Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Prahara Rumah Tangga


__ADS_3

Isi hati. Siapa yang tahu? Tak ada yang mengetahui hal itu kecuali Sang Maha Mengetahui. Karena memang, isi hati selalu menjadi rahasia setiap pemiliknya.


Begitu juga isi hati Adit. Seorang laki-laki yang dihadapkan oleh dua orang istrinya yang memiliki perbedaan cukup jauh. Dari segi fisik maupun hati.


Ratri. Seorang wanita dengan paras yang cantik. Tinggi semampai dengan porsi tubuh yang pas di segala sisi. Dan sudah menyandang gelar S2 manajemen bisnis dari sebuah universitas di Singapura.


Sedangkan Aini, hanya wanita sederhana dan hanya lulusan SMA. Parasnya memang cantik. Tapi jika disandingkan dengan Ratri, jelas terlihat tak sebanding. Apalagi badannya yang jauh dari kata proporsional.


Tubuh Aini memang tak begitu berisi. Apalagi bagian dada dan pantatnya, tepos. Sangat berbeda dengan Ratri yang memiliki dada dan pantat yang berisi. Sungguh, bagaikan langit dan bumi bukan?


Tapi jika masalah hati, tak ada yang berani menjaminnya. Setiap manusia, memiliki sisi baiknya masing-masing. Tak terkecuali seorang Ratri yang juga hanya manusia biasa. Dalam lubuk hatinya, ia juga mendambakan kasih sayang sang suami hanya untuknya seorang. Meski sejak awal, ia adalah istri kedua.


Dan itulah yang mendorong Ratri pada satu hal yang cukup menyakitkan bagi Aini.


"Aku lebih segala-galanya dibandingkan Aini. Mas Adit hanya milikku, bukan milik Aini juga."


Setelah tiga bulan Aini bekerja, Ratri sering dikunjungi atau mengunjungi Suharti. Mereka sering menghabiskan waktu bersama sambil menjaga Umar. Dan saat itulah Suharti semakin meracuni pikiran Ratri. Ia merayu Ratri agar menjauhkan Adit dari Aini dengan cara yang sangat halus. Dan Ratri tak menyadari itu.


"Atau kalian bisa pergi bulan madu ke kota lain. Bali atau Lombok mungkin?" Usul Suharti antusias saat mengobrol dengan Ratri.


"Umar bagaimana Bu'? Siapa yang menjaga?" Jawab Ratri bingung.


"Kan ada Bapak sama Ibu. Dia juga sudah biasa dengan kami."


"Benar kata Ibu. Apa sebaiknya aku mengajak Mas Adit bulan madu ya? Kami belum pernah melakukannya." Batin Ratri sependapat.


"Ibu akan bantu mengatakannya pada Adit nanti." Imbuh Suharti yakin, setelah melihat ekspresi menantu kesayangannya.


"Biar Ratri saja Bu' yang bilang ke Mas Adit."


"Ya sudah. Jika butuh bantuan Ibu, katakanlah! Ya?"


Ratri mengangguk paham.


"Sebentar lagi, wanita tak tahu diri itu, akan segera menjauh dari putra dan cucuku." Batin Suharti yakin, sambil tersenyum tulus kepada Ratri.


Semakin hari, sikap Adit pada Aini semakin terlihat perubahannya. Padahal, ini baru enam bulan pernikahannya dengan Ratri. Tapi, perubahan sikap Adit pada Aini sangat mencolok.


Aini pun berusaha sangat keras untuk tetap bertahan pada pernikahannya, meski dengan sikap Adit yang mulai tak adil padanya. Bukan hanya perkara nafkah lahir dan batin, tapi segalanya mulai berubah.


Aini selalu berusaha meyakinkan dirinya, bahwa ini adalah bagian dari ujian pernikahannya. Yang kata orang, lima tahun pertama usia pernikahan, adalah masa sulit yang harus dilalui pasangan suami istri. Dimana kekuatan ikatan sakral itu diuji dengan banyak hal. Dan Aini sedang berusaha bertahan dalam ujian itu.


Dan di sisi lain, sikap Ratri pun juga mulai berubah pada Aini. Ia yang awalnya begitu lembut pada Aini, mulai bisa menyakiti Aini dengan beberapa ucapan yang menyindir dan memojokkannya secara halus.


"Mas! Kenapa uang bulananku dipotong hampir separuh?" Tanya Aini perlahan, setelah Adit menyerahkan nafkah bulanannya untuk Aini di kamarnya.


"Ya wajar dong Ai kalau nafkah bulanan kamu di potong. Kan kamu sekarang udah kerja. Udah punya penghasilan sendiri. Nafkah bulanannya pindah ke aku sekarang. Lagian, sebelum aku nikah sama Mas Adit, semua nafkah Mas Adit buat kamu kan? Jangan pelit-pelit dong sama aku." Sahut Ratri tiba-tiba yang muncul dari luar pintu kamar Aini.


"Dan lagi, kan sekarang aku yang urusin rumah. Kamu kan bantu Mas Adit cari nafkah. Kamu pasti nggak tahu kan harga kebutuhan sehari-hari sedang naik." Cibir Ratri halus.


"Kenapa kamu bilang gitu Rat? Bukankah itu memang permintaanmu?" Tanya Adit bingung dengan sikap Ratri.


Deg. Suara Aini tertahan mendengar ucapan suaminya.


"Mbak Ratri meminta uang bulananku dipotong sama Mas Adit?" Batin Aini pedih.


"Ya tapi kan benar Mas? Aku yang sekarang ngurusin rumah. Aku yang mengatur pengeluaran rumah tangga kita. Kamu nggak tahu kan Ai, harga kebutuhan sehari-hari sekarang pada naik?" Sahut Ratri santai.


Aini hanya diam. Ia yang merasa lelah setelah bekerja dan ingin segera tidur dengan Umar, tak mau mendebat Ratri. Ia membiarkan Ratri dengan segala pemikirannya.


Aini sebenarnya sangat tahu tentang harga kebutuhan sehari-hari yang setiap saat bisa mengalami fluktuasi harga. Karena memang, ia membantu mengurusi administrasi rumah makan di tempat ia bekerja. Seperti saat di rumah makan Adit dulu. Jadi, ia juga memantau harga kebutuhan sehari-hari agar tak terjadi pembengkakan anggaran belanja.

__ADS_1


"Kembalilah ke kamarmu! Ada yang ingin aku bicarakan dengan Aini." Pinta Adit sedikit tegas.


Ratri yang sudah siap untuk menggoda Adit semalaman, akhirnya harus mengubur idenya itu karena sang suami ingin bersama istri pertamanya malam ini. Ia pun kembali ke kamarnya dengan kesal.


"Apa itu kurang Ni? Jika kurang, aku akan memberikan seperti biasanya padamu." Tanya Adit perlahan.


"Tak apa Mas. Ini cukup. Maaf, tadi Aini sempat protes." Sahut Aini lirih.


"Benar yang Ratri katakan tadi. Dia yang mengurus rumah sekarang. Jadi, biarkan dia yang mengurus keuangan keluarga. Kamu tak keberatan kan?"


Aini hanya mengangguk.


"Aku akan ke kamar Ratri. Sepertinya dia salah paham tadi. Istirahatlah!"


Aini kembali mengangguk. Adit akhirnya meninggalkan Aini dan Umar di kamar seperti biasa.


"Kapan kamu menemaniku dan Umar, Mas? Sudah satu minggu lebih kamu tak menemani kami." Batin Aini pedih sambil menatap punggung Adit yang mulai menghilang di balik pintu.


Hati mana yang tak sakit, ketika ia harus perlahan melepaskan orang yang disayanginya pada orang lain. Meski, itu adalah sebuah hubungan yang halal dimata Tuhan.


...****************...


Waktu terus bergulir. Merangkai kisah dan cerita dalam setiap detiknya. Merantai erat, kenangan demi kenangan pada memori yang terkadang sulit untuk dilupakan. Meski kita tak menginginkannya.


Sudah satu tahun Aini bekerja. Umar pun sudah tumbuh lebih besar kini. Meski jagoan Aini itu setiap hari bersama Ratri, ia tetap bisa mengenali siapa ibu kandungnya. Ia tetap selalu dekat dengan Aini, meski Ratri berusaha menjauhkan Umar dari ibunya.


"Tidur sama Mama dan Ayah ya Sayang malam ini!" Pinta Ratri saat ia sedang berdua dengan Umar karena Aini sedang ke kamar mandi.


Umar segera menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Ratri polos.


"Umar mau tidur sama Bunda." Jujur Umar.


Umar kembali menggeleng.


Dan tanpa Ratri dan Umar ketahui, Aini mendengar percakapan mereka berdua. Aini hanya sedang cuci tangan tadi. Jadi ia cepat kembali pada sang putra yang sedang bersama ibu keduanya.


"Apa setega itu kamu Mbak padaku?" Batin Aini di balik bufet besar yang ada di rumahnya sambil termenung mengingat percakapan Ratri dan Umar tadi.


Aini bergegas mengusap wajahnya yang mulai menghangat. Ia pun segera memasang wajah ramahnya pada sang putra. Ia segera mengajak Umar ke kamar untuk tidur. Karena memang, malam mulai beranjak larut bagi anak seusia Umar.


Ratri pun akhirnya kembali ke kamarnya. Saat ia masuk, Adit ternyata sudah tertidur di ranjangnya. Ia pun segera menyusul sang suami pergi ke alam mimpi.


Keesokan paginya, Ratri berangkat bekerja seperti biasa. Tapi, perasaannya sedikit tak nyaman sejak bangun pagi. Seperti sebuah firasat tak baik.


"Aini!" Panggil seorang laki-laki yang sedang menunggu pesanannya di rumah makan, dimana Aini bekerja.


Aini yang sedang menanyakan sesuatu pada penjaga mesin kasir, segera menoleh ke sumber suara. Ia mengerutkan keningnya untuk mengenali siapa yang memanggil namanya tadi. Ia pun melihat seorang laki-laki yang tengah berdiri dan melambai ke arahnya.


"Fajar?" Ucap Aini tak begitu keras.


Aini segera menghampiri laki-laki tadi, yang tak lain adalah teman lamanya saat ia menjalani kursus administrasi setelah lulus sekolah, Fajar. Mereka saling melempar senyum tulusnya karena bahagia bisa bertemu dengan teman lama.


BRUK.


Bahu kanan Aini tak sengaja ditubruk dengan keras oleh seorang pelanggan yang sedang terburu-buru untuk keluar. Ia terhuyung hingga jatuh tepat di pelukan Fajar, yang tepat berada di depannya.


"Astaghfirullah!" Ucap Aini dan Fajar bersamaan karena terkejut.


Tubuh tambun Fajar pun refleks memeluk tubuh kecil Aini agar tak terjatuh. Sebuah niat baik yang ternyata disalahgunakan dan disalahartikan oleh orang lain.

__ADS_1


CEKREK.


Dan sebuah kebetulan yang tak diharapkan. Salah seorang pengunjung mengambil foto Aini yang sedang dalam pelukan Fajar dengan cepat. Karena memang, ia sedang bersiap mengambil foto orang yang ada di hadapannya. Tapi adegan Aini dan Fajar, malah lebih menarik perhatiannya. Ia menggeser ponselnya, tepat dimana Fajar sedang memeluk Aini.


"Maaf Bu'! Saya sedang buru-buru." Ucap pelanggan tadi sambil sedikit menoleh dan tetap berlari keluar rumah makan.


Aini dan Fajar hanya menatap datar. Aini segera menegakkan tubuhnya kembali.


"Kamu nggak papa?" Tanya Fajar perhatian."


"Ya jelas dong nggak papa! Kan ditangkap sama kasur." Sahut Aini santai.


"Sialan kamu!" Umpat Fajar sambil terkekeh.


"Kan emang dari dulu panggilanmu Kasur. Hhaha,," Sahut Aini sambil tertawa mengingat kenangan lama bersama Fajar saat mereka kursus bersama.


Tubuh Fajar memang tambun sejak dulu. Dan ia mendapat julukan Kasur dari semua teman-teman kursusnya karena itu.


Fajar dan Aini pun tertawa bersama. Mereka yang sempat menarik perhatian beberapa pelanggan karena adegan pelukan tanpa sengaja itu, kini makin menjadi pusat perhatian karena tawa mereka yang cukup lepas.


Fajar dan Aini lalu mengobrol bersama. Fajar bahkan memperkenalkan Aini pada istrinya yang sedang ia ajak makan di rumah makan itu. Aini pun segera minta maaf pada istri Fajar karena tak sengaja jatuh dipelukan Fajar tadi. Dan istri Fajar memaklumi ketidaksengajaan itu.


"Kamu bekerja di sini? Apa aku nggak salah dengar? Seorang istri dari pewaris tunggal pemilik Rumah Makan Barata, bekerja? Kamu bercanda?" Sindir Fajar.


"Kamu kalau bicara bisa di rem nggak sih volumenya?" Geram Aini.


"Iya Mas. Jangan keras-keras!" Timpal istri Fajar.


Fajar hanya cekikikan.


"Ya kan siapa tahu, itu warisan nggak jatuh ke tanganku. Anakku gimana dong?" Sahut Aini ringan.


"Terus jatuh ke tangan siapa? Istri kedua suami lo? Gila kali suamimu sampai nikah lagi." Jawab Fajar sambil terkekeh.


"Nyumpahin malahan?" Geram Aini pura-pura.


"Bercanda Ni, hhehe." Sahut Fajar cekikikan.


Setelah mengobrol beberapa saat dan pesananan Fajar tiba, Aini meninggalkan Fajar dan istrinya agar menikmati santapan mereka. Ia kembali ke pekerjaannya sambil membantu karyawan lain melayani para pembeli, karena rumah makan sedang ramai.


Malam harinya, Aini sedang bermain bersama Umar seperti biasa selepas makan malam. Adit dan Ratri pun ikut duduk bersama mereka di depan tv.


Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Tak lama, sebuah ketukan di pintu utama pun terdengar. Ratri segera membukakan pintu untuk tamunya. Dan ternyata, kedua mertuanya yang datang.


"Mana Aini?" Tanya Suharti marah.


"Di dalam Bu'." Jujur Ratri.


Suharti segera masuk dengan perasaan kesal. Ia menahan amarahnya sejak dari rumah tadi. Hadi yang menyadari ekspresi kemarahan istrinya, berusaha bertanya apa alasan sang istri terlihat semarah itu. Tapi Suharti tidak menjawabnya.


PLAK.


Suharti menampar dengan keras pipi Aini tepat di depan mata Umar yang sedang bersiap menyalami tangan neneknya. Semua membelalakkan matanya.


Aini mengusap pipinya yang terasa panas. Ia sedikit terpaku. Tapi segera tersadar setelah tangan Umar menggenggam erat gamis yang ia kenakan. Ia segera meraih Umar dan memeluknya. Ia yakin, putranya itu ketakutan.


"Ibu kenapa menampar Aini? Ada Umar Bu'." Protes Adit cepat.


"Kamu ini kenapa Bu'?" Bentak Hadi cepat.


"Kalian lihat saja sendiri. Ini ulah Aini di tempat kerjanya." Sahut Suharti geram sembari menyerahkan ponselnya pada Adit.

__ADS_1


Adit segera menerimanya dan melihat apa yang membuat ibunya sangat marah. Hadi dan Ratri pun ikut melihat apa yang ada di ponsel Suharti. Mereka bertiga terkejut melihat apa yang ada di ponsel Suharti. Yang tak lain adalah, foto Aini yang sedang berada dalam pelukan seorang laki-laki tambun siang tadi.


Firasat hati terkadang bisa memberi pertanda akan datangnya hal yang tak pernah kita pikirkan. Terkadang, memberi kita pengalaman tersendiri, agar lebih peka terhadap keadaan sekitar.


__ADS_2