Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Tukang Sosor


__ADS_3

Cuaca pagi ini begitu cerah. Secerah hati para penikmat rejeki yang tak lelah bersyukur atas karunia-Nya. Berlapang dada akan setiap ketetapan-Nya.


Ardi menyusuri lobi kantornya seperti biasa. Ia pun membalas sapaan para karyawannya dengan senyum hangatnya seperti biasa.


Hanya saja, ada yang berbeda pagi ini. Meski ia sudah biasa tiba di kantor dengan jam yang tak bisa ditentukan, tapi, kali ini terasa berbeda. Apalagi, ia tadi baru saja meluapkan kemarahannya pada seseorang. Tapi hal itu, tak memendungkan harinya saat ini.


Dika yang mengetahui kejadian lengkap di rumah Oliv pagi ini, sudah bersiap dengan segala akibat yang mungkin terjadi di kantor. Karena biasanya, Ardi akan sedikit mudah tersinggung dan tersulut amarahnya, jika pagi-pagi ia sudah disuguhi oleh hal yang memainkan amarahnya.


Tapi, entah mengapa, ada yang aneh dengan Ardi hari ini. Dia malah terlihat lebih ramah dan bahagia dari biasanya.


"Pak Ardi tumben nggak sensi? Malah nyeremin kalau kayak gini." Batin Dika, saat ia baru saja melaporkan masalah yang terjadi di proyek pembangunan apartemen di daerah Semarang.


"Oh iya Dik, coba hubungi kontraktor lama kita. Siapa tahu, dia bisa membantu kita menemukan dalangnya." Pinta Ardi santai.


Dika yang sedang berjalan menuju pintu ruangan Ardi, segera berbalik kembali.


"Baik, Pak."


Dika lantas mengangguk dan keluar dari ruangan Ardi. Ia berusaha mengabaikan sikap aneh Ardi hari ini. Yang membuatnya sedikit kebingungan.


Sedang di dalam ruangannya, Ardi masih santai bersandar pada kursi kebesarannya. Ia menatap langit cerah pagi ini melalui jendela kantornya. Tapi sayang, pikirannya jauh melayang ke tempat lain. Dan kemana lagi kalau bukan ke rumahnya sendiru. Lebih tepatnya, pada Aini pastinya.


"Udah kayak suami istri aja tadi." Batin Ardi tersenyum geli, saat mengingat kejadian kecil sebelum ia berangkat bekerja tadi.


Flashback On


"Kamu mau ke kantor?" Sindir Gilang, saat ia dan Ardi berjalan keluar kamar.


Gilang tahu, Ardi sebenarnya sangat mencemaskan kondisi Aini. Jadi ia sedikit menyindir Ardi untuk memastikannya.


"Iya, nanti. Aku mau ke rumah Oliv dulu." Jawab Ardi santai.


"Ngapain?"


"Jenguk asistennya. Aini bilang, ia jatuh kemarin."


Gilang menoleh pada Aini sejenak. Ia yakin, Aini mendengar kalimat yang diucapkan Ardi. Karena mereka masih ada di dalam kamar. Gilang sedikit kebingungn dengan sikap Ardi. Tapi ia yakin, ada hal yang disembunyikan Ardi darinya.


Aini yang tadi matanya mengikuti arah langkah dua sahabat itu, sedikit tertegun mendengar jawaban Ardi. Hatinya sedikit menciut karena hal itu. Ada rasa kecewa dan cemburu yang mendadak menghampirinya. Mengingat, Ardi begitu perhatian padanya beberapa hari ini. Tapi, ternyata ia juga masih begitu perhatian pada Oliv. Bahkan, ia berniat menjenguk asisten Oliv yang jatuh kemarin. Yang ia yakin, itu hanyalah sebuah kebohongan belaka.


"Oh iya. Kamu turun dulu, jasku masih di almari! Dan tolong periksa mbok Sri juga ya! Dia tak enak badan sejak kemarin." Pinta Ardi cepat.


"Mbok Sri kenapa?" Tanya Gilang khawatir.


"Masuk angin kayaknya. Pak Prapto baru nganter papa sama mama ke Malang."


"Oke."


Gilang segera keluar kamar lebih dulu. Ia pun segera meluncur ke kamar mbok Sri. Sedang Ardi, kembali ke walk in closet miliknya untuk mengambil jas kerjanya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Ardi, saat melihat Aini berusaha turun dari ranjang.


Ardi pun segera menghampirinya.


"Saya ingin kembali ke kamar saya, Pak." Jujur Aini.


Rasa kecewa dan cemburu yang Aini rasakan barusan, membuatnya ingin kembali saja ke kamarnya.


"Kamu lupa pesan Gilang tadi?"


"Tapi Pak,," Jawab Aini, sambil menengadahkan wajahnya pada Ardi yang berdiri di depannya.


"Kamarmu belum ada penghangat ruangannya."


"Tapi ini kamar Anda, Pak."


"Pakailah dulu! Aku kan mau ke kantor."


"Tapi,,"


CUP. Sebuah kecupan lembut, tiba-tiba mendarat tanpa ijin di bibir Aini. Aini membulatkan kedua bola matanya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Wajahnya pun segera merona.

__ADS_1


"Tetaplah disini! Aku akan ke kantor sebentar dan menyelesaikan beberapa masalah." Pinta Ardi lembut, sambil mengusap bahu Aini.


Aini diam tak merespon. Ia masih terkejut karena ulah Ardi.


"Atau, kamu mau aku bungkam lagi seperti saat di mobil kemarin, agar kamu tak membantahku?" Tawar Ardi santai.


Aini akhirnya mengedipkan kelopak matanya berkali-kali. Ia paham maksud Ardi dan segera menggelengkan kepalanya.


"Bagus. Aku pergi dulu. Mama akan menemanimu nanti." Pamit Ardi penuh perhatian.


Aini tak merespon. Ardi pun segera mengulas senyum hangatnya pada Aini. Ia lalu berjalan menuju pintu dan meninggalkan Aini sendirian di kamarnya.


Entah gila ataukah nekat Ardi itu. Bisa dengan santainya mencium bibir janda yang berhasil mengoyak hatinya yang telah tidur selama beberapa tahun.


Lalu, bagaimana nasih sang janda yang sudah dua kali mendapat serangan tak terduga dari duda tampan pemilik rumah?


Jelas, ia terkejut bukan main. Dan pastinya, membuat hati sang janda dipenuhi perasaan yang sulit untuk diungkapkan.


Bahagia? Tentu saja. Hati mana yang tak bahagia, kala ia diperlakukan dengan begitu lembut dan penuh perhatian, oleh dia yang menjadi bagian istimewa di hati itu.


Tapi juga tak dapat dipungkiri, masa lalu yang membayangi dengan cukup pekat, begitu mengusik rasa yang tumbuh dengan perlahan. Perbedaan kasta, yang menjadi momok masa lalunya pun, hinggap dengan perlahan dalam lubuk hati kecilnya.


Aini dilanda kebimbangan dengan sikap Ardi. Tapi, ia pun tak bisa gegabah menyimpulkan segalanya. Karena nantinya, bisa menjadi bumerang yang mungkin akan sangat menyakitinya.


Flashback Off


Ardi terus menatap langit cerah Kota Surabaya dengan pikiran yang mendarat di rumahnya. Ia tak bisa menghilangkan bayangan rasa manis bibir wanita yang tadi pagi ia kecup.


Hingga waktu makan siang tiba, Ardi masih belum menyelesaikan laporan-laporan yang harus ia periksa. Ia malah sibuk mengingat dia, yang berada di rumah.


"Aku harus pulang. Aku tak bisa seperti ini seharian." Gumam Ardi yakin.


Ardi segera membereskan tas kerjanya. Ia pun meraih jas kerja yang ia gantung di dekat mejanya.


"Bapak mau kemana?" Tanya Dika, saat memasuki ruangan Ardi untuk mengecek laporan yang mungkin telah selesai.


"Aku akan pulang. Mobilnya kamu bawa nanti." Jawab Ardi santai.


"Iya." Jawab Ardi yakin.


"Tapi, saya rasa tidak. Bapak tidak baik-baik saja." Tutur Dika ragu.


"Maksudmu? Aku baik-baik saja." Tanya Ardi bingung.


Dika tersenyum. "Bapak sedang kasmaran. Hanya itu."


Ardi malah tertawa keras mendengar jawaban Dika. Ia benar-benar tak menyangka, Dika sangat memahaminya. Bahkan, ia bisa menyadari, jika ia sedang merasakan perasaan, yang kata orang, itu sangat indah.


"Kamu benar tentang satu hal itu." Sahut Ardi bahagia.


"Apa perlu saya antar pulang terlebih dahulu?" Tawar Dika.


"Tak perlu. Kamu urusi saja kantor dan re-schedule semua janji temu hari ini!" Pinta Ardi setelah selesai tertawa.


"Baik, Pak."


Ardi segera meninggalkan Dika. Ia pun segera keluar kantor dan memanggil taksi, lalu langsung pulang.


Sedang di rumah, Aini sedang terlelap di ranjang besar Ardi. Obat yang Gilang berikan, memberikan efek mengantuk yang cukup berat. Sehingga, ia tak bisa menahan kantuk yang menyerangnya.


"Mas Ardi?"


Aini terkejut bukan main, saat ia membuka mata, ada Ardi yang sedang duduk di sampingnya. Ardi bahkan terlihat begitu fokus memperhatikannya.


Ardi tersenyum. "Gimana kondisimu? Udah baikan?"


Aini segera bangun dari posisinya. Ia masih sedikit kesulitan untuk bangun, karena kondisi badannya yang masih sedikit demam dan pusing.


"Sudah,, Mas." Jawab Aini lirih.


"Makanlah dulu! Setelah itu, istirahatlah lagi! Aku bawakan makananmu kemari." Tunjuk Ardi, pada nampan yang ada di sisi lain ranjang.

__ADS_1


Aini pun segera mengikuti arah pandangan Ardi. Ia terkejut, ada sepiring nasi yang lengkap dengan lauk dan sayur sudah terhidang di sana. Aini lalu menatap Ardi penuh kebingungan.


"Makanlah! Atau perlu aku suapi?" Tawar Ardi ramah.


Entah apa yang merasuki Aini, ia malah mengangguk perlahan saat Ardi menawarkan hal sederhana itu. Hatinya seolah tak ingin menolaknya sama sekali. Hingga, tubuhnya seperti terkena sihir yang tak bisa menolak perhatian Ardi.


Ardi pun segera mengambil piring itu dan mulai menyuapi Aini. Aini makan dengan perlahan. Tak ada percakapan diantara mereka selama Aini makan.


"Ada bekas air putih di atas bibirmu." Ucap Ardi, setelah meletakkan piring dan gelas, bekas makan Aini di meja.


Ardi langsung mengangkat satu tangannya dan mengusap lembut, bagian atas bibir Aini yang sedikit basah.


Tubuh Aini seketika mematung. Kala jari-jemari kekar Ardi, dengan lembutnya menyentuh wajahnya. Ibu jarinya pun mulai mengusap bagian atas bibir Aini yang basah. Hingga membuat Aini, benar-benar menikmati sentuhan itu. Tanpa ia sadari, matanya terpejam karena terbuai sentuhan lembut itu.


Ardi menatap wajah Aini yang masih sedikit pucat. Ia pun menatap bibir lembut Aini yang tadi pagi, kembali ia rasakan manis dan lembutnya. Dan kini, tangan kekar itu, mengusap pelan dua buah benda lembut yang masih tertutup rapat dan sedikit pucat itu.


Perlahan-lahan, jarak antara sepasang duda dan janda itu makin terkikis. Tubuh Ardi makin mencondong ke arah Aini. Hingga, dua pasang bibir itu, kembali saling bertemu. Saling menyapa dan merasa satu sama lain.


Mereka bukanlah amatiran untuk hal satu ini. Tapi juga bukanlah profesional yang bisa bermain dengan durasi yang lama tanpa kehabisan asupan oksigen. Apalagi Aini sedang dalam kondisi yang tak baik.


Lama-kelamaan, tubuh Aini tiba-tiba melemah. Ciuman itu pun terlepas. Ardi dengan sigap memeluk tubuh Aini agar tak terjatuh. Ia menatap cemas pada Aini.


"Aini! Aini! Bangun! Ni, bangun Ni!" Ucap Ardi tegas namun lembut.


Tak ada respon. Ardi sedikit menggoyangkan tubuh Aini.


"Bangun, Ni! Aini!" Ucap Ardi mulai panik, karena tak ada respon dari Aini.


"Aini, bangun!" Ucap Ardi lagi sedikit keras.


Mata Aini tiba-tiba terbuka. "Mas Ardi?"


Aini kebingungan. Ada sesuatu yang aneh. Tapi, ia masih belum mengetahui apa itu. Aini menoleh kekanan dan kekiri. Ia pun segera bangun dari posisiny perlahan.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Ardi perhatian.


"Oh, iya Mas." Jawab Aini sekenanya.


"Kamu belum makan, kan? Aku bawakan makan siang untukmu." Ucap Ardi, sambil menunjukkan dua piring makan yang ada di meja kamar.


Aini terdiam. Ia belum begitu paham maksud Ardi.


"Kamu kenapa? Kenapa wajahmu pucat dan terlihat bingung? Apa ada yang sakit? Ada masalah?" Tanya Ardi perhatian.


Aini masih diam. Ia masih belum menyadari sesuatu.


"Kamu kenapa? Apa kepalamu sakit lagi setelah bangun tidur?"


"Bangun tidur?" Gumam Aini bingung.


"Iya. Kamu baru saja bangun tidur, bukan? Aku tadi sedikit kesulitan membangunkanmu. Apa kamu bermimpi sesuatu?"


"Mimpi?" Lirih Aini sambil mengingat sesuatu.


Ardi masih setia memperhatikan Aini. Ia melihat setiap gelagat dan sikap Aini yang cukup aneh setelah bangun tidur barusan.


"Apa itu tadi mimpi? Aku mimpi berciuman lagi dengan mas Ardi? Astaghfirullah! Mimpiku kenapa bisa seliar itu?" Batin Aini tak percaya.


"Kamu tidak apa-apa, Ni?" Tanya Ardi, membuyarkan lamunan Aini.


"Oh, iya Mas. Saya tidak apa-apa." Jujur Aini malu.


"Kalau begitu, makanlah dulu! Kamu bisa istirahat lagi nanti setelah makan." Saran Ardi, seraya berdiri untuk mengambil piring makan mereka.


"Tapii,,"


"Makanlah saja! Atau perlu aku suapi?" Tawar Ardi santai.


"Tidak Mas, terima kasih." Jawab Aini malu. Pipinya bahkan sangat merona.


Mereka lantas makan bersama setelah Ardi memberikan piring makan Aini. Sepasang duda dan janda itu, menikmati makan siang bersama mereka. Meski dalam kondisi yang sangat sederhana, di tengah kemewahan rumah dan seisinya.

__ADS_1


__ADS_2