Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Pembalasan Part 1


__ADS_3

"Iya. Selamat malam, Pak Aditya Eka Subrata." Jawab Ardi angkuh.


Ardi tersenyum angkuh di hadapan orang yang masih terduduk dengan tubuh yang basah kuyub itu. Ia bersedekap dengan gagahnya, dengan tatapan remeh pada laki-laki yang memang sudah ia incar sejak kemarin.


Iya, laki-laki yang dibuat basah kuyub tadi adalah Adit. Ia dikurung di ruangan yang berbeda dengan tiga wanita lainnya. Tapi, ia diperlakukan hampir sama dengan para wanita itu. Dibuat kedinginan dan kelaparan di tempatnya sekarang.


"Kenapa saya diperlakukan seperti ini, Pak Ardi? Apa salah saya?" Racau Adit tak terima.


"Jangan belagak polos, Pak Adit! Jangan kira saya tidak tahu, apa yang sudah Anda lakukan pada Aini-ku kemarin." Jawab Ardi yakin.


"Apa? Apa maksud, Anda?" Jawab Adit sedikit gelagapan.


"Apa Anda menderita alzheimer? Sehingga mudah sekali melupakan hal-hal yang belum lama Anda lakukan?" Ejek Ardi.


"Saya tidak mengerti maksud ucapan Anda, Pak Ardi." Polos Adit.


"Baiklah! Saya akan membantu Anda, sedikit mengingat apa yang saya maksudkan. Bawa kemari!" Sahut Ardi yakin.


"Baik, Pak." Jawab Dika paham.


Dika segera meminta salah satu anak buah Ardi untuk melakukan sesuatu.


"Bagaimana rasanya, Pak Adit? Bukankah air tadi begitu menyegarkan?" Tanya Ardi santai.


Adit diam tak menjawab. Perasaannya tidak tenang dan begitu penasaran dengan apa yang akan Ardi lakukan padanya. Ia juga ingin tahu, apa atau siapa yang akan Ardi bawa untuk membuatnya mengaku.


"Masih untung anak buah saya mengguyur Anda dengan air bersih. Bagaimana jika dengan air selokan yang kotor dan sangat bau? Bukankah itu akan lebih nikmat?" Sindir Ardi.


Tak lama, terdengar kegaduhan dari luar ruangan itu. Tiba-tiba, beberapa orang masuk dengan begitu gaduh. Ada tiga orang laki-laki yang tangannya diikat dengan mulut yang ditutup lakban. Wajah mereka sudah dihiasi oleh beberapa luka lebam. Mereka digiring masuk oleh beberapa pengawal Ardi.


"Mereka kan, anak buah Reni. Apa mereka sudah tertangkap?" Batin Adit panik.


Tiga orang itu, dipaksa berlutut begitu saja. Lalu, lakban di mulut mereka pun dilepas tanpa permisi. Mereka sedikit meringis kesakitan.


"Apa kalian mengenalnya?" Tanya Reno tegas.


Tiga laki-laki itu, sedikit melirik ke arah Adit. Mereka lalu saling pandang.


Adit sedikit menggelengkan kepalanya. Berharap, tiga laki-laki anak buah Reni itu, tidak mengungkapkan kebenarannya.


"Jawab!" Bentak Reno.


"Iya." Sahut tiga laki-laki itu bersamaan.


"Siapa dia?" Tanya Ardi datar.


"Dia Adit. Orang yang membayar kami beberapa waktu yang lalu." Jawab salah satu diantara mereka.


Putus asalah Adit saat ini. Ia tak mengira, semua yang ia lakukan beberapa hari ini, akhirnya terbongkar dan diketahui oleh Ardi.


"Untuk apa dia membayar kalian?" Tanya Ardi lagi.


"Dia, dia, dia membayar kami untuk menculik seorang wanita bernama Aini." Jujur laki-laki lain.


Adit memejamkan matanya pasrah. Ia tak tahu lagi, harus bagaimana saat ini. Apa yang dilakukannya pada Aini, jelas terbongkar sudah.


"Apa Anda sekarang sudah mulai ingat, Pak Adit?" Cibir Ardi.


Adit diam tak menjawab.


"Sebuah kesalahan besar telah Anda lakukan, Pak Adit. Karena berani memperlakukan Aini-ku seperti itu." Imbuh Ardi geram.

__ADS_1


"Dia pantas menerimanya!" Teriak Adit yakin.


"Benarkah?"


Ardi menyibakkan tangannya, agar membawa pergi tiga anak buah Reni tadi. Mereka pun kembali dibawa keluar dari ruangan itu.


Saat itu terjadi, Adit teringat sesuatu. Istrinya, Ratri. Ia ingat, kemarin malam ia pergi bersama Ratri ke sebuah restoran, diantar oleh Dika dan Reno.


"Ratri. Dimana dia?" Tanya Adit panik.


Ardi yang sedang sedikit berbincang dengan Dika, segera menoleh pada Adit dengan remeh. Ia berjalan mendekati Adit dengan santai.


"Tenang saja! Istrimu masih hidup saat ini. Dia juga ada di rumah ini sekarang. Anda ingin melihatnya?" Jawab Ardi santai.


Adit jelas mengangguk cepat. Ia sebenarnya mengkhawatirkan istrinya sejak tadi. Tapi, kondisinya kini, benar-benar membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi tadi, ruangannya begitu gelap dan dingin. Ia bahkan tak tahu, dimana ia berada saat ini.


"Kenapa Anda mencemaskannya? Bukankah, Anda sudah memiliki wanita idaman lain?" Remeh Ardi.


Tenggorokan Adit jelas tercekat. Ia tak bisa membantah ucapan Ardi, karena memang ia memiliki wanita idaman lain saat ini.


"Bagaimana dia tahu?" Batin Adit bingung.


Ardi tersenyum puas melihat ekspresi dan reaksi Adit. "Bawa kemari!"


Anak buah Ardi, lalu sedikit sibuk mempersiapkan sesuatu. Dan segera membawanya ke ruangan itu.


Tak lama, beberapa anak buah Ardi membawa sepasang meja dan kursi ke ruangan itu. Lalu, salah satu dari mereka meletakkan dua buah laptop di atas meja. Laptop yang sudah diatur dan dirangkai, hingga laptop itu bisa dikendalikan dari jarak jauh.


Ardi segera duduk santai di kursi yang baru saja dibawa masuk oleh para anak buahnya tadi. Adit melihat itu dengan kesal.


"Mulai!" Pinta Ardi singkat.


Layar laptop mulai menampakkan gambar yang sama. Layar terbagi menjadi dua, dan menampakkan dua buah suasana yang berbeda.


Adit sangat terkejut, saat melihat keadaan istrinya saat ini. Terlihat jelas, Ratri sedang duduk di salah satu sudut ruangan, sambil mengusap-usap lengan dan tangannya, demi meredam hawa dingin. Ia nampak begitu lemah dan kedinginan. Apalagi, dengan pakaian minim yang ia gunakan.


"Anda apakan dia?" Tanya Adit cepat.


Ardi yang sedang duduk di kursi, sambil menikmati momen langka ini, menoleh ke arah Adit dengan remeh


"Memangnya apa lagi? Aku hanya ingin, kalian merasakan apa yang Aini rasakan atas ulah kalian kemarin." Jawab Ardi enteng.


"Kenapa dia berpakaian seperti itu?"


"Memangnya kenapa? Apa Anda keberatan?" Remeh Ardi.


"Saya suaminya. Jelas saya keberatan." Marah Adit.


"Tenang saja! Dia belum disentuh oleh para anak buahku."


Emosi Adit makin memuncak. Ucapan Ardi membuatnya begitu marah. Ia jelas tak rela, jika istrinya sampai disentuh oleh laki-laki lain. Apalagi, dia kini mengenakan pakaian yang jelas menggoda tingkat keimanan para lelaki dimanapu berada.


"Lepaskan dia! Dia tidak bersalah." Pinta Adit tanpa ragu.


Ardi tersenyum jahat, sambil berdiri. "Jadi Anda mengakuinya?"


"Apa?"


Iya. Tanpa Adit sadari, kecemasannya pada Ratri, membuatnya mengucapkan apa yang tidak ingin ia katakan. Kecemasannya, berhasil menggiringnya pada sebuah pengakuan.


"Jadi Anda mengakui, bahwa Anda telah membayar orang-orang itu untuk menculik Aini?" Tanya Ardi, seraya berjalan mendekati Adit lagi.

__ADS_1


"Ap,, ap,, apa maksud, Anda?" Tanya Adit gelagapan.


"Sudahlah, Pak Adit! Anda sudah mengakuinya dua kali tadi. Anda tidak bisa mengelak lagi kali ini."


"Dan lagi, orang-orang yang Anda bayar untuk melakukan itu, sudah saya tangkap semuanya. Hanya tinggal menyerahkannya pada pihak polisi saja nanti." Jawab Ardi bangga.


Adit yang mendengarkan setiap kata yang Ardi ucapkan, jelas terkejut bukan main. Ia mulai mengingat beberapa hal janggal, sebelum kemarin ia dijemput oleh Dika.


"Apa Reni juga tertangkap?" Batin Adit khawatir.


"Kenapa, Pak Adit? Apa Anda teringat sesuatu lagi? Atau, seseorang lebih tepatnya?" Tanya Ardi santai.


Adit tak menjawab Ardi. Ia masih berusaha mengaitkan beberapa hal yang ia curigai.


"Pindah!" Pinta Ardi singkat.


Tiba-tiba, layar laptop menampilkan satu ruangan yang cukup besar. Dimana ada tiga wanita dengan pakaian minim di sana. Jelas terlihat di layar laptop, masing-masing dari mereka berusaha meredam hawa dingin yang mereka rasakan.


"Reni? Oliv?" Batin Adit tak percaya.


"Kenapa, Pak Adit? Sekarang, siapa yang akan Anda cemaskan? Istri Anda, atau wanita idaman lain Anda?" Tanya Ardi santai.


Adit diam tak menjawab. Karena sebenarnya, ia juga mencemaskan Reni, yang baru saja ia lihat keberadannya, yang ternyata tidak jauh dari istrinya.


"Mulai!" Pinta Ardi lagi.


Adit mendengarkan dengan bingung. Ia mulai semakin cemas, dengan apa yang akan Ardi lakukan padanya dan tiga wanita itu nanti.


Di ruangan lain, ruangan para wanita lebih tepatnya, layar tv LED yang ada di ruangan itu, tiba-tiba menyala. Tiga wanita yang sedang menikmati hawa dingin yang semakin menusuk tubuh mereka itu, segera menoleh ke arah layar.


"Mas Adit?" Gumam Ratri cemas, saat melihat suaminya nampak di layar LED, duduk dengan baju basah kuyub.


"Itu kita? Tapi, dimana CCTV-nya dipasang?" Gumam Reni sambil mulai celingukan mencari keberadaan CCTV di ruangan yang serba putih itu.


Di layar LED itu, juga menampilkan gambar yang sama dengan apa yang ada di laptop dimana Ardi dan Adit berada.


"Selamat malam, para wanitaku!"


Suara seorang laki-laki, menggema sempurna di ruangan yang serba putih itu, dimana tiga wanita sedang berjuang dengan keadaannya masing-masing.


"Mas Ardi." Gumam Oliv yakin.


"Mas Ardi! Mas! Tolong lepasin aku, Mas! Aku nggak tahu apa-apa, Mas." Racau Oliv berteriak.


Ratri dan Reni tiba-tiba berjalan mendekati layar. Mereka menatap dengan seksama wajah laki-laki yang ada di layar itu. Hati mereka merasakan perasaan yang sama. Iba dan sedih.


"Bagaimana kabar kalian?"


Suara itu, kembali menggema di ruangan yang sepi itu. Ketiga wanita itu mulai mencari sumber suara, tapi tidak mereka temukan apapun. Bahkan, CCTV yang dipasang pun, tidak mereka temukan, meski mereka sudah melihat dari arah mana gambar itu diambil.


"Sepertinya, kalian kedinginan?" Suara itu kembali terdengar.


"Iya, Mas. Tolong aku, Mas! Aku tak tahu apapun. Tolong bebaskan aku, Mas!" Teriak Oliv lagi.


"Maaf, jika anak buahku memperlakukan kalian dengan kurang baik sejak kemarin."


Tiga wanita itu saling pandang.


"Aku akan meminta anak buahku memberikan minuman penghangat untuk kalian."


Tiba-tiba, sebuah pintu kecil terbuka, dari salah satu pintu yang ada di ruangan itu. Lalu, ada tiga botol berwarna hitam yang masuk lewat pintu itu.

__ADS_1


"Dari tiga botol itu, hanya satu yang berisi air hangat. Ambillah! Aku akan lihat, siapa yang beruntung?"


__ADS_2