
Pagi kembali menyapa. Yang menjadi pertanda, bahwa hari baru telah tiba. Hari baru yang mengukir semangat baru dalam setiap langkah para penikmatnya.
Pagi ini, Aini sudah bersiap untuk mengantar Ratna ke stasiun. Ratna akan pulang ke semarang hari ini, karena kondisi Aini sudah sangat membaik. Kemarin, Ardi sudah meminta Dika untuk memesankan tiket kereta untuk kepulangan Ratna.
"Setelah selesai sidang kasusmu, segera kunjungi Mbak!" Pesan Ratna pada Aini, saat mereka masih di dalam kamar.
"Iya, Mbak. Maaf, aku selalu ngrepotin." Jawab Aini sedih.
"Kalau bukan Mbak, kamu mau ngrepotin siapa lagi? Pak Ardi? Dia belum jadi suamimu. Jangan terlalu merepotkannya!"
"Iya Mbak Ratna sayang."
Aini segera memeluk kakak semata wayangnya itu dengan gemas. Sepasang kakak beradik itu jelas tak bisa menahan air mata mereka mengalir membasahi wajah ayu mereka masing-masing.
"Mbak percaya padamu." Akhir Ratna.
"Iya, Mbak." Jawab Aini haru.
Aini paham, maksud ucapan Ratna. Ratna mengatakan itu, hanya karena ia tak ingin Aini dan Ardi kebablasan dalam menjalani hubungan mereka saat ini. Apalagi, mereka sudah tinggal serumah dan sudah.
Ratna dan Aini lalu keluar kamar. Ratna pun berpamitan pada Rama dan Niken. Tak lupa, ia juga berpamitan pada Sri, Prapto dan Joko, yang sudah menyambutnya dengan baik selama ia tinggal di rumah Ardi selama beberapa hari.
Kenzo dan Umar, sudah Ratna pamiti tadi, sebelum mereka berangkat sekolah. Jadi, Ratna sudah berpamitan pada semuanya.
Ratna ke stasiun diantar oleh Ardi dan Aini. Setelah itu, Ardi segera mengantar Aini ke kantor polisi untuk menemui Adit dan Ratri. Ardi benar-benar sudah memantapkan hatinya, bahwa ia tidak akan cemburu pada mantan suami Aini itu lagi. Ia benar-benar percaya pada Aini.
Aini menemui Ratri seorang diri. Ardi tiba-tiba mendapat telepon dari Reno. Jadi, ia membiarkan Aini untuk menemui Ratri seorang diri. Sementara ia, menerima telepon dari Reno, yang ia sangat tahu, itu pasti bukan hal sepele.
"Mbak Ratri, gimana kabarnya?" Tanya Aini sedih, saat Ratri sudah duduk bersebrangan dengannya.
"Baik, Ni." Singkat Ratri sambil tersenyum.
Ratri merasa begitu lega kemarin, saat melihat kondisi Aini sudah sangat baik saat persidangan kemarin. Meski, kondisinya sendiri masih cukup buruk.
"Mbak kenapa bisa kayak gitu? Dan aku dengar dari papa dan mama, Mbak Ratri hilang kemarin. Mbak kemana?" Tanya Aini tanpa ragu.
Ratri terdiam. Ia teringat oleh janji yang ia buat pada anak buah Ardi kemarin, sebelum ia dan ketiga orang yang lain, dilepaskan malam itu. Janji yang benar-benar berpikir berkali-kali untuk mengingkarinya.
Flashback On
Entah pukul berapa saat ini, saat salah pintu ruangan itu terbuka kembali. Ruangan yang kini dihuni oleh empat orang yang sedang menikmati luka-luka cambukan yang kemarin mereka terima.
"Pakaikan!" Ucap seorang laki-laki pada dua orang lain yang datang bersamanya.
Laki-laki anak buah Ardi itu, datang bersama dua orang yang memakai pakaian tertutup lagi. Mereka membawa beberapa setel pakaian yang tidak asing bagi para penghuni ruangan itu.
Dua orang yang berpakaian tertutup itu, segera mamakaikan pakaian yang mereka bawa pada para penghuni ruangan itu secara bergantian. Mereka kembali memakaikan pakaian yang dikenakan keempat orang itu, saat dibawa ke rumah itu satu minggu yang lalu.
"Keluar!" Pinta anak buah Ardi singkat.
Dua orang berpakaian tertutup itu segera keluar dari ruangan setelah menyelesaikan tugasnya. Dan hanya tingggal anak buah Ardi yang di sana bersama keempat orang yang sedang menikmati rasa sakit mereka.
"Pak Ardi sudah berbaik hati pada kalian saat ini. Beliau akan melepaskan kalian. Tapi dengan satu syarat. Setelah kalian keluar dari sini, jangan pernah menyebut nama pak Ardi pada siapapun tentang apa yang kalian terima! Karena jika itu sampai terjadi, pak Ardi tidak akan segan mengusik keluarga dan kehidupan kalian nanti. Dan itu mungkin akan menjadi mimpi terburuk kalian, yang tidak pernah kalian bayangkan." Ucap anak buah Ardi tegas.
__ADS_1
Adit, Ratri, Oliv dan Reni, hanya memandang anak buah Ardi itu dengan tatapan biasa. Mereka sudah sangat paham dengan maksud ucapan anak buah Ardi itu.
"Pak Ardi jelas sudah mengetahui tentang keluarga atau orang terdekat kalian. Beliau tidak akan berpikir dua kali untuk mengusik kehidupan kalian dan orang-orang terdekat kalian, jika sampai kejadian di rumah ini sampai ke telinga orang lain!"
"Kalian sudah mengetahui sisi lain pak Ardi. Beliau bahkan bisa lebih kejam dari pada apa yang kalian terima kemarin."
Anak buah Ardi itu, lalu kembali membuka pintu. Ia lalu berdiri di depan pintu.
"Bawa mereka!" Pintanya tegas.
Empat orang laki-laki, lalu masuk ke ruangan itu secara bergantian. Mereka lalu memakaikan penutup mata pada keempat orang itu. Mereka segera memaksa Adit, Ratri, Oliv dan Reni untuk berdiri dan menuntun mereka berjalan keluar.
Tak lama, Adit, Ratri, Oliv dan Reni, lalu diminta masuk ke mobil. Mereka dibantu oleh anak buah Ardi untuk masuk. Lalu, mesin mobil pun menyala dan segera berjalan. Menuju tempat yang jelas tidak diketahui oleh keempat orang yang ditutup matanya itu.
Flashback Off
"Ini balasan untukku, Ni. Karena aku sudah sangat kejam padamu selama ini." Jawab Ratri sedih.
"Mbak bicara apa? Mana ada hal seperti itu?" Sanggah Aini iba.
"Kamu sudah dengan sukarela mendonorkan ginjalmu padaku dulu, tapi kubalas dengan perlakuan yang begitu buruk."
Aini terdiam. Ia ingat, bagaimana Ratri perlahan merebut keluarga kecil dan banyak hal miliknya. Dan bahkan, ia juga harus kesulitan menemui putra pertamanya karena hal itu.
"Semua sudah terjadi, Mbak. Itu semua hanya karena salah paham." Jawab Aini tulus.
"Tak ada yang namanya salah paham, Ni. Aku memang telah memperlakukanmu dengan sangat buruk waktu itu. Aku dibutakan oleh keegoisanku sendiri. Aku juga lupa, bagaimana nasehat papa dan mama waktu itu. Hingga aku melakukan hal yang tak sepantasnya padamu." Aku Ratri.
"Maafkan aku, Ni! Ah, mungkin, maaf darimu, tak akan pernah cukup untuk menebus apa yang telah aku lakukan padamu." Ucap Ratri tertunduk dalam.
Aini segera meraih tangan Ratri yang ada di atas meja. Ia menggenggam lembut tangan itu dengan penuh perhatian. Ia bahkan bisa merasakan, bahwa Ratri sedang menangis saat ini.
"Aku tak marah padamu, Mbak. Tak ada yang perlu dimaafkan." Hibur Aini.
Ratri mengangkat wajahnya tak percaya. "Hatimu itu terbuat dari apa, Ni?"
Aini tersenyum kecil.
"Aku sudah melakukan hal yang begitu buruk padamu, tapi kamu tak marah padaku? Bagaimana aku bisa menghadapimu lagi nanti, Ni?"
"Kamu harus marah padaku, Ni! Atau jika perlu, jangan pernah memaafkan apa yang aku perbuat padamu! Itu sungguh lebih melegakan bagiku. Karena aku tak akan menahan malu dan perasaan bersalah ini seumur hidupku." Racau Ratri.
"Mbak bicara apa? Mana ada hal seperti itu?" Sanggah Aini lagi.
Ratri kembali tertunduk. Ia sungguh merasa malu dan tak enak hati menghadapi Aini saat ini.
"Sudahlah, Mbak! Lupakan semua yang sudah terjadi! Mari kita lanjutkan hidup kita dengan lebih baik!" Hibur Aini.
Ratri masih diam tak menjawab. Aini lalu mengambil satu kotak bekal yang ia bawa dari rumah tadi.
"Mbak, tadi, aku masakin sayur sop kesukaan Mbak. Dimakan ya, Mbak!" Ucap Aini, seraya menyerahkan kotak bekal yang ia bawa.
Ratri segera mngangkat wajahnya lagi. Bukannya menjawab atau menerima pemberian Aini, ia malah segera berdiri dan berlari menjauh dari Aini, untuk kembali ke ruang tahanannya.
__ADS_1
"Maaf!" Ucap Ratri sambil berdiri dan berlari.
"Mbak! Mbak Ratri!" Panggil Aini sedih seraya berdiri.
Ratri benar-benar malu menghadapi Aini. Ia sungguh tak mengira, Aini bahkan berbaik hati membawakan makanan kesukaannya saat mengunjunginya.
Hatinya makin hancur dan sedih, dengan apa yang sudah terjadi. Ia benar-benar menyesali semua perbuatannya pada Aini.
Ardi yang baru saja selesai menerima telepon, terkejut mendengar suara Aini yang sedikit berteriak saat memanggil Ratri. Ia segera berlari untuk menghampiri Aini.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Ardi panik.
Aini pun segera menoleh pada Ardi yang segera berdiri di sampingnya. "Mbak Ratri, Mas."
"Dia kenapa? Apa dia menyakitimu lagi?" Tanya Ardi, seraya mengamati Aini dengan seksama dari atas kebawah.
"Tidak, Mas. Mbak Ratri tidak menyakitiku. Dia pergi begitu saja sambil menangis. Bahkan, makanan yang aku bawakan juga tidak diterimanya." Adu Aini sedih.
Ardi menghela nafas lega. "Tenanglah, Sayang! Dia mungkin hanya tak enak hati padamu."
"Aku tidak marah padanya, Mas."
"Aku tahu, Sayang. Maka dari itu, ia tak enak hati padamu. Ia sudah memperlakukanmu dengan buruk kemarin, tapi malah kamu balas dengan kebaikan hatimu. ia jelas tak enak hati padamu." Jelas Ardi perlahan.
"Itu hanya karena salah paham, Mas." Adu Ainu makin sedih.
Ardi tersenyum kecil pada Aini. Ia sungguh tak mengira, hati wanita di hadapannya itu, sungguh sangat lembut.
"Kemarilah!" Pinta Ardi, seraya merentangkan kedua tangannya.
Aini yang sedang tak tenang hatinya, segera menuruti permintaan Ardi. Ia sedikit lupa, bahwa mereka sedang berada di tempat umum saat ini.
"Tenanglah, Sayang! Kamu bisa menemuinya dan menjelaskan semuanya lagi lain waktu. Untuk bekal yang kamu bawakan, aku akan meminta petugas untuk memberikan pada bu Ratri nanti." Ucap Ardi, untuk menenangkan Aini.
"Tapi Mas,,"
"Percayalah padaku, Sayang! Biarkan bu Ratri menenangkan hatinya terlebih dahulu! Besok, kamu bisa mengunjunginya dan mengobrol dengannya lagi, setelah ia lebih tenang."
Aini meresapi setiap kata yang Ardi ucapkan. Rasa khawatirnya pada Ratri ternyata sedikit membuat hati dan pikirannya tak bisa memahami hal sederhana itu. Ia pun lalu mengangguk paham di dalan pelukan Ardi.
"Oke. Sekarang duduklah dulu!"
Ardi pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Aini duduk di kursinya tadi. Ia lalu setengah berjongkok di depan Aini.
"Kamu masih mau menemui pak Adit? Atau, kita pulang sekarang?" Tanya Ardi perhatian.
"Tapi,,"
"Aku percaya padamu, Sayang." Jawab Ardi lembut.
Aini tersenyum kecil lalu mengangguk. Ardi pun membalas senyuman itu.
Banyak hal yang bisa membutakan perasaan kita sendiri. Dan terkadang, kita tidak menyadari hal itu. Hingga, mungkin, Tuhan-lah yang perlahan menyadarkan kita dengan caranya sendiri. Dan yang pasti, tak pernah kita duga.
__ADS_1