
WARNINGβΌοΈπ₯
Dalam bab ini, terdapat beberapa perkataan dan tindakan sedikit kasar dan kurang pantas.
Harap bijak dalam membaca ππΌπ
Terima kasih π ππΌ
****************
Waktu. Terkadang terasa begitu sempit. Tapi juga terkadang, terasa begitu senggang. Semua kembali pada setiap hal yang mengikuti dan bagaimana kita menyikapinya.
Entah pukul berapa saat ini. Saat suara tak biasa, menggema di telinga ketiga wanita yang sedang tertidur di atas lantai yang dingin itu. Suara yang berasal dari luar dua buah pintu yang ada di sana. Lampu di ruangan itu pun, mendadak menyala dengan begitu terangnya.
Begitu juga dengan ruangan dimana Adit berada. Ruangan yang tadinya gelap, mendadak begitu terang. Adit pun terbangun, karena suara gedoran pintu yang begitu keras.
Semua lalu membiasakan mata mereka dengan cahaya yang begitu terang. Bahkan, mata mereka terasa sedikit berdenyut karena cahaya yang terlalu terang.
"Ada apa lagi ini?" Tanya Oliv lirih.
Lalu, layar LED di ruangan itu kembali menyala. Dan sekarang, menampakkan sosok Ardi yang sedang duduk santai di sebuah kursi yang terlihat seperti kursi kerja.
"Bagaimana kabar kalian, para wanita?" Sapa Ardi santai.
"Apa lagi ini?" Bentak Reni, dengan sisa tenaganya.
"Kenapa? Apa kalian betah berada di sana? Apa kalian tidak ingin keluar dari tempat itu?"
"Aku mau, Mas." Sahut Oliv cepat.
"Aku akan melepaskan kalian, setelah kalian merasakan apa yang Aini rasakan kemarin."
Ketiga wanita itu mendadak cemas bukan main. Setelah beberapa hari di sana, mereka tahu dan yakin, Ardi bukan orang sembarangan.
"Tapi sebelum itu, ada hal yang ingin aku ungkapkan lebih dulu. Karena, tak adil rasanya, jika hanya Oliv dan bu Ratri saja yang kesalahannya aku ungkapkan. Bukan begitu, Reni?"
"Aku tidak punya urusan denganmu atau wanita itu, selain karena masalah pekerjaan yang telah aku setujui waktu itu, untuk menculik wanita itu." Aku Reni yakin.
"Benarkah? Tapi, ada hal lain yang aku temukan di dalam benda pribadimu. Dan itu, sangat menarik untuk dibeberkan." Ucap Ardi angkuh.
"Benda pribadi?" Gumam Reni bingung.
Lalu, sebuah foto ponsel layar sentuh berwarna putih, terpampang jelas di layar LED. Dan Reni jelas segera mengenal foto itu. Karena itu adalah ponselnya.
"Anda mengenalinya bukan, Reni?"
"Kau apakan ponselku? Jika kau berani mengotak-atik ponselku, kau berarti melanggar privasi seseorang. Dan aku bisa menuntutmu untuk itu." Ancam Reni.
"Menuntutku? Apa aku tidak salah dengar?" Sahut Ardi sambil tertawa mengejek.
"Seharusnya, aku yang menuntutmu, karena telah dengan sengaja menculik dan menyekap seorang wanita. Dan kamu bahkan menyiksanya secara perlahan. Kamu tidak lupa bukan tentang hal itu?" Marah Ardi.
__ADS_1
"Aku dibayar untuk itu." Jawab Reni tak mau kalah.
"Kalau begitu, apakah kamu juga dibayar mahal oleh pak Adit untuk ini?"
Tak lama, di layar itu menampilkan sebuah video yang sungguh tidak terduga. Video sepasang laki-laki dan perempuan, yang sedang berpagutan mesra. Dimana sang wanita, duduk dengan santai di pangkuan sang laki-laki dengan posisi yang saling berhadapan.
"Apa istrimu tak akan marah jika kamu seperti ini?" Tanya si wanita dalam video itu dengan suara yang manja.
"Asal kita merahasiakannya, dia pasti tidak akan tahu." Jawab si laki-laki yakin.
"Apa dia dia tidak bisa memuaskanmu?"
"Bukan tentang itu. Hanya saja, kamu lebih cantik dan menggoda."
"Apa kamu juga biasa melakukan ini dengan wanita lain?"
"Tidak. Kamu yang pertama."
Si laki-laki yang sudah terlihat sangat tergoda dengan sang wanita, kembali memagut mesra bibir sang wanita yang ada di pangkuannya. Tangannya pun segera mer*ba dan mengger*yangi seluruh tubuh indah itu. Dan dengan cepat, melepaskan pakaian sang wanita hingga tak tersisa satu pun.
Sedang sang wanita, hanya pasrah menerima perlakuan itu. Seolah-olah, ia pun juga sangat menikmati dan menantikannya. Ia pun akhirnya juga melucuti pakaian si laki-laki, hingga tubuh mereka sama-sama polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.
Dan setelah itu, pergulatan panas pun terjadi di atas ranjang. Mereka saling menyentuh dan memuaskan satu sama lain. Bak suami istri yang sedang menikmati malam pertama, mereka melakukannya bahkan tidak hanya satu kali. Dan itu jelas terekam dalam video itu.
Video itu adalah video percumbuan pertama kali antara Reni dan Adit. Reni sengaja merekamnya sebagai alat bukti, jika saja ia sampai hamil karena bercumbu dengan Adit, karena Adit tidak memakai pengaman saat bermain dengannya. Dan Adit jelas tidak tahu tentang video itu.
"Dia merekam itu?" Gumam Adit terkejut yang juga melihat video tadi.
PLAAKKK! Sebuah suara nan nyaring tiba-tiba memenuhi ruangan para wanita. Ratri menampar Reni.
"Dasar pel*cur! Wanita tidak tahu diri!" Umpat Ratri keras.
Reni segera berdiri dan mau membalas tamparan Ratri. Tapi, Ratri kembali menyerangnya. Ia mendorong Reni, hingga tubuh Reni membentur tembok.
Reni yang tidak terima diperlakukan seperti itu, bersiap membalas Ratri. Ia yakin, jika ia berkelahi dengan Ratri, ia akan menang. Karena ia memiliki ilmu bela diri.
Reni bersiap maju untuk menyerang. Tapi,,
"Tunggu dulu, Ren!" Cegah Ardi santai.
"Kamu jangan ikut campur!" Sahut Reni, sambil mengusap pipinya yang masih terasa panas.
"Aku juga tidak berniat ikut campur. Hanya saja, aku ingin mengingatkanmu dan bu Ratri."
Dua wanita yang sedang bersitegang itu, menatap layar dengan geram.
"Untuk Anda, Bu Ratri. Jangan lupa, Anda juga melakukan itu dulu pada Aini! Anda merebut suami Aini secara perlahan demi perasaan Anda pada pak Adit yang belum hilang. Benar begitu bukan?"
Ratri jelas terdiam. Karena apa yang dikatakan Ardi benar adanya.
"Dan untuk kamu, Ren. Apa kamu tahu, kenapa ibu kandung pak Adit tidak menyukai Aini sejak awal? Jawabannya sangat sederhana. Karena Aini berasal dari keluarga biasa yang tidak selevel dengan keluarganya. Meskipun, Aini memiliki pendidikan dan latar belakang keluarga yang baik dan jelas. Lalu, bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Kamu menyukai pak Adit, bukan? Karena di ponselmu, nomor kontak pak Adit, kamu beri nama yang sangat istimewa. Jadi, mungkin saja, kamu juga berpikir ingin merebut pak Adit dari istrinya. Benar begitu bukan?"
"Apakah kamu bisa merebut hati ibu kandung pak Adit nantinya? Mengingat, Aini yang dari keluarga yang jelas dan memiliki pendidikan yang baik saja, ditolak dan diperlakukan dengan buruk olehnya. Bagaimana denganmu nanti? Kamu yakin bisa diterima olehnya?"
"Akuuu,,"
"Apa kamu berpikir, dengan kamu bisa hamil dari perbuatanmu dengan pak Adit itu, ibu kandung pak Adit akan menerimamu begitu saja? Asal kamu tahu, Aini dulu menikah dengan pak Adit, karena ibu kandung pak Adit tidak mau menerima Aini sebagai menantunya, sehingga pak Adit akhirnya menjebak Aini dan membuat Aini hamil karena itu. Jadi, mau tak mau, ibu kandung pak Adit menerima Aini sebagai menantunya demi menutupi aib keluarga."
"Tapi kamu dengar sendiri bukan kemarin? Bagaimana perlakuan seorang mertua yang tidak menginginkan menantunya itu?"
Reni terdiam. Ia tak pernah berpikir sejauh itu tentang ibu kandung Adit. Ia hanya berpikir, ingin memiliki keluarga yang bahagia dengan Adit. Dan perlahan, akan menyingkirkan Ratri dari kehidupan Adit.
"Bagaimana, Pak Adit? Mana yang lebih hebat di atas ranjang? Istri anda atau selingkuhan anda?"
Ardi terlihat begitu puas melihat reaksi ketiga orang itu. Mereka terjebak oleh semua kesalahan yang mereka perbuat sendiri.
"Bagaimana, kalau kita lihat saja, mana yang lebih hebat, Pak Adit?"
Adit diam tak menjawab. Ia tak paham dengan maksud ucapan Ardi.
Lalu, layar pun mulai berganti. Kini menampilkan dua buah gambar yang sulit dipahami. Satu gambar, berisi tiga ekor anjing dari ras Rottweiler yang terlihat sangat agresif. Mereka menyalak dengan buasnya. Dan di gambar yang satunya, ada beberapa laki-laki yang sedang sibuk dengan begitu banyak kunci pintu.
"Apa ada yang mengerti maksud gambar itu?" Tanya Ardi santai.
Semua diam.
"Dua buah gambar itu, adalah suasana di luar dua pintu yang ada di ruangan kalian, para wanita."
Para wanita mulai panik. Mereka melirik ke arah pintu dengan cemas.
"Hanya menunggu waktu dan keberuntungan saja. Jika para pria hidung belang itu yang lebih dulu menemukan kunci pintu yang tepat sebelum batas waktu, maka bersiaplah untuk melayani mereka sampai mereka puas! Tapi jika sampai batas waktu itu mereka belum menemukannya, bersiaplah menghadapi anjing-anjing yang sedang kelaparan dan belum terlatih sama sekali itu."
"Anda jangan gila, Pak Ardi?" Teriak Adit marah.
"Kenapa, Pak Adit? Apa Anda ingin menyelamatkan wanitamu? Tapi tunggu dulu! Siapa nanti yang akan Anda selamatkan? Istri anda atau selingkuhan anda?" Angkuh Ardi.
Adit menggeram kesal. Ia tak terima, jika istrinya akan dijamah oleh laki-laki lain nanti. Dan bahkan, ia tidak bisa melakukan apapun untuk melindunginya.
"Bagaimana, Pak Adit? Anda menuduh Aini berselingkuh, bukan? Tapi ternyata, Anda sendirilah yang suka berselingkuh. Miris sekali, Pak Adit." Cibir Ardi.
"Jika Ratri sampai disentuh oleh laki-laki lain, saya tidak akan segan-segan menghabisi Anda, Pak Ardi!" Ancam Adit.
"Oh, benarkah? Lakukan saja semampu Anda untuk menolongnya saat ini, Pak Adit! Atau jangan-jangan, Anda juga menginginkan mereka saat ini? Mengingat, mereka terlihat begitu s*xy bukan, Pak Adit?" Ejek Ardi.
"SIAL!"
Adit segera berdiri dengan sisa tenaganya. Ia berjalan menuju pintu dan berteriak dengan keras, meminta agar pintu itu dibukakan untuknya. Agar ia bisa menyelamatkan istrinya.
Pikiran Adit benar-benar kalut saat ini. Ia benar-benar tak rela, jika Ratri sampai disentuh oleh pria lain atau bahkan terjadi hal buruk dengannya karena anjing liar itu.
"Dan satu hal lagi. Esok, masih akan ada kejutan lagi untuk kalian. Untuk sekarang, mari nikmati pertunjukan yang menarik ini!" Akhir Ardi santai.
__ADS_1
Takdir manakah yang akan ditemui oleh ketiga wanita itu? Dua pilihan yang sama-sama tidak ada baiknya sama sekali. Dan, kejutan apa lagi yang akan Ardi berikan pada keempat orang itu?