Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Rencana Membujuk


__ADS_3

"Nggak. Kenzo nggak mau punya adik." Ucap Kenzo seraya berdiri dengan wajah yang serius.


Perhatian semua orang segera beralih ke arah Kenzo. Kenzo lalu kembali duduk begitu saja dan bermain dengan mainannya. Ia mengacuhkan semua orang yang terkejut dengan sikapnya.


Ardi yang berada di dekat Kenzo, mengerutkan keningnya sangat dalam sambil menatap Kenzo dengan serius. Ia yang memang sangat menantikan kehadiran buah cintanya dengan Aini, jelas kecewa dengan sikap Kenzo.


"Coba ulangi lagi, Ken!" Pinta Ardi serius.


"Aku nggak mau punya adik." Jawab Kenzo lantang, tanpa menoleh pada Ardi.


"Jika sedang bicara dengan seseorang, tatap wajah lawan bicaramu, Ken!" Pinta Ardi tegas.


Aini yang menyadari nada bicara Ardi mulai meninggi, segera berdiri untuk menghampiri suami dan dua putranya.


Kenzo pun mematuhi permintaan ayahnya. Ia terkejut, wajah sang ayah terlihat sedikit marah padanya. Nyali Kenzo sedikit menciut.


"Mas! Jangan seperti itu!" Tegur Aini segera.


Aini segera memeluk Kenzo yang mulai ketakutan karena ekspresi wajah sang ayah. Kenzo pun tanpa ragu, segera membalas pelukan Aini untuk berlindung.


"Sabar, Di!" Tegur Niken.


"Iya, Di. Tenangkan dirimu!" Imbuh Rama.


Ardi yang menyadari sikapnya berlebihan, segera menarik nafas panjang dan mengucapkan istighfar.


"Ayo Sayang, kita ke kamar dulu!" Ajak Aini lembut.


Kenzo yang masih sedikit ketakutan pada Ardi, jelas memenuhi ajakan Aini.


"Umar ikut." Rengek Umar tiba-tiba.


"Iya. Yuk!"


Aini, Umar dan Kenzo lalu berdiri dan pergi ke kamar tamu yang biasa ia gunakan bersama Ardi beristirahat jika sedang berada di rumah Rama.


"Tenangkan dirimu, Di! Wajar jika Kenzo seperti itu." Bujuk Rama lagi.


"Iya, Pa." Paham Ardi penuh sesal.


Ardi menyesal berbicara dengan nada sedikit tinggi pada Kenzo tadi. Ia yang terbawa suasana bahagia, sedikit lepas kendali karena penolakan Kenzo. Ia ingin menyusul Aini dan dua putranya ke kamar. Tapi, ia membiarkan Aini bicara dulu dengan Kenzo perlahan.


Dan di kamar,


"Apa papa marah padaku, Bunda?" Cemas Kenzo.


"Enggak, Sayang. Mana mungkin papa marah padamu. Dia begitu menyayangimu." Bujuk Aini.


"Tapi kenapa tadi wajah papa terlihat marah?"


"Papa mungkin sedang sedikit kelelahan tadi. Jadi, ekspresi wajahnya sedikit berbeda."


"Terus, kenapa tadi Bunda langsung memelukku?"


"Apa tidak boleh, Bunda memelukmu? Kalau tidak boleh,,"


"Boleh, Bunda. Boleh, boleh, boleh." Sela Kenzo manja.


Kenzo yang sedang duduk di sebelah kanan Aini di tepi ranjang, langsung memeluk Aini dengan erat. Aini tersenyum lega mendapatkan pelukan erat dari Kenzo. Aini pun segera membalas pelukan Kenzo. Dan tidak lupa, ia juga meraih Umar dengan tangan kirinya ke dalam pelukannya.


"Apa Bunda sedang mengandung?" Tanya Umar di sela pelukannya.


Umar dan Kenzo sudah cukup paham mengenai hal itu. Mereka tahu, jika ibu mereka sedang hamil atau mengandung, itu berarti, mereka akan memiliki adik.


Kenzo melirik ke arah Umar yang menanyakan itu pada Aini. Dan Aini menyadari lirikan Kenzo.


"Kalau iya, bagaimana? Apa kalian tidak mau, kalau punya saudara lagi?" Tanya Aini perlahan.


Umar diam tidak menjawab. Sedang Kenzo, segera menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Umar diam?" Tanya Aini ragu.


Umar tetap tidak menjawab. Ia memilih mengeratkan pelukannya pada Aini. Aini pun menjadi bingung dengan sikap putranya.

__ADS_1


"Dan Kenzo, kenapa nggak mau kalau punya saudara lagi?" Tanya Aini lagi.


"Kenzo nggak mau, kalau Bunda nanti jadi nggak sayang lagi sama Kenzo." Jujur Kenzo.


Umar tiba-tiba mengangguk di pelukan Aini.


Aini kini paham, kenapa dua putranya tidak ingin memiliki adik baru. Ia tersenyum lega. Karena itu berarti, dua putranya, begitu menyayanginya, hingga tidak mau berbagi kasih sayang dengan yang lain.


Aini memeluk erat Umar dan Kenzo. Ia bahkan bergantian mengecup puncak kepala keduanya.


"Bunda sayang banget sama kalian." Tulus Aini.


"Umar juga sayang sama Bunda."


"Kenzo juga sayang sama Bunda."


Sederhana. Hal yang sederhana dan sering terjadi pada banyak keluarga. Dan Aini berusaha memahami kedua putranya. Jadi, ia memilih untuk perlahan-lahan memberikan pemahaman pada dua putranya itu nanti.


...****************...


"Kita tidur berempat ya Mas, malam ini?" Ajak Aini, saat ia dan Ardi bersiap untuk ke kamar, untuk istirahat.


Ardi mengangguk paham. Aini pun tersenyum bahagia. Aini lalu mengajak Umar dan Kenzo tidur bersama di kamarnya. Dan hal itu, jelas disambut gembira oleh dua bersaudara itu.


Meski mereka sudah biasa tidur berempat di kamar Ardi dan Aini, tapi kali ini berbeda. Karena biasanya, Umar atau Kenzo yang meminta. Dan sekarang, Aini sendiri yang meminta.


Umar dan Kenzo, jelas tidur dengan nyenyak malam ini. Begitu juga dengan Ardi dan Aini. Meski, Ardi dan Aini masih memiliki sedikit ganjalan tentang penolakan Umar dan Kenzo tentang kehadiran adik mereka, yang masih berada di kandungan Aini.


Pagi telah menyapa.


Pagi ini, Ardi melarang Aini menyiapkan sarapan pagi seperti biasa. Karena seperti pesan dokter spesialis kandungan yang kemarin mereka kunjungi, sementara waktu, Aini harus lebih banyak istirahat. Agar kondisi kandungannya lebih kuat dulu.


Ardi sudah meminta pada asisten rumah tangganya untuk menyiapkan sarapan pagi sementara ini, sejak semalam.


"Bagaimana Kenzo?" Tanya Ardi, saat ia mengenakan kemejanya, bersiap untuk ke kantor.


"Namanya juga anak-anak, Mas. Mereka hanya butuh sedikit pengertian." Bijak Aini, sambil memandangi suaminya.


"Mereka? Apa Umar juga menolaknya?"


"Tapi, mereka kemarin terlihat antusias saat bertemu dengan anaknya Ratri?"


"Mereka cukup paham Mas, jika itu bukan adik kandung mereka."


Ardi terdiam.


"Kita berikan penjelasan dan pemahaman pada mereka pelan-pelan, Mas! Kita tunjukkan pada mereka, jika kita tetap akan menyayangi mereka, meski mereka memiliki saudara lagi." Bujuk Aini perlahan.


Ardi menatap istri mungilnya itu dengan sendu.


"Aku tidak ingin kamu kelelahan, Sayang." Jujur Ardi.


"Mana ada hal seperti itu, Mas?" Canda Aini.


"Kamu nggak lupa kan, pesan dokter kemarin?"


"Iya, Mas. Aku mengerti. Tapi, mereka juga putra kita, Mas. Kita tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja."


Ardi memejamkan matanya dengan kecewa. Aini yang paham dengan situasi hati Ardi, segera berdiri dan menghampirinya.


"Mas. Ini ujian kita. Kita harus bisa melewatinya." Imbuh Aini.


Ardi menatap Aini lagi dengan haru. "Kenapa pemikiranmu bisa seluas itu, Sayang? Hheemm?"


"Apa aku salah, Mas?"


"Tentu saja tidak, Sayang."


Ardi menarik Aini dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala Aini dengan bangga. Aini dengan bahagia membalas pelukan Ardi.


"Kamu memang wanita hebat." Puji Ardi.


"Kamu baru tahu, Mas?" Canda Aini.

__ADS_1


Ardi menatap Aini dengan bingung. Ia tidak mengira, Aini akan berkata seperti itu.


Aini tertawa cekikikan di pelukan Ardi. Karena yakin, Ardi sedang menatapnya dengan berbeda saat ini.


"Jadi, bagaimana kita akan memberikan pemahaman pada mereka?" Tanya Ardi.


"Biarkan aku melakukan semuanya seperti biasa, Mas."


"Tapi, kamu tidak boleh kelelahan, Sayang. Riwayatmu keguguran dahulu, bisa mempengaruhi kehamilanmu yang sekarang."


"Aku tahu, Mas. Aku juga ingat itu." Ucap Aini sembari melepaskan pelukannya pada Ardi.


"Aku tidak mau ambil resiko, Sayang."


"Tapi Mas, Umar dan Kenzo pasti akan merasa terabaikan secara perlahan, kalau aku tidak melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan untuk mereka."


Ardi diam tidak menjawab. Ia mulai memikirkan apa yang Aini katakan. Karena itu ada benarnya.


"Bagini saja. Kita coba minta papa dan mama kembali ke rumah ini! Mama dan papa bisa membantu kita memberikan pemahaman pada Umar dan Kenzo. Dan pastinya, membantumu menjaga si kecil juga, selama aku tidak di rumah." Yakin Ardi.


"Apa tidak akan merepotkan mereka?"


"Kita coba bicara dengan mereka dulu!"


Aini tersenyum bahagia. Ia pun mengangguk setuju.


"Ya sudah, ayo turun! Kenzo dan Umar pasti sudah menunggu kita untuk sarapan." Ajak Ardi.


Aini mengangguk lagi. Mereka lalu keluar kamar dan turun untuk sarapan bersama.


Dan ternyata benar, Umar dan Kenzo sudah duduk di meja makan menunggu mereka berdua. Mereka pun makan bersama dengan tenang.


Dan selepas sarapan, seperti biasa, Ardi mengantar Umar dan Kenzo ke sekolah. Tapi jika biasanya Ardi langsung berangkat ke kantor, kali ini sedikit berbeda. Ia menyambangi kediaman Rama kembali, bersama Aini yang juga ikut mengantar Umar dan Kenzo ke sekolah tadi.


"Gimana Kenzo?" Tanya Niken paham.


"Butuh waktu, Ma. Bahkan, ternyata Umar juga sama." Adu Ardi.


"Mereka itu, udah kayak anak kembar."


"Umar sepertinya trauma dengan masa lalunya." Timpal Aini.


"Trauma?" Ulang Niken bingung.


"Iya. Setahu Aini, dulu ia sering diperlakukan kurang baik oleh mas Adit, saat ia berada di Surabaya dengan Rafa. Mungkin, itu yang membuatnya tidak ingin memiliki adik lagi."


"Kasihan anak itu."


"Kenzo terbiasa menjadi nomor satu dan selalu yang utama. Jadi, mungkin dia tidak mau jika posisinya tergeser." Imbuh Rama.


"Iya, Pa."


"Lalu, gimana kalian akan mengatasi itu?" Tanya Niken perhatian.


"Kami mau minta bantuan Papa sama Mama." Jujur Ardi.


"Bantuan apa?"


"Papa sama Mama balik ke rumah lagi, ya? Bantuin Aini jaga Kenzo dan Umar, selama Ardi tidak di rumah." Jelas Ardi.


"Maksudnya?"


"Aini memiliki riwayat keguguran, Ma. Dan itu bisa mempengaruhi kehamilannya yang sekarang. Kemarin dokter kandungannya pesen, kalau Aini nggak boleh kelelahan, sampai kandungannya benar-benar kuat."


"Kamu pernah keguguran, Sayang?" Tanya Niken tidak percaya.


"Pernah, Ma. Aini kecelakaan motor waktu itu." Jujur Aini.


"Oke. Kita kembali ke rumah lama, Ma. Papa juga nggak mau terjadi sesuatu pada calon cucu kita." Yakin Rama segera.


"Mama sih, oke." Sahut Niken.


Ardi dan Aini tersenyum lega. "Makasih, Ma, Pa."

__ADS_1


Rama dan Niken memang sangat menyambut bahagia kehamilan Aini. Jadi, mereka jelas mau membantu Ardi dan Aini membujuk Kenzo dan Umar, serta menjaga calon cucu baru mereka.


Gembok selalu berpasangan dengan kuncinya. Begitu juga masalah, pasti ada solusinya. Kita hanya perlu berpikiran positif dan terbuka dengan semua masalah yang datang. Karena semuanya, pasti akan memiliki solusi yang datang tepat pada waktunya.


__ADS_2