Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Telepon


__ADS_3

Ikatan hati. Bisa menjadi sesuatu yang begitu berarti. Menjadi sebuah hal yang teramat berharga. Karena ikatan itu, bisa memberi kita sebuah pertanda. Yang terkadang, menjadi pengingat bagi sang rasa.


Ardi sedang bersiap untuk ke kantor pagi ini. Ia baru saja selesai mandi setelah berolahraga sejenak bersama Dika. Ponselnya tiba-tiba berdering. Ia membaca nama si penelepon yang tak lain adalah ibunya sendiri, Niken.


"Assalamu'alaikum Ma." Ucap Ardi ramah.


"Wa'alaikumussalam. Oliv kemari barusan." Adu Niken cepat.


"Apa? Lalu, apa dia bertemu Kenzo?"


"Iya. Karena kebetulan, Kenzo turun bersama Umar setelah siap berangkat sekolah."


"Lalu?"


"Apalagi? Kenzo jelas bahagia bertemu Oliv. Apa kamu sudah mengijinkannya?"


"Tidak, Ma. Ardi tidak memberinya ijin. Kemarin memang Oliv ke kantor Ardi untuk meminta ijin bertemu dengan Kenzo. Tapi Ardi tidak mengijinkannya."


"Dia berarti berbohong tadi."


"Ardi tidak memberinya ijin karena terdengar sangat aneh. Dia tiba-tiba ingin bertemu dengan Kenzo, setelah selama ini tak pernah sekalipun ia bertanya tentang Kenzo."


"Kamu benar."


"Apa dia mengatakan hal lain pada Mama?"


"Dia bilang ada yang ingin dia katakan pada Mama, tapi Mama menolaknya. Mama minta padanya untuk mengatakannya padamu saja."


"Ya sudah, Ma. Dia pasti akan menghubungiku nanti."


"Iya, begitu lebih baik. Mama benar-benar malas bertemu dengannya."


"Ma,,"


"Iya, kenapa? Mau tanya Aini lagi?"


"Kenapa Aini terus sih, Ma?" Jawab Ardi malu-malu.


Entah kenapa, Ardi mendadak mengkhawatirkan Aini. Ada perasaan tidak tenang di hatinya setelah mendengar kabar dari ibunya tadi.


"Mama ini ibumu. Ibu pasti tahu sifat anaknya. Tenang saja, Aini baik-baik saja. Dan mulai hari ini, Aini menempati kamar kosong di sebelah kamar Tika. Papa yang memberinya ijin."


"Iya Ma."


"Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya. Apa masalah di kantor Bandung rumit?"


"Lumayan, Ma. Ardi akan segera menyelesaikannya. Agar Kenzo segera bisa dioperasi."


"Iya. Kamu fokuslah di sana. Mama dan papa akan menjaga Kenzo dan calon istrimu dengan baik."


Ardi menghela nafasnya.


"Mama tutup dulu teleponnya."


"Iya Ma."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


Ardi melemparkan ponselnya ke atas kasur besarnya. Ia menjadi kesal karena hal yang baru saja dikatakan oleh ibunya. Tapi entah mengapa, ia menjadi gelisah karena memikirkan Aini. Perasaannya mendadak tak tenang karena kehadiran Oliv kembali.


Setelah berpakaian, Ardi segera menemui Dika dan sarapan bersama.


"Kamu kembalilah ke Surabaya lebih dulu! Urusan di sini, biar aku selesaikan sendiri." Pinta Ardi setelah selesai sarapan.


"Tapi Pak, kenapa tiba-tiba meminta saya kembali ke Surabaya lebih cepat? Apa ada masalah di sana?" Tanya Dika bingung.


"Oliv datang ke rumah mencari Kenzo. Aku yakin, dia akan melakukan itu lagi."


"Saya akan mencoba mencari tahu, alasan bu Oliv tiba-tiba muncul mencari Kenzo."


"Lakukan segera!"


"Atau mungkin, bu Oliv ingin kembali pada Anda? Beliau ingin merawat Kenzo kembali sebagai ibunya."


"Jangan sembarangan bicara kamu!" Bentak Ardi.


"Maaf, Pak."


Ardi segera melangkahkan kaki jenjangnya keluar rumah. Dika pun segera menyusulnya untuk segera ke kantor bersama.


Di sisi lain, seorang wanita cantik baru saja kembali ke rumahnya. Rumah yang belum lama ini ia beli. Tak begitu mewah, jika mengingat pekerjaannya yang tak sembarangan, tapi cukup besar dan nyaman baginya. Ia hanya tinggal di rumah itu bersama sang manajer yang merangkap asistennya.


"Gimana? Ketemu?" Tanya wanita lain, yang masih berpakaian piyama sambil membawa segelas kopi hangat yang baru diseduhnya.


"Ketemu sih ketemu. Tapi sama aja. Ada pawangnya. Dan sekarang malah lebih galak lagi itu pawangnya." Gerutu wanita tadi.


"Ya, yang sabar! Pelan-pelan deketinnya, biar keinginanmu kesampaian!"


"Kalau bukan gara-gara itu, ogah aku ketemu sama nenek lampir sialan itu." Umpatnya penuh kekesalan.


"Malah nyumpahin!"


"Bukan nyumpahin, cuma do'ain aja, hhihi."


"Sialan kamu!" Ucap si pemilik rumah sambil melemparkan bantal sofa yang sudah dipangkunya sejak tadi.


Sang lawan bicara hanya cekikikan melihat tingkah si pemilik rumah. Ia malah santai menyeruput kopi paginya dengan begitu santai. Sambil menikmati suasana pagi yang cukup menenangkan.


Pemilik rumah itu, Oliv. Dia tinggal bersama asitennya, Desi. Desi adalah sahabat Oliv sejak mereka kuliah. Desi tahu bagaimana kehidupan Oliv selama ini. Maka dari itu, Desi bisa sangat santai dengan semua sifat dan sikap Oliv.


"Dan kamu tahu, siapa yang aku temui tadi di rumah Ardi?" Ucap Oliv antusias.


"Siapa? Ardi? Bukannya dia ke Bandung?" Sahut Desi santai.


"Bukan. Wanita yang dipemberitaan itu. Yang kabarnya calon istri Ardi."


Desi terdiam sesaat. Ia berusaha memahami maksud ucapan Oliv.


"Yang beberapa hari ini agak viral beritanya itu?" Ucap Desi berusaha mencari tahu.


"Iya. Aku kira dia saingan berat, ternyata dia cuma perawatnya Kenzo." Jawab Oliv remeh.


"Perawat? Katamu tahun lalu, Kenzo sudah nggak pakai pengasuh?"


"Kata Kenzo, Ardi sudah dapat pendonor untuk Kenzo. Jadi, wanita itu adalah perawat yang akan merawat Kenzo setelah operasi."


"Berarti, kamu nggak usah repot-repot jadi pendonor buat Kenzo. Iya, kan? Kamu bisa fokus sama rencana awalmu."

__ADS_1


"Iya juga." Sahut Oliv sambil mengangguk kecil.


"Tapi, hati-hati kamu! Ditikung sama perawat Kenzo, baru tahu rasa nanti!" Ledek Desi santai.


"Dari tadi nyumpahin jelek mulu sih!" Kesal Oliv.


"Kan banyak tuh kasusnya." Jawab Desi santai.


"Iya sih. Dan lagi, Kenzo bahkan manggil dia bunda tadi. Apa memang dia calon istri Ardi? Tapi, dia tadi bilang, dia cuma perawat Kenzo."


"Tuh, kan!"


"Ah, dia bukan sainganku. Nggak level." Jawab Oliv santai.


Desi tersenyum melihat sikap Oliv. Ia pun kembali menikmati kopinya sambil mengobrol santai bersama Oliv.


Jalan hidup. Tak ada yang tahu akan seperti apa nantinya. Kita hanya bisa berdo'a dan berusaha, agar bisa melakukan yang terbaik untuk semua.


...****************...


Malam menyapa dengan pasti. Mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya. Memberikan kesempatan bagi bulan dan bintang untuk menyapa para penduduk bumi.


Ardi baru saja pulang dari kantor bersama Dika. Dika belum jadi kembali ke Surabaya hari ini. Ia masih menunggu hasil pencarian informasi anak buahnya tentang Oliv.


Ardi baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Kamar yang pernah menjadi saksi, indahnya bahtera rumah tangga pengantin baru beberapa tahun lalu. Meski ia sudah mengganti semua isinya dengan yang baru, tapi tetap saja, itu kamar yang sama.


Ting. Ponsel Ardi berbunyi, tanda ada sebuah pesan yang masuk. Ia pun membukanya.


Hai Di. Apa kamu ada waktu? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.


Sebuah pesan singkat dari seseorang yang pernah begitu berarti bagi Ardi, Oliv. Ardi dengan malas membalas pesan itu.


Katakan!


Tak lama, ponselnya malah berdering dengan nyaring, tanda panggilan telepon masuk. Ardi pun menjawabnya dengan berat hati. Karena sebenarnya, sudah sejak siang tadi, Oliv menghubunginya berkali-kali, tapi ia abaikan.


"Hai, Di." Sapa Oliv manja.


"Katakan!"


"Aku ingin bertemu dengan Kenzo lagi. Kumohon, berikan aku kesempatan! Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya." Rengek Oliv.


"Baiklah, tapi ada syaratnya. Besok akan kukatakan syaratnya."


Tut. Panggilan langsung diputus begitu saja oleh Ardi. Ia sangat malas meladeni mantan istrinya itu. Ia juga sebenarnya belum tahu, syarat apa yang akan ia berikan pada Oliv untuk bisa bertemu dengan Kenzo.


Ardi pun memilih untuk segera mengistirahatkan tubuhnya. Ia cukup kelelahan hari ini dengan urusan kantornya.


Dan saat pagi menyapa, Ardi sudah bangun dengan badan yang lebih segar. Semangat baru yang lebih baik. Dan jangan lupa, ia sudah mendapatkan syarat yang akan ia ajukan pada Oliv nantinya.


"Gimana, Dik? Apa sudah dapat hasilnya?" Tanya Ardi saat ia bertemu dengan Dika di meja makan.


"Belum sepenuhnya, Pak. Anak buah kita, baru mendapatkan beberapa hal. Tapi, sepertinya itu cukup penting dan mungkin menjadi alasan kembalinya bu Oliv secara tiba-tiba."


"Cukup penting?" Ulang Ardi.


"Iya, Pak."


Ardi yang sedang membalikkan piring makannya, segera menghentikan aktivitasnya. Ia memandang asistennya itu dengan tatapan penuh tanya. Sedang sang lawan bicara, nampak cukup serius dengan ucapannya barusan.

__ADS_1


Isi hati manusia, tak ada yang bisa menebaknya dengan tepat. Hanya Dia yang pasti mengetahuinya.


__ADS_2