Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Ulah Mama


__ADS_3

Rasa. Terkadang memang harus diungkapkan, meski sudah banyak bukti yang menguatkan. Karena terkadang, ungkapan itu yang menjadi bukti lebih nyata dibandingkan apapun.


Ardi dan Aini sudah selesai menikmati makan siang mereka. Meski harus diwarnai dengan drama kekesalan Ardi pada Evan dan para karyawannya, tapi sesi makan siang Ardi dan Aini berjalan baik. Mereka sangat menikmati waktu mereka saat ini.


Ardi berjalan menuju meja kerjanya. Ia memencet nomor telepon yang ada di ruangannya. Lalu beralih ke ponselnya.


"Kemana Dika? Kenapa teleponku tidak dijawab?" Gumam Ardi saat tidak berhasil menghubungi Dika.


"Kenapa, Mas?" Tanya Aini perhatian.


"Dika tidak bisa dihubungi. Aku ke ruangannya sebentar!"


"Aku panggilkan saja, Mas. Mas masih banyak kerjaan, kan?"


"Kamu yakin?"


"Iya. Lagi pula, aku tidak bisa banyak membantumu, Mas. Kalau sekedar memanggil pak Dika, aku masih bisa. Yang mana ruangannya?"


Ardi pun tersenyum bahagia. "Tepat di sebelah ruangan ini. Jika bingung, tanyakan pada Evan. Dia pasti di depan."


"Iya, Mas."


Aini pun segera keluar dari ruangan Ardi. Ia lalu melihat sekitar, dan hanya menemukan Evan di sana. Ia lalu berjalan menuju pintu yang ada di sebelah ruangan Ardi.


"Pak Dika sedang ke pantry, Bu." Seru Evan.


Aini yang tadi berniat untuk mengetuk pintu, akhirnya mengurungkan niatnya. Ia pun menoleh dan berjalan mendekati Evan.


"Oh, iya. Terima kasih. Nanti kalau pak Dika sudah kembali, tolong katakan padanya, di tunggu mas Ardi di dalam!" Pinta Aini sopan.


"Siap, Bu." Jawab Evan sedikit cengengesan.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Bu. Tapi maaf, Bu! Boleh saya tahu nama Anda? Saya sering melihat foto Ibu di meja pak Ardi, tapi tak pernah tahu nama orang di foto itu." Jujur Evan.


"Saya Aini." Sopan Aini.


"Baiklah, Bu Aini. Terima kasih karena mau memberi tahu nama Anda. Saya jadi tidak penasaran lagi dengan wanita di foto itu." Santai Evan.


"Sama-sama."


Saat Aini berniat kembali ke ruangan Ardi, Dika telah tiba dengan segelas kopi seduhannya sendiri di tangannya.


"Bu Aini. Anda butuh sesuatu?" Sopan Dika.


"Anda dicari mas Ardi, Pak. Tadi mas Ardi mencoba menghubungi Anda, tapi tidak bisa." Jujur Aini.


"Maaf, Bu. Saya sedang membuat minum dan ponsel saya tertinggal di ruangan saya."


"Tidak apa, Pak Dika."


"Mari, Bu Aini!" Ajak Dika, setelah ia meletakkan gelas kopinya di meja Evan.


Aini hanya mengangguk. Dika pun membukakan pintu untuk Aini. Mereka lalu masuk ke ruangan Ardi.


"Minta Evan merevisi semua ini! Berikan padaku hasilnya besok pagi! Dan batalkan jadwal meeting siang ini!" Pinta Ardi segera.


"Baik, Pak."


"Satu lagi. Jangan ada yang masuk ke ruanganku nanti!" Tegas Ardi.


"Baik, Pak. Saya mengerti."


"Kembalilah!"


"Baik, Pak."


Dika lalu keluar dari ruangan Ardi. Ia pun berpesan pada Evan tentang apa permintaan Ardi tadi. Evan pun hanya bisa pasrah menerima pekerjaan yang menumpuk itu.


"Kerjaan Mas, banyak banget ya?" Tanya Aini khawatir.


"Iya, Sayang. Dan aku juga ingin pulang cepat."


"Kedatanganku, sepertinya malah mengganggu pekerjaanmu, Mas." Sedih Aini.


"Mana ada hal seperti itu, Sayang."


Ardi yang masih merapikan beberapa berkas di mejanya, akhirnya menghampiri Aini yang masih berdiri di dekat pintu.


"Kedatanganmu, memberikan semangat bagiku, Sayang." Rayu Ardi.


"Tunggu sebentar, Mas!" Cegah Aini, saat Ardi semakin mendekat.


"Ada apa?"


"Kenapa Mas memanggilku dengan panggilan itu lagi?"

__ADS_1


"Dan kenapa kamu juga menjawabnya ketika aku memanggilmu dengan panggilan itu,, Sayang?" Goda Ardi, sambil menatap Aini dengan sedikit polos.


Ardi dan Aini akhirnya tersenyum bersama. Mereka saling menyadari, bahwa perasaan itu masih ada di hati mereka masing-masing.


"Aku masih menunggumu, Sayang. Menanti hadirmu kembali setelah perpisahan kita dulu." Jujur Ardi dengan lembut, setelah ia berada tepat di depan Aini.


"Aku juga menunggumu, Mas. Menantimu." Batin Aini, di balik senyumnya.


"Maafkan aku karena dulu memintamu pergi!" Sesal Ardi, setelah meraih kedua tangan Aini.


"Aku sudah bilang padamu, Mas. Aku percaya dan tak marah padamu. Jadi, tak ada yang perlu dimaafkan."


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu begitu percaya padaku." Sendu Ardi.


Aini pun mengangguk. "Bukankah itu salah satu pondasi dalam menjalin hubungan? Saling percaya."


"Iya, Sayang. Kamu benar."


Ardi berusaha keras menahan inginnya untuk memeluk Aini saat ini. Meski sebenarnya ia sangat bisa melakukan itu, tapi ia berusaha menahannya agar tidak kelepasan karena rasa dalam hatinya yang begitu menggebu, ingin dilepaskan.


"Oh iya, besok aku ada acara reuni. Kamu maukan menemaniku?" Tanya Ardi penuh harap.


"Aku mau, Mas. Tapi, aku sudah berjanji pada mama untuk menemaninya ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Aku tidak tahu. Mama tidak mengatakan akan mengajakku kemana."


"Siang atau malam?"


"Sepertinya siang, Mas."


"Reuniku malam. Jadi, kamu bisa kan menemaniku?"


"Aku akan tanya pada mama lebih dulu untuk memastikan. Karena aku tak tahu, sampai jam berapa mama akan pergi denganku."


Ardi terdiam. Ia sedikit kecewa karena lagi-lagi, rencananya untuk bisa lebih dekat dengan Aini sedikit terganggu.


"Maaf, Mas." Lirih Aini.


"Tidak apa, Sayang. Setidaknya, kamu di sini saat ini, menemaniku."


Ardi dan Aini pun saling mengulas senyum. Mereka mencoba saling menyadari, bahwa mungkin ini ujian dalam hubungan yang sedang mereka jalani.


Aini akhirnya menemani Ardi, sampai Ardi pulang kerja. Aini pun sedikit membantu Ardi semampunya. Mereka pun pulang tepat waktu karena Ardi juga kasihan pada Aini yang hampir seharian menemaninya di kantor.


Pagi kembali menyapa. Memberi semangat baru bagi setiap jiwa dan raga yang masih bersama. Memberikan harapan yang tiada lelah untuk setiap hati yang penuh asa.


"Mama mau kemana sama Aini nanti?" Tanya Ardi serius, saat menemui Niken di kamarnya.


"Memangnya kenapa? Itu urusan wanita." Santai Niken.


"Ardi mau ngajak Aini ke reuni kampus, Ma."


"Acaranya hari ini?"


"Iya, Ma. Nanti malam."


"Mama sudah terlanjur janji sama temen Mama, mau ketemu sama dia. Mungkin sampai malam juga."


"Ayolah, Ma! Ketemuannya ditunda aja!" Rengek Ardi.


"Kami udah janjian dari kemarin, Di. Lagian, kamu nggak dari kemarin-kemarin sih janjian sama Aini."


"Atau, Mama pergi sendiri aja. Ya? Aini biar pergi sama Ardi."


"Nggak bisa, dong! Temen Mama itu, mau ketemu sama Aini juga. Masak Mama nggak boleh ngajak Aini?" Manja Niken.


"Ya kalau enggak, acaranya diajuin aja Ma waktunya."


"Dia juga ada acara, Di."


"Terus gimana dong, Ma? Masak Ardi pergi sendirian?"


"Ya mau gimana lagi? Pergi bareng sama Gilang aja."


"Gilang kan sama Maya."


"Yaudah, ngajak Dika atau Reno aja."


"Mama, ah! Masak ngajak mereka?" Kesal Ardi sedikit manja.


Niken sedikit cekikikan melihat tingkah putranya. "Makanya, dari kemarin-kemarin kek, cari istri. Sekarang, mau reunian bingung cari gandengan."


"Kan udah ada Ma, gandengannya. Tapi malah Mama ajak pergi."


"Pokoknya, Mama mau pergi sama Aini hari ini. Nggak tahu juga sampai jam berapa nanti." Keukeuh Niken.

__ADS_1


Ardi akhirnya meninggalkan kamar Niken dengan kesal. Karena ia gagal merayu ibunya untuk membatalkan acaranya dengan Aini.


Dan saking kesalnya, Ardi bahkan berangkat ke kantor tanpa sarapan dan berpamitan pada ibunya. Ia hanya berpamitan pada dua putranya saja, karena Aini sedang di kamar bersama Niken.


Selepas dzuhur, seseorang datang ke rumah Ardi. Orang yang sudah dikenali oleh Aini juga.


"Hai, Ni!" Sapa wanita itu dengan senyum ramahnya.


"Mbak Maya?" Sahut Aini bahagia.


Aini lalu menyambut Maya dengan bahagia. Maya pun tak segan untuk memeluk dan cipika-cipiki dengan Aini. Mereka pun saling bertanya kabar satu sama lain.


"Aku denger dari mas Gilang, tante Niken berhasil membuatmu datang ke Bandung." Santai Maya.


"Mama?" Bingung Aini.


"Wah! Sekarang kamu bahkan udah panggil tante Niken dengan mama."


"Mama yang minta, Mbak." Jujur Aini.


"Aku kira, emang udah jadi mama kamu. Mama mertua maksudnya." Canda Maya.


"Belum, May. Ardinya kelamaan." Sahut Niken sedikit kesal, sambil berjalan mendekati Maya dan Aini.


"Ya dibantuin dong, Tante! Biar cepet." Goda Niken.


"Udah dari kemarin. Ini juga proses."


"Maya bantu deh, Tante."


"Harus, dong! Maka dari itu, Tante minta kamu kesini hari ini. Tante mau minta bantuan kamu."


"Apapun itu, Maya siap deh. Kasihan juga itu si duda anak Tante." Yakin Maya.


"Makasih ya, May."


"Iya, Tante."


Aini yang tadi asik mengobrol dengan Maya, malah jadi pendengar yang malu-malu kucing karena obrolan Niken dan Maya. Karena Aini cukup paham apa yang dimaksudkan dua wanita itu. Tapi, ia tidak tahu, rencana apa yang akan mereka lakukan.


Setelah mengobrol sejenak, tiga wanita itu akhirnya keluar bersama. Meninggalkan Rama yang hari ini bertugas sebagai pengasuh Umar dan Kenzo pastinya.


"Kita mau kemana, Ma, Mbak?" Tanya Aini penasaran.


"Ketemu Ardi." Singkat Maya sedikit cekikikan.


Aini hanya mengerutkan keningnya. Ia sungguh tidak memahami rencana apa yang mungkin sedang dilakukan oleh Niken dan Maya.


Tujuan pertama tiga wanita itu, adalah butik milik salah satu kenalan Niken. Niken dan Maya yang sudah biasa ke sana, dengan segera memilih gaun yang pas untuk mereka. Sedang Aini, hanya melihat-lihat koleksi yang ada di butik itu saja.


"Pilihlah, Ni! Atau perlu Mama bantu pilihkan?" Santai Niken.


"Tidak perlu, Ma. Aini hanya melihat-lihat saja, kok." Jujur Aini.


Niken melirik kesal. Ia dan Maya lalu memilihkan beberapa baju untuk Aini. Dan satu baju istimewa untuknya. Baju yang berwarna sama dengan milik Maya.


Tak lupa, mereka membeli beberapa asesoris pelengkap penampilan mereka. Mulai dari tas, sepatu , hingga bros yang indah untuk Aini pastinya.


Setelah selesai, tiga wanita itu lalu menuju salon langganan Maya. Maya sudah memesankan perawatan untuk mereka bertiga tadi. Jadi saat mereka tiba, mereka sudah langsung dilayani tanpa mengantri. Mereka benar-benar menikmati waktunya.


Niken memang berbohong pada Ardi tadi. Ia sangat tidak sabar ingin berjalan-jalan dan menghabiskan waktunya dengan calon menantunya itu. Hingga ia rela sedikit berbohong pada putranya sendiri.


Selepas maghrib, Ardi baru tiba di rumah. Ia pun segera mencari keberadaan Aini dan ibunya.


"Mama belum pulang, Pa?" Tanya Ardi karena tak menemukan orang yang dicarinya.


"Belum." Singkat Rama.


Ardi hanya mendengus kesal. Ia pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke reuni kampusnya yang akan diadakan malam ini.


Setelah selesai mandi, Ardi berusaha menghubungi Niken, untuk menanyakan apakah mereka sudah akan pulang atau belum.


"Belum, Di. Mama masih makan malam sama mereka." Sahut Niken di ujung telepon.


"Mama dimana? Biar nanti Ardi jemput Aini sekalian."


"Ini masih lama, Di. Kamu berangkat sendirian aja. Atau ngajak Dika, atau siapa gitulah! Kalau enggak, ngajak Diandra aja."


"Tapi Ma,,"


"Udah ya! Mama mau makan dulu."


Klek. Panggilan telepon langsung terputus. Niken benar-benar mematikan ponselnya begitu saja. Ardi pun menjadi makin kesal dan putus asa. Tapi, ia teringat ucapan mamanya.


"Apa aku ikut kata mama aja, ya? Ngajak Diandra." Gumam Ardi lirih.


Siapakah Diandra ini? Sampai-sampai, Niken bisa dengan santainya meminta Ardi untuk mengajak Diandra sebagai ganti Aini.

__ADS_1


__ADS_2