Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Mencari Aini Part 3


__ADS_3

Jarum jam terus berputar. Berputar dan terus saja berputar tiada henti. Hingga waktu pun seolah tak ingin sejenak untuk beristirahat, barang sedetik.


Hari telah berganti. Dan kabar keberadaan Aini, sampai saat ini masih belum diketahui oleh Ardi. Anak buah Ardi dan Mila, masih belum menemukan Aini. Meski, mereka sudah menyambangi rumah lama Aini, dan rumah Ratna.


Ardi duduk dengan wajah yang sangat putus asa. Dipandanginya wajah putranya yang masih tertidur lelap di atas tempat tidur ruang rawatnya.


"Maafkan Papa, Ken!" Gumam Ardi lirih.


Hati sang duda itu, makin sedih tak karuan kala melihat kondisi putranya. Meski kini kondisi Kenzo sudah stabil, tapi ia masih perlu banyak istirahat.


"Kamu dimana, Sayang?" Batin Ardi untuk yang kesekian kalinya, sembari mengingat sikapnya pada Aini tempo hari.


Ardi yang sibuk dengan pikirannya yang bercabang, tidak begitu memperhatikan kedatangan Rama dan Niken. Karena semalaman, ia menunggui Kenzo sorang diri di rumah sakit.


"Apa masih belum ada kabar dari anak buahmu?" Tanya Rama.


Ardi segera menoleh. "Papa? Mama?"


"Jangan melamun terus, Di!" Nasehat Rama.


"Iya, Pa."


"Pergilah ke Semarang! Tanyakan pada Ratna! Mungkin Aini sudah mengabarinya." Usul Niken.


Wajah Ardi sedikit berubah penuh harap. Tapi, ia segera teringat pada seseorang.


"Tapi, Kenzo?"


"Dia pasti mengerti, kamu sedang mencari bundanya." Sahut Niken yakin.


Ardi menatap sendu putranya yang masih belum bangun. Ia mempertimbangkan dengan pasti usulan ibunya.


"Pergilah! Mama juga ingin bertemu dengannya, Di." Ucap Niken sedih.


"Mama,,"


"Pergilah! Kami akan menjaga Kenzo. Lagi pula, ada Gilang yang siap membantu Kenzo setiap saat." Timpal Rama.


"Baiklah, Pa." Jawab Ardi yakin.


"Kami akan mengabarimu tentang kondisi Kenzo." Sahut Niken.


"Terima kasih, Ma, Pa."


"Lain kali, kalau ada apa-apa, bicarakan pada kami! Jadi tak akan lagi ada hal seperti ini. Kamu tak kasihan pada putramu?" Cibir Niken.


"Mana ada hal seperti itu, Ma."


"Lalu, kenapa kemarin kamu melakukan hal itu pada Aini? Hah? Bodoh, kamu!" Sahut Niken sedikit kesal.


"Iya, Ma. Ardi yang salah." Jawab Ardi menyesal.


"Bersiaplah! Papa sudah meminta Dika untuk memesankan tiket pesawat atau kereta tercepat untukmu." Pinta Rama perhatian.


Ardi tersenyum haru pada kedua orang tuanya.


"Terima kasih, Pa, Ma."


"Iya." Singkat Niken.


Ardi segera beranjak dari kursinya. Ia lalu mendekati Kenzo.


"Papa pergi dulu ya, Ken. Do'akan Papa, agar bisa segera menemukan bunda! Dan kamu, harus segera membaik! Oke?" Lirih Ardi, sembari mengusap pelan kepala Kenzo.


Ardi lalu mengecup kening Kenzo. Hatinya benar-benar merasa bersalah karena membuat putranya seperti itu.


"Mila?" Tanya Ardi, setelah berpamitan pada Kenzo.


"Mila masih di rumah. Dia akan kemari nanti." Jawab Niken santai.


Ardi hanya mengangguk paham.


"Sarapanlah dulu!" Pinta Niken, seraya menyiapkan bekal makanan yang ia bawa.


"Iya, Ma."


Ardi pun menuruti permintaan Niken untuk sarapan. Sembari menanyakan kabar tentang tiket keretanya pada Dika.


Dan ternyata, jam keberangkatan pesawat dan kereta tercepat dari Surabaya ke Semarang, masing siang nanti. Dan itu jelas membuat Ardi tidak sabar.


"Ardi akan naik mobil saja, Ma, Pa." Ucap Ardi setelah selesai makan.


"Kenapa?" Tanya Niken bingung.


"Keberangkatan pesawat dan kereta tercepat masih nanti pukul satu siang, Ma. Ardi pasti sudah sampai semarang jika mengendarai mobil." Sahut Ardi segera.


"Ajak Reno atau Dika bersamamu! Papa tidak akan tenang jika kamu pergi sendiri." Saran Rama.

__ADS_1


"Benar kata papamu. Emosimu juga sedang tidak stabil. Mama nggak mau terjadi sesuatu padamu jika kamu pergi sendirian." Timpal Niken.


"Tapi Reno dan Dika sedang mengurusi beberapa hal, Pa, Ma."


"Itu bisa menunggu, bukan? Urusan kantor, biar Papa yang tangani." Sahut Rama yakin.


Ardi terdiam. Ia memikirkan apa yang dikatakan kedua orangtuanya.


"Papa mau kemana?" Suara Kenzo, tiba-tiba mengalihkan perhatian ketiga orang dewasa itu.


Niken segera mendekati Kenzo. "Nyari bunda, Sayang."


"Bunda belum ketemu, Pa?" Tanya Kenzo sedih.


Ardi pun akhirnya mendekati Kenzo. "Maafkan Papa, Ken! Papa belum bisa menemukan bunda sampai saat ini."


"Kenzo ikut mau Papa nyari, Bunda." Pinta Kenzo polos.


"Kondisimu sedang tidak baik, Ken." Bujuk Niken.


"Tapi Oma, Kenzo ingin ketemu bunda."


"Ya maka dari itu, papa biar nyari keberadaan bunda dulu. Baru setelah itu, kalau papa udah tahu bunda dimana, kamu bisa menemuinya. Agar kamu tidak kelelahan lagi nanti."


Kenzo yang mendengarkan Niken dengan seksama, segera menoleh pada Ardi yang berdiri di sisi lain Niken.


"Papa cepet temuin bunda ya, Pa!" Pinta Kenzo sedih.


"Do'ain Papa ya, Ken! Biar Papa bisa segera tahu keberadaan bunda dimana." Jawab Ardi perlahan.


Kenzo akhirnya mengangguk paham.


"Papa pergi dulu ya, Ken." Pamit Ardi segera.


"Kamu mau pergi sama siapa?" Tanya Rama cemas.


"Ardi akan mengajak Reno saja, Pa." Jawab Ardi yakin.


Rama pun mengangguk lega. "Hati-hati!"


"Iya, Pa."


Ardi pun berpamitan pada Rama dan Niken. Setelah itu, ia segera menghubungi Reno dan memintanya untuk menemaninya mencari Aini ke Semarang.


Anak buah Ardi, sebenarnya sudah sampai di dekat kediaman Imron dan Ratna sejak kemarin. Mereka pun belum melihat keberadaan Aini di sana sampai saat ini.


Semesta seolah mendukung perjalanan Ardi kali ini. Jalanan yang ia lalui, tidak mengalami kemacetan yang berarti. Sehingga, ia pun bisa dengan cepat sampai di Semarang,


Hati Ardi yang tadinya begitu yakin, untuk menemui Imron dan Ratna, mendadak menciut nyaris tak bernyali. Ia yang biasanya bisa dengan gagahnya menghadapi banyak saingan tender atau lawan pengacaranya, kini mendadak merasa begitu kerdil mengahadapi Imron dan Ratna. Yang notabene, hanyalah orang biasa saja.


Reno memarkirkan mobilnya tidal di depan rumah Imron. Ia memarkirkan mobilnya, dua rumah dari seberang rumah Imron. Tapi, mereka bisa melihat rumah Imron dan Ratna dengan jelas.


"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Reno khawatir.


Ardi yang sedang memperhatikan Imron dan Ratna, yang sedang sedikit berbincang di depan rumah, tidak begitu memperhatikan Reno.


Reno dan Erna saling pandang. Reno akhirnya sedikit menepuk bahu Ardi.


"Anda baik-baik saja, Pak?" Tanya Reno lagi.


"Apa? Ah, iya. Aku baik-baik saja." Jawab Ardi gelagapan.


"Perlu saya,,"


"Tidak. Aku akan menanyakannya sendiri pada mereka." Sela Ardi cepat.


"Baik, Pak."


Reno lalu kembali melajukan mobilnya, agar bisa terparkir di depan rumah Imron. Ardi pun menyiapkan mentalnya untuk menemui dua orang itu.


"Siapa, Pak?" Tanya Ratna penasaran, saat mobil Ardi mulai terparkir di depan rumahnya.


"Nggak tahu, Bu'." Jawab Imron santai.


Tak lama,,


"Pak Ardi?" Ucap Imron dan Ratna bersamaan, saat melihat Ardi keluar dari mobilnya.


Ardi tersenyum ramah pada Imron dan Ratna. Tak lupa, Reno dan Erna pun ikut keluar untuk sekedar menyapa Imron dan Ratna.


Imron dan Ratna segera menghampiri Ardi. "Mari Pak, silahkan masuk!"


Imron pun segera mengajak Ardi untuk masuk ke rumahnya. Ardi jelas disambut dengan baik oleh Imron dan Ratna. Mengingat, mereka kemarin juga disambut dengan sangat baik di rumah Ardi.


"Maaf Pak Ardi, rumah saya kecil." Sungkan Imron.


"Tidak masalah, Pak Imron." Tulus Ardi.

__ADS_1


Imron, Ratna dan Ardi lalu berbincang sejenak. Sekedar saling menanyakan kabar satu sama lain.


"Jadi, ada kepentingan apa ya, Pak Ardi jauh-jauh datang kemari?" Tanya Imron penasaran.


"Dan, kenapa Aini tidak ikut?" Timpal Ratna tak sabar.


Mendengar pertanyaan Ratna, hati Ardi makin putus asa. Apa yang ia takutkan ternyata menjadi kenyataan. Aini benar-benar tidak pulang ke Semarang.


"Karena hal itu saya kemari." Jawab Ardi singkat.


"Maksud, Bapak?" Tanya Imron bingung.


Ardi menarik nafas panjang. Berusaha meyakinkan diri, untuk mengatakan hal yang tak seharusnya terjadi itu pada Imron dan Ratna.


"Saya kemari, untuk mencari Aini." Jawab Ardi perlahan.


"Apa maksud Anda, Pak Ardi?" Tanya Ratna masih belum jelas.


"Sebelumnya, saya ingin minta maaf pada Anda berdua, Pak Imron, Bu Ratna."


Imron dan Ratna mendengarkan dengan seksama ucapan Ardi.


"Karena kesalahan dan kecerobohan saya, Aini akhirnya pergi dari rumah saya bersama Umar." Aku Ardi.


"Aini pergi tanpa berpamitan? Berani sekali anak itu!" Kesal Ratna.


"Tidak, Bu Ratna. Bukan begitu maksud saya."


"Lalu?"


"Saya,,"


Ratna yang sudah sangat mengenal Aini, mulai merasa ada yang tidak beres sedang terjadi. Apalagi, sejak kemarin, ia dihinggapi perasaan yang kurang baik.


"Anda tidak mengusirnya kan, Pak Ardi?" Terka Ratna sedikit ragu.


Ardi yang sedikit tertunduk, segera menatap Ratna dengan bingung. Ia tak bisa mengakui kesalahannya yang satu itu. Tenggorokannya tercekat begitu saja.


"Kamu bicara apa, Bu'?" Tegur Imron.


"Aku sangat kenal Aini, Pak. Ia tak mungkin pergi begitu saja dari rumah orang lain, tanpa alasan yang jelas. Apalagi, tadi pak Ardi bilang, Aini bukan pergi tanpa berpamitan. Jadi, pak Ardi jelas tahu saat Aini pergi dari rumahnya bersama Umar kan, Pak?" Jelas Ratna.


Imron sebenarnya juga sependapat dengan Ratna. Apalagi, ekspresi wajah Ardi yang mendadak sangat terkejut saat Ratna menuduhnya tadi. Seolah menjawab pertanyaan yang sedikit meragukan.


"Maafkan saya, Pak Imron, Bu Ratna! Karena sayalah, yang membuat Aini pergi dari rumah saya sendiri kemarin." Aku Ardi.


Ratna mulai merasa kesal dan kecewa dengan Ardi. Ia berusaha sangat keras, agar emosinya tidak meledak saat ini.


"Apa Anda benar-benar mengusirnya, Pak?" Tanya Imron ragu.


Ardi terdiam. Ia tak bisa lagi menjawab pertanyaan Imron, yang jawabannya sangat ia ketahui.


"Astaghfirullah, Ainiii! Kamu dimana, Nduk?" Panik Ratna, seraya berdiri dari kursinya.


Imron dan Ardi, hanya menatap Ratna yang sedang mencari sesuatu. Yang tak lain adalah ponselnya. Dan setelah ketemu, ia segera mencoba untuk menghubungi Aini.


"Nggak bisa dihubungi, Pak." Adu Ratna panik.


"Sabar, Bu! Sabar!" Pinta Imron, seraya ikut berdiri.


"Aini meninggalkan ponsel dan nomornya di kamarnya saat ia pergi." Sela Ardi.


Imron dan Ratna segera menoleh pada Ardi. "Ya Allah, Pak. Aini kemana, Pak?"


"Coba hubungi nomor Umar, Bu!" Usul Imron.


Ratna pun segera mencoba menghubungi nomor ponsel Umar. Tapi ternyata, hasilnya juga sama. Makin cemaslah Ratna saat ini. Apalagi, Aini kini bersama dengan Umar.


"Aini kemarin berusaha sangat keras meyakinkan saya, Pak Ardi. Bahwa ia akan bahagia bersama Anda. Meski saya sangat menentang hubungan kalian kemarin." Aku Ratna mulai marah.


Ardi sangat terkejut mendengar hal itu.


"Sudah, Bu! Jangan membicarakan hal itu!" Bujuk Imron.


"Biar, Pak. Biar pak Ardi tahu, bagaimana kemarin Aini membelanya dan berusaha meminta restuku untuknya." Marah Ratna.


Deg. Hati Ardi benar-benar makin hancur mendengar itu. Ia tak pernah tahu, jika awalnya, Ratna menentang hubungannya dengan Aini.


"Iya, Pak Ardi. Saya awalnya menentang hubungan Anda dengan Aini. Karena saya tidak ingin Aini kembali tersakiti oleh laki-laki kaya, seperti masa lalunya. Tapi, dia berusaha dengan sangat keras, untuk meyakinkan saya, bahwa Anda jelas berbeda dari mantan suaminya. Anda tidak akan menyakitinya."


"Tapi apa sekarang? Baru beberapa hari saja, saya memberikan lampu hijau untuk hubungan kalian, Anda malah sudah menyakitinya hingga ia pergi dari rumah Anda?"


"Aini bukanlah tipe orang yang akan dengan mudahnya marah dan melakukan suatu hal tanpa alasan yang jelas. Adit yang sudah sangat jelas menyakitinya berkali-kali saja, masih bisa ia maafkan. Apalagi Anda, yang jelas ia bela dan perjuangkan dengan begitu keras? Sebenarnya, apa yang Anda lakukan padanya, Pak Ardi?" Marah Ratna panjang lebar.


Ardi terdiam tanpa menjawab. Hatinya sungguh makin hancur, mengetahui kebenaran, bahwa Aini ternyata sangat memperjuangkan hubungan mereka kemarin. Tapi akhirnya, malah ia hancurkan begitu saja.


"Saya menyesal memberikan restu untuk hubungan kalian kemarin, Pak Ardi." Akhir Ratna makin geram.

__ADS_1


__ADS_2