayang yang begitu tulus dari Ardi.
Aini sedikit tertegun saat melihat adegan sederhana itu. Tapi ia bahagia, karena melihat Umar tersenyum begitu bahagia hanya karena perhatian kecil dari Ardi.
"Apa Bunda nanti jadi menginap di rumah sakit?" Tanya Umar cemas.
"Iya, Sayang. Kenapa?" Sahut Ardi perhatian.
"Apa Umar boleh menemani bunda?"
"Usiamu,," Sela Aini, tapi segera dipotong oleh Ardi.
"Aku akan coba bicara dengan pihak rumah sakit nanti." Jawab Ardi ragu.
"Apa bisa, Om?" Tanya Umar antusias.
"Semoga! Karena kalau kamu juga di rumah sakit menemani Kenzo, kondisi Kenzo juga pasti akan cepat membaik nanti." Jawab Ardi dengan sedikit harapan.
Umar mengangguk bahagia. Ia juga ingin, teman rasa saudaranya itu, segera sembuh dari sakit yang dideritanya.
Umar memang tahu, jika Aini akan menjadi pendonor untuk Kenzo. Aini mengatakan hal itu setelah beberapa hari ia pindah ke rumah Ardi. Dan ia juga mengatakan pada Umar, untuk tidak memberitahukan hal itu pada Kenzo, sesuai permintaan Ardi waktu itu. Dan Umar jelas menyimpan hal itu dari Kenzo.
Aini harus mengatakan itu pada Umar, agar nantinya Umar tak akan kebingungan mencari Aini yang harus menjalani rawat inap di rumah sakit, sebelum dan setelah pendonoran.
"Ya sudah, aku berangkat dulu, ya." Pamit Ardi segera.
"Iya, Om." Jawab Umar semangat.
"Iya, Mas. Hati-hati!" Sahut Aini perhatian.
Ardi segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Ia menenteng tas dan jas kerjanya dengan satu tangan. Sedang tangan yang lain, memegang kunci mobil yang sudah ia bawa sejak dari kamar.
Baru saja Ardi melewati pintu depan, tiba-tiba Umar segera berdiri dan berlari ke arah Ardi tadi keluar.
"Mau kemana, Nak?" Tanya Aini sedikit berteriak.
"Ada yang lupa, Bunda. Sebentar!" Sahut Umar juga sedikit berteriak, karena ia juga sudah berjarak cukup jauh dari Aini.
Aini hanya mengelengkan kepalanya karena heran. Ia lalu membereskan gelas kopi Ardi dan menyiapkan bekal sekolah untuk Umar.
Sedang di halaman, Umar segera menghampiri Ardi yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Ardi pun mengurungkan niatnya karena melihat Umar yang berlari ke arahnya.
"Kenapa, Mar?" Tanya Ardi bingung.
"Umar belum salim, Pa." Jawab Umar manja, dengan tangan yang terulur ke arah Ardi.
Ardi pun tersenyum bahagia. Ia segera mendekati Umar dan menyambut uluran tangan Umar.
"Papa berangkat dulu, ya?" Ucap Ardi bahagia.
"Iya. Hati-hati, Pa." Jawab Umar tak kalah bahagia.
Ardi segera berdiri dan masuk ke mobil. Umar melihat Ardi sampai ia masuk ke mobil. Bahkan, Umar segera melambaikan tangannya ke Ardi, saat Ardi hendak menjalankan mobilnya. Ardi pun dengan senang hati membalas lambaian tangan Umar.
Rasa sayang, bisa hadir dari siapapun dan untuk siapapun. Bahkan dari orang yang tak pernah kita sangka sebelumnya. Dan bahkan, rasa sayang itu tidaklah memerlukan sebuah alasan yang jelas dan logis, yang harus bisa dijelaskan dengan perbendaharaan kata yang ada di dunia ini.
__ADS_1