
Setiap hal memiliki konsekuensinya masing-masing. Apa yang kita pilih, jelas memiliki dampak terhadap apa yang akan terjadi nanti. Itu sudah menjadi hukum alam yang tak bisa kita rubah.
Di sebuah rumah, seseorang sedang sangat panik dan cemas. Ia mondar-mandir di depan rumahnya sendirian, ketika semua orang sudah terlelap di jam ini. Ia cemas karena tak bisa menghubungi orang yang ia suruh untuk melakukan sesuatu untuknya.
"Sial! Kenapa tetap tidak bisa dihubungi?" Umpatnya untuk yang kesekian kalinya.
Ia pun makin cemas, saat mengingat kejadian yang jelas ia lihat dengan seksama sore tadi. Kejadian yang jelas tidak ia harapkan.
"Apa itu tadi pengawal Ardi? Kenapa aku tidak menyadari kehadirannya?"
Ditambah lagi, saat orang suruhannya gagal menjalankan tugasnya, tiba-tiba, empat orang dengan mengendarai dua sepeda motor segera mengejar orang suruhannya itu.
"Apa mereka tertangkap?"
Makin paniklah orang itu di tengah heningnya malam. Ia bahkan cukup ketakutan jika sampai identitasnya diketahui oleh Ardi, yang jelas memiliki kemampuan untuk melacak hal sesederhana itu.
Ia lalu masuk ke dalam rumahnya dan berniat untuk beristirahat. Ia memutuskan, akan mencoba menghubungi orang suruhannya itu esok hari lagi. Dan tak lupa, ia juga berdo'a agar orang suruhannya tidak tertangkap oleh Ardi dan identitasnya tidak terbongkar.
...****************...
Pagi menyapa kembali. Cahaya hangat sang surya, pagi ini terasa begitu hangat bagi semua penduduk Kota Surabaya. Tak ada awan hitam, setelah beberapa hari belakangan, mereka begitu senang membayangi langit kota.
Hari minggu. Ardi keluar kamar sedikit terlambat pagi ini. Tapi, ia keluar dengan wajah yang berbinar pagi ini. Seolah, tak terjadi apa-apa kemarin sore saat ia pergi dengan Aini dan dua putranya.
"Pagi, Sayang!" Sapa Ardi, tepat di telinga kanan Aini.
"Astaghfirullah!"
Aini sangat terkejut. Ia tak tahu jika Ardi menghampirinya. Ia sedang asik menjemur pakaian di atas sendirian sejak tadi.
"Mas kenapa mengejutkanku?" Kesal Aini, sambil mengusap dadanya karena jantungnya berdegup begitu kencang.
"Kamu yang terlalu fokus pada cucianmu. Aku tadi sudah memanggilmu, tapi kamu tidak menjawabnya." Jawab Ardi santai.
"Benarkah?"
Aini memang sedikit melamun tadi. Ia masih memikirkan apa yang terjadi padanya kemarin sore. Apalagi, ia juga masih belum berterima kasih pada orang yang menyelamatkannya.
"Kamu sedang melamun, kan?" Tanya Ardi sedikit menggoda.
"Apa? Ah, iya Mas. Aku sepertinya sedikit melamun tadi." Jawab Aini lesu.
"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, Mas." Jawab Aini, sambil kembali menjemur cucian setengah basahnya.
"Kamu tak mau mengatakannya padaku?"
"Mengatakan apa, Mas?"
Ardi segera meraih tangan Aini yang hendak mengambil kembali cucian dari ember. Ia lalu menarik dan membawanya ke salah satu kursi di dekat kolam renang.
"Katakan! Apa yang mengganggu pikiranmu?" Pinta Ardi penuh perhatian.
Aini masih diam. Ia tak ingin membuat Ardi merasa terbebani dengan apa yang mengganggu pikirannya.
"Apa itu tentang kejadian kemarin sore?" Terka Ardi.
Aini yang tadi menunduk, segera mengangkat wajahnya. Ardi pun seolah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Tenanglah! Aku sudah mendapatkan identitas laki-laki yeng kemarin mendorongmu." Jawab Ardi lembut.
"Mas sudah tahu siapa dia?" Sahut Aini antusias.
"Sudah."
"Aku juga sudah tahu, siapa yang berniat mencelakaimu." Batin Ardi sambil tersenyum tulus untuk menenangkan Aini.
"Siapa, Mas? Dimana rumahnya? Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? Apa lukanya kemarin parah? Dimana dia dirawat? Ba,,"
Ardi segera menempelkan jari telunjuknya di bibir Aini. Ia tak mengira, Aini akan menanyakan hal sebanyak itu.
"Tanyakan satu per satu, Sayang! Dan tenanglah, dokter berhasil menolongnya kemarin!" Jawab Ardi singkat, demi menenangkan Aini.
"Benarkah? Syukurlah jika dia bisa tertolong." Jawab Aini lega.
"Iya."
"Dimana dia dirawat, Mas? Aku harus menemuinya dan berterima kasih padanya."
"Aku akan menemanimu nanti."
"Apa tidak akan merepotkanmu, Mas?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Ini kan hari Minggu."
Aini mengangguk lesu. Ia sebenarnya tak ingin merepotkan Ardi dengan hal itu. Tapi Ardi tetap tidak mau memberitahunya, dimana laki-laki yang menyelamatkannya kemarin dirawat.
Hingga selepas dzuhur, Ardi mengajak Aini menjenguk laki-laki yang menyelamatkannya kemarin.
"Kamu mau kemana, Di?" Tanya Niken saat melihat putranya duduk santai dengan pakaian rapi di ruang tamu.
__ADS_1
"Nganterin Aini, Ma." Jawabnya santai.
"Kemana?" Tanya Niken lagi, setelah duduk di samping Ardi.
Ardi pun membisikkan sesuatu pada Niken. Niken mendengarkan dengan seksama apa yang Ardi katakan, sembari menatap Aini yang berjalan ke arahnya. Ia pun mengangguk paham.
"Aku pergi sendiri saja, Mas. Mas Ardi tolong beri tahu saja dimana orang itu dirawat." Ucap Aini setelah ia sampai di depan Ardi dan Niken.
Ardi menatap aneh pada Aini.
"Pergilah dengan Ardi! Aku akan lebih tenang jika kamu pergi dengannya." Sahut Niken tulus.
"Tapi Bu Niken, saya,,"
"Udah! Ayok!"
Ardi segera berdiri dan meraih tangan Aini. Duda satu anak itu, bahkan tidak merasa malu atau kikuk sedikit pun pada ibunya, saat tangan kekarnya meraih tangan mungil Aini.
"Tapi Mas,," Rengek Aini sambil sedikit meronta.
Aini benar-benar malu, saat ia digandeng oleh Ardi tepat di depan Niken. Ia juga masih tak enak hati, jika harus merepotkan Ardi, karena menemaninya menemui laki-laki yang kemarin menyelamatkannya.
Ardi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia pun langsung menoleh dan menatap Aini dengan seksama.
"Kamu mau aku cium lagi? Sekarang, di depan mama." Bisik Ardi santai.
Aini segera menggeleng setelah mendengar bisikan Ardi. Ardi tersenyum puas karena kembali berhasil mengerjai Aini.
"Kami pergi dulu, Ma." Pamit Ardi, setelah menoleh ke arah Niken.
"Iya, hati-hati!" Sahut Niken santai.
Aini kebingungan, bagaimana ia harus berpamitan pada Niken. Karena ia saja tadi belum sempat meminta ijin pada Niken untuk keluar rumah, karena ingin menjenguk seseorang.
"Yuk!" Ajak Ardi cepat.
Aini akhirnya hanya menganggukan kepalanya pada Niken untuk berpamitan. Niken pun membalasnya sambil tersenyum pada sepasang duda dan janda yang akan keluar rumah itu.
Ardi dan Aini pun pergi menuju salah satu rumah sakit swasta terbaik di yang ada di Surabaya. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai kesana.
Setelah sampai, Ardi dan Aini segera menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Jantung Aini malah sedikit deg-degan. Ia tak tahu, bagaimana nanti ia akan berterima kasih pada orang yang akan ia temui ini. Ia juga merasa bersalah, karena membuat orang itu terluka.
Bayangan kondisi laki-laki itu kemarin, bermain-main di kepala Aini. Bagaimana luka yang cukup besar karena bacokan benda tajam yang tak ia ketahui wujudnya itu, menganga dan darahnya mengalir deras.
Ardi tadi sudah sempat memberitahu Aini, sedikit tentang laki-laki yang akan mereka jenguk ini. Namanya Hari. Ia seorang yatim piatu dan belum menikah.
Sedang di sebuah ruang rawat kelas satu di rumah sakit itu, tiga orang laki-laki sedang asik bercanda bersama si pasien yang ada di ruangan itu.
"Ngelamunin calon nyonya." Jawab si laki-laki yang sedang terbaring di atas ranjang.
"Iya, Ri. Pak Ardi aja sampai nggak percaya lihat kamu kemarin kena bacok." Timpal laki-laki lain.
"Calon nyonya kita, pesonanya susah diabaikan."
"Bener banget, Har. Bu Aini itu sederhana tapi cantik. Calon istri idaman."
"Kalian mau nikung pak Ardi?" Tanya laki-laki pertama.
"Kalau bu Aini mau, aku sih oke." Jawab si pasien sombong.
"Tapi sayangnya, kamu kalah sama pak Ardi." Cibir laki-laki tadi.
"Cuma kalah cepet aja. Kalau pesona sih, sebelas dua belas lah, sama pak Ardi."
"Ngimpimu kedhuwuren!" Ejek tiga laki-laki itu bersamaan.
Semua pun tertawa bersama mendengar obrolan mereka sendiri. Canda tawa itu, sedikit menghibur salah satu diantara mereka yang sedang terbaring sedikit tak berdaya.
"Kata mas Reno, bu Aini ke sini hari ini." Ucap laki-laki yang terbaring di ranjang.
"Iya. Aku tadi juga dikasih tahu sama mas Reno." Sahut laki-laki kedua.
"Mimpi apa aku semalem? Dijenguk sama calon nyonya." Monolog si pasien.
"Mimpi masuk ruang operasi."
"Itu bukan mimpi. Itu fakta."
"Makanya, nggak usah aneh-aneh! Ketahuan mas Reno apa pak Ardi, dicincang kamu."
"Mas Reno yang udah punya istri aja, ngakuin kalau bu Aini itu calon istri idaman kok!" Bela si pasien.
Hingga, terdengar ketukan dari arah pintu. Semua segera terdiam tanpa suara. Semua bahkan langsung menoleh ke arah pintu.
Empat pasang mata di ruangan itu segera membulat sempurna, saat seseorang muncul diambang pintu. Jantung mereka sedikit berdegup kencang karena gugup dan sedikit cemas. Mereka spontan saling pandang.
"Maaf, apa Mas Hari Novianto dirawat di sini?" Tanya orang diambang pintu sopan.
"Iya, Pak. Itu saya." Jawab si pasien tak kalah sopan.
"Silahkan masuk, Pak!" Pinta salah satu laki-laki.
__ADS_1
"Terima kasih."
Orang diambang pintu itu mulai melangkahkan kakinya. Diikuti oleh satu orang lain dibelakangnya. Dan hal itu, membuat keempat laki-laki di dalam ruangan tadi makin terkejut.
Karena yang datang, tak lain adalah Ardi dan Aini. Orang yang baru saja mereka bicarakan bersama.
Ardi dan Aini pun segera masuk ke ruangan itu. Mereka berdiri di samping ranjang Hari. Tiga teman Hari, memilih berdiri di sisi lain ranjang.
Dan benar, orang yang terbaring di ranjang pasien itu adalah Hari. Salah satu pengawal Ardi. Bahkan, empat orang laki-laki itu pun juga adalah para pengawal Ardi yang memang sedang tak bertugas.
"Astaghfirullah!" Lirih Aini, saat melihat kondisi tangan Hari yang cukup parah.
Aini mengatupkan satu tangannya ke mulutnya. Sedang satu tangan lain, tanpa sengaja meremas tangan Ardi yang sedari tadi mengenggamnya.
"Tenanglah!" Pinta Ardi, sambil menoleh pada Aini yang matanya nampak sedikit berkaca-kaca.
Hati Aini tak tega melihat kondisi Hari. Meski hanya satu luka di tubuh Hari, tapi itu karena Aini. Dan Aini jelas merasa bersalah karena hal itu. Hingga membuatnya tak bisa menahan air matanya yang mulai menggenang di kelopak mata.
"Bapak dengan Ibu, siapa?" Tanya Hari bingung.
"Dia, wanita yang kamu dorong kemarin, Har." Jawab salah satu laki-laki, yang kemarin memang bersama dengan Hari di lokasi kejadian.
Hari menoleh sejenak pada temannya itu. Lalu pada Aini yang matanya sudah sangat merah dan basah.
"Oh, itu Anda, Bu. Maaf, kemarin saya mendorong Anda. Apa Anda baik-baik saja?" Tanya Hari polos.
"Saya tidak apa-apa. Terima kasih karena telah menolong saya kemarin. Dan maaf, karena menolong saya, Anda jadi terluka seperti ini." Tulus Aini.
"Tidak apa-apa, Bu. Bukankah kita harus saling tolong menolong sebagai sesama manusia." Jawab Hari ramah.
"Terima kasih, Mas Hari." Imbuh Ardi.
"Iya Pak, sama-sama." Jawab Hari singkat.
"Bapak dan Ibu ini, suami istri?" Tanya salah satu rekan Hari.
"Iya." Jawab Ardi cepat.
"Bukan." Jawab Aini cepat.
Ardi dan Aini mengatakan itu bersamaan. Dan jelas, mereka langsung saling pandang. Dan hati Ardi, jelas mendadak kesal pada pengawal nakalnya itu.
"Kenapa pake nanyain hal itu? Awas kamu, Har!" Batin Ardi kesal.
Hal itu jelas menjadi tontonan lucu bagi empat orang laki-laki lain di ruangan itu. Mereka bahkan harus berusaha keras membuat ekspresi sedatar mungkin, agar tawa mereka tidak terlepas dari bibir mereka masing-masing.
Beruntung, para pengawal Ardi itu sudah terbiasa dalam hal menyamar. Mereka cukup pandai dalam berakting di depan banyak orang. Tapi tidak di hadapan Ardi.
"Aini, calon istri saya." Ucap Ardi sedikit menekankan.
Dan tanpa Aini ketahui, Ardi menatap tajam pada keempat anggota pengawalnya yang sedang berakting sebaik mungkin itu. Nyali keempat pengawal itu, cukup menciut hanya karena tatapan tajam Ardi.
Ardi memang menutupi identitas para pengawalnya dari mata dunia. Hanya dia, Dika dan kedua orang tuanya saja yang tahu, siapa-siapa saja orang-orang yang mengikuti mereka setiap waktu, demi menjaga keselamatan mereka.
Bahkan, Prapto dan Joko saja tidak tahu, jika kemanapun mereka pergi bersama sang majikan atau tanpa majikan mereka, mereka diikuti secara diam-diam. Dan hal itu jelas, karena mereka bekerja di rumah Ardi dan berhubungan langsung setiap hari dengan keluarga Ardi.
"Bagaimana kondisi, Mas?" Tanya Aini perhatian.
"Saya tidak apa-apa, Bu. Dokter bilang, hanya tinggal pemulihan saja." Bohong Hari, demi menenangkan Aini yang sangat nampak cemas.
"Syukurlah jika seperti itu." Jawab Aini sedikit lega.
Aini dan Ardi pun mengobrol sedikit bersama teman-teman Hari. Hari berusaha keras, meyakinkan Aini bahwa kondisinya tidak terlalu buruk. Meski sebenarnya, ia akan memerlukan waktu cukup lama untuk sembuh, karena lukanya memang parah.
Tapi itu yang dipesankan oleh Reno sesuai permintaan Ardi. Ardi tak ingin kecelakaan itu mengganggu pikiran Aini, hingga mempengaruhi kondisi kesehatan Aini yang akan menjalani donor untuk Kenzo.
Setelah dirasa cukup, Ardi pun berpamitan pada Hari. Dan karena kemampuan akting para pengawal itu, Aini percaya bahwa kondisi Hari tidak terlalu buruk. Aini pun pulang dengan perasaan yang lebih lega.
Selepas Ardi dan Aini keluar dari ruang rawat Hari, keempat laki-laki itu kembali berbincang dengan sedikit cemas.
"Kenapa mas Reno nggak bilang kalau bu Aini datang sama pak Ardi?" Ucap Hari sedikit kesal.
"Memangnya kenapa kalau sama pak Ardi?" Tanya teman Hari penasaran.
"Kan nggak bisa ngobrol santai sama bu Aini." Jujur Hari santai.
"Masih mau nikung pak Ardi? Lupa atau pura-pura polos, barusan dipelototin sama pak Ardi?" Timpal teman yang lain.
"Enggak. Kan cuma dikit aja. Siapa tahu bu Aini-nya mau." Harap Hari sedikit cengengesan.
"Sadar woi! Perasaan yang luka itu tanganmu, kenapa otakmu yang geser?" Cibir teman yang lain.
"Iya, iya."
Para pengawal Ardi, memang mengagumi sosok Aini. Sikap lembut, tatapan teduh dan wajah cantiknya, berhasil menghipnotis para pengawal Ardi.
Dan karena hal itu pulalah, alasan kenapa Hari bisa terluka parah kemarin. Ia memang sedikit melamun saat melihat Aini berada tepat di depannya. Ia sedikit terlambat menyadari kedatangan dua pemotor yang sudah dicurigai Reno, sejak masih berada sedikit jauh dari tempat kejadian.
Reno sudah sempat memperingatkan Hari dan satu rekannya yang berboncengan dengannya. Tapi karena perhatian Hari yang teralihkan, ia jadi tak bisa berpikir cepat dalam menyelamatkan Aini kemarin. Hingga ia pun menjadi korbannya.
Hari sebenarnya juga merasa bersalah pada Aini karena telah mendorongnya kemarin. Tapi, itulah hal yang dapat ia pikirkan saat itu. Demi menyelamatkan Aini dari orang yang ingin mencelakainya kemarin.
__ADS_1
Tak ada salahnya mengagumi seseorang. Tak ada yang salah juga, jika kita menginginkan pasangan terbaik untuk hidup kita. Itu manusiawi dan patut disyukuri.