Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Manjanya Umar


__ADS_3

Sore yang cukup cerah di Kota Paris van Java. Iya, Bandung. Sinar matahari sore, mulai menyapa para penduduknya. Dengan kehangatan yang menelusup perlahan ke setiap sudut kota, menciptakan keindahan yang berbeda-beda dalam setiap jengkal sisinya.


Niken baru saja selesai menemani Kenzo berenang. Kenzo pun baru saja masuk ke rumah untuk membersihkan diri dan ganti baju. Tiba-tiba, ponsel Niken berbunyi. Menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Ia pun segera membukanya.


"Umar?" Gumam Niken lirih, saat membaca nama pengirim pesan.


Ekspresi wajah Niken mendadak sedikit kesal, setelah membuka pesan dari Umar.


"Jadi ini yang kamu lakukan di Banyuwangi? Awas kamu Di, kalau pulang nanti!" Gemas Niken.


Niken kesal saat melihat foto yang Umar kirimkan padanya. Bisa-bisanya Ardi menemui Aini tanpa mengajak putranya, Kenzo. Padahal, Kenzo sudah sangat sering meminta pada Ardi untuk mengantarkannya menemui Aini. Tapi Ardi selalu menolaknya.


Curang? Jelas. Ardi sangat curang pada Kenzo. Karena ia saja setiap bulan diam-diam memperhatikan Aini dari jauh. Tapi malah melarang putranya untuk menemui Aini. (Dasar, Ardi! Bapak durhakim kamu! 😒)


Hal itu jelas Ardi lakukan karena ada alasannya. Apalagi kalau bukan tentang janjinya saat itu, untuk tidak menemui Aini. Karena jika nanti Kenzo bertemu dengan Aini, Kenzo pasti akan merayu dan membujuk Aini untuk kembali padanya. Dan itu jelas akan membuatnya menemui Aini dan melanggar janjinya.


Niken segera mencari keberadaan suaminya yang sedari tadi asik mengobrol dengan Edi, satpam rumahnya. Ia pun segera menunjukkan foto yang Umar kirimkan.


"Umar yang ngirimin?" Tanya Rama tak percaya.


"Sama Erna mungkin, Pa." Terka Niken.


Niken tahu, jika Ardi mengirim satu pengawalnya untuk menemani Aini. Dan itu jelas tidak disia-siakan oleh Niken. Ia secara pribadi meminta Erna untuk mengabari hal-hal yang bersangkutan dengan Aini. Bahkan, jika Ardi pergi ke Banyuwangi, Niken pun meminta Erna untuk mengawasinya.


"Terus? Mama mau gimana?"


"Ya marahin dong Pa, si Ardi! Dia enak-enakan ketemu Aini. Kenzo? Hampir tiap hari dia minta, tapi nggak pernah diturutin." Kesal Niken.


"Kan dia baru di Banyuwangi, Ma."


"Ya nanti kalau pulang, Pa. Atau kita susul aja ke Banyuwangi?"


"Keburu dia pulang, Ma. Papa denger, masalah di Banyuwangi udah kelar."


"Eemm,,," Niken berusaha mencari jalan tengah.


Tiba-tiba,,


"Oma! Oma!" Teriak Kenzo dari dalam rumah.


"Oma di depan, Ken." Sahut Niken sekenanya.


Kenzo pun segera berlari menghampiri Niken dan Rama.


"Mama punya ide, Pa." Ucap Niken tiba-tiba.


"Kenapa, Oma? Ide buat apa? Oma mau masak lagi?" Tanya Kenzo antusias.


"Enggak, Ken. Tapi, ide Oma, butuh bantuanmu."


"Oma mau apa?"


"Kamu percaya saja sama Oma. Iya kan, Pa?"


Rama menatap Niken dengan bingung. Karena jelas, ia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya itu. Apalagi, istrinya itu terkadang memiliki ide yang diluar dugaan


"Tapi kita membutuhkan bantuan orang lain juga." Imbuh Niken.


"Orang lain?" Tanya Rama bingung.


"Oma mau ngapain, sih?" Tanya Kenzo makin penasaran.


Niken hanya tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan. Kenzo dan Rama akhirnya hanya saling pandang karena masih belum tahu apa yang dipikirkan oleh Niken.


****************


Di Banyuwangi,,

__ADS_1


"Pa, ayo ke kemar Umar! Umar mau nunjukin sesuatu." Ajak Umar manja.


Aini yang mendengar lagi panggilan Umar pada Ardi, segera mengerutkan keningnya. Ia masih belum tahu, jika Umar memanggil Ardi dengan sebutan papa.


"Umar! Bunda mau bicara denganmu sebentar." Pinta Aini tegas dan terlihat sedikit marah.


Ardi dan Umar menatap Aini yang wajahnya mendadak begitu serius. Umar pun lalu berpindah mendekat ke Aini. Ia segera memegang tangan ibunya itu dengan cemas.


"Jangan marah, Bunda! Umar tadi naik sepedanya udah hati-hati. Tapi nggak tahu kenapa bisa diserempet motor." Adu Umar takut.


"Ikut Bunda dulu!" Tegas Aini.


Aini lalu berdiri. Tangannya masih dipegangi oleh Umar. Dan sejurus kemudian, Ardi pun ikut berdiri.


"Jangan marah pada Umar! Aku sudah memberinya ijin memanggilku papa seperti Kenzo, sejak masih di Surabaya." Cegah Ardi cepat.


Aini menatap Ardi dengan bingung dan terkejut. Ia tidak menyangka, Ardi tahu apa yang akan dibicarakannya dengan Umar.


Umar menoleh polos pada Ardi. "Oh iya, lupa."


"Tapi,,"


"Seperti kamu yang mengijinkan Kenzo memanggilmu bunda. Aku juga melakukan hal sama pada Umar." Jujur Ardi.


"Bagaimana Mas tahu?" Tanya Aini bingung.


"Kamu bukan seorang ibu yang akan memarahi anaknya yang sedang terluka karena hal yang tidak diharapkan. Kamu seorang ibu yang akan marah, saat anaknya tidak jujur padamu. Apalagi, Umar sudah kamu perjuangkan dengan segala cara agar kamu bisa dekat dengannya." Jawab Ardi perhatian.


"Umar minta maaf, Bunda! Maaf, Umar belum bilang sama Bunda tentang itu." Sesal Umar.


Aini lalu menoleh pada Umar yang kini sudah memeluknya dengan erat.


"Aku yang memintanya merahasiakan itu dulu." Sela Ardi.


Aini kembali menoleh pada Ardi.


Aini lalu menoleh lagi pada Umar, yang kini sedang menatapnya penuh sesal. Ia menatap dalam wajah Umar. Berusaha mencari jawaban dan kebenaran dari apa yang Ardi katakan tadi.


"Maaf, Bunda! Maaf, Umar belum berani bilang sama Bunda. Umar takut Bunda marah dan pergi dari Umar lagi." Jujur Umar sedih seraya mengeratkan pelukannya.


Aini tertegun mendengar pengakuan Umar. Ia memang melarang Umar untuk menghubungi Ardi, tapi tidak untuk Kenzo. Jadi, Umar terkadang melepas rindunya pada Ardi saat ia melakukan panggilan video dengan Kenzo secara diam-diam.


Hati Aini jelas luluh dengan kejujuran Umar. Ia tak menyangka, Umar diam-diam merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Yang ia sangat tahu, ayahnya tidak ada di sisinya.


Aini lalu membalas pelukan Umar. Diusapnya dengan lembut kepala putra sulungnya itu dengan penuh kelembutan.


"Iya. Bunda nggak akan marah. Tapi janji! Lain kali, jangan ada yang dirahasiakan lagi dari Bunda! Ya?" Jawab Aini perhatian.


Umar mengangguk dengan mantap di pelukan Aini. "Iya, Bunda."


Aini lalu perlahan-lahan mencoba kembali duduk. Umar pun mengendurkan pelukannya. Ia lalu menubruk tubuh Aini dan mendekapnya lebih erat.


"Maaf, Bunda." Ucap Umar sedikit terisak.


"Iya, Sayang. Jangan diulangi lagi, ya!" Pinta Aini, sambil membalas pelukan Umar.


Umar pun mengangguk lagi. Ardi pun lega karena Aini bisa menerima hal itu.


"Sudah, jangan menangis! Bunda kan nggak marah sama Umar." Bujuk Aini.


Umar pun perlahan melepaskan pelukannya. Dan saat wajahnya bertatapan dengan wajah Aini, Aini terkejut. Wajah Umar sudah berubah sedikit merah dan basah karena menangis.


Aini dengan lembut mengusap wajah Umar dengan penuh perhatian. Dihapusnya sisa airmata sang putra dengan kelembutan. Dan kemudian, dikecupnya kening Umar dengan penuh kasih sayang. Sepasang ibu dan anak itu pun saling tersenyum.


"Boleh aku menemani Umar?" Tanya Ardi tiba-tiba.


Aini dan Umar pun menoleh pada Ardi. Dan sedetik kemudian, Aini kembali melihat wajah putranya. Dan diwajah anak laki-laki itu, tersirat harapan yang begitu besar agar sang ibu mengijinkannya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Boleh." Jawab Aini yang menoleh lagi pada Ardi.


"Beneran boleh, Bunda?" Tanya Umar meyakinkan.


"Iya, Sayang." Sahut Aini sambil tersenyum.


Umar segera melepaskan tangannya dari Aini. Ia lalu menghampiri Ardi lagi.


"Ayo Pa, ke kamar!" Ajak Umar bahagia sambil memegangi tangan Ardi.


Ardi pun menuruti permintaan Umar. Ia sedikit melirik ke arah Aini dan tersenyum padanya. Dan Aini membalasnya.


Kebahagiaan itu sering kali tercipta dari hal yang sederhana. Tapi kita sering melupakan hal itu, karena mengejar sesuatu yang besar dan rumit.


Umar benar-benar melepaskan rasa rindunya dengan Ardi. Ia menghabiskan waktunya dengan Ardi di kamarnya. Aini bahkan harus membawakan makan malam Umar dan Ardi ke kamar Umar. Karena Ardi di sana sampai malam tiba.


"Bunda! Papa bolehkan menginap di sini?" Polos Umar saat melihat Aini di pintu kamarnya.


Aini terdiam sejenak. "Om Ardi kan harus pulang, Sayang."


"Tapi Umar pengen tidur sama papa." Manja Umar.


Aini terkejut Umar bisa mendadak sangat manja. Padahal, biasanya ia tidak pernah bersikap seperti itu.


"Benar yang dibilang bunda, Nak. Lain waktu, Papa akan main kesini lagi. Dengan Kenzo." Bujuk Ardi.


"Nggak mau. Umar mau tidur sama papa malam ini." Rajuk Umar.


"Umar, dengerin Papa!" Pinta Ardi lembut.


Bukannya menurut dan diam, Umar malah menutup telinganya dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sebagai tanda, ia tak mau mendengarkan apa yang diucapkan Ardi atau Aini.


Aini mulai kesal dengan Umar yang sedikit ngeyel malam ini. Dan Ardi menyadari itu.


"Biar aku yang bicara dengannya!" Pinta Ardi.


"Umar nggak mau! Pokoknya papa nggak boleh pulang malam ini!" Sahut Umar, seraya merengkuh tubuh Ardi yang duduk di dekatnya.


Ardi dan Aini jelas terkejut dengan sikap Umar. Umar bahkan memeluk Ardi dengan begitu erat dan benar-benar tak mau melepasnya. Ardi pun membalasnya.


"Mas apa tidak apa-apa jika menginap di sini? Di ruko ini hanya ada tiga kamar. Dan sudah ditempati semua." Sela Aini.


Ardi hanya mengangguk.


"Lalu, pak Dika dan pengawalmu?"


"Mereka bisa tidur di depan tv nanti." Jawab Ardi santai.


"Tapi tidak ada kasur lagi, Mas."


"Tidak apa, Bu Aini." Sela Dika tiba-tiba, yang ternyata sedari tadi berdiri di belakang Aini.


Semua menoleh pada Dika. Aini akhirnya mengalah.


"Yasudah. Bunda akan ke rumah pak RT dulu untuk melapor." Ucap Aini mengalah.


Umar segera melepaskan pelukannya pada Ardi dan menoleh pada Aini. Ia lalu menghambur ke pelukan Aini.


"Terima kasih, Bunda." Ucap Umar bahagia.


"Iya."


Aini akhirnya melapor ke rumah ketua RT dengan ditemani Dika. Karena Ardi jelas tidak bisa meninggalkan Umar dan tidak bisa membiarkan Aini pergi sendiri.


...****************...


Hayooo,, kira-kira Ardi sama Aini nanti mau ngapain yaaa kalau Umar udah tidur?? 😁🤭

__ADS_1


__ADS_2