Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Mulai Romantis (Lagi)


__ADS_3

Malam makin bergulir. Suara-suara binatang malam pun makin ramai terdengar. Mereka bernyanyi indah, seiring dengan jalanan yang mulai sepi oleh lalu lalang kendaraan.


Umar yang baru saja mengalami kecelakaan kecil, tidur dengan cepat malam ini. Apalagi, ia ditemani oleh Ardi. Orang yang cukup dirindukannya selama satu tahun ini.


Umar tadinya ingin menghubungi Kenzo dan mengatakan kalau malam ini Ardi menginap di rumahnya, tapi dilarang oleh Ardi. Ardi tidak ingin membuat Kenzo merengek pada kakek dan neneknya untuk menyusulnya ke Banyuwangi.


Tapi, hal itu ada baiknya juga untuk Umar. Karena jelas, Ardi akan fokus pada Umar saja malam ini.


Selepas dari rumah ketua RT dengan Dika, Aini menyiapkan tempat untuk Dika dan pengawalnya beristirahat. Ia menyiapkan tikar dan selimut miliknya. Dan meminjam juga milik Erna dan Nia untuk malam ini.


Dika dan para pengawal Ardi masih asik mengobrol di warung. Mereka sedikit melepas lelah sambil saling bertukar cerita, sementara Ardi menemani Umar berangkat ke alam mimpi.


Sedang Aini, melakukan hal yang biasa ia lakukan nyaris setiap malam. Ia akan menikmati malam di balkon rukonya setelah Umar tertidur. Biasanya ia ditemani oleh Erna sambil mengobrol.


Aini sudah duduk di salah satu kursi kayu yang ada di balkon. Ditemani segelas kopi instan kesukaannya, dipandanginya langit malam yang malam ini begitu cerah. Bintang dan bulan bertengger indah di tempatnya.


"Kok Erna nggak kesini? Huft. Mungkin dia baru teleponan sama Angga." Gumam Aini.


Tanpa Aini ketahui, Erna sebenarnya ingin menyusulnya ke balkon, tapi dicegat oleh Ardi yang sama-sama baru keluar kamar.


"Aini?" Tanya Ardi.


Erna sedikit melirik ke arah balkon yang pintunya sedikit terbuka.


"Sepertinya sedang di balkon, Pak. Mbak Aini biasa di sana setelah Umar tidur." Jujur Erna.


"Terima kasih."


"Iya, Pak. Bapak mau saya buatkan kopi atau minuman hangat?" Tawar Erna.


"Tidak, terima kasih."


"Baik, Pak."


Ardi lalu melangkahkan kakinya menuju balkon. Dan benar, ia menemukan Aini di sana.


Aini yang sedang fokus melihat langit malam, tidak melihat lebih dulu siapa yang datang. Ia malah langsung bertanya dengan santai pada orang yang menghampirinya.


"Udah selesai Na, teleponannya?" Tanya Aini santai.


Ardi yang kebingungan karena ditanyai Aini seperti itu, memilih diam tak menjawab. Aini pun akhirnya menoleh karena tak mendapat jawaban.


"Mas Ardi? Maaf Mas, aku kira Erna yang dateng." Jujur Aini.


"Tidak apa. Kamu sedang apa di sini?" Sahut Ardi, seraya ikut duduk di kursi lain yang ada di depan Aini.


"Hanya melihat bintang, Mas." Jawab Aini sekenanya.


Ardi pun akhirnya ikut memandang langit nan luas.


"Cantik." Gumam Ardi.


"Iya, Mas. Langitnya cerah, cantik sekali." Sahut Aini.


"Iya. Secantik dirimu."


Aini segera menoleh pada Ardi, yang ternyata sedang memandangnya sambil tersenyum kecil.


Aini mendadak gugup karena dipuji oleh Ardi. Meski ini bukan pertama kalinya ia dipuji dengan begitu lembut oleh Ardi, tapi tetap berhasil membuatnya tersipu malu dan merasa gugup tak terkira. Wajahnya pun terlihat sedikit merona di bawah lampu balkon yang tidak begitu terang.


Aini segera mengalihkan pandangannya. Ia kembali menoleh ke hamparan bangunan yang berjajar tak beraturan di sekitar rukonya. Dinaungi oleh hamparan langit nan luas dengan jutaan bintang.


"Mas mau minum hangat? Akan ku buatkan sebentar." Ucap Aini gugup.


Ardi menyadari nada bicara Aini yang sedikit gugup. Ia pun membiarkan Aini yang langsung berdiri dari kursinya, meski Ardi belum menjawabnya.


Aini segera meluncur ke bawah untuk membuatkan minuman hangat untuk Ardi. Ia sebenarnya ingin mengalihkan rasa gugupnya dan menutupinya dari Ardi.


Dan di bawah, ia bertemu Erna yang juga sedang membuat kopi untuk dirinya, Dika dan para rekannya.


"Mbak Aini belum bikin minum? Tumben?" Tanya Erna penasaran.


"Udah tadi. Buat mas Ardi." Jujur Aini.


"Oh, pantesan tadi pak Ardi aku tawarin nggak mau. Pak Ardi pengen dari tangan calon istrinya langsung rupanya." Goda Erna.


"Kamu bicara apa sih, Na?" Sahut Aini malu.


"Beneran, Mbak. Tadi aku udah nawarin pak Ardi mau minum hangat enggak. Tapi pak Ardi nggak mau."


"Ya nggak gitu juga alesannya, kan?" Kilah Aini malu.


"Gitu juga nggak papa kan, Mbak? Hhihihi,,"


Erna segera meninggalkan Aini yang masih sibuk membuatkan Ardi minuman hangat. Ia tak ingin Aini mencubitnya karena menggodanya tadi, seperti yang biasa mereka lakukan. Ia pun memberikan kopi pada para laki-laki yang sedang mengobrol di kursi warung.


"Eh, tadi kan mas Ardi belum jawab, mau atau enggak. Astaghfirullah!" Batin Aini, seraya menepuk keningnya.

__ADS_1


Aini mendengus kesal pada dirinya sendiri. Ia kesal karena berarti ia ketahuan jika sedang gugup tadi saat menghadapi Ardi.


"Lhoh, kok minum punyaku, Mas?" Tanya Aini saat kembali ke balkon dan melihat Ardi meminum kopinya dengan santai.


"Ini lebih enak, Ni." Jujur Ardi.


"Tapi Mas,,"


"Minum dari gelas yang sama denganmu."


"A,, apa?"


Aini jelas gugup kembali dan menjadi tergagap. Jantungnya yang tadi sudah mulai beraturan, mendadak kembali berdegup tak terkendali karena ucapan sederhana Ardi.


"Pak Ardi romantis sekali, sih!" Sela Erna tiba-tiba yang muncul dari arah tangga.


Aini menoleh segera ke arah Erna. Ia bisa melihat dengan jelas, wajah Erna begitu bahagia karena mendengar Ardi yang sedang berlaku romantis pada Aini.


Sedang Ardi, hanya tersenyum kecil melihat Erna, yang segera meluncur masuk ke kamarnya karena tak ingin mengganggu momen romantis sang atasan.


"Kenapa berdiri si situ terus? Kamu nggak capek bawa itu sambik berdiri di situ?" Tegur Ardi santai.


"Eh?"


Aini akhirnya dengan perasaan gugup yang belum hilang, kembali ke kursinya tadi. Dengan sebuah nampan yang berisi segelas kopi instan hangat dan setoples cemilan yang selalu ia siapkan jika ada tamu yang datang.


"Maaf, karena meminum kopimu tanpa ijin!" Pinta Ardi lembut.


"Apa? Oh, iya Mas. Tidak apa-apa." Jawab Aini bingung.


"Aku tadi sudah ditawari Erna tapi aku menolaknya. Karena aku rindu yang ini. Kopi buatan tanganmu." Jujur Ardi sambil meraih gelas kopi yang dibawakan Aini.


Aini hanya menatap datar pada Ardi. Tapi jantungnya sungguh berdetak sangat cepat karena gombalan kecil dari Ardi.


"Silahkan dinikmati, Mas!" Tulus Aini.


"Iya, terima kasih."


Ardi dengan segera menikmati kopi dan camilan yang dibawakan Aini. Meski hanya hal sederhana, tapi berhasil membuat hati Ardi begitu bahagia. Karena jelas, ia merindukan momen ini dengan sepenuh hati selama beberapa bulan ini.


Aini lalu kembali menikmati waktunya sembari melihat bulan dan bintang seperti tadi. Ia membiarkan Ardi menikmati minuman dan camilannya.


"Ni!" Panggil Ardi lembut, sambil menatap dengan seksama wajah Aini dari samping.


"Iya, Mas." Jawab Aini sambil menoleh.


"Aku rindu padamu." Jujur Ardi tanpa ragu.


Aini yang kebingungan, hanya menatap Ardi datar. Namun dengan perlahan, ia tersenyum kecil.


"Aku juga rindu padamu, Mas." Batin Aini.


Iya, dua insan itu sebenarnya saling merindu dalam diam. Mereka saling menahan rasa yang bergejolak dalam hati, selama satu tahun ini. Demi janji yang telah mereka buat sendiri.


"Bagaimana kabar mbak Mila, Mas?" Tanya Aini untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik. Dia sangat baik. Dia sedang hamil sekarang." Jujur Ardi.


"Oh, ya?"


"Iya. Dia menikah dengan kekasihnya, empat bulan setelah kunjungannya ke Surabaya waktu itu. Dan sekarang, dia sedang menanti anak pertamanya."


"Alhamdulillah. Semoga mbak Mila bahagia bersama keluarganya." Tulus Aini.


"Apa kamu tak ingin seperti Mila, Ni?"


"Maksud, Mas?" Tanya Aini sambil menoleh.


"Menikah dan bahagia bersama keluarganya." Jawab Ardi santai.


Aini mulai tahu, arah pembicaraan Ardi. Ia pun hanya tersenyum kecil untuk menjawab Ardi. Dan Ardi paham dengan maksud senyuman Aini. Jadi, ia tidak menanyakan lagi tentang hal itu.


Ardi dan Aini kembali menikmati malam yang cerah ini. Sambil sesekali saling menanyakan beberapa hal. Hingga,,


"Maaf, Pak." Sela Dika perlahan.


Ardi dan Aini pun menoleh bersama.


"Ada apa?" Tanya Ardi perhatian.


"Ada yang harus saya katakan pada Anda."


"Baiklah."


Ardi lalu beranjak dari kursinya. Ia lalu pergi ke dalam bersama Dika.


"Ada apa?" Tanya Ardi penasaran.

__ADS_1


"Tadi Reno menelepon."


"Kenapa?"


Tiba-tiba, terdengar sebuah ponsel yang berdering. Ardi sangat hafal dering ponsel itu, yang tak lain adalah ponselnya. Ia pun segera mencari keberadaan benda pipih kotak miliknya itu. Yang ternyata, tertinggal di meja balkon.


"Siapa yang menelepon, Ni?" tanya Ardi santai dan sedikit berteriak.


Aini yang tadi juga terkejut karena dering ponsel, pun melirik ke arah ponsel yang ada di meja di sampingnya.


"Bu Niken, Mas." Sahut Aini setelah membaca nama penelepon.


"Tolong jawablah! Dia juga pasti bahagia mendengar suaramu." Pinta Ardi santai.


"Tapi,,"


Ardi kembali menoleh pada Dika dan membiarkan Aini menerima teleponnya.


"Kenapa Reno menelepon selarut ini?" Tanya Ardi cemas.


"Kenzo dilarikan ke rumah sakit, Pak." Jawab Dika ragu.


"Apa? Tapi, kemarin dia baik-baik saja saat aku berangkat."


"Saya juga kurang tahu, Pak. Reno hanya mengatakan, Kenzo mendadak dibawa ke rumah sakit tadi oleh pak Rama dan bu Niken."


Ardi pun segera berbalik untuk menghampiri Aini.


Sedang Aini, ia sedang berusaha memberanikan diri untuk menjawab telepon dari Niken. Perlahan ia mengambil ponsel Ardi dan menjawab telepon itu.


"Kenapa lama banget sih jawab teleponnya, Di?"


Suara Niken menggema dengan jelas di telinga Aini. Tapi belum sempat Aini menjawab, Niken sudah kembali berbicara dari ujung telepon.


"Udah kelar belum urusanmu di Banyuwangi? Kalau udah, cepetan pulang! Kenzo masuk rumah sakit." Ucap Niken cemas di sebrang sana.


Tubuh Aini jelas mematung saat mendengar putranya yang berada jauh di sana, selarut ini harus dibawa ke rumah sakit. Ia pun mendadak tidak bisa memikirkan apapun. Otaknya mendadak seolah mati tak bisa untuk berpikir.


Ardi yang baru saja kembali, menyadari reaksi Aini. Ia tahu, Aini pasti mendengar kabar tentang Kenzo. Ia pun segera merebut ponselnya.


"Iya Ma. Kenapa?"


"Kamu kenapa diem dari tadi? Kenzo masuk rumah sakit."


"Tapi kemarin sehat-sehat aja kan waktu Ardi berangkat."


"Kamu p**ikir Mama bohong?"


"Bukan begitu, Ma."


"Cepetan pulang! Kenzo demam dan nanyanin kamu dari pagi."


"Iya, Ma. Besok Ardi pulang."


Sambungan telepon pun terputus.


"Kenzo. Kenzo. Kenzo kenapa, Mas? Kenapa dia dilarikan ke rumah sakit selarut ini?" Cemas Aini dengan tatapan kosong tapi sangat cemas.


"Nggak papa. Tenanglah! Dia hanya demam."


"Tapi kenapa harus dibawa ke rumah sakit Mas, kalau hanya demam?"


"Sudah, tenanglah! Aku akan tanyakan pada Gilang tentang kondisi Kenzo nanti." Jawab Ardi berusaha menenangkan.


Rasa keibuan Aini, menyeruak begitu saja saat mendengar Kenzo sakit. Hatinya yang memang masih begitu menyayangi Kenzo dengan tulus, mendadak mendesak dan meminta hal yang tak diluar dugaan.


"Boleh aku menemui Kenzo, Mas?" Tanya Aini tanpa ragu, dengan wajah cemasnya yang belum hilang.


...****************...


Hai readers 🤗🤗


Terima kasih untuk yang tetap setia dengan Perjalanan Hati Aini sampai saat ini 🙏😘😍


Terima kasih untuk dukungan kalian yang begitu hebat sampai hari ini 🙏🤩


Maaf kalau Othor belum bisa memberikan kisah sesuai harapan kalian 🙏😊😁


Karena memang seperti inilah kisah Aini sejak awal Aini merangkainya 😅


Dan, selamat menyambut tahun baru readers 🥳🥳🥳


Semoga, harapan dan do'a yang belum terkabul dan terlaksana di tahun 2022, akan kita dapatkan di tahun 2023. Amiin.


Dan semoga, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru, dengan harapan dan semangat yang lebih baik untuk menata dan menjalani hidup ke arah yang lebih baik. Aamiin. 😊


Okay. See you next episode and on the next year readers 😁😁

__ADS_1


Love you all 😍🥰😘🤩


__ADS_2