Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kecurigaan


__ADS_3

Persahabatan. Salah satu hal indah di dunia ini. Saling mengerti dan memahami satu sama lain, menjadi hal dasar dalam sebuah persahabatan.


Termasuk Ardi dan Gilang. Mereka yang sudah menjalin hubungan persahabatan sejak masih sekolah, benar-benar saling memahami sikap dan sifat satu sama lain.


"Jujur! Kamu apain Aini tadi? Kamu bilang dia nyaris hipotermia." Cecar Gilang, setelah ia dan Ardi selesai makan mi kuah buatan Sri, yang selalu manjadi favorit Gilang.


"Aku nggak apa-apain." Jawab Ardi santai, sambil mendaratkan punggungnya di sandaran sofa.


"Terus? Kenapa dia bisa nyaris hipotermia?"


"Aku ketemu dia di depan ruko kecil, di dekat Butik Arta."


"Hujan lebat gini?" Tanya Gilang tak percaya.


"Iya. Sendirian. Hanya sebuah payung yang menemaninya." Jujur Ardi sedih.


"Kok bisa? Dia dari mana emangnya? Ngapain juga dia di sana? Kenapa nggak pulang? Emangnya dia nggak ngabarin?" Cerocos Gilang penasaran.


"Kamu mendadak berubah jadi cewek?" Sindir Ardi.


"Enak aja!" Ketus Gilang.


"Lha itu tadi? Kamu nanya banyak banget, kayak cewek aja." Cibir Ardi.


"Ya aku kan kepo, Di. Dia pasienku. Aku harus memantau kesehatannya dengan baik, kan?"


"Aku belum tahu pasti, kenapa dia bisa sampai sana tadi. Aku belum bertanya padanya lagi." Jawab Ardi sambil mengingat, bagaimana ia menemukan Aini tadi.


"Terus? Kamu ngapain aja tadi di mobil? Diem-dieman, kayak orang berantem?" Sindir Gilang.


Ardi terdiam. Ia teringat, bagaimana ia bisa lepas kendali hingga mendaratkan bibirnya di atas bibir Aini yang dingin tadi. Ia juga tak menyangka, Aini akan membalas perlakuannya itu.


"Kenapa dia membalasnya tadi? Apa dia juga memiliki perasaan yang sama denganku?" Batin Ardi penasaran.


"WOII!" Bentak Gilang.


Ardi sedikit terkejut. Ia menoleh pada Gilang dengan tatapan santai.


"Kenapa? Nggak usah teriak-teriak, ini udah malem!" Sahut Ardi santai.


"Salah sendiri! Ditanya malah ngelamun." Kesal Gilang


"Kalian ngapain di mobil tadi? Kamu pasti meluk Aini, kan?" Goda Gilang, sambil berbisik di telinga Ardi.

__ADS_1


"Nggak usah kepo!" Jawab Ardi singkat.


Ardi sebenarnya memikirkan beberapa hal janggal yang menimpa Aini, setelah sekejap teringat ciuman hangatnya dengan Aini. Tapi ia berusaha diam, agar tak mengundang kecurigaan. Ia yakin, ada yang tak beres dengan perginya Aini dengan Oliv tadi sore. Hingga membuat Aini, terjebak dalam cuaca buruk seperti tadi.


"Aku tanya Aini, atau ngaku sendiri?" Goda Gilang lagi.


"Kamu mau ganggu istirahat pasienmu?" Cibir Ardi.


"Iya juga, ya." Jawab Gilang polos.


Ardi akhirnya mengalihkan topik pembicaraannya dengan Gilang. Karena, ia tak mungkin mengakui pada Gilang saat ini, bahwa ia tadi sudah merasakan bibir lembut sang janda, yang kini sedang tidur di rumahnya. Gilang pun ternyata memahami gelagat Ardi, ada sesuatu yang disembunyikannya.


Dua orang pria dewasa itu, akhirnya menghabiskan waktu mereka sambil mengobrol hingga pukul sebelas malam. Hujan di luar pun sudah mulai mereda. Gilang pun akhirnya pulang.


Rumah Ardi sudah sangat sepi. Para penghuninya sudah terlelap di kamar masing-masing. Ardi pun mulai menaiki tangga menuju kamarnya. Sejenak, ia melirik ka arah pintu kamar yang berjarak satu kamar dengan kamarnya.


Dengan sangat pelan, Ardi memutar gagang pintu kamar itu. Yang ternyata, tidak dikunci oleh penghuninya. Ia pun perlahan masuk dan mendekati orang yang tengah terlelap di dalam kamar itu.


Diperhatikannya dengan seksama, wajah teduh yang beberapa hari menghiasi rumahnya. Wajah yang tadi sempat tak berjarak sama sekali dengan wajahnya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku akan berusaha lebih baik lagi dalam menjagamu nanti." Gumam Ardi, sambil membenarkan selimut Aini.


Karena mendengar dan mersakan sesuatu, Aini sedikit menggeliat. Menyamankan lagi posisi tidurnya. Tapi, matanya tetap terpejam. Ia tetap tertidur dengan pulas.


...****************...


Hari Minggu tiba. Pagi ini, seperti hari-hari Minggu sebelumnya, Ardi selalu mengajak putranya, Kenzo, dan teman barunya di rumah, Umar, pergi jalan-jalan pagi. Menikmati kesejukan udara pagi di sepanjang jalan yang mereka lewati.


Awalnya, Ardi ingin mengajak Aini ikut serta. Tapi ternyata, kondisi Aini sedikit tak baik. Ia demam dan flu sejak bangun tidur. Jadi, ia meminta Aini untuk beristirahat saja di rumah. Tak lupa, Ardi juga memberitahukan pada Gilang bagaimana kondisi Aini pagi ini.


Ardi selalu menghabiskan hari Minggunya bersama Kenzo. Ia sadar, ia sudah sangat sibuk setiap hari dengan pekerjaannya. Jadi, ia selalu meluangkan hari Minggunya untuk Kenzo.


Aini sudah kembali ke kamarnya. Ia masih betah di dalam kamar karena tubuhnya yang sedang tidak sehat.


Gilang belum sempat mengunjungi Aini pagi ini, karena ada panggilan darurat di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia akhirnya hanya berpesan pada Aini, agar meminum vitamin yang kemarin ia berikan, serta meminum obat demam seperti yang biasa ia minum.


Umar dan Kenzo akhirnya menghabiskan waktu di rumah untuk menjaga Aini, setelah mereka pulang dari olahraga pagi. Dan pastinya, sang duda pemilik rumah pun tak mau kalah. Ia juga ikut menjaga Aini seharian.


Memang seperti itulah sifat seorang Ardiansyah El Baraja. Ia tak akan menutupi perasaannya pada seseorang. Ia akan secara gamblang dan terang-terangan menunjukkan perhatian dan perasaannya pada orang lain. Apalagi jika pada seseorang yang ia sayangi, ia bisa sangat protektif dan tak bisa ditebak pada orang itu.


Di tempat lain, seorang wanita cantik sedang sangat kesal sejak semalam. Ia menjadi uring-uringan tak jelas karena kabar tak baik yang ia terima, dia Oliv. Ia bahkan semalam sampai mengajak asistennya pergi ke kelab malam untuk mencoba menenangkan kekesalan hatinya.


"Aaarrhh!" Teriak Oliv keras, setelah ia membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa mereka malah makin dekat?" Ucapnya kesal.


Oliv yang baru saja bangun tidur, meski matahari sudah meninggi, kepalanya makin berdenyut keras karena hal itu. Efek alkohol yang ia tenggak semalam, belum hilang hingga pagi ini. Dan ditambah kabar dari seseorang yang ia suap untuk memata-matai Aini, malah membuat kepalanya makin sakit.


"Kamu ini kenapa lagi? Baru bangun udah teriak-teriak." Marah Desi, setelah ia masuk ke kamar Oliv.


"Wanita kecentilan itu, malah makin deket sama Ardi." Jawab Oliv kesal, sambil melemparkan ponselnya ke sofa.


"Kamu dapat kabar dari mana lagi?" Tanya Desi lebih tenang.


"Dari Tika, lah. Siapa lagi emangnya?" Jawa Oliv dengan hati yang bergemuruh.


Desi akhirnya memilih tak menjawab Oliv. Ia berjalan menuju sofa di kamar Oliv, dan mengambil ponselnya. Ia lalu membuka ponsel Oliv dan mencari apa yang dikatakan oliv tadi.


Dan benar, ada beberapa foto yang berjajar, tepat saat Desi membuka layar ponsel Oliv. Foto yang menunjukkan bahwa Ardi dan Aini malah makin dekat. Mereka sedang bercengkrama bersama Umar dan Kenzo di taman belakang rumah. Kenzo pun nampak begitu bahagia dalam foto itu.


"Oke, fix. Kecurigaanku benar. Kamu pasti kalah dari Aini. Aku yakin, Ardi udah jatuh hati sama wanita ini." Ucap Desi santai.


"Haaiisshh! Diem aja kamu! Nggak usah bicara kalau nggak kasih solusi!" Marah Oliv.


"Salahmu sendiri, pakai ninggalin Aini di pinggir jalan kemarin." Jawab Desi sambil meletakkan ponsel Oliv.


"Diem!" Teriak Oliv makin kesal.


Desi pun akhirnya meninggalkan kamar Oliv. Ia membiarkan Oliv dengan kekesalannya sendirian di kamar.


"Ardi itu cuma milikku. Bukan milik wanita sialan itu." Gumam Oliv dengan amarah di matanya.


"Aku harus berusaha lebih keras, agar aku kembali menjadi nyonya Ardi." Imbuh Oliv, dengan guratan penuh ambisi di wajah cantiknya.


Oliv segera mengambil lagi ponselnya. Sejenak ia mengotak-atik benda pipih berwarna putih keluaran terbaru dari brand kenamaan yang perusahannya didirikan di Amerika itu.


"Halo, Tik." Ucapnya santai.


"Halo. Iya Bu Oliv."


"Awasi terus mereka! Dan laporkan lagi, apapun yang terjadi!" Pinta Oliv yakin.


"Tentu, Bu. Saya mendukung Anda untuk kembali pada mas Ardi."


"Terima kasih."


Oliv segera memutus panggilan telepon itu. Ia lantas memilih untuk mencari air minum, untuk menyegarkan tenggorokannya dan meringankan sakit kepalanya.

__ADS_1


Sifat seseorang memang sulit ditebak. Terkadang, meski kita sudah lama mengenalnya, kita tak pernah tahu sifat seseorang sepenuhnya. Hingga kita menghadapinya secara langsung. Dan terkadang, sifat seseorang pun bisa berubah karena pengaruh lingkungan dan situasi yang mereka hadapi.


__ADS_2